Ahan

Ahan
Diandra_Aqilla_Adiathama_32



6 bulan telah berlalu, kehidupan rumah tangga Adel dan Farel semakin hari semakin harmonis. Meski tidak bisa dipungkiri, jika suatu hubungan tidak akan pernah lepas dari yang namanya masalah. Karena itu adalah ujian, yang akan menguji setiap pasangan dalam membina hubungan.


Kehadiran Aqilla membawa kebahagiaan tersendiri, Farel yang sekarang lebih suka menghabisi waktu bersama dengan keluarga kecilnya itu. Setiap pulang dari kantor, pertama kali yang akan Farel temui adalah, putri kecilnya itu. Melihatnya membuat rasa capek dan lelah seakan sirna begitu saja.


Itu sebabnya Farel selalu menyempatkan diri untuk bisa bertemu, dan bercengkrama dengannya. Qilla dan Adel adalah semangat hidupnya, dan keduanya adalah harta paling berharga yang akan Farel perjuangan.


Tidak ada yang bisa memisahkan mereka bertiga, kecuali maut yang menjemput.


Dalam menjalin hubungan memang tidak semanis ekspetasi, tidak juga selalu berjalan dengan mulus. Terkadang banyak sekali rintangan yang menghadang, bahkan kita juga harus terombang-ambing layaknya sebuah kapas yang diterpa oleh angin. Entah kemana dan di mana akan mendarat.


Begitu juga dengan hubungan, tapi untuk saat ini, Farel dan Adel tengah menikmati manisnya dalam membina bahtera rumah tangga. Hanya ada senyum kebahagiaan dalam hari-hari mereka, canda dan tawa yang selalu mengiringi langkah perjalanan hidup mereka.


Seperti pagi ini, Adel yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi, sementara Farel tengah bermain dengan putri kecilnya itu. Usia enam bulan, memang sedang lucu-lucunya, terkadang Adel sampai heran sendiri saat melihat suaminya yang bermain dengan putrinya itu.


"Mas, sarapannya sudah siap," teriak Adel dari bawah.


Selang beberapa menit, Farel turun dengan menggendong putrinya itu. Adel yang melihat Farel tengah berjalan menuju meja makan, dengan cepat wanita itu menghampiri suami dan putrinya. Setelah itu Adel mengambil alih Qilla, yang berada dalam gendongan Ayahnya.


"Sini, Qilla sama Adel dulu. Mas sarapan aja dulu, nanti telat ke kantor." Adel mengambil alih putrinya itu. Sementara Farel segera menarik kursi untuk duduk.


Farel tengah menikmati sarapan paginya, sementara Adel tengah bermain dengan putrinya itu. Senyum dan tawa tidak pernah lepas dari keluarga ini, mereka benar-benar merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna. Kehadiran Aqilla telah menyempurnakan rumah tangga Adel dan Farel.


Selesai sarapan, Farel bergegas siap-siap untuk berangkat ke kantor. Tapi sebelum itu Farel akan berpamitan terlebih dahulu dengan kedua princessnya. Yaitu Adel dan Qilla, Farel melangkahkan kakinya menuju ruang bermain, di mana wanita tercintanya berada di sana. Farel masuk ke dalam, terlihat Adel tengah bermain dengan putri tercintanya.


"Sayang, aku berangkat dulu ya." Farel mencium pipi Adel. Lalu beralih kepada putrinya itu.


"Iya Mas, hati-hati di jalan." Adel meraih tangan Farel, lalu mencium punggung tangan suaminya itu.


"Iya Sayang." Farel pun mencium kening Adel, dan turun ke bawah.


"Sayang, papa kerja dulu ya. Jangan nakal ya, kasihan mama." Farel kembali mencium kedua pipi chubby Aqilla.


Setelah berpamitan, Farel segera keluar dari ruang bermain tersebut. Sementara itu Adel langsung menggendong putrinya dan mengantar Farel sampai di depan pintu. Perlahan mobil yang Farel naiki melaju meninggalkan halaman rumah. Tak lupa Adel memegangi tangan mungil Qilla, lalu dituntunnya untuk melambaikan tangannya.


Setelah mobil yang Farel naiki hilang dari pandangan matanya. Adel buru-buru mengajak Qilla masuk ke dalam, dan kembali lagi ke ruang bermain. Adel merebahkan tubuh mungil Qilla yang beralaskan karpet bulu, dengan posisi tengkurap, dengan cepat Aqilla meraih mainan yang berserakan di sekelilingnya.


***


Mobil Farel sudah terparkir di parkiran kantor. Kini pria itu tengah berjalan menuju ke ruangannya, setelah tiba di ruangan Farel segera duduk di kursi kebesarannya. Pria itu akan memulai membuka berkas yang sudah menantinya. Sesekali Farel melirik bingkai foto yang berada di atas meja kerjanya, foto keluarga kecilnya.


Selang beberapa menit pintu ruangan terbuka, seorang pria berjalan masuk ke dalam, yang tak lain adalah Raka. Pria itu duduk tanpa Farel menyuruhnya terlebih dahulu, sementara Farel masih fokus dengan berkas yang berada di depannya. Dan detik itu juga Raka meletakkan beberapa berkas yang harus Farel tanda tangani, dengan terpaksa Farel mengalihkan pandangannya.


"Tanda tangan dulu, nanti baru lanjut," pinta Raka.


"Agenda aku hari ini apa aja?" tanya Farel, sembari menanda tangani berkas tersebut.


Raka segera membaca agenda Farel untuk hari ini. "Jam 10 nanti meeting, jam 1 siang ketemu klien, lalu terakhir jam 4 .... "


"Stop, untuk yang terakhir kamu tunda daja. Hari ini aku akan pulang lebih awal," potong Farel dengan cepat.


Sementara Raka hanya menghembuskan nafasnya. "Ok, ya sudah aku keluar dulu."


Raka pun bergegas bangkit dan berjalan keluar dari ruangan Farel. Sementara Farel kembali melanjutkan pekerjaannya, pria itu akan menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang lebih awal. Rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua princessnya yang sangat ia rindukan.


Kini Farel kembali fokus dengan pekerjaan yang ada di hadapannya. Tanpa memperdulikan apapun, handphonenya yang sedari tadi bunyi pun Farel biarkan. Pria itu hanya mengeceknya, dianggap tidak penting akan Farel abaikan. Hingga tiba waktunya untuk meeting, pukul 10 siang Farel menghentikan pekerjaannya.


Farel bergegas bangkit dari duduknya, setelah itu ia melangkah keluar dari ruangannya. Farel akan segera menuju ke ruang meeting, pria itu tidak suka membuang waktu untuk hal yang tidak penting. Itu sebabnya jika ada meeting, siapa  saja yang telat akan mendapatkan hukuman. Setibanya di ruang meeting, Farel langsung memulainya, tanpa memperdulikan siapa yang belum datang.


***


Sementara itu, Adel di rumah kini tengah menidurkan putrinya itu. Setelah capek bermain, Adel memandikannya dan setelah itu ia akan menidurkannya. Tapi belum sempat Qilla tidur, bel rumah berbunyi, dan hal itu membuat Qilla terganggu. Adel pun terpaksa menggendong putrinya menuju ke ruang tamu.


Dengan segera Adel membuka kenop pintu tersebut, wanita itu sedikit terkejut saat melihat Ayah mertuanya datang dengan membawa berbagai macam mainan, entah itu apa saja. Adel pun mempersilahkan Ayah mertuanya untuk masuk ke dalam, niat hati ingin menidurkan Qilla akhirnya gagal. Indra segera meletakkan semua mainan yang ia bawa di ruang bermain.


"Halo Qilla, Kakek kangen banget sama cucu Kakek ini." Indra mengambil alih Qilla dari gendongan Adel.


"Uluh, uluh. Qilla berat juga ya, liat Kakek beliin mainan banyak buat Qilla. Biar nanti cucu Kakek ini tidak perlu beli mainan lagi." Indra mengajak cucunya untuk bermain di ruang bermain.


Sementara itu Adel pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.


Adel benar-benar merasa beruntung memiliki mertua seperti itu. Kedua orang tua Farel sangat menyayanginya, terlebih sejak kehadiran Aqilla. Hampir semua mainan yang Qilla punya adalah hasil pemberian Indra dan juga Lidia.


Selang beberapa menit Adel kembali dengan membawa secangkir teh manis. Adel meletakkan teh tersebut di atas meja, Adel tersenyum melihat mertua dan putrinya yang tengah bermain itu. Tapi tiba-tiba Adel dikejutkan oleh teriakan dari luar, yang tak lain adalah ibu mertuanya. Dengan segera Adel berjalan menuju ke ruang tamu.


Belum sempat Adel membuka pintu, Lidia sudah membukanya terlebih dahulu. Lagi-lagi Adel terkejut dengan apa yang mertuanya itu bawa. Dua tangannya menenteng penuh dengan berbagai kresek yang ukurannya besar-besar. Bahkan yang Lidia bawa jumlahnya lebih banyak dari pada dengan Indra.


"Qilla Sayang, how are you. Nenek datang Sayang," seru Lidia. Perempuan itu berjalan ke dalam, dengan mengedarkan pandangannya.


"Adel, Qilla mana kok nggak sama kamu, apa lagi tidur?" tanya Lidia.


"Qilla lagi sama papa, ma," jawab Adel.


"Memangnya papa di sini," sahut Lidia.


"Iya ma, baru saja datang, sekarang lagi di ruang bermain," balas Adel.


Indra terkejut melihat istrinya sudah berada di sampingnya, terlebih saat melihat mainan yang Lidia bawa. Secara tidak langsung Indra merasa tersaingi, memang semenjak kehadiran Qilla, Indra dan Lidia sering berdebat dengan masalah sepele seperti itu. Terkadang Adel sampai heran dengan tingkah mertuanya itu.


"Mama ngapain di sini?" tanya Indra. Pria itu tetap asyik bermain dengan cucunya.


"Mama habis beliin Qilla mainan, sama baju-baju juga. Memangnya papa, datang nengok cucunya, cuma datang orang doang," ejek Lidia, seketika Indra merasa kesal dengan sikap istrinya itu.


"Enak saja, papa juga bawa mainan. Ini lihat, ini semua papa yang bawa." Indra menunjukkan semua mainan yang ia bawa.


"Alah, baru segitu saja sudah belagu ... lihat, yang mama bawa lebih banyak, dan lebih bagus dari punya papa." Tidak ingin kalah, Lidia menunjukkan barang-barang yang ia bawa.


Selang beberapa menit Adel datang dengan membawa secangkir teh manis. Adel kembali terkejut melihat mertuanya yang tengah berdebat, untuk mencairkan suasana. Adel berdehem, seketika pasangan suami istri itu diam dan menoleh ke arah Adel. Sementara Adel hanya tersenyum lalu menaruh teh tersebut di atas meja.


"Tehnya di minum dulu pa, terus ini buat mama," ujar Adel, dengan tersenyum.


"Makasih ya, Sayang." Lidia tersenyum.


"Sini pa, mama juga mau gendong Qilla. Sini, Sayang sama Nenek dulu ya. Nenek kangen banget sama Qilla yang cantik." Lidia mengulurkan kedua tangannya, tapi tidak ada tanggapan dari sang cucu.


Justru tiba-tiba Aqilla menangis, entah kenapa Aqilla yang sedari tadi diam dengan tiba-tiba menangis. Hal itu membuat semua merasa bingung dan juga heran, Lidia dan Indra saling lirik. Adel dapat melihat jika mertuanya akan berdebat lagi, sebelum itu terjadi Adel harus mengambil alih putrinya terlebih dahulu.


"Mungkin Qilla ngantuk ma, pa. Soalnya sejak bangun subuh tadi belum tidur lagi," ucap Adel, dan itu berhasil membuat mertuanya diam.


"Aduh, Qilla Sayang, udah ngantuk ya ... ya udah, buruan bawa Qilla ke kamar, kasihan dia." Lidia pun segera menyuruh Adel untuk membawa cucunya ke kamar.


"Sini, Sayang sama mama. Anak mama tidur dulu ya." Adel mengulurkan kedua tangannya, dan mengambil alih putrinya itu.


"Gara-gara papa sih, main terus sama Aqilla jadi rewel 'kan." Lidia menunjuk ke arah suaminya itu.


"Enak saja, papa juga baru main sebentar. Palingan Qilla takut denger suara mama yang cempreng, kayak kain rombeng," ujar Indra yang tidak mau kalah.


"Papa ngomong apa tadi ... ngatain suara mama kayak kain rombeng, iya." Lidia berdecak pinggang, matanya menatap tajam ke arah suaminya itu.


Sementara Adel sudah berada di kamar, wanita itu tidak ingin mendengar mertuanya berdebat lagi. Bisa-bisa nanti Qilla takut mendengar Kakek dan Neneknya saling beradu argument. Tidak butuh waktu lama Aqilla sudah terlelap, mungkin karena sudah terlalu capek, sehingga dengan mudah masuk ke dalam alam mimpi.


***


Pukul 5 sore Farel tiba di rumah, setelah memarkirkan mobilnya pria itu bergegas turun dari mobil, dan beranjak masuk ke dalam rumah. Farel berjalan dengan menenteng dua paper bag yang berukuran cukup besar. Pria berjalan menuju ke ruang bermain, dengan terus berteriak memanggil putrinya itu.


"Qilla Sayang, papa pulang ... lihat papa bawain Qilla mainan, sama boneka," teriak Farel, dengan terus mencari sosok putrinya itu.


Adel yang mendengar teriakkan suaminya itu, bergegas turun ke bawah. Hari ini Adel benar-benar dibuat terkejut oleh mertua dan juga suaminya. Baru tadi siang mertuanya datang dengan membawa banyak mainan, lalu sorenya Farel juga pulang dengan menenteng paper bag, yang sudah dapat Adel tebak pasti isinya mainan. Adel pun berjalan menghampiri suaminya itu.


"Sayang, Qilla mana, kok nggak sama kamu?" tanya Farel.


"Qilla lagi tidur, Mas," jawab Adel. Wanita itu berjalan dan mengambil jas yang sudah terselampir di bahu suaminya.


"Padahal aku udah bawain, mainan sama boneka." Farel meletakkan paper bag tersebut di atas sofa.


"Mas ngapain bawa mainan, tadi siang mama sama papa datang, juga bawa mainan. Bisa-bisa nanti Qilla bingung mau main dengan mainan yang mana," terang Adel.


"Memangnya mama sama papa tadi siang ke sini?" tanya Adel, dan dibalas dengan anggukan oleh Adel.


"Ya sudah aku ke atas dulu ya, udah kangen sama Qilla." Farel mencium pipi Adel, setelah itu ia berlari menaiki anak tangga.


Adel mengambil paper bag tersebut, lalu menaruhnya di ruang bermain. Setelah itu ia bergegas naik ke atas untuk menuju ke kamar. Setibanya di kamar Adel melihat Farel yang tengah berada di samping Qilla. Pria itu tengah menciumi pipi chubby putrinya, dan mengajaknya bicara, meski Qilla tengah terlelap.


"Duh, anak papa tidurnya pules banget. Capek ya, seharian main terus." Farel kembali menciumi pipi chubby Aqilla. "Pipinya udah kayak bakpao."


"Jangan keras-keras, Mas. Nanti Qilla bangun," ujar Adel, tapi Farel sama sekali tidak menghiraukannya.


Setelah puas mengganggu putrinya, Farel pun bangkit dan melihat Adel yang tengah melipat baju-baju milik Aqilla. Pria itu segera mendekat dan duduk di belakangnya, bahkan kedua tangan kekarnya melingkar di perut sang istri. Seketika Adel tersentak dengan kelakuan suaminya itu.


"Mandi dulu sana, Mas. Bau tau," ujar Adel, dengan terus fokus dengan aktivitasnya.


"Kalau bau, kok mau dipeluk." Farel semakin mempererat pelukannya. Bahkan pria itu meletakkan dagunya di bahu sang istri.


Adel hanya diam, wanita itu tetap fokus dengan kegiatannya. Sementara Farel semakin asyik memeluk tubuh istrinya itu. Bukan itu saja Farel juga semakin asyik menciumi leher jenjang istrinya itu, menghirup aroma rose pada tubuh Adel. Dan lama-lama aroma itu memabukkan, membuat Farel hilang kendali.


Farel menelusuri ceruk leher Adel, dan menggigitnya hingga meninggalkan bekas merah. Seketika Adel tersentak dengan kelakuan mesum suaminya itu, bukannya berhenti justru Farel semakin menjadi. Tangan Farel mulai nakal, Adel yang merasakan hal itu dengan cepat memegangi tangan suaminya itu.


"Kenapa, hem. Dosa loh nolak suami." Farel menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Bukan itu Mas, tap .... "


Belum sempat Adel melanjutkan ucapannya, Farel terlebih dahulu meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Adel. Seketika wanita itu terdiam, ia sudah sangat paham dengan tingkah suaminya yang seperti itu. Tapi yang Adel khawatirkan adalah, karena sekarang sudah ada Qilla, ia takut jika nanti tiba-tiba putrinya itu terbangun.


"Sebentar saja." Farel kembali menyusuri leher Adel yang mulus dan putih itu.


Perlahan Farel membalikkan posisi tubuh istrinya itu, lalu merebahkannya dan diikuti oleh dirinya. Netra mereka saling beradu, Farel pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya itu. Adel bisa merasakan deru nafas Farel yang semakin memburu. Dan saat benda kenyal itu akan bersentuhan tiba-tiba terdengar tangis Aqilla.


Seketika mereka menghentikan aktivitasnya, keduanya pun saling lirik ke arah di mana putrinya itu tidur. Adel segera mendorong pelan tubuh suaminya itu, lalu bangkit dan menghampiri putrinya itu. Sementara Farel hanya bisa pasrah. Begitulah sekarang, sudah tidak bisa bebas dalam menyalurkan hasratnya. Nasib, nasib.