Ahan

Ahan
Dinding_Pertahanan_24



Pagi telah menyapa, cuaca pagi ini begitu cerah. Langit biru, serta kicauan burung yang berterbangan di angkasa sana. Harum bunga yang bermekaran menambah suasana begitu indah.


Perlahan Adel meregangkan otot tubuhnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, setelah kelompok matanya terbuka sempurna, Adel mengedarkan pandangannya. Adel terkejut saat melihat Farel tidur dengan bertelanjang dada.


Dengan segera Adel menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, gadis itu bernafas lega saat melihat dirinya masih berpakaian lengkap. Adel tersenyum saat melihat wajah damai Farel saat tertidur pulas. Gadis itu melihat setiap inci wajah tampan suaminya itu.


"Tampan." Desisnya.


"Aku memang tampan," ujar Farel tiba-tiba. Sontak hal itu membuat Adel merasa malu.


Wajah Adel sudah bersemu merah, gadis itu segera bangkit tapi dengan cepat Farel menarik tubuh mungil istrinya itu. Adel pun jatuh dalam pelukan Farel, bukan itu saja, Farel dengan cepat menciumi pipi mulus Adel.


"Adel mau mandi Om." Adel berusaha lepas, tapi usahanya sia-sia. Farel tidak akan melepaskan Adel begitu saja.


"Nanti aja, masih terlalu pagi," ujar Farel. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


Adel melirik jam yang bertengger di dinding. "Pagi apanya Om, udah siang gini."


Farel terkekeh. "Anggap aja masih pagi."


Farel kembali memberi Adel kecupan mesranya. Lalu memeluk tubuh mungil Adel dengan begitu erat. Entah kenapa Adel juga merasa nyaman dalam pelukan Farel. Rasanya ingin tetap seperti itu.


"Emang Om enggak kerja?" tanya Adel.


"Enggak, pengennya ngerjain kamu." Farel menelusuri ceruk leher Adel.


"Om apaan sih, geli tau," ujar Adel.


Bukannya berhenti, justru Farel semakin menjadi. Tapi aksinya terhenti saat handphonenya tiba-tiba berdering.


"Siapa sih, pagi-pagi udah nelfon. Ganggu aja," gerutu Farel. Dengan malas Farel mengambil handphonenya yang berada di atas nakas.


[ Halo ]


[ Harus sekarang ya, nggak bisa besok atau kapan gitu ]


[ Iya, iya, bentar lagi aku ke sana ]


Setelah selesai Farel segera menutup sambungan teleponnya. Lalu meletakkan handphonenya kembali di atas nakas.


"Siapa yang telepon Om?" tanya Adel.


"Raka, ya udah aku mandi dulu ya." Farel mencium bibir Adel, lalu bergegas bangkit dari tempat tidur, dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Adel tersenyum, lalu memegangi bibirnya yang baru saja Farel cium. Adel tidak sadar jika Farel melihatnya dari pantulan cermin. Farel ikut tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


Selang 20 menit, Farel sudah siap dengan kemeja kerjanya. Setelah siap Farel bergegas turun ke bawah, menuju ke meja makan. Di dapur Adel tengah sibuk membuat nasi goreng kesukaan Farel.


"Sayang, sudah belum. Sudah siang nih." Farel menarik kursi dan menjatuhkan bobot tubuhnya.


"Sebentar." Seru Adel. Setelah siap Adel segera membawa nasi goreng tersebut ke meja makan.


"Aku pergi dulu ya, pagi ini aku ada meeting." Farel bangkit dari duduknya dan meneguk kopi yang sudah mulai dingin.


"Enggak sarapan dulu Om." Adel mengambil piring yang berada di hadapan Farel.


"Enggak usah, nanti aja di kantor." Farel mencium kening Adel, dan setelah itu Farel melangkah pergi.


"Om tunggu." Teriak Adel. Gadis itu berlari mengejar Farel, dengan membawa kotak bekal yang ia siapkan tadi.


"Nanti bisa Om makan di kantor." Adel menyerahkan bekal makanan itu.


Farel tersenyum. "Makasih ya Sayang, kamu memang istri yang pengertian."


Setelah itu Farel berjalan keluar menuju pintu utama. Adel pun mengantar Farel sampai di depan pintu, setelah mobil Farel melaju meninggalkan halaman rumahnya. Adel bergegas masuk ke dalam.


***


Setibanya di kantor, Farel bergegas menuju ke ruangannya, tapi langkahnya terhenti saat melihat Raka yang tergesa-gesa menghampirinya. Raka datang dengan membawa beberapa berkas di tangannya.


"Ada apa?" tanya Farel. Lelaki itu berdiri menghadap ke arah Raka.


"Sebentar lagi meeting dimulai," ujar Raka.


"Secepat ini," pekik Farel. "Ya sudah ayo."


Raka dan Farel bergegas menuju ke ruang meeting. Setibanya di ruang meeting, Raka dan Farel segera duduk, dan setelah semua berkumpul, meeting pun segera Farel mulai.


Satu jam telah berlalu, meeting pun telah selesai. Farel kini sudah berada di ruangannya, begitu juga dengan Raka.


Farel nampak sibuk dengan tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani.


Selang beberapa menit terdengar pintu ruangan diketuk. Dengan segera Farel bersuara dan menyuruhnya untuk masuk.


Perlahan pintu terbuka, tetapi Farel masih fokus pada berkas-berkas yang ada di hadapannya.


Derap kaki terdengar, dengan segera Farel mendongakkan kepalanya. Ia terkejut saat melihat siapa yang datang. Seorang perempuan dengan rambut panjang yang tergerai, dan dengan memakai dress di atas luntut tanpa lengan.


"Anggia." Desis Farel. Dengan cepat Farel memalingkan wajahnya.


"Selamat siang Mas," sapa Anggia. Perempuan itu berjalan menghampiri Farel yang masih duduk di kursi.


Melihat Anggia mendekat, dengan cepat Farel bangkit dari duduknya. Lelaki itu berjalan menjauhi Anggia. Jujur dalam hatinya masih ada rasa yang Farel sendiri tidak tau, apa arti dari rasa itu. Tapi Farel sadar, dirinya harus bisa menjaga hati dan perasaan orang yang sangat ia cintai.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Farel dengan datar.


Anggia berjalan mendekati Farel, perempuan itu berdiri di depan Farel. Matanya menatap lekat wajah lelaki yang pernah mengisi relung hatinya. Tatapan Anggia benar-benar menghanyutkan, mata Farel sama sekali tidak berkedip.


Entah apa yang telah merasukinya. Anggia menarik tangan Farel menuju ke sofa. Lelaki itu hanya menurut, tanpa diduga Anggia mendorong tubuh Farel hingga jatuh terlentang di atas sofa.


Lalu Anggia duduk di sebelah Farel.


Tangan Anggia terulur, dan hendak melepas kancing kemeja Farel. Dengan cepat Farel menepisnya, tapi Anggia tidak berhenti begitu saja. Justru perempuan itu semakin menggila, Anggia naik ke atas tubuh Farel dan memegang kedua tangan lelaki itu.


"Anggia, apa yang akan kamu lakukan." Farel mencoba mendorong tubuh perempuan itu. Tapi tenaga Anggia cukup kuat.


"Kamu sudah gila .... "


"Iya, aku memang sudah gila. Dan itu semua gara-gara kamu Mas," potong Anggia dengan cepat.


Anggia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Perempuan itu terus berusaha untuk bisa menyentuh leher, bahkan bibir Farel. Sementara Farel sendiri sedikit kewalahan menghadapi tenaga Anggia yang cukup kuat.


Selang beberapa menit tiba-tiba pintu ruangan Farel terbuka. Seorang gadis masuk yang tak lain adalah Adel. Gadis itu masuk ke dalam tanpa merasa curiga. Setelah di dalam, mata Adel terbelalak melihat suaminya tengah bersama wanita lain.


Dada Adel bergemuruh, aliran darahnya mengalir lebih cepat. Jantungnya bergejolak naik-turun layaknya roller coaster. Emosinya sudah di ubun-ubun, ibarat gunung yang sudah siap memuntahkan lahar panasnya. Adel tidak menyangka kalau dirinya akan melihat adegan yang menjijikkan itu.


"Mas Farel," teriak Adel. Seketika Farel dan Anggia menoleh, gadis itu berjalan menghampiri dua insan itu yang berada di sofa.


"Dasar wanita murahan." Dengan kasar Adel mendorong Anggia, setelah itu Adel menarik dasi yang melilit di leher Farel, hingga lelaki itu bangkit dan berdiri.


"Sayang, tolong kamu jangan salah paham ya. Aku bisa jelasin ini semua." Farel memegang tangan Adel, berharap gadisnya itu bisa tenang.


Adel menatap tajam netra hitam milik suaminya itu. "Diam, Adel nggak nyuruh mas Farel buat ngomong."


Seketika Farel terdiam, lelaki itu menelan salivanya dengan kasar. Farel benar-benar tidak menyangka, jika istrinya yang imut dan mungil itu, bisa menakutkan seperti itu saat sedang marah.


Adel mengalihkan pandangan ke arah Anggia.


"Dan kamu, apa tidak ada lelaki lain, sehingga kamu menggoda laki-laki yang sudah beristri." Adel menunjuk Anggia dengan jari telunjuknya.


"Heh anak kecil, kamu pikir kamu itu siapa. Asal kamu tau, sebelum mas Farel mengenal kamu, dia lebih dulu mengenalku," seru Anggia. Perempuan itu tidak mau kalah dengan Adel.


Adel menyunggingkan senyumnya. " Itu sudah tidak berlaku, karena sekarang mas Farel hanya milik aku."


Lagi-lagi Farel hanya bisa menelan salivanya sendiri. Sungguh apa yang terjadi di hari ini berada di luar dugaan.


Adel kembali mengalihkan pandangan ke arah suaminya. Sementara Anggia masih tidak bergeming setelah mendengar apa yang Adel ucapkan.


"Sekarang pulang." Adel menarik tangan Farel, tatapan matanya begitu tajam.


"Tap-tapi pekerjaan aku .... "


Adel kembali menatap manik hitam milik suaminya itu. "Pekerjaan apa, kerja bermesraan dengan wanita murahan itu."


"Sayang, aku bisa .... "


"Pulang." Potong Adel dengan cepat. Gadis itu kembali menarik tangan Farel. Sementara Farel sudah pasrah dengan istri kecilnya itu.


Selama Adel dan Farel berjalan keluar sampai tiba di parkiran, keduanya menjadi pusat perhatian para karyawan yang bekerja di kantor Farel. Bahkan mereka menatap Farel dan Adel dengan tatapan heran. Tetapi Farel sama sekali tidak menghiraukannya.


Setibanya di parkiran, Adel segera menyuruh masuk ke dalam mobil dan diikuti dengan dirinya. Setelah itu Adel menyuruh supir pribadi Farel untuk membawa mereka pulang ke rumah.


Selama perjalanan pulang, Farel memilih untuk diam. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di punggung kursi. Sesekali Farel memijit pelipisnya, ia tidak tau apa yang akan Adel lakukan setelah di rumah. Sementara Adel tetap diam, dengan memandang ke luar jendela.


***


Mobil sudah berhenti di halaman rumah. Adel bergegas turun, begitu juga dengan Farel. Gadis itu kembali menarik tangan Farel untuk masuk ke dalam rumah. Supirnya yang melihat itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Mereka sudah berada di kamar, dengan cepat Adel mengunci pintu kamarnya. Farel semakin terheran-heran dengan apa yang Adel lakukan. Gadis itu melempar tas selempangnya ke sofa, lalu menarik jas yang masih melekat di badan Farel.


"Adel, kamu baik-baik saja kan." Farel mencoba memegang tangan istrinya itu. Tapi dengan cepat Adel menepisnya, lalu mendorong tubuh Farel hingga jatuh di atas ranjang.


"Adel kamu mau ngapain?" tanya Farel. Lelaki itu pun bangkit, tapi lagi-lagi Adel mendorongnya.


"Om bilang mau ngapain, dari pada Om melakukannya dengan wanita murahan itu, lebih baik Om melakukannya dengan istri Om sendiri. Sudah sah, dapat pahala lagi." Adel melepas dress yang ia pakai. Kini hanya menyisakan kaos dalam dan juga celana sepaha.


Farel hanya terdiam, lelaki itu menelan salivanya sendiri, saat melihat tubuh mulus istrinya itu. Setelah itu Adel naik ke ranjang, dan mulai melepas dasi yang melilit di leher Farel, setelah terlepas gadis itu melemparnya. Kemudian Adel mulai membuka kancing kemeja Farel, satu persatu.


Saat kancing yang terakhir, dengan cepat Farel memegang tangan Adel. Gadis itu tersentak, tangannya tidak bisa Adel gerakan. Farel bisa saja menghentikan aksi Adel sejak tadi. Tapi lelaki itu sangat penasaran dengan apa yang akan istri kecilnya itu lakukan.


"Apa kamu yakin, ingin melakukan ini?" tanya Farel. Netranya menatap lekat wajah sang istri.


"Apa Om melihat ada keraguan pada diri Adel." Adel pun membalas tatapan Farel.


"Tapi kamu melakukan ini karena marah, apa kamu tidak akan menyesal," ujar Farel.


"Istri mana yang tidak marah, jika melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Terlebih wanita itu adalah mantan kekasihnya. Dan asal Om tau, Adel tidak akan menyesal, karena ini adalah salah satu kewajiban seorang istri. Adel juga tau, kalau sebenarnya Om sudah tidak sabar kan," tutur Adel. Seketika Farel terdiam mendengar penuturan dari Adel.


Kemudian Farel membalik posisi mereka, kini Adel berada di bawah, sementara Farel berada di atas. Farel tersenyum, lalu membelai lembut wajah mungil istrinya itu. Farel memejamkan matanya sejenak, setelah itu ia kembali membuka matanya.


"Baik, kita akan melakukannya sekarang." Farel mencium kening Adel dengan begitu lembut.


Setelah Farel membaca do'a untuk memulai ibadah halalnya. Lelaki itu kembali mencium kening sang istri. Siang hari yang cerah, akan menjadi saksi bisu penyatuan Adel dan Farel. Dinding pertahanan yang selama ini mereka tahan, kini telah runtuh.


Penyempurna pernikahan mereka akan terlaksana. Keduanya sama-sama larut dalam kebahagiaan, rasa emosi dan marah seketika luntur begitu saja. Kini hanya ada senyum yang terukir di bibir mereka. Keduanya akan mencapai kenikmatan dunia bersama, tanpa ada rasa penyesalan dalam diri mereka.


SENSOR kalian pasti tau kan, apa yang akan terjadi setelah ini. Bagi yang merasa di bawah umur, jangan kepo ya.


Pukul 3 sore, Adel baru terbangun. Gadis itu menggeliatkan tubuhnya untuk meregangkan otot-ototnya agar rileks. Adel tersenyum saat mengingat kejadian siang tadi bersama dengan sang suami. Gadis itu mendongak dan menatap lekat wajah Farel yang masih terlelap.


Perlahan Adel menelusuri setiap inci wajah tampan suaminya itu dengan jari telunjuknya. Aksi Adel terhenti saat tangan kekar Farel memegangi tangan Adel. Seketika Adel terkejut saat melihat Farel telah terbangun dari tidurnya. Dengan cepat Adel mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"Ish, O .... " ucapan Adel terpotong saat benda kenyal itu menyentuh bibirnya. Seketika mata Adel melotot.


"Nggak usah melotot. Dan satu lagi, kita itu suami istri, alangkah baiknya jika kamu merubah panghilanmu kepada aku," ujar Farel. Matanya menatap lekat wajah sang istri.


Adel terdiam sejenak. "Em, terus Adel harus manggil apa."


"Ya terserah kamu, asal jangan Om. Karena aku bukan Om kamu, tapi suami kamu." Farel mencium pipi kanan Adel.


"Ya sudah, Adel manggilnya oppa aja ya," ujar Adel dengan tersenyum.


"Enak aja. Kamu pikir aku oppa-oppa Korea apa. Kamu akan mendapat hukuman jika memanggilku dengan sebutan oppa." Farel mencium pipi kiri Adel.


Adel tersenyum. "Iya, iya. Kalau begitu Adel manggilnya Mas aja."


"Itu terdengar lebih baik. Dan aku suka." Farel tersenyum, lalu memeluk tubuh mungil istrinya itu.


Keduanya kembali larut dalam kebahagiaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Farel kembali menggoda Adel hingga membuat gadis itu merasa kesal. Tapi bukan Farel namanya, jika tidak bisa membuat istrinya tersenyum bahkan tertawa kembali.