
Maya tersenyum puas setelah rencana berhasil, sementara Farel kini sudah berada di kamarnya. Pria itu terus saja mengumpat kesal, bagaimana tidak kenal. Kalau Adel sampai melihatnya, bisa-bisa itu jadi masalah yang besar, karena sudah dapat ditebak kalau Adel pasti akan salah paham. Dan ujung-ujungnya yang kena pasti si Farel.
Selang beberapa menit Adel keluar dari kamar mandi, ia melihat suaminya yang tengah duduk di sofa, dengan segera menghampirinya. Wanita itu menjatuhkan bobot tubuhnya di samping sang suami, dan hal itu membuat Farel terkejut bukan main, seperti orang yang baru mendapatkan dor prize gede-gedean.
"Astaghfirullah, aku kira kuntilanak." Farel terlonjak kaget.
"What, wanita imut dan secantik aku, Mas kira kuntilanak. Kayaknya Mas wajib periksa mata deh." Adel mendengus kesal. Bagaimana tidak kesal, istri sendiri dibilang kuntilanak.
"Why, kamu pikir aku sudah katarak apa." Farel menunjukkan ekspresi wajah terkejut dan cengo. " Ada-ada saja, tingkah laku wanita yang membuatku .... "
Belum sempat Farel melanjutkan liriknya, dengan cepat Adel membungkam mulut suaminya itu dengan telapak tangannya. Alhasil, dengan sangat terpaksa Farel memilih untuk diam, setelah Farel benar-benar diam, dengan perlahan Adel melepas bungkamannya.
"Adel nggak punya receh, Mas. Jadi Mas nggak usah nyanyi deh. Lagi pula suara Mas nggak ada bagus-bagusnya ... masih bagusan suara kucing tetangga," ledek Adel. Seketika mata Farel membulat sempurna.
"What .... enggak lucu." Farel memalingkan wajahnya.
Adel mengerutkan keningnya. "Mas pikir Adel lagi ngelawak apa. Udah malam tidur aja."
Adel bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke ranjang. Wanita itu naik ke atas ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya, sementara Farel duduk di sofa. Tapi selang beberapa menit pria itu bangkit dan berjalan menyusul sang istri. Farel pun merebahkan tubuhnya di sang istri.
***
Matahari telah terbit, sinarnya yang cerah menghangatkan tubuh. Tetesan embun masih sedikit basah, bunga yang berwarna-warni bermekaran, semerbak baunya menusuk hidung. Serta burung-burung yang berterbangan di angkasa lepas, menambah suasana pagi menjadi lebih indah.
Pagi ini, Farel sudah siap dengan pakaian kerjanya, sementara Adel juga telah selesai memasangkan Farel dasi, tak lupa Adel juga memasangkan arloji di pergelangan tangan suaminya itu. Setelah siap, keduanya pun keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga.
Setibanya di bawah, Farel segera berpamitan untuk bergegas berangkat ke kantor. Pagi ini Farel tidak berpamitan dengan putrinya itu, bukan karena apa. Tapi hari ini jadwal Farel di kantor begitu padst, pukul 8 nanti akan ada meeting. Belum lagi jadwal yang lain, dan mungkin akan sangat menguras otaknya, dan juga tenaganya.
"Sayang, aku pergi dulu ya," ujar Farel.
"Iya Mas, hati-hati ya." Adel mencium punggung tangan suaminya itu.
"Assalamualaikum." Farel melangkahkan kakinya menuju ke mobil.
"Wa'alaikumsalam." Adel tersenyum dan memandangi suaminya yang mulai masuk ke mobil.
Perlahan Farel melajukan mobilnya dan meninggalkan halaman rumahnya. Setelah mobil Farel sudah tidak terlihat lagi oleh pandangan matanya, Adel memutuskan untuk masuk ke dalam. Setelah di dalam, Adel memutuskan untuk ke dapur. Ia akan membuatkan sarapan untuk putrinya itu. Sementara Maya kini tengah mengajak Aqilla berjemur di halaman belakang.
Selesai membuat sarapan untuk Aqilla, Adel bergegas menemui Maya. Wanita itu berjalan menuju halaman belakang rumah, terlihat Maya tengah asyik bercanda dengan Aqilla. Adel berjalan mendekat, tapi langkahnya terhenti saat mendengar handphonenya berdering, Adel pun mengurungkan niatnya, dan memilih kembali lagi ke rumah.
Setibanya di dalam, Adel bergegas menuju ruang tengah, karena Adel meninggalkan handphonenya di sana. Dengan cepat Adel mengambil benda pipih tersebut, tertera satu pesan telah diterima. Adel pun segera membukanya, seketika matanya terbelalak setelah melihat sebuah foto yang dia sendiri tidak tau siapa pengirimnya.
"Foto apa ini ... mas Farel, enggak mungkin, tapi foto ini." Dada Adel terasa sesak saat melihat foto tersebut. Ingin tidak mempercayai, tapi foto itu sebagai bukti. Ingin percaya, tapi hati kecilnya mengatakan jika semua itu hanya rekayasa semata.
***
Sementara di kantor Farel tengah sibuk dengan setumpuk berkas yang harus ia selesaikan hari ini juga. Selesai meeting pagi tadi Farel kembali menghadapi pekerjaannya, sebelum makan jam istirahat siang nanti, Farel berharap pekerjaanku sudah selesai. Karena pukul 1 Farel ada kunjungan ke cabang perusahaannya yang berada di Bandung.
Bukan itu saja, sejujurnya minggu ini Farel ada jadwal untuk berkunjung ke Singapura. Tapi pria itu enggan melakukannya, Farel memilih mengutus orang kepercayaannya, yaitu Raka. Rasanya Farel tidak ingin pergi jauh, apa lagi sampai meninggalkan keluarga kecilnya itu. Andai saja putrinya sudah besar, mungkin Farel akan membawa kemana dia akan pergi.
Pukul 13.00 Farel sudah berhasil menyelesaikan pekerjaannya itu. Kini dia tengah bersiap-siap untuk pergi ke Bandung.
Kunjungan kerja yang tidak bisa Farel abaikan, cabang perusahaannya bukan hanya ada di Bandung, tetapi di luar kota lainnya juga ada. Bahkan di luar negeri pun ada, seperti Singapura, Jerman, Amerika, dan lain lagi.
"Gimana, udah siap belum?" tanya Raka. Saat ini pria itu tengah berada di ruangan Farel.
"Sudah, ayo." Keduanya berjalan keluar dari ruangan. Mereka berjalan menuju ke parkiran.
Farel dan Raka bergegas masuk ke dalam mobil, setelah itu mobil yang mereka naiki segera melaju meninggalkan pelataran kantor. Mobil melaju membelah jalanan ibu kota yang padat akan kendaraan. Kendaraan roda dua, empat, dan kendaraan umum lainnya, saling berlalu-lalang memenuhi jalanan yang memang selalu padat.
"Gimana kabar istri dan anak kamu?" tanya Farel.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri? Oya aku dengar kamu pake baby sitter untuk mengurus Aqilla, memang benar." Raka mengalihkan pandangan ke arah Farel.
"Iya, kok kamu tau ... sebenarnya itu kemauan mama, mama yang udah bawa tuh perempuan," jelas Farel.
"Oh, saran aku sih kamu hati-hati aja. Soalnya jaman sekarang jarang ada orang yang bekerja dengan jujur. Apa lagi perempuan, itu sebabnya Nadia memilih untuk mengurus Azam sendiri." Farel terdiam setelah mendengar penjelasannya dari sahabatnya itu.
"Iya kamu benar, aku juga ngerasa ada yang tidak beres dengan tuh perempuan." Farel mengubah posisi duduknya agar menghadap ke arah Raka.
Raka mengangguk, setelah itu keduanya diam. Mereka berada dalam pemikirannya masing-masing, sejujurnya Farel ingin menceritakan kejadian semalam yang ia alami. Tapi pria itu enggan untuk bercerita pada Raka, Farel takut kalau nanti sahabatnya itu tidak percaya dengan ceritanya itu. Oleh sebab itu Farel memilih untuk diam.
***
Perjalanan Jakarta ke Bandung berjalan cukup lancar. Hanya menempuh waktu 2 jam mereka sudah tiba di kota kembang, yaitu Bandung, di mana salah satu perusahaan Farel berdiri di kota itu. Bahkan bukan hanya perusahaannya saja, Farel juga memiliki perkebunan teh di kota tersebut. Beberapa resort dan villa juga berhasil ia bangun di kota itu.
Setibanya di sana Farel akan langsung pada intinya. Pria itu tidak ingin berlama-lama di kota itu, rasa rindu dengan dua bidadarinya membuat Farel tidak bisa jauh mereka. Hanya butuh waktu satu jam Farel telah menyelesaikan tugasnya di kota itu, setelah selesai pria itu akan bergegas kembali ke ibu kota, Jakarta.
Perjalanan dari Bandung ke Jakarta berjalan cukup lama. Selain waktu yang sudah sore, kepadatan kendaraan yang memenuhi jalan membuat Farel harus terjebak dalam perjalanan. Bahkan kemacetan pun tidak bisa ia hindari, mungkin Farel akan membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih untuk sampai ke rumah.
Tepat pukul 18.00 mobil Farel berhenti di halaman depan rumah. Pria itu bergegas keluar dari mobilnya, melangkahkan kakinya masuk ke dalam istananya, di mana kedua princessnya berada. Rasa lelah, capek, dan penat telah menjadi satu, ingin rasanya Farel merebahkan tubuhnya itu di atas ranjang, merasakan kenyamanan untuk meluruskan otot-ototnya.
Tapi yang terjadi tidak sesuai apa yang Farel harapkan. Pria itu mendapat tatapan tajam dari sang istri, bahkan bukan itu saja, Adel berdiri dengan berdecak pinggang. Hal itu membuat Farel heran 100%, entah kesalahan apa yang sudah Farel perbuatan sehingga Adel bersikap seperti itu. Karena efek capek, Farel memilih melewatinya dan berjalan naik ke lantai atas.
Adel semakin dibuat geram dengan sikap suaminya itu. Tanpa berfikir lagi, wanita itu berlari menyusul sang suami. Setibanya di kamar Farel melempar jasnya ke sofa, ia juga mulai melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Farel dikejutkan dengan suara pintu yang Adel buka dengan kasar, entah dengan sengaja atau apa.
"Jelaskan foto itu, Mas." Adel melempar banyak lembar foto ke arah suaminya itu.
Farel terdiam sejenak. "Sekarang sudah waktunya buka puasa 'kan, kalau mau ngajak bertengkar nanti saja, aku mau ngisi perut dulu."
Farel melenggang pergi meninggalkan Adel, tanpa memperdulikan foto-foto yang Adel lempar. Hati Adel semakin sakit saat melihat suaminya yang seperti tidak peduli dengan dirinya. Rasa kesalnya sudah mendekati lever terakhir, dengan cepat Adel mengambil foto-foto tersebut dan berlari menyusul sang suami. Terlihat Farel tengah mengambil air mineral untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Sekarang Mas jelasin tentang foto-foto itu." Adel kembali melempar foto tersebut ke arah suaminya itu.
Farel terdiam sejenak, lalu mengambil foto-foto yang istrinya lempar itu. Seketika mata Farel membulat sempurna saat melihat foto tersebut. Dari mana foto itu, dan siapa yang mengirim foto itu, kenapa bisa sampai ke tangan Adel. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi benaknya, Farel melirik ke arah istrinya, sementara Adel sudah memberikan tatapan mematikan padanya.
"Kenapa Mas diam, ayo jelaskan." Adel berseru, dan hal itu membuat Farel terlonjak kaget. Begitu juga dengan Maya yang sedari tadi ada di ambang pintu ruang bermain, sementara bi Irah berada di ambang pintu dapur.
"Sayang, aku bisa jelasin semuanya. Kamu jangan mudah percaya dengan foto-foto itu, semuanya hanya hoax." Farel berusaha meyakinkan istrinya itu.
"Hoax dari mana, foto itu sudah jelas sebagai bukti, Mas. Ngaku saja kalau Mas itu selingkuh." Adel menatap tajam ke arah suaminya itu. Farel menelan salivanya sendiri saat melihat istrinya yang tengah marah itu.
Farel mendekati istrinya itu. "Sekarang kamu bilang, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya."
"Mas harus buktikan kalau foto itu hanya rekayasa saja ... tapi ingat, jika dalam waktu satu jam, Mas nggak bisa buktikan, jangan harap Mas bisa bersama dengan Adel lagi, dan juga Aqilla." Adel mendorong tubuh Farel dan berlari naik ke lantai atas.
Farel masih terdiam tak bergeming. "Sayang, kamu harus percaya sama aku. Suamimu yang tampan ini tidak mungkin selingkuh."
Bi Irah terkejut dengan apa yang ia lihat, perempuan paruh baya itu juga merasa sedih dengan masalah yang menimpa majikannya itu. Tetapi tidak dengan Maya, perempuan itu tersenyum puas melihat Farel dan Adel bertengkar, usahanya telah berhasil. Maya berharap selangkah lagi dia bisa membuat Adel dan Farel berpisah.
"Ini baru permulaan, sebentar lagi kalian pasti akan berpisah." Maya tersenyum licik.
Farel memutuskan untuk menyusul istrinya naik ke atas. Setibanya di kamar terlihat Adel tengah duduk santai di sofa, Farel melangkahkan kakinya mendekati sang istri. Pria itu berdiri di depan Adel dengan berdecak pinggang, senyum pun terukir di wajah tampannya itu. Adel yang menyadari itu, dengan perlahan mendongak dan menatap wajah tampan suaminya itu.
"Kenapa senyum-senyum, ada yang lucu," ujar Adel. Sementara Farel menjatuhkan bobotnya di samping sang istri.
"Kamu hebat, kamu mang jago dalam berakting," bisik Farel. Hal itu membuat Adel tersenyum.
"Iya lah, Adel gitu," sahut Adel dengan bangga.
Tiba-tiba saja Farel bangkit dari duduknya, dan mengambil vas bunga yang berada di atas meja. Dengan kasar Farel membanting vas tersebut, seketika Adel terlonjak kaget. Wanita itu berfikir jika suaminya tengah marah, saking kagetnya Adel ikut bangkit dan hendak mengeluarkan suaranya. Tapi dengan cepat Farel membungkam mulut istrinya itu.
"Kita buat, seolah-olah kalau kita lagi bertengkar. Kamu tau 'kan maksud aku," bisik Farel. Sementara Adel mengangguk, wanita itu paham dengan apa yang suaminya ucapkan.
"Mas tuh ya, udah salah tapi masih saja mengelak," teriak Adel, dengan suara yang cukup keras.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu kira. Ini hanya foto rekayasa, tolong percaya sama aku." Farel terus memohon pada istrinya itu.
"Mas bilang rekayasa, ini foto Mas. Mas mau ngomong apa lagi, Adel nggak akan percaya." Adel kembali berteriak dengan suara lebih keras.
Adel terdiam sejenak, wanita itu susah payah menahan senyum. Farel pun demikian, pria itu mengacungkan jempol ke arah istrinya itu. Mereka memang memiliki bakat berakting, demi melancarkan dramanya, keduanya harus melakukan itu. Awalnya Adel menolak, tapi setelah Farel meyakinkan, akhirnya Adel menerima usul dari suaminya itu.
Memang saat Adel menerima kiriman foto itu, ia sudah terbawa emosi. Wanita itu takut jika suaminya itu bermain api di belakangnya, tapi setelah diselidiki itu hanya rekayasa, agar Adel dan Farel berpisah. Satu jam setelah menerima foto itu, Adel baru teringat jika di rumah terdapat cctv yang sengaja Farel pasang. Dengan segera Adel masuk ke ruang kerja Farel, dan memeriksa hasil rekaman cctv tersebut.
Adel terkejut setelah melihat rekaman cctv itu, ia tidak menyangka jika Maya tega melakukan itu, demi bisa membuat dirinya dan sang suami bertengkar. Setelah mendapat bukti jika Maya bersalah, Adel segera mengirim pesan kepada Farel, ia menjelaskan semua yang terjadi pada rekaman tersebut, bahkan Adel juga mengirimnya kepada Farel.
Cukup lama Adel dan Farel berdiskusi lewat benda pipih itu. Setelah menemukan solusinya, mereka pun mengakhiri diskusi tersebut. Awalnya Adel ragu dengan rencana yang Farel buat, tapi tidak ada pilihan lain. Dengan sedikit terpaksa Adel pun menurutinya. Mereka akan membuat musuh merasa menang, tapi sesungguhnya yang menang adalah Adel dan Farel.
"Sayang, tolong kamu percaya sama aku. Aku nggak mungkin menghianati kamu, aku cuma cinta sama kamu." Farel menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Lepas Mas. Sekarang Mas keluar dari sini, Adel nggak mau liat muka Mas lagi. Keluar!" Bentak Adel. Farel terperanjat mendengar teriakkan istrinya itu.
"Nggak, sampai kapanpun aku nggak akan keluar. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Aku cinta sama kamu Adel!" Farel pun ikut berteriak, suaranya terdengar hingga ke lantai bawah.
"Mas bilang cinta. Kalau cinta Mas nggak mungkin selingkuh di belakang aku." Seru Adel.
"Diam!" Bentak Farel. Pria itu kembali membanting barang yang berada di dekatnya.
Adel kembali terkejut, tapi apa yang Farel lakukan semua hanya untuk melancarkan rencananya. Bukan itu saja Farel juga mematikan lampu di kamarnya, hal itu membuat Adel mengernyitkan keningnya. Adel belum paham dengan apa yang Farel lakukan, apa mungkin suaminya itu memiliki rencana lain, hati Adel terus bertanya-tanya.
"Sekarang kamu diam, dan turuti semua keinginan aku. Kalau kamu berani menolak, kamu akan bernasib buruk. Mengerti!" Bentak Farel. Pria itu menarik tangan istrinya dan membawanya ke dalam dekapannya.
Maya tersenyum puas mendengar keributan yang terjadi antara Farel dan Adel yang sengaja ia buat. Maya semakin yakin jika tidak lama lagi usahanya akan berhasil. Farel dan Adel akan segera berpisah. Tapi tidak dengan bi Irah, perempuan paruh baya itu justru takut mendengar majikannya bertengkar sampai sehebat itu.
Selama ia bekerja, baru kali ini ia mendengar majikannya bertengkar. Farel dan Adel di kenal dengan keluarga yang sangat harmonis, dan juga romantis, tapi mungkin saat ini keluarga itu tengah diuji. Rumah tangga memang tidak selalu berjalan dengan mulus dan juga lancar. Pertengkaran dan masalah yang datang adalah salah satu bumbu dalam membina bahtera rumah tangga.
"Mas mau ngapain?" tanya Adel, wanita itu masih dalam dekapan hangat suaminya itu.
"Apa ya ... kita buat adik untuk Aqilla saja, gimana," ujar Farel, dan hal itu membuat Adel membelalakkan matanya.
"Mas tuh, ya. Jangan aneh-aneh deh, umur Qilla aja belum genap satu tahun," sahut Adel dengan nada sedikit kesal.
"Iya, iya. Aku cuma becanda kok. I love you istriku." Farel mencium pucuk kepala Adel.
"I love you too suamiku." Adel menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Farel semakin mempererat pelukannya, rasanya begitu nyaman dengan posisi seperti itu. Farel benar-benar tidak bisa jauh dari sang istri, cintanya kepada Adel sudah sangat mengakar dalam relung hatinya yang paling dalam. Hanya nama Adel yang terukir di dalam hatinya itu. Dan juga nama Aqilla, putrinya. Dua wanita itu adalah kekuatan, sekaligus kelemahan Farel.