
Pukul 2 siang, mobil Farel sudah terparkir di depan gerbang sekolah Adel, hanya selang 5 menit gadis itu sudah keluar dari sekolah. Melihat mobil Farel sudah datang, Adel bergegas menghampirinya dan segera masuk ke dalam.
"Lama nunggunya ya Om," ucap Adel. Farel hanya tersenyum.
"Enggak juga," sahut Farel. Lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan, Adel lebih memilih melihat ke luar jendela, sementara Farel lebih fokus untuk menyetir.
Mobil membelah jalanan ibukota yang padat akan kendaraan, gedung-gedung tinggi menjulang.
Namun Adel merasa heran saat Farel tiba-tiba menghentikan laju mobilnya di depan pusat perbelanjaan.
"Kita mau ngapain Om?" tanya Adel. Sementara Farel segera turun, lalu berputar dan membuka pintu untuk Adel.
"Ayo turun," pinta Farel. Tidak ingin berdebat, Adel pun menurutinya.
Setelah itu, Farel langsung menggandeng tangan Adel dan masuk ke dalam, lagi-lagi Adel dan Farel menjadi pusat perhatian setiap pengunjung yang melihatnya.
Namun Farel sama sekali tidak menghiraukan hal itu.
Farel menghentikan langkahnya tepat di area perlengkapan sekolah, Adel benar-benar merasa bingung, kenapa Farel membawanya ke tempat itu.
"Kita mau ngapain ke sini Om?" tanya Adel. Ia pun sedikit berbisik.
"Mau senam. Kamu lihat ini tempat apa ... sudah sekarang kamu pilih mau ambil tas dan sepatu yang seperti apa, saya tunggu di sini," Farel merasa sedikit kesal dengan Adel yang seperti kurang peka itu.
Lalu ia pun menyuruh Adel untuk memilih tas dan sepatu serta perlengkapan lainnya. Sementara Farel memilih untuk duduk santai sembari menunggu istri kecilnya itu.
Adel masih berdiri mematung, ia terlihat sedikit bingung.
"Adelia." Panggil Farel. Matanya menatap tajam ke arah gadis itu.
Adel pun menoleh. "Iya Om." Lalu tersenyum semanis mungkin.
Adel pun bergegas memilih tas dan sepatu, tapi saat ia tengah melihat-lihat, Adel terkejut dengan harga yang tertera. Ia pun berlari menghampiri Farel yang tengah asyik dengan handphonenya.
"Sudah." Ujar Farel, saat melihat Adel menghampirinya.
Adel menggelengkan kepalanya. "Belum Om."
"Kok belum?" tanya Farel. Lelaki itu merasa heran dengan istrinya itu.
"Hargai mahal-mahal banget Om, sayang uangnya," bisik Adel tepat di telinga Farel.
Farel pun mengusap wajahnya, lalu menggelengkan kepalanya. Farel tidak habis pikir dengan istrinya itu, bukankah Adel pernah diajak ke tempat itu sebelumnya, apa Adel sudah lupa, jika tempat itu adalah milik Farel, suaminya.
"Sekarang kamu pilih semua perlengkapan sekolah kamu, dan kamu harus ingat, tempat ini milik saya, jadi kamu tidak perlu khawatir dengan masalah harga, sudah ayo cepat," Adel menepuk jidatnya sendiri, lantaran ia baru ingat kalau Farel pernah mengajaknya ke tempat ini sebelumnya.
Setelah itu Adel bergegas memilih semua perlengkapan sekolah yang Adel butuhkan, awalnya Adel merasa tidak enak, tapi karena butuh, akhirnya ia tidak peduli, Adel pun segera mengambil semua kebutuhannya.
30 menit telah berlalu, kini Adel dan Farel sudah dalam perjalanan pulang. Adel benar-benar merasa sangat lelah, tapi bagi Adel itu adalah hal biasa, bahkan saat bersama ibunya, rasa lelahnya melebihi dari ini.
Adel dan Farel segera turun dari mobil, Adel sedikit kesusahan membawa paper bag yang cukup banyak itu. Merasa kasihan, Farel mengambil alih semuanya, meski awalnya Adel menolak, tetapi Farel tetap memaksa.
Farel dan Adel berjalan beriringan masuk ke dalam, di dalam Lidia dan Indra tengah duduk santai di ruang tengah. Melihat putra dan menantunya pulang, keduanya bangkit dan menghampiri Farel dan Adel.
"Kalian dari mana saja, sesore ini baru pulang?" tanya Lidia.
"Biasa ma, Farel habis nemenin Adel cari perlengkapan sekolahnya," jawab Farel, sementara Adel hanya tersenyum.
"Ya sudah, kalian istirahat saja, soalnya nanti malam mama sama papa mau ngajakin kalian makan malam di luar," timpal Indra.
"Ok pa, ayo Sayang," sahut Farel. Lalu merangkul pundak kiri Adel, dan berjalan menaiki anak tangga.
Setibanya di kamar, Farel langsung meletakkan paper bag itu di atas sofa, sementara Adel bergegas duduk lalu mulai membuka sepatunya.
Berbeda dengan Farel, tanpa merasa malu lelaki itu langsung membuka kemejanya, dan memperlihatkan tubuh atletisnya.
Adel yang hendak ke kamar mandi, sontak menjerit melihat suaminya sudah bertelanjang dada.
Baru saja sekejap, sepatu dan kemeja yang menempel sudah terlepas.
"Aaaaa." Adel menjerit, lalu menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Jeritan Adel terdengar sampai ke bawah, Lidia dan Indra yang masih duduk di sofa mendengar jeritan menantunya itu. Bukannya khawatir, justru keduanya saling tersenyum.
"Lihat tuh kelakuan anak papa," ujar Lidia. Wanita itu terus saja tersenyum.
"Ha, Farel, Farel, baru saja pulang sudah mau ngajakin olah raga, enggak kasihan apa sama Adel," Indra tertawa, membayangkan kelakuan putranya itu.
Sementara di kamar, Farel bersikap biasa saja, bahkan lelaki itu sengaja menggoda Adel.
"Kenapa Sayang, kamu kaget ya ngelihat tubuhku yang indah ini ... pasti kamu tergoda, iya kan?" Farel terus-menerus menggoda Adel.
"Om apaan sih, pergi sana, Adel enggak mau lihat," Adel mencoba mendorong tubuh Farel.
Namun sesuatu tak terduga terjadi,
tangan Adel tiba-tiba tertarik oleh Farel, dan keduanya terjatuh. Adel jatuh tepat di atas tubuh Farel, seketika mata Adel membulat, netra mereka pun saling bertemu.
Namun saat Adel hendak berteriak, dengan cepat Farel membungkam mulut Adel dengan tangannya.
"Jangan teriak, nanti mama sama papa denger," ucap Farel. Lalu Farel membalikkan posisi tubuhnya.
Jantung Adel berdetak lebih kencang, nafasnya pun naik-turun seperti roller coaster. Netranya masih saja saling beradu.
Namun tiba-tiba mata Adel melotot saat menyadari jika posisi kini berada di bawah.
"Jangan melotot," kata Farel. Perlahan Farel pun bangkit dan segera beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Adel masih terdiam, ia tidak menyangka akan terjadi adegan yang di luar dugaan.
Setelah cukup lama terdiam, setelah itu Adel pun bergegas bangkit.
***
Pukul 8 malam, Adel dan Farel sudah siap, mereka akan pergi makan malam bersama kedua orang tua Farel.
Farel terkejut saat melihat Adel dengan pakaian yang menurutnya terlalu ABG.
Farel akui, istrinya memang masih ABG, tapi setidaknya ia berpakaian yang pantas dengan Farel, itu akan terlihat lebih baik. Tidak seperti sekarang, memakai rok di atas lutut di padukan dengan t-shirt.
Farel mengusap wajahnya dengan kasar, memang menurut Farel, Adel sangat pas dengan penampilannya yang seperti itu. Tapi bukankah itu terlalu ABG.
"Ganti Del," pinta Farel.
"Emangnya kenapa Om, Adel kan terlihat imut pake pakaian kayak gini," Adel berujar. Bahkan gadis itu sengaja memainkan matanya yang membuat Farel geleng-geleng kepala.
Kemudian Farel berjalan ke arah almari, lalu mengambil dress selutut dengan warna yang senada, seperti baju yang Farel pakai.
"Pake ini, jangan protes, dan ingat perjanjian kita," ucap Farel cepat. Setelah itu Farel kembali duduk di sofa.
Adel hanya mendengus kesal. Dengan terpaksa Adel berjalan masuk ke dalam ruang ganti, dan segera mengganti pakaiannya.
Setelah selesai Adel pun keluar, Farel yang melihatnya sampai tidak berkedip.
Penampilan Adel benar-benar memukau, wajahnya pun tetap terlihat imut, dan dress yang Adel pakai sangat pas di tubuh mungilnya itu. Adel berjalan menghampiri Farel yang masih tidak bergeming.
Adel berjalan mendekati Farel. "Helo, jadi pergi enggak Om." Tangan Adel melambai-lambai di depan mata Farel.
Farel pun sadar dari lamunannya. "Ah iya, jadi. Ayok." Farel langsung menarik tangan Adel, mereka pun segera dan bergegas turun ke bawah.
Setibanya di bawah, Adel celingukan, gadis itu tidak menangkap sosok mertuanya itu. Padahal mereka yang mengajak dirinya dan sang suami makan malam di luar.
"Nyari apaan, enggak lihat suaminya yang tampan ini sudah berdiri di samping kamu," ujar Farel. Lelaki itu merasa heran dengan istrinya yang sedari tadi celingukan enggak jelas.
"Ih, PD banget sih. Aku cari mama sama papa, kok mereka enggak kelihatan," tukas Adel. Gadis itu masih saja mengedarkan pandangannya.
"Mama sama papa sudah berangkat duluan, kamu sih kelamaan dandannya, padahal hasilnya biasa saja," mendengar ucapan Farel, seketika Adel mencubit pinggang Farel, hingga lelaki itu meringis kesakitan.
"Auuh, sakit tau," keluh Farel. Tangannya sembari memegangi pinggangnya yang masih terasa sakit.
"Makanya kalau ngomong jangan sembarang, tadi Om sendiri kan yang nyuruh Adel buat ganti baju, jadi Om jangan nyalahin Adel dong. Kalau Om enggak nyuruh Adel buat ganti pastikan .... "
"Stop." Potong Farel dengan cepat. Tangannya pun membungkam mulut Adel, agar gadis itu berhenti ngomel yang tidak penting.
Merasa nafasnya sedikit sesak, dengan paksa Adel melepas tangan Farel yang membekap mulutnya.
"Tangan Om bau," cibir Adel. Bibirnya yang mungil sedikit manyun.
Seketika Farel menciumi tangannya sendiri. "Enggak kok, mulut kamu tuh yang bau." Lalu mencubit hidung Adel yang pesek itu.
"Om, sakit," teriak Adel. Matanya menatap tajam ke arah lelaki itu. Bibirnya manyun, serta tangannya mengelus-elus hidungnya.
Sementara Farel tertawa puas. "Udah ah, kita lanjut nanti aja ya, kita pergi sekarang." Lelaki itu langsung merangkul pundak kanan Adel, dan berjalan beriringan.
Sementara Adel masih saja manyun, sesekali Farel menggodanya, mencolek hidung serta pipi gadisnya itu.
Setelah tiba di pintu utama, Farel segera membukanya, keduanya terkejut saat melihat seorang wanita sudah berdiri di depan pintu.