
Hari telah berganti, gelapnya malam kini sudah berganti dengan terangnya sinar mentari. Sejak pukul 03.30 Adel dan Farel sudah terbangun, Aqilla bangun lebih awal dari biasanya. Karena biasanya Qilla bangun sekitar pukul 05.00 pagi, tapi kali ini sebelum subuh putrinya itu sudah bangun.
Pukul 06.00 Adel sudah berada di dapur, wanita itu tengah berkutat dengan peralatan dapur. Meski rasa kantuk melanda, tapi semua itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri. Meski ada pembantu, tapi Adel selalu menyiapkan makanan sendiri, asistennya hanya bertugas untuk mencuci dan bersih-bersih rumah.
Selama Adel memasak, Farel sibuk menemani putrinya yang sampai sekarang belum juga mau tidur kembali, padahal mata Farel sudah tinggal beberapa wat saja. Ingin rasanya Farel merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, tapi jika itu ia lakukan, tidak ada yang mengawasi putrinya itu yang masih asyik bermain.
Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi, Adel bergegas naik ke atas untuk menuju ke kamarnya. Setiba di kamar, mata Adel tertuju pada suami dan juga putrinya. Keduanya sama-sama tertidur dengan posisi yang berbeda. Farel tertidur dengan posisi duduk dan menyenderkan punggungnya di kaki ranjang. Sementara Qilla tidur dengan posisi tengkurap sembari memegangi mainan.
"Untung sekarang hari libur, coba kalau enggak. Bisa-bisa mas Farel tidur di kantor." Adel berjalan mendekati putrinya, lalu dengan perlahan Adel mengangkat tubuh mungil itu untuk dipindahkan ke ranjang.
Jika sekarang bukan hari libur, tidak mungkin Adel menyuruh Farel untuk menemani putrinya itu bermain. Dari sebelum subuh Farel dan Adel menemani Aqilla bermain, dan selepas subuh Adel memulai pekerjaannya di dapur. Sementara Farel yang menemani Qilla bermain, itulah salah satu nikmat jika sudah memiliki buah hati yang usianya masih dini.
Setelah memindahkan Qilla ke ranjang, Adel mendekati suaminya yang masih tertidur di lantai. Perlahan Adel membangunkan Farel dan menyuruhnya untuk pindah ke ranjang. Tapi siapa sangka, Farel yang tiba-tiba membuka matanya justru langsung menarik tubuh istrinya itu, dan memeluknya dengan sangat erat.
"Ih, Mas apaan sih." Adel mencoba melepaskan pelukan Farel, tapi justru semakin erat pelukan suaminya itu.
"Kenapa, mumpung Qilla sudah tidur." Farel menciumi leher jenjang Adel.
"Ih, Mas gitu. Udah siang tau Mas," ujar Adel. Wanita itu sudah paham dengan keinginan suaminya itu.
Mungkin kali ini Adel tidak bisa menolaknya lagi. Dengan cepat Farel mengangkat tubuh Adel dan merebahkannya di atas ranjang. Farel mulai mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri, kali ini Farel sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Tanpa menunggu lama lagi, Farel langsung memulai ibadah halalnya.
***
Cahaya matahari yang menerobos ke dalam kamar, membuat Adel mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan wanita membuka matanya, Adel melirik jam yang berada di atas nakas, waktu menunjukkan pukul 09.00 dengan segera Adel bangkit. Wanita itu segera meraih pakaiannya, lalu memakainya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah 20 menit Adel keluar dari kamar mandi dan bergegas mengganti pakaiannya. Setelah itu, Adel segera menghampiri putrinya itu. Ia pikir Qilla masih tidur, tapi ternyata Aqilla sudah bangun, dan kini anak kecil itu tengah memainkan jari kakinya yang Qilla angkat ke atas.
"Anak mama sudah bangun ya, maafin mama ya Sayang. Ini semua gara-gara papa kamu." Adel segera menggendong putrinya itu. Lalu mengajaknya keluar dari kamar.
Selang beberapa menit, Farel mulai menggeliatkan tubuhnya yang masih berada di dalam selimut. Farel mengerjap-ngerjapkan matanya, pria itu nampak mengedarkan pandangannya. Seketika Farel bangkit saat sosok istrinya sudah tidak ada di sampingnya. Farel segera meraih baju-bajunya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Matahari telah tinggi, saat ini Adel dan Farel tengah menemani Qilla bermain. Gadis cilik itu begitu lincah, saat tengkurap hampir mainan yang berada di sekelilingnya bisa dia raih. Farel tersenyum melihat tumbuh kembang putrinya yang sangat baik itu. Tidak terasa sudah setengah tahun usia putrinya itu, rasanya baru kemarin Adel lahiran.
"Sayang, kenapa kamu nggak nyari baby sitter aja sih. Jadinya kamu bisa istirahat, nggak kecapean," usul Farel.
"Nggak ah, Mas," tolak Adel.
"Memangnya kenapa, hem?" tanya Farel. Sementara Adel masih diam, entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Enggak apa-apa, Mas. Adel masih bisa ngurus sendiri," jelas Adel.
Farel hanya tersenyum, ia tau istrinya itu memang wanita yang tangguh. Adel bukan tipe wanita manja, meski usianya masih muda tapi dia bisa menjalankan perannya sebagai seorang istri sekaligus ibu yang baik. Farel benar-benar merasa bangga mempunyai istri seperti Adel, dan kini rasa bahagianya sudah sempurna.
Selang beberapa menit, bel rumah berbunyi, dengan cepat Adel pun bangkit untuk membukakan pintu. Sementara Farel kini masih berada di ruang bermain menemani putrinya. Perlahan Adel membuka kenop pintu, dan setelah pintu terbuka terlihat dua orang perempuan sudah berdiri di depan pintu.
Ibu mertuanya, dan satu seorang perempuan muda, Adel tidak tau siapa perempuan itu. Dengan segera Adel pun menyuruh Ibu mertuanya itu masuk, dan tentunya dengan perempuan yang bersamanya. Setibanya di dalam tak lupa Adel menyuruhnya untuk duduk, setelah itu Adel beranjak ke dapur untuk membuatkan minum.
5 menit kemudian Adel kembali dengan membawa 2 cangkir teh manis. Adel meletakkannya di atas meja, setelah itu ia pun duduk bersebrangan dengan ibu mertuanya itu. Dalam hati Adel masih bertanya-tanya siapakah perempuan yang ibu mertuanya bawa, dari penampilan tidak terlalu buruk, dan juga terlihat cantik, dan juga muda.
"Adel, Farel mana. Kok enggak kelihatan?" tanya Lidia.
"Mas Farel lagi nemenin Qilla main ma," jawab Adel. Dan detik itu juga Farel datang dengan menggendong putrinya itu, lalu duduk di sebelah Adel.
"Mama ngapain ke sini?" tanya Farel. Dan hal itu membuat Lidia sedikit merasa kesal.
"Dasar anak tidak tau diri. Ibunya datang malah tanyanya seperti itu," kesal Lidia. Bagaimana tidak kesal, Ibu sendiri datang tapi melontarkan pertanyaan seperti itu.
"Hehe, just kidding mama, jangan ngambek nanti cantiknya ilang loh," canda Farel. Pria itu tersenyum dengan mengangkat tangannya, lalu jarinya membentuk huruf V.
Lidia hanya tersenyum masam, putranya itu memang selalu begitu. Hampir sama seperti Ayahnya, jadi tidak heran dulu saat masih bersama biarpun hanya memiliki satu anak. Tapi suasana rumah rame, dan itu semua karena kelakuan mereka yang suka konyol. Terlebih Farel dan Ayahnya, keduanya jika sudah dipertemukan bisa membuat rumah heboh.
"Kedatangan mama ke sini untuk mengantar Maya, agar bekerja di sini menjadi baby sitter Aqilla," jelas Lidia. Iya perempuan itu adalah Maya.
Farel dan Adel terdiam, keduanya hanya saling lirik. Adel merasa itu tidak perlu, karena ia masih bisa mengurus putrinya sendiri. Tapi jika ditolak, Ibu mertuanya pasti akan kecewa. Adel merasa khawatir, terlebih melihat penampilan Maya yang seperti itu, Adel takut kejadian yang tidak diinginkan akan terjadi. Maaf bukannya seuzon.
"Bagaimana, kok kalian diam." Lidia memandang Adel, dan Farel secara bergantian.
"Kalau Farel, terserah Adel saja ma," ucap Farel. Hal itu membuat Adel semakin bingung.
Adel terdiam sejenak. "Iya ma nggak papa kok. Makasih ya ma udah mau repot-repot cariin Qilla baby sitter."
"Iya, Sayang sama-sama," sahut Lidia dengan tersenyum.
Setelah itu, Adel segera mengajak Maya untuk menunjukkan kamar dan apa saja pekerjaannya. Sementara itu Farel dan Lidia memilih untuk duduk, sembari bermain dengan Aqilla.
"Mama nemu dia di mana?" tanya Farel.
"Di jalan. Seminggu yang lalu mama ketemu dia di resto. Dia kerja di sana, tapi selang 3 hari mama ketemu sama dia lagi. Saat itu dia lagi nyari kerjaan, dia dipecat dari resto tempatnya bekerja. Terus kemarin mama ketemu lagi, katanya belum nemu, jadi mama ajak ke sini, buat kerja sama kamu," jelas Lidia.
"Oh, mama yakin dia perempuan baik-baik," selidik Farel. Jujur Farel merasa khawatir.
Lidia terdiam sejenak. "Kok kamu ngomongnya kayak gitu ... kamu curiga sama dia."
"Kamu sudah paham 'kan. Tugas kamu hanya mengurus Aqilla, itu pun hanya dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Jika hari minggu kamu libur," jelas Adel.
"Iya Bu, saya paham," jawab Maya. Jawaban itu membuat Adel terlonjak kaget.
"What, kamu manggil saya Ibu," seru Adel dengan nada suara cukup tinggi.
Farel yang mendengarnya segera bangkit dan menghampiri istrinya itu. Sementara Lidia memilih tetap duduk sembari menikmati secangkir teh manis buatan menantunya itu. Farel berjalan mendekati Adel dengan menggendong putrinya.
"Sayang, ada apa?" tanya Farel lembut.
"Ini loh Mas, masa dia manggil Adel Ibu. Memangnya wajah Adel sudah setua itu ya, perasaan wajah Adel masih tetap imut seperti dulu iya, kan." Adel mengadu pada suaminya. Hal itu membuat Lidia menahan tawa.
Farel tersenyum. "Terus dia harus manggil kamu apa, Mbak, Kakak, Tante atau apa. Masih untung nggak manggil kamu Nenek."
Seketika Farel mendapat pukulan di lengannya. "Adel nggak lagi becanda Mas, nyebelin banget jadi suami."
"Auh, sakit tau." Farel mrngaduh kesakitan.
"Dasar lebay," sungut Adel. Bibirnya yang mungil itu sudah mengerucut.
"Sudah, nggak usah didengerin. Dia memang suka seperti itu, mungkin lagi PMS." Farel berjalan meninggalkan Adel dan memilih untuk kembali duduk di sofa.
"Mas Farel." Adel benar-benar geram dengan tingkah suaminya itu.
***
Hari telah berganti, rutinitas Adel setiap pagi adalah menyiapkan sarapan untuk sang suami. Sementara mulai hari ini Farel bisa lebih sedikit santai, karena sudah ada yang menjaga putrinya selama Adel mengerjakan tugas rumah. Setelah siap Farel segera turun ke bawah dan berjalan menuju meja makan.
Farel menarik kursi untuk duduk, sementara Adel masih sibuk dengan peralatan dapurnya. Adel yang menyadari jika suaminya sudah standby di kursi, dengan cepat ia menyelesaikan ritual masaknya. Setelah selesai Adel bergegas menyiapkannya di meja makan, tak lupa secangkir kopi susu kesukaan suaminya itu.
"Kopinya Mas." Adel menyodorkan secangkir kopi yang asapnya masih mengepul.
Farel hanya tersenyum, lalu meraih gagang cangkir tersebut, dan mulai menyeruputnya dengan perlahan. Sementara itu Adel segera meladeni sang suami, agar Farel tidak terlambat datang ke kantor. Farel terus tersenyum melihat aktivitas istrinya itu, meski terlihat capek tapi cantiknya tidak pernah luntur.
"Oya, Qilla mana?" tanya Farel.
"Sama Maya lah Mas, memangnya Mas lupa," sahut Adel.
"Bukan, tapi tadi aku nggak liat mereka di ruang bermain," balas Farel.
Adel terdiam sejenak. "Mungkin di halaman belakang Mas."
Farel hanya ber-oh ria, setelah itu Farel mulai menyantap sarapan paginya, tentunya di temani oleh istri tercinta. Suasana cukup hening, karena Farel sendiri tidak begitu suka jika saat sedang makan ada suara-suara yang tidak terlalu penting. Hanya ada dentingan sendok dan garpu yang menemani ritual sarapan pagi pasangan suami istri itu.
Setelah selesai, Adel segera membereskan meja makan, dan membawa semua piring dan gelas yang kotor ke belakang, sementara Farel akan bersiap-siap untuk bergegas berangkat ke kantor. Setelah siap Farel segera berpamitan dengan istri tercintanya itu, tapi rasanya ada yang kurang, saat Farel menyadari jika tidak ada putrinya yang imut itu.
"Sayang, tolong bawa Qilla ke sini dong," pinta Farel.
"Mas samperin ke belakang aja, nggak apa-apa kok," jawab Adel.
"No. Harus kamu yang bawa Qilla ke sini." Farel menatap tajam ke arah istrinya itu. Tidak ingin berdebat, akhirnya Adel mengalah dan segera beranjak ke belakang.
Selang beberapa menit Adel datang dengan menggendong putrinya. Farel tersenyum melihat dua princessnya, sudah tidak sabar lagi, Farel memilih untuk menghampiri keduanya. Dengan cepat Farel mengambil alih Qilla, lalu menciumi kedua pipinya yang chubby itu.
"Anak papa, makin endut aja." Farel gemas melihat pipi chubby putrinya itu. Tak henti-hentinya Farel menciumi kedua pipi Aqilla.
"Sudah sini Mas. Udah siang nanti Mas telat loh." Adel mengambil alih Aqilla dari gendongan Farel.
"Papa berangkat dulu ya." Farel mencium kening Adel, lalu kembali mencium pipi Aqilla.
Tak lupa Adel juga mencium punggung tangan Farel. Setelah itu Adel mengantarkan Farel sampai di pintu depan, sementara itu Farel bergegas masuk ke dalam mobil, dan segera melaju meninggalkan halaman rumahnya. Adel melambaikan tangannya, sembari menuntun putrinya untuk melakukan apa yang Adel lakukan.
Setelah itu Adel masuk ke dalam, dan segera menghampiri Maya, untuk kembali menjaga dan menemani putrinya bermain. Tak lupa Adel juga memberinya nasehat agar berhati-hati dalam menjalankan tugasnya sebagai pengasuh, jujur Adel merasa khawatir. Bukan tidak percaya, tapi mungkin karena belum terbiasa. Setelah itu Adel memutuskan untuk menyiapkan bubur untuk putrinya itu.
Selang beberapa menit, bubur sudah siap, dengan segera Adel menghampiri putrinya itu. "Sekarang waktunya Qilla makan, kamu suapin ya. Soalnya saya masih ada kerjaan ... jangan lupa setelah makan ajak Qilla ke dalam."
"Baik Bu." Maya mengangguk paham.
Sedangkan Adel segera masuk ke dalam. Adel merasa ngeri melihat penampilan Maya yang seperti itu. Dia hanya bekerja sebagai pengasuh bayi, tapi kenapa penampilannya seperti itu. Bedak tebal, serta bibirnya juga merah, tak lupa alisnya yang terlihat cetar seperti gelombang air laut. Pikiran Adel benar-benar kacau jika melihat penampilan baby sitternya itu.
Kini Adel berada di kamar, wanita itu tengah membereskan tempat tidurnya. Meski ada pembantu tapi Adel melarangnya untuk membereskan kamarnya. Jika Adel tidak sempat, maka ia lebih memilih untuk menyuruh suaminya, ketimbang menyuruh asisten rumah tangganya. Bagi Adel kamar adalah ruangan yang private, jadi tidak sembarang orang bisa masuk.
"Jaman sekarang baby sitter dandanannya seperti itu ya. Bajunya seksi, make-up juga tebal." Adel bermonolog sendiri. Sementara tangannya tengah berkutat untuk merapikan ranjangnya.
Adel terdiam sejenak, sementara otaknya terus memikirkan hal-hal yang sangat tidak ia inginkan. Berkali-kali Adel menggelengkan kepalanya, berharap pikiran buruk itu hilang dari benaknya. Ia harus berpikir positif, jangan negatif. Karena itu akan menyusahkan dirinya sendiri.
"Nggak, aku nggak boleh berpikiran seperti itu." Adel membuang jauh-jauh pikiran buruknya.
Setelah selesai, Adel berniat untuk keluar. Tapi belum sempat Adel melangkahkan kakinya keluar, tiba-tiba handphonenya berdering. Dengan segera Adel mengambil benda pipih tersebut. Tertera dilayar handphonenya satu pesan diterima, Adel pun segera membukanya dan membacanya.
Seketika mata Adel melotot saat membaca isi pesan dari suaminya itu.