Ahan

Ahan
Terbongkar_15



Namun Farel merasa seperti ada beban dalam diri Adel. Entah itu hanya perasaan Farel saja, atau memang itu kenyataan.


Farel frustasi memikirkan masalah itu, lelaki itu nampak mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Setelah itu Farel bangkit dan menyambar kunci mobilnya, lalu keluar dari ruangannya.


Baru saja Farel keluar dari ruangannya, Raka tiba-tiba muncul dengan berkas di tangannya.


Dengan terpaksa Farel menghentikan langkahnya, ia merasa jika ada hal penting yang akan Raka sampaikan. Ternyata dugaan Farel benar, Raka datang untuk menyampaikan jika pagi ini ada meeting.


Farel mendesah, setelah itu ia pun bergegas menuju ke ruang meeting. Saat ini Farel akan menyelesaikan urusan kantornya terlebih dahulu.


Meski hatinya sudah tidak tenang, tapi mau tidak mau, urusan pribadinya harus Farel tunda dulu.


Meeting berjalan cukup lama, terlebih ada beberapa kesalahan yang terjadi.


Farel yang sedari tadi tengah menahan emosinya, tanpa diduga lelaki itu meluapkannya pada para karyawan yang mengikuti meeting.


Bahkan hampir ada satu karyawan yang hendak Farel pecat, jika Raka tidak mencegahnya.


Meeting pun terpaksa Raka tunda, semua karyawan wajahnya sudah pucat pasi.


Baru kali ini mereka melihat bosnya semarah itu. Sementara itu Farel bergegas keluar dari ruangan meeting dan segera menuju ke parkiran. Raka merasa curiga dengan Farel, tidak biasa Farel bersikap seperti itu.


Farel segera memacu mobilnya menuju ke sekolah Adel. Lelaki itu sudah tidak sabar ingin mempertanyakan tentang video itu.


Hanya butuh 40 menit mobil Farel sudah terparkir di depan gerbang sekolah Adel.


Farel pun terpaksa menunggu, lantaran Adel belum keluar dari sekolahnya.


Selang beberapa menit, terlihat Adel baru saja keluar. Gadis itu melihat mobil Farel sudah terparkir, dengan cepat Adel berlari menghampirinya.


Tanpa menunggu lama, Adel pun masuk dan duduk di sebelah Farel. Melihat Adel sudah masuk ke mobil, lelaki itu segera menancap gas mobilnya.


Mobil membelah jalanan ibu kota yang tengah ramai akan kendaraan. Farel memilih fokus untuk menyetir, sementara Adel ia sibuk melihat ke luar jendela. Gadis itu melihat pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi serta bangunan lainnya yang berjejer di sepanjang jalan.


Namun lama kelamaan, Adel merasa heran lantaran sejak dari sekolah Farel terus diam. Adel berfikir jika lelaki itu sedang sariawan, makanya tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.


Akhirnya Adel pun bersuara untuk memecah keheningan.


"Om lagi sariawan ya, kok dari tadi diem terus," ucap Adel sembari menoleh ke arah Farel.


Diam, tak ada respon ataupun sahutan dari lelaki itu. Mata Farel tetap memandang lurus ke depan, tanpa menghiraukan keberadaan dan suara Adel.


Merasa kesal, gadis itu pun mengeluarkan suaranya lagi, dan kali ini volume ia tambah.


"Om." Adel berseru, sementara tangannya menggoyangkan lengan Farel.


"Diam." Hanya itu yang keluar dari mulut Farel. Seketika Adel pun terdiam dan menunduk.


Adel merasa kecewa dengan sikap Farel yang seperti itu. Mata Adel sudah berkaca-kaca, entah kenapa saat Farel menunjukan sisi kerasnya, Adel menjadi rapih seperti itu.


Saat ini Farel sedang dikuasai oleh amarahnya, sehingga lelaki itu tidak peduli dengan apa yang ia lakukan.


***


Mobil berhenti di halaman depan rumah, tanpa menghiraukan Farel, Adel bergegas keluar dari mobil dan menuju ke kamar.


Farel segera menyusul sang istri ke kamarnya.


Setibanya di kamar Adel segera melepas sepatunya dan berganti pakaian.


Gadis itu masih kesal dengan sikap suaminya itu, ia pun berniat untuk keluar dari kamar.


Namun saat Adel hendak keluar, dengan cepat Farel mencekal pergelangan tangan gadis itu.


Cekalan yang cukup keras, membuat Adel meringis menahan sakit. Merasa kesal, Adel berniat melepas cekalan suaminya itu, tapi tanpa diduga Farel mendorong tubuh mungil Adel ke sofa.


Adel terkejut dengan apa yang Farel lakukan, gadis itu menatap tajam ke arah lelaki yang kini berdiri di hadapannya.


Tiba-tiba saja Farel mengeluarkan handphonenya, dan memperlihatkan video yang ia dapat dari Dewi. Farel ingin melihat ekspresi Adel, saat melihat video tersebut.


"Jelaskan tentang video itu," titahnya. Mata Farel sudah memerah, nafasnya pun sudah tak beraturan.


Adel mengernyitkan keningnya. "Maksud Om apa, Adel enggak ngerti." Ujarnya.


"Siapa pria itu! Apa dia selingkuhan kamu! Ayo jawab!" Teriakan Farel membuat Adel terlonjak kaget.


"Dia Revan temen sekolah Adel, dia bukan selingkuhan Adel. Kami tidak ada hubungan apa-apa," Adel menjelaskan yang sebenarnya, gadis itu mencoba untuk bersikap tenang.


Meski air matanya tidak dapat ia bendung lagi, rasanya begitu sakit.


Baru saja tadi pagi mereka berbaikan, tapi belum ada sehari, masalah kembali menghampiri mereka.


Farel menghempaskan tubuhnya di sofa, lelaki itu nampak frustasi, ia mengacak-acak rambutnya dengan berteriak tidak jelas. Lalu menundukkan kepalanya, kedua tangannya menjadi tumpuan.


Adel masih terdiam, dadanya terasa sesak. "Apa Om cemburu." Entah kenapa tiba-tiba perkataan itu keluar begitu saja.


Farel mengangkat kepalanya, matanya menatap tajam ke arah Adel.


Adel merasa ngeri dengan tatapan yang Farel tunjukkan. Tapi sebisa mungkin Adel harus tetap bersikap tenang.


"Bilang aja kalau Om cemburu," lagi-lagi Adel mengejeknya.


Farel menjadi salah tingkah sendiri, jujur yang Adel katakan memang benar. Farel cemburu melihat Adel berdekatan dengan pria lain.


Rasanya sakit, bila melihat orang yang disayangi dekat dengan orang lain.


"Aku ... aku ...."


"Cemburu." Potong Adel dengan cepat.


"Diam." Teriaknya. Mata Farel menatap tajam ke arah Adel. Gadis itu terdiam, dan seketika air matanya mengalir.


"Jadi benar, kalau pria itu selingkuhan kamu, iya!" Farel kembali berteriak. Kemarahan sudah di ubun-ubun. Lelaki itu sudah tidak dapat mengontrol emosinya.


Adel menggeleng dengan cepat, air matanya semakin deras. Rasanya sudah tidak sanggup lagi.


Pernikahan yang ia harapkan akan membawa kebahagiaan, tapi justru sebaliknya. Merasa tidak tahan lagi, Adel memilih untuk pergi. Tapi langkahnya terhenti saat badan kekar itu menggendong tubuh mungil Adel, lalu di hempaskan ke atas ranjang.


Tubuh Adel jatuh terlentang di atas ranjang. Dengan cepat, Farel mencekal kedua tangan Adel agar gadis itu tidak dapat berkutik lagi. Posisinya saat ini Adel berada di bawah, sementara Farel berada di atas.


Air mata Adel mengalir membasahi kedua pipinya, gadis itu tidak menyangka kalau lelaki yang selalu bersikap lembut dengan perempuan, ternyata bisa sekasar itu.


"Sekarang jawab pertanyaan aku, apa benar Revan itu selingkuhan kamu! Ayo jawab!" Tanpa segan-segan Farel membentak Adel. Matanya yang merah menatap tajam ke arah gadisnya.


Dengan kuat Adel menarik tangannya agar terlepas dari cekalan suaminya itu.


Tanpa di duga satu tamparan melayang di pipi kanan Farel.


Lalu tanpa ragu-ragu Adel mendorong tubuh Farel dengan sekuat tenaganya.


Lelaki itu pun terhuyung ke belakang, amarahnya semakin memuncak, darahnya kian mendidih.


Adel berusaha bangkit, tapi niatnya terhenti lantaran Farel kembali mendorong tubuh mungil Adel.


Entah kenapa hasratnya tiba-tiba muncul, bercampur dengan amarahnya.


Farel kembali mencekal tangan Adel, dan menariknya ke atas kepala. Lelaki itu berusaha menelusuri leher jenjang Adel, dan mencoba mencuri bibir ranum gadisnya itu.


Adel berusaha memberontak, tapi tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Farel.


Ia tidak pernah menyangka kalau kehidupannya akan seperti itu.


"Lepas Om, Adel enggak mau jadi pelampiasan amarah Om," Adel mencoba melepaskan diri dari Farel.


"Harusnya Om sadar, Om itu sudah dihasut oleh teman Om itu, harusnya Om lebih teliti melihat video itu. Kapan video itu direkam," mendengar perkataan Adel, perlahan Farel melepaskan cekalannya.


Farel bangkit dan tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya ke lantai. Ingatan masa lalunya kembali berputar di memori otaknya.


Farel nampak menjabak rambutnya dengan kasar. Lelaki itu terlihat sangat frustasi. Berkali-kali Farel merutuki dirinya sendiri, ia juga memukuli kepalanya sendiri, atas kebodohan yang ia lakukan.


"Arrrggtt." Farel mengerang frustasi. Serentak dengan tangannya yang meninju cermin di meja rias tersebut. Detik itu juga darah segar mengalir dari tangannya.


Adel terkejut melihat Farel yang seperti hilang kendali. Adel memberanikan diri untuk mendekati suaminya itu.


Air matanya terus saja mengalir, rasanya ingin sekali ia lari dari kenyataan itu, tapi hati kecilnya merasa iba melihat keadaan Farel yang seperti itu.


"Om." Panggil Adel.


Perlahan Farel mendongakkan kepalanya, matanya menatap nanar ke arah gadisnya itu.


Sedetik kemudian, lelaki itu bangkit dan menghambur tubuh mungil istrinya itu.


Hampir saja Adel terjerambah ke belakang, lantaran ia kaget dengan Farel yang tiba-tiba memeluknya.


"Maafkan aku Sayang, ini semua salahku. Aku memang bodoh, aku terlalu percaya dengan omongan orang lain, dari pada dengan hatiku sendiri. Aku tidak mau masa laluku terulang kembali, aku tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya, maafkan aku Adel, maafkan aku," Farel menyesali perbuatannya, ia pun berulang kali meminta maaf pada istrinya yang mungil itu.


"Adel sudah memaafkan Om, Adel nggak mau lihat Om Farel seperti ini. Om harus janji, kalau Om enggak akan ngelakuin hal ini lagi," Farel merasa lega, mendengar jika Adel bersedia memaafkannya.


Perlahan Farel melepas pelukannya, kemudian kedua tangan Farel membingkai wajah mungil Adel. "Iya aku janji." Ujarnya. Lalu Farel mencium kening Adel dengan sangat lembut.


Adel tersenyum bahagia melihat sikap Farel yang kembali lembut. Meski air matanya masih mengalir.


Setelah itu Farel kembali memeluk tubuh mungil Adel. Gadis itu begitu meresapi pelukan yang suaminya berikan itu. Setelah itu tak lupa Adel mengobati luka di tangan Farel.


***


Di sebuah resto, terlihat seorang perempuan tengah duduk sembari memainkan ponselnya. Perempuan itu adalah Riana. Ia tengah menunggu seseorang yang tak lain Dewi. Riana telah menghubungi Dewi agar mereka bertemu hari ini juga.


Tak lama kemudian, Dewi datang, perempuan itu segera duduk menghadap Riana. Tanpa basa-basi, Riana memulai pembicaraannya.


"Bagaimana, apa kamu sudah berhasil memisahkan Adel dan Farel?" pertanyaan itu membuat Dewi sedikit tersentak.


Dewi menyunggingkan senyumnya. "Untuk apa kamu mempertanyakan hal itu. Meskipun aku berhasil, aku tidak akan pernah rela melepas Farel untukmu." Ungkap Dewi.


Seketika Riana naik pitam. "Apa maksud kamu, jangan bilang kalau kamu juga menginginkan Farel." Bentak Riana.


Dewi tertawa. "Kalau iya memangnya kenapa, masalah buat kamu." Ujarnya. Senyum liciknya pun menghiasi bibirnya.


Tanpa diduga, Riana menyiram baju Dewi dengan segelas jus yang ia pesan.


Seketika Dewi menggeram atas perbuatan yang Riana lakukan. Dan detik itu juga. Keduanya perempuan itu menjadi pusat perhatian oleh pengunjung yang datang.


Dari kejauhan, seorang pria tengah memperhatikan setiap gerak-gerik dua perempuan itu, pria itu adalah Raka.


Memang sebelum Farel menjemput Adel, ia telah menyuruh Raka untuk menyelidiki masalah yang menimpanya.


Raka telah merekam semua yang terjadi antara Dewi dan juga Riana. Setelah itu Raka segera menghubungi Farel agar cepat menyusulnya ke resto.


Mereka akan membongkar kejahatan yang telah dua perempuan itu lakukan.


Tak menunggu lama lagi, Farel dan Adel telah tiba di resto tersebut. Keduanya pun segera duduk.


Sebelum Farel melabrak kedua perempuan licik itu, terlebih dahulu dia melihat hasil rekaman yang telah Raka buat. Adel yang merasa penasaran, menggeser posisi duduknya dan ikut melihat rekaman video tersebut.


Keduanya terkejut saat melihat video itu, terlebih Farel. Lelaki itu tidak menyangka kalau orang yang selama ini dianggap sebagai sahabat. Dengan sengaja ingin merusak pernikahan temannya sendiri.


Tangan Farel mengepal, rahangnya mengeras menahan amarahnya. Matanya tertuju pada dua perempuan itu.


Tak tahan lagi, Farel bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri kedua perempuan licik itu.


Takut Farel hilang kendali lagi, Raka dan Adel segera menyusulnya.


Dewi dan Riana terkejut melihat kedatangan Farel.


"Fa-Farel. Kamu .... " Ucap Dewi terpotong. Perempuan itu langsung mendapat tatapan mematikan dari Farel, begitu juga dengan Riana.


"Kenapa, kalian kaget," ujar Farel santai. Tapi tatapan matanya begitu tajam.


Seketika Dewi bangkit dan tanpa rasa malu, perempuan itu merangkul lengan Farel. "Farel ini tidak seperti yang kamu lihat kok, aku sama Riana hanya kebetulan ketemu aja." Dewi berharap Farel mau mempercayainya.


Dengan kasar Farel mengibaskan tangan Dewi. "Lepas." Tegasnya. "Kamu tidak perlu lagi berpura-pura, karena aku sudah tau kelakuan busukmu itu." Lanjutnya.


Riana sudah tidak punya keberanian lagi untuk melawan Farel, perempuan itu tidak ingin melihat Farel hilang kendali lagi seperti yang dulu.


Sementara itu Dewi tetap berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari Farel. Perempuan itu terus saja merayu Farel agar dirinya berada di posisi yang aman.


Tiba-tiba saja Farel mengambil handphonenya dan memperlihatkan rekaman video tersebut.


Seketika kedua perempuan itu menganga tak percaya. Dewi dan Riana tidak menyangka kalau kejahatannya telah diketahui oleh Farel. Hilang sudah harapan mereka berdua.


"Dewi, aku enggak nyangka kalau kamu tega melakukan ini. Kamu tega memfitnah Adel, dan kamu tega ingin merusak pernikahan aku dengan Adel. Apa ini yang di namakan dengan sahabat," Dewi terpengarah mendengar pertanyaan dari Farel.


"Dan kamu Riana, kamu itu tak lebih dari seorang iblis. Usaha sendiri gagal, lalu kamu membujuk orang lain untuk melakukannya. Aku kecewa memiliki sahabat seperti kalian," Riana hanya diam mendengar perkataan Farel.


"Aku melakukan ini karena aku cinta sama kamu. Aku enggak rela kamu menjadi milik orang lain, itu sebabnya aku begini," Farel sedikit terkejut mendengar ucapan Dewi. Ia tidak menyangka kalau ternyata Dewi memiliki rasa terhadap dirinya.


Tanpa menghiraukan ucapan Dewi. Farel segera pergi meninggalkan tempat itu, tentunya dengan Adel dan juga Raka.


Dewi terus saja berteriak tak terima atas apa yang Farel katakan, tapi lelaki itu tak menghiraukannya. Mereka bergegas keluar dari resto tersebut.


***


Mobil Farel sudah berhenti di halaman depan rumahnya. Adel dan Farel bergegas keluar dan beranjak masuk ke dalam, tapi di depan pintu Farel menghentikan langkah Adel.


"Adel tunggu," ucap Farel. Lelaki itu berjalan menghampiri sang istri.


Adel pun berhenti, setelah itu Farel berdiri di hadapan istri mungilnya itu.


Mata Farel menatap lekat wajah imut istrinya.


"Apa kamu sudah memaafkan aku," ujar Farel. Matanya tak henti memandang wajah istrinya.


Adel tersenyum dan mengangguk. "Iya Om. Tapi ada syaratnya." Ujarnya.


Farel menyipitkan matanya. "Apa." Sahutnya.


"Om harus gendong Adel masuk ke dalam rumah," balas Adel dengan senyum termanisnya.


Farel tersenyum. "Tidak masalah." Ucap Farel.


Lelaki itu segera berjongkok di depan Adel. Dengan cepat Adel naik ke punggung Farel. Setelah itu Farel membawa Adel masuk ke dalam, bahkan lelaki itu membawa istri mungilnya masuk ke dalam kamar. Senyum dan tawa menghiasi keduanya.


Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, sabar dan tenang dalam menghadapi masalah tersebut.


Dan selesaikan dengan kepala dingin, bukan dengan kekerasan dan emosi.