Ahan

Ahan
#Kekecawaan_Adel_39



Kini mobil Farel sudah melaju meninggalkan halaman resto, dengan panik Farel terus menyetir, dan sesekali pria itu menoleh ke arah wanitanya yang tengah pingsan. Farel benar-benar panik melihat keadaan istrinya seperti itu, tangan kirinya terus menggenggam tangan Adel dengan sangat erat.


Kurang dari satu jam Farel sudah tiba di halaman rumah. Dengan segera Farel membopong tubuh mungil istrinya itu, dan masuk ke dalam rumah. Pria itu membawa istrinya naik ke lantai atas, untuk menuju ke kamarnya. Setibanya di kamar Farel langsung merebahkan tubuh Adel di atas ranjang.


Farel benar-benar panik, dengan cepat pria itu menghubungi Dokter Rudy, yang merupakan Dokter keluarga. Setelah itu Farel juga menghubungi  Ibunya, lantaran belum bisa menjemput Aqilla, justru Farel meminta agar putrinya itu, untuk sementara tinggal bersamanya.


"Sayang, bangun dong. Kamu jangan bikin aku panik." Farel menggenggam erat tangan istrinya itu, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.


Selang beberapa menit, Dokter Rudy datang, dengan segera Farel menyuruhnya untuk langsung memeriksa keadaan Adel. Hati dan pikiran Farel benar-benar kacau, pria itu tidak bisa tenang sebelum tau bagaimana keadaan istrinya itu. Setelah Dokter Rudy selesai memeriksa Adel, Farel bergegas mempertanyakan tentang keadaan wanitanya itu.


"Dok, bagaimana keadaan Adel?" tanya Farel.


"Keadaannya baik-baik saja, detak jantung dan tekanan darah juga normal. Tidak ada yang perlu khawatirkan," terang Dokter Rudy.


Farel bisa bernafas dengan lega. "Tapi kenapa Adel bisa pingsan, tadi dia juga bilang kalau kepalanya pusing."


"Apa Adel puasa?" tanya Dokter Rudy. Dan dibalas dengan anggukan oleh Farel.


"Sebaiknya jangan, karena Adel tengah menyusui. Selain produksi asi berkurang, itu juga bisa mengganggu kesehatannya," saran Dokter Rudy.


"Baik Dok, nanti aku akan coba bicara dengannya," sahut Farel.


"Ya sudah, aku permisi dulu ya." Dokter Rudy pun bangkit setelah berpikir.


Sementara itu Farel masih setia duduk di sebelah istrinya. Pria itu terus menggenggam erat tangan Adel, rasa takut dan khawatir mulai mereda, tapi tetap saja Farel merasa belum tenang sebelum istrinya sadar dan membuka matanya. Tapi di sisi lain, Farel juga memikirkan putrinya, meski ia tau bahwa Aqilla akan baik-baik saja berada bersama Neneknya.


"Sayang, cepat bangun dong. Kamu nggak kasihan apa sama suami kamu yang tampan ini." Farel mencium punggung tangan Adel dengan sangat lembut.


"Ih, kasihan dari mana, Mas juga nggak kasihan sama Adel. Udah punya anak istri tapi matanya masih jilatan. Ini balasannya untuk kamu Mas," batin Adel.


"Qilla, kamu baik-baik di sana ya. Mama mau kasih pelajaran dulu buat papa kamu, mama rindu sama Qilla. Setelah urusan papa kamu beres, mama pasti akan jemput kamu," batinnya lagi.


Malam semakin larut, Farel sudah terlelap di samping Adel dengan memeluk erat tubuh istrinya itu. Sementara Adel, sama sekali belum bisa memejamkan matanya, bayangan saat di resto masih saja berputar di benaknya. Andai saja Adel tidak memikirkan anak, sudah dapat dipastikan, ia memilih pergi dari pada harus menahan sakit. Istri mana yang tidak sakit hatinya, jika suaminya masih saja melirik perempuan lain, di depan mata pula.


Adel sadar, kalau kehadirannya dalam kehidupan Farel karena sebuah keterpaksaan. Tidak ada niat untuk hidup bersama dengannya, tapi takdir telah menyatukan mereka. Meski rasa cinta sudah tumbuh, dan mungkin sudah mengakar tapi tetap saja seorang Farel, terus memikirkan orang yang telah menjadi masa lalunya. Dan itu sangat menyakitkan bagi Adel.


***


Mentari telah bersinar, cahayanya telah menerobos masuk ke dalam kamar melalui celah-celah jendela. Pukul 06.30 Adel baru sadar dari alam mimpinya, wanita itu merasa terganggu dengan cahaya mentari yang masuk ke dalam kamar. Adel mulai membuka matanya dengan sempurna, ia juga mengedarkan pandangannya, terlihat Farel tengah berjalan dengan membawa nampan.


Pria itu tersenyum saat melihat wanitanya sudah terbangun. Farel meletakkan nampan yang berisi satu mangkuk bubur, dan segelas air putih di atas meja. Setelah itu Farel berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Melihat Farel mendekat dengan cepat Adel merubah posisi tidurnya, Adel memilih membelakangi suaminya itu.


Hal itu membuat Farel mengernyitkan keningnya, heran. "Sayang, kamu kenapa."


Hening, Adel sama sekali tidak merespon ucapan suaminya itu. Farel semakin bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah seperti itu. Kesalahan apa yang sudah Farel lakukan, sehingga Adel mendiamkannya, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan.


"Sayang, kamu kenapa, hem?" tanya Farel dengan lembut, tangannya mengusap punggung sang istri.


Dengan kasar Adel menepis tangan Farel. "Lepas, Mas. Nggak usah pegang-pegang Adel."


Farel mengernyitkan keningnya. "Sayang, kamu kenapa? Apa salah aku, kenapa kamu .... "


Seketika Adel bangkit. "Mas mau tau apa kesalahan, Mas apa. Mas lupa kejadian tadi malam, Adel punya perasaan Mas. Kalau memang Mas ... Adel benci sama Mas."


Adel mendorong tubuh Farel, dan detik itu juga Adel berlari keluar dari kamar. Wanita itu berlari menuruni anak tangga dengan air mata yang sudah tidak dapat ia tahan lagi. Sangat sakit saat mengingat kejadian semalam, jika memang Farel masih memiliki rasa terhadap wanita masa lalunya, untuk apa pernikahan yang ia jalani selama ini.


Adel dapat melihat dari sorot mata Farel yang seperti masih memendam rasa terhadap mantan kekasihnya itu. Sebegitu pentingkah dia dalam hidupnya, lalu apa arti istri dan anaknya, jika di hatinya masih ada wanita lain. Istri mana yang akan tahan dengan keadaan yang seperti itu, jika suaminya masih mencintai mantan kekasihnya.


Sementara itu Farel bergegas keluar dari kamar dan menyusul istrinya. Tapi sial, setibanya di bawah, Farel tidak dapat menemukan sosok wanita yang ia cari. Dan sepersekian detik kemudian, Farel mendengar deru mobil yang keluar dari halaman rumahnya. Pria itu segera berlari keluar, terlihat mobilnya melaju meninggalkan halaman rumahnya.


"Adel." Farel berteriak memanggil nama istrinya, tapi sayang mobil yang Adel naiki sudah melaju cukup jauh.


Tanpa pikir panjang, Farel langsung mengambil kunci motornya dan bergegas melajukan motornya untuk bisa menyusul istrinya itu. Meski jarak mobil dan motor yang Farel naiki cukup jauh, tapi dengan mudah pria itu mengejarnya. Tapi dengan sengaja Farel hanya mengikutinya saja, ia ingin tau kemana istrinya itu akan pergi. Dan dugaan Farel benar, Adel datang ke rumah orang tua Farel, di mana Aqilla berada.


Setibanya di halaman, mobil berhenti dan dengan cepat Adel keluar lalu berlari masuk ke dalam. Sementara mobil yang Adel naiki mulai putar balik untuk pulang, setelah itu Farel memutuskan untuk masuk ke dalam, setelah memarkir motornya, pria itu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Ada rasa takut, khawatir, dan juga was-was dalam hati Farel.


"Aqila." Teriak Adel. Seketika Ibu dan Ayah mertuanya berjalan menghampiri menantunya itu.


"Adel, Sayang kamu kenapa." Lidia berjalan menghampiri Adel, raut wajah Lidia berubah khawatir saat melihat menantunya menangis.


"Aqilla di mana, ma?" tanya Adel dengan Isak tangisnya.


"Aqilla ada di kamar, dia masih tidur," ucap Lidia. Tanpa menjawab lagi Adel berlari menuju kamar yang di tempati putrinya itu. Yang tak lain adalah kamar Farel.


Lidia dan Indra saling pandang, bingung. Selang beberapa menit, Farel masuk dengan nafas yang sedikit terengah-engah, serta raut wajah yang terlihat khawatir. Tapi apa yang Farel dapat, justru tatapan mematikan dari kedua orang tuanya. Pria itu bergidik ngeri melihat orang tuanya menatap dengan tatapan setajam silet.


Tanpa basa-basi Indra menarik tangan putranya itu, lalu menyuruhnya untuk duduk. Perasaan Farel semakin kacau, pikirannya semrawut, entah apa  saja yang ada dalam otaknya saat ini. Pria itu mencoba menetralkan keadaan, menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.


"Kamu apakan Adel, sehingga dia menangis seperti itu." Pertanyaan dari Ibunya mampu membuat Farel terlonjak kaget.


"Ini hanya salah paham, ma," ucap Farel gugup.


Farel menghela nafas, lalu ia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan sang istri. Seketika raut wajah Indra dan Lidia berubah setelah mendengar penjelasan yang putranya ceritakan. Indra benar-benar kecewa dengan sikap putranya itu. Tanpa segan-segan Indra melayangkan tamparannya pada pipi Farel.


Plak, satu tamparan mendarat di pipi kanan Farel, pria itu hanya diam. Farel memang pantas mendapatkan itu, bahkan mungkin itu belum seberapa dibandingkan dengan rasa sakit yang Adel rasakan. Farel merasa menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan, tapi entah kenapa di lain hati, ia masih merasakan yang ia sendiri tidak tau, rasa apa itu.


"Papa kecewa sama kamu, apa papa pernah mengajarkan hal seperti itu. Kamu sadar apa yang sudah lakukan itu ... secara tidak senagaja kamu sudah menghianati istrimu, kamu sudah menyakiti hatinya," ujar Indra panjang lebar. Sementara Farel hanya menundukkan kepalanya.


"Maaf, pa. Farel hanya .... "


"Hanya apa, untuk apa kamu menikah dengan Adel. Kalau di hati dan pikiranmu itu masih ada perempuan lain," potong Indra dengan cepat. "Apa kamu merasakan, apa yang Adel rasakan."


"Farel menyesal pa, Farel .... "


"Lepaskan Adel, biarkan dia hidup bahagia. Jangan membuatnya menderita dengan sikapmu yang serakah itu ... papa juga seorang pria, tapi papa tidak suka pria yang seperti itu." Lagi-lagi Indra memotong ucapan putranya itu.


Bagai di tusuk belati tajam, sungguh sakit yang Farel rasakan. Bagaimana tidak, ucapan Ayahnya bagai petir di teriknya matahari. Pria itu sama sekali tidak ada niat untuk melepaskan Adel, wanita yang sangat ia cintai, wanita yang mampu membuat hidup Farel lebih berwarna. Tapi sekarang, gara-gara keegoisannya, pernikahannya terancam.


"Enggak pa, sampai kapanpun Farel tidak akan pernah melepaskan Adel ... Farel sangat mencintainya pa," lirih Farel. Tubuhnya luruh ke lantai, Farel benar-benar menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan.


"Kalau kamu benar-benar mencintai Adel, jangan sakiti dia. Adel adalah gadis yang baik, jangan pernah membuatnya kecewa, kamu juga jangan egois ... karena penyesalan akan datang terlambat." Setelah mengatakan itu, Indra berlalu pergi.


Farel bangkit dan berjalan mendekati Ibunya. "Ma, Adel ada di mana."


"Adel ada di kamar, sebaiknya kamu jangan ganggu dia dulu, biarkan pikiran Adel tenang. Nanti mama akan coba bicara dengannya," saran Lidia. Dia tau bagaimana perasaan putranya sekarang.


"Tapi ma .... "


"Sayang, mama tau bagaimana perasaan kamu sekarang. Tapi ini semua demi kebaikan kamu dan juga Adel," potong Lidia dengan cepat.


Farel menghela nafasnya. "Ya sudah ma, Farel pulang dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." Lidia menatap punggung putranya yang mulai menghilang di balik pintu.


Farel meninggalkan halaman rumah orang tuanya dengan hati yang hancur. Ia tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini. Farel benar-benar menyesal, andai bisa memutar waktu pasti dia tidak akan melakukan itu. Sekarang karena keegoisannya, wanita yang sangat dicintainya terluka.


***


Matahari sudah tinggi, sejak Adel datang ia sama sekali belum keluar dari kamar. Wanita itu masih belum ingin diganggu, sudah beberapa kali mertuanya memanggilnya, tapi jawaban Adel tetap sama. Yaitu masih belum ingin diganggu, Ibu mertuanya hanya pasrah, dia tau bagaimana perasaan menantunya itu.


Lidia hanya berharap, semoga ada jalan keluar yang terbaik dari masalah yang tengah Adel dan Farel hadapi.


Di kamar, Adel terus memikirkan langkah apa yang akan ia ambil. Jujur, Adel sangat mencintai Farel, tapi melihat suaminya yang seperti itu. Membuat Adel harus berpikir dua kali, tapi Adel juga harus memikirkan putrinya. Ia tidak mau jika Aqilla tumbuh dengan kasih sayang Ibunya saja, Qilla juga harus tumbuh dengan kasih sayang Ayahnya juga. Adel tidak boleh egois, mungkin sekarang rumah tangganya tengah diuji lagi.


Setelah cukup lama berdiam diri, kini Adel memutuskan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan, dengan begitu badan dan otaknya kembali segar, dan juga fresh.


Selang 20 menit, Adel turun dengan menggendong putrinya, Adel berjalan menuruni anak tangga menuju ke ruang tengah.


Lidia yang melihat itu, tersenyum ke arah menantunya. "Gimana, Sayang. Sudah lebih mendingan sekarang."


Adel tersenyum. "Alhamdulillah sudah ma, terima kasih ya ma, karena mama sudah mau mengerti."


"Sama-sama, Sayang. Mama sudah menganggap kamu seperti putri mama sendiri, bukan menantu." Lidia memeluk Adel, yang tengah menggendong Aqilla.


"Ya sudah, sekarang makan dulu ya. Nanti Qilla biar sama bi Murni dulu," ujar Lidia, dan dibalas dengan anggukan oleh Adel.


Lidia segera mengambil alih cucunya itu, lalu berjalan menuju ke ruang makan, begitu juga dengan Adel. Tapi langkah mereka terhenti saat mendengar suara yang tak asing bagi mereka. Terdengar suara Farel yang berteriak memanggil Adel, dan tak lupa kata maaf yang terus terucap. Adel dan Lidia pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Mas Farel," lirih Adel. Sementara Lidia hanya diam.


Farel berjalan menghampiri wanita yang sangat ia cintai, setelah itu tanpa pikir panjang Farel menubruk tubuh Adel dan memeluknya dengan sangat erat. Bukan itu saja, Farel juga menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu, menghirup aroma tubuhnya yang sangat memabukkan. Sementara Adel hanya diam tanpa membalas pelukan suaminya itu.


"Lepas, Mas. Adel nggak bisa nafas," ucap Adel dengan nafas yang terasa sesak.


Seketika Farel melepas pelukannya, lalu tersenyum dengan memandang wajah ayu dan imut istrinya itu. Ingin rasanya Farel mencium bibir Adel yang mungil dan merah alami itu, tapi niatnya ia urungkan. Karena mengingat sekarang tengah berpuasa. Kedua tangan Farel menangkup wajah istrinya itu.


"Sayang, kamu mau 'kan maafin aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku cuma cinta sama kamu," ucap Farel dengan penuh penyesalan.


Adel terdiam sejenak. "Adel mau maafin, Mas. Tapi ada syaratnya."


"Syaratnya apa, Sayang." Farel mengernyitkan keningnya.


"Yang pertama, selama seminggu kita tidur terpisah." Seketika Farel membulatkan matanya.


"Yang kedua ... selama sebulan Mas nggak dapat jatah main bola di atas ranjang," lanjut Adel. Dan hal itu membuat Ibunya menahan tawa.


"Apa ... " Farel berteriak dengan raut wajah yang entah. Adel tersenyum melihat ekspresi wajah suaminya yang menurutnya sangat lucu.


Seketika Farel terbangun dari tidurnya, dengan berteriak memanggil nama Adel. Nafasnya terengah-engah, sementara debaran jantungnya terasa begitu cepat, mimpinya terasa begitu nyata, sampai-sampai perasaan dan pikiran Farel terasa kacau.