yunita

yunita
Yun bab 8



🌷KEMBALI KEKOTA M🌷


Pagi ini Mama akan mengantar Aku kekota M, Aku meminta jangan tinggal diAsrama,karena Aku tidak mau dengan makanan diAsrama, mungkin bukan menuntut tetapi memang udah bosen kalau diAsrama,apa lagi Aku baru sembuh,takut tidak ada yang perhatikan makanku saat diAsrama itu.


Singkat cerita Aku sudah sampai dikota M, sampai diasrama Ibu Kepala Sekolah datang, sebenarnya Kepala Sekolah ini Mertua Sepupu dari Mamaku,namanya Buk Wadinah,Mama sepakat menaruh Aku dirumah Buk Wadinah, kebetulan juga dia Guru diPsantren ini.


Akhirnya Aku mengumpulkan pakaian dari lemari Asrama tempatku semula,setelah itu kami pamit sama Umi Asrama,lalu naik angkot menuju rumah Mertua Buk Wadinah.


Sesampai dirumah Mertua Buk Wadinah,kami disambut hangat sama Buk Wadinah,dan Mertua Buk Wadinah,Aku melihat sekeliling rumah itu memang mewah, kamarnya ada lima,ruang tamu lebar banget tidak kayak dirumahku, wajar mereka orang berkecukupan.lalu Buk Wadinah mengantarkan Aku menuju kamar.


"Semoga betah ya nak,entar ada teman kamu juga yang mau kos disini, tau kan Nordiana, dia mau belajar ngaji disini"kata Buk Wadinah saat melihatku duduk ditepi kasur berukuran enam kaki.


"Nordiana aku kenal,tapi kurang akrab Bu" jawabku sambil tersenyum menatap Buk Wadinah, Buk Wadinah pergi karena ingin ngobrol sama Mama,maklum mereka Sepupuan,Mama Buk Wadinah itu Adik Nenek Aku kandung dari Mama, jadi mereka kelihatan akrab.


Aku cek seluruh ruangan kamar ini, sepertinya nyaman dan tenang,lalu Aku merapikan pakaianku kedalam lemari, sambil tersenyum semoga betah disini, dari pada diasrama. Aku lihat mama membuka pintu kamar dan melihat Aku yang masih merapikan pakaian.


"Mulai sore,Mama pulang ya, soal takut kemalaman gak dapat Bus kekampung nanti" kata Mama sambil meletakan uang jajanku, Aku tersenyum saja,Aku tidak seperti dulu bersedih kalau Mama akan pulang meninggalkanku,karena Aku mulai terbiasa.


Aku dan Buk Wadinah mengantar Mama sampai keluar gang rumah Buk Wadinah, mama sudah naik Angkot menuju Terminal, setelah itu kami berjalan menuju rumah lagi.


"Entar lagi nordiana datang, baik baik ya nak sama dia,kamu taukan dia sedikit terbelakang mental"kata Buk Wadinah sambil berjalan menuju rumah.


"Iya bu" jawabku singkat,karena sudah mengerti Nordiana itu gimana, sebenarnya Nordiana cantik,tapi terlahir sedikit cacad, mata Nordiana tidak bisa terbuka normal mengatup,tapi masih bisa iya lihat dengan mendongakan wajah,tapi Nordiana sedikit keterlambatan mikir kalau orang bilang telat mikir alias telmi,apalagi kalau menghafal pelajaran besok sudah lupa.


Kini aku sudah didalam kamarku, memakai hijab kembali seperti biasa, Aku duduk ditepi ranjang sambil merapikan hijabku, pintu kamar terbuka ternyata Buk Wadinah datang dengan Nordiana.


"Hai yun,apa kabar?"tanya Nordiana sambil menjabat tanganku,Aku juga membalas jabat tangan Nordiana,dia juga ramah tapi kurang dia tidak suka bercanda gurau,semua apa yang kita bilang dianggapnya serius,lagian Aku harus hati-hati bicara sama anak ini, soal dia sedikit sensitif.


"Nah kalau sudah gini kalian yang akur ya, kalau lapar ada makanan dibelakang, kalau belum Sholat jangan lupa sholat, nanti Mertua Ibu marah lho, kalian taukan gimana dia?" kata Buk Wadinah sambil tersenyum manis, Buk Wadinah sangat cantik,dia bertutur lembut dan bersahaja,Aku suka kalau mendengar dia bicara.


Buk Wadinah pergi dari kamar kami, lalu kami saling pandang sama Nordiana.


"Kau tau yang dimaksud Buk Wadinah Nor?" kataku sambil menahan tawa.


"Aku tau kepala sekolah julukannya mak lampir haahahha..."kata Nordiana sambil tertawa renyah.


"Ada juga yang bilang dakocan" ucapku lagi membuat kami ngekek didalam kamar.


"Yunita .....!!!!,Nordiana !!!, ketawa pakai etika, apa itu tertawa kayak gitu,baru aja disini" ucap Mak Lampir saat membuka pintu kamar, kami sontak terkejut lalu terdiam seketika, setelah itu dia pergi dari pintu kamar kami.


"fffffftttttt" kami dua menahan tawa saat melihat tubuh pendek mak lampir, jalan dengan perut buncitnya.


"Husss...udah berdosa nertawakan orang tua"ucapku sama Nordiana yang terus mencaci maki Mak Lampir.sebenarya Aku memanggil dia dirumah Nenek,karena Buk Wadinah menikah dengan Anak Sulungnya.


"Yunita....Nordiana sholat kalian" ucap Mak Lampir lagi saat dia menonton Televisi, karena kamar kami berada ditengah, sofa santai terletak didepan kamar kami.


"Ow..ow..baru aja sampai disini,udah diperintah..." gerutu Nordiana seperti gak ikhlas.


Kami berdua berjalan keluar kamar dengan diam membisu,kami melewati Mak Lampir dia diam saja sambil menyulam, kami masuk kedalam kamar mandi lalu main air.


"Ahahhahaha..." kami tertawa lepas saling menyiram air satu sama lain.


"duk duk duk"


ada yang mengetuk pintu kamar mandi. kami langsung terdiam.


"suara kalian...baru dibilang" ucap Mak lampir kami jadi kesal,lalu menggerutu gak jelas.


kami lanjut ambil wudhu hendak sholat ashar.


************


Singkat cerita saja hari berganti hari,bulan berganti bulan,tidak terasa kami sudah lama tinggal dirumah Mertua Buk Wadinah, sampai datang hari yang sangat sial bagiku.


Ketika kami belanja diwarung sepasang mata menatapku penuh arti,dia anak tukang warung tempat kami sering belanja.


Aku cuek saja walau pemuda itu kelihatannya manis,bibir tipis,tinggi semampai,hidung bangir kecil, beralis tebal,kulit shitam manis.wajah nya masih muda banget.


Selesai Aku dan Nordiana belanja membeli peralatan mandi, kami dihalangi seorang anak kecil yang mengantarkan surat untukku.


"Kak ini surat dari Abangku, namanya Deny" kata anak kecil tersebut. "cieee" goda Nordiana padaku saat aku menerima surat dari tangan Adik tersebut.


"Makasih bilang dik" ucapku saat surat sudah ditanganku, Adik itu angguk kepala lalu pergi meninggalkan kami, Nordiana membuka gerbang rumah, lalu kami berdua berjalan masuk kedalam kamar.


"Apa isi suratnya?"ternyata Nordiana ingin tau apa yang dikatakan pemuda itu padaku, Aku diam saja dan berfikir.


"Rahasia,ingin tau aja urusanku" ucapku karena Aku takut Nordiana ngadu sama Buk Wadinah kalau Aku dapat surat cinta.


"Huh...pelit" kata Nordiana sambil cemberut.


"Nanti aku beri tau, ya sudah sana nyuci,kamu bilang mau nyuci pakaian,udah numpuk noh pakaian kamu" ucapku mengingatkan Nordiana, dia cemberut saja lalu keluar dari kamar, kesempatan Aku untuk membuka surat dari pemuda bernama Deny.


isi surat Deny.


"hai salam kenal,nama aku Deny, nama kami siapa?,aku suka sama kamu,sudah lama kamu aku perhatikan,kamu seringkan lewat depan gang ruko sebelah?.balas ya aku menunggu kamu,gak pake lama, salam aku Deny"


Aku remas surat itu lalu Aku simpan dengan rapi,siapa tau Nordiana penasaran hendak membaca surat dari Deny.Setelah itu aku keluar dari kamar melihat nordiana cuci kain dibelakang dapur rumah.


"Udah dibaca?"tanya Nordiana sambil membilas kainnya, Aku duduk dibatu besar sebelah cendela samping Rumah.


"Udah...cuma ajak kenalan aja kok, gak ada yang lain" jawabku sambil memainkan pasir putih yang ada didepanku.


"Jadi suratnya mana?" kata Nordiana lagi yang sudah siap bilas kain lalu menjemurnya.


"udah aku robek,lalu aku buang keselokan" ucapku datar, nordiana terkejut lalu menatapku heran.


"kok disobek?,hemm" jawab Nordiana sambil melanjutkan jemur pakaian dia sendiri.


*********


🌷KEESOKAN HARINYA🌷


Saat kami pulang sekolah,langkah Aku dan Nordiana dihalangi lagi sama Adik Deny, Aku dan Nordiana saling tatap lalu memandang Adik Deny yang berdiri didepanku.


"Mau apa dik?" tanyaku lagi heran,apa mau kasih surat lagi.


"Abangku bilang... mana surat balasan dari Mbak?" kata Adik Deny sambil mengulurkan tangan,berharap Aku kasih surat balasan.


"Bilang sama abang kamu,nama Mbak Yunita, kelas dua SMP. Gitu aja bilang,oh iya Abang kamu kelas berapa?" tanyaku penasaran juga buat Nordiana tersenyum aneh.


"Abang kelas tiga SMP,lebih tua dia ehehe, ya sudah mbak aku pergi dulu" kata Adik Deny sambil berlarian pulang kerumah.


Aku geleng kepala saja, Nordiana menepuk bahuku,Aku tau maksud Nordiana pasti dia mulai lagi urusi urusanku.


"Kenapa gak kau balas?,kenapa bohong kita kan kelas satu bukan kelas dua?" tanya Nordiana saat kami sudah sampai kedalam kamar.


"Malas saja,lagian aku punya pacar,aku sengaja bohong,kata teman sekampungku gak boleh terlalu jujur sama laki-laki yang baru kenal" jawabku datar sambil membuka hijab dan mengganti pakaian sekolah dengan baju santai.


"Ow..iya nya" kata Nordiana sambil melipat seragam sekolah, Aku angguk kepala saja lalu mengambil handuk hendak mandi.


"Duh kutu ini gatal banget" kata nordiana sambil garuk kepala dengan sisir kutu,Nordiana memakai hijab pasti kutunya mulai mengigit karena kulit kepala jadi lembab.


what dia kutuan, pantes rambutku gatal kemarin, wah ..harus ganti sisir nih,tapi gak enak juga jauhin Nordiana, diakan teman sekamar aku. ucap batinku.


"Pakai obat,beli diapotik ya..besok aku temani kamu beli obat" ucapku karena gak mau ketularan Nordiana.


"Belum ada uang, mamaku belum kirim, kalau udah kirim aku beli tuh obat" jawab Nordiana sambil menyisip telur kutu.


"Hiii..." Aku bergidik geli,lalu Aku keluar dari kamar hendak mandi,Aku melihat Buk Wadinah pulang dan membuka pintu gerbang depan rumah.Buk Wadinah menyapaku lalu Aku pamit kedalam kamar mandi, Aku ciduk air memakai gayung,lalu Aku basuh tubuhku yang sedikit lelah biar segar kembali.


Setelah siap mandi Aku berjalan kedalam kamar, Nordiana gantian ingin mandi juga, lalu iya keluar dari kamar menuju kamar mandi.


"sssss ...ssss" suara decis kecil terdengar dari luar cendela kamar kami, Aku melihat asal suara itu.


ah untuk apa siDeny ini memanggilku?, hedew buat buk wadinah tau aja, terlalu gegabah nih anak, aku takut ketahuan kalau aku kenal laki-laki ucapku didalam hati.


Aku lihat keluar cendela,Deny melemparkan gulungan kertas kearah cendela kamarku,syukur tidak ada Nordiana.


"baca ya" bisik Deny saat dipagar rumah kami, karena jarak pagar rumah sama cendela tidak terlalu jauh.


Aku membaca surat dari Deny, lalu aku geleng kepala saja, Aku menatap kecendela ingin membalas surat dari Deny,tapi dia sudah tidak ada lagi.


untuk apa buat janji malam ini, aku mana bisa keluar malam disini, aneh-aneh saja, entar aku dihukum mak lampir lagi, batinku.


Otakku terus berfikir keras apa yang harus Aku lakukan,alAku takut Deny nekat ketemu Aku malam ini, dia saja sudah berani melempar surat tanpa melihat kanan kiri.


Nordiana tiba-tiba masuk kedalam kamar karena dia sudah selesai mandi, Aku terkejut lalu pura-pura baca buku.


********


🌷MALAM HARINYA🌷


Nordiana sudah terlelap diatas kasur, sedangkan aku masih membaca novel sesekali membayangkan wajah Riandi.


"sssss...ssssss" suara decisan dari luar cendela kamar, Aku tau siapa itu, Aku memastikan lagi siapa tau bukan dlDeny.


ah benar -benar nekat nih anak, aku kira main-main tenyata beneran, gimana ini?, kalau aku diam saja entar ada yang tau lagi, seisi rumah bisa gempar, tapi penasaran juga,aku mau tau apa mau anak ini?. batinku.


Deny melempar surat lagi, isi suratnya ajak Aku keluar, takut alAku diganggu lagi, Aku memutuskan keluar sebentar selesaikan persoalan ini. Aku membuka pintu kamar dengan hati-hati sampai tidak meninggalkan bunyi sedikitpun.Dengan langkah ringan Aku membuka pintu belakang, lalu berjalan kegerbang belakang rumah.


"Kamu nekat ya,aku gak bisa keluar malam, kamu mau apa sih?" tanyaku saat sudah bertemu Deny disamping rumah kami.


"Maaf....ya,aku mau ajak kamu kenalan, gak enak melalui surat, namaku Deny pasti kamu sudah tau"ujar Deny sambil menawarkan tangan.Tanganku perlahan menjabat lengan Deny dan menyebut namaku.


"Yunita ?, nama yang cantik sama kayak orangnya" gombal Deny sambil menatapku penuh arti.


"Maaf ya aku gak bisa lama" ucapku lagi sambil melihat Deny yang bersabar berdiri dihadapanku.


"Kamu asli mana?,siap itu kamu boleh masuk kerumah,aku cuma ingin tau aja" kata Deny penasaran dan tersenyum padaku.


"Aku asli desa P, dekat kota T, yasudah ya aku balik dulu, takut ada yang lihat, jangan marah ya.." kataku sambil buru-buru berjalan, aku tidak menunggu lagi ucapan Deny, karena takut ketahuan, apalagi aku tadi keluar seperti maling, yang pastinya masuk juga seperti maling, mengendap-endap dengan langkah ringan.


Aku bernafas lega setelah sampai kekamar, Aku lihat lagi Nordiana sudah terlelap pulas, Aku lirik jam dinding ternyata jam dua belas malam, cepat-cepat aku tidur takut kesiangan,


ini semua gara-gara deny,aku jadi tidur jam segini, dia tampan sih, tapi aku gak tau sifat dia gimana, lagian aku udah ada Riandi, mikir apa aku tadi ah, mending tidur. batinku.


Aku berbaring dan mencari bantal gulingku, setelah itu Aku memejamkan mata hingga terlelap.


bersambung*


like and komen nya ya sayang.


author akan cium dari sini.


Muaaaach...