
🌺PUKUL ENAM PAGI🌺
Aku masih tertidur pulas dengan baju tidur panjang,jam enam pagi Ibu Gendut sudah berangkat duluan untuk membuat sarapan para Santriwati diAsrama Pondok Psantren,sedangkan Mila keluar membeli detergen mungkin hendak mencuci kain.
Aku yang tertidur pulas ini tidak tau siapa yang masuk kedalam kamar,karena saking nyenyak nya tidur,saat Aku membuka mata Aku lihat Jony sudah duduk ditepi ranjang menatap tubuhku dengan melotot,saat Aku mulai menjerit Jony panik langsung membekap mulutku.
"JANGAN TERIAK ATAU MELAWAN,KALAU KAMU GAK NURUT AKU AKAN CEKIK KAMU SAMPAI MATI" ancam Jony saat membisikan dikupingku, jantungku berdegup kencang ketakutan,Aku menelan ludah panik,karena baru pertama kali ini seorang pria ancam Aku.
Jony masih membekap mulutku,tangan kirinya mulai menyentuh area sensitifku,Aku meronta sekuat tenaga.
" DIAAAM !" bisik Jony ketelinga kiriku.Aku tak berdaya,apalagi Jony mulai menuntaskan hasratnya padaku.
"Aku gak tahan lagi melihat kamu mandi,Aku suka sekali lihat tubuhmu ini,apa lagi wajahmu" bisik Jony saat mulai melecehkanku.Aku menatap nanar Jony melontarkan aroma kebencian dan jijik, airmataku seketika mengalir tiada henti..
"Jiks..hiks...hikss" nafasku tersengal saat menangis sejadi-jadinya, Aku melihat Jony hendak membuka resleting celana Jony, dia sedikit lengah,kaki kananku menendang perut Jony yang buncit sekuat tenaga.
"Gubraak" Jony jatuh tersungkur kelantai dari tempat tidur yang sedikit tinggi.
Aku mendapat kesempatan untuk turun dari ranjang,Aku berlari menuju pintu utama rumah sambil menangis histeris,saat Aku sudah dihalaman rumah Aku melihat Mila yang berjalan dari warung.Mila melihatku menangis sengunggukan berjongkok dihalaman rumah,lalu Mila berlari kearahku.
"Kau kenapa Yun?" tanya Mila lalu angkat Aku supaya berdiri dari jongkok,Aku diam tak mampu lagi berkata-kata saking terkejut dan ketakutan karena pelecehan Jony,Mila memelukku supaya Aku berhenti menangis sambil menunggu Aku berkata-kata kenapa Aku jadi menangis fikir Mila.
Mila membawa Aku masuk karena takut tetangga melihat Aku menangis tersedu-sedu.mila mendudukan Aku disofa tamu.
"kau kenapa Yun?" tanya Mila lagi sambil duduk disampingku,lalu Mila meletakan detergen yang baru iya beli diwarung keatas meja tamu.
"Aku...u..aku" ucapku terbata-bara karena Aku lihat Jony keluar dari kamar menatap Aku nanar,tatapan Jony seperti memancarkan aura pembunuh kepadaku.Lalu Jony mendekati kami pura-pura simpatik padaku,mungkin Jony dengan mendekati aku dan Mila supaya aku gak bilang kejadian ini.
"Kenapa mil dia?" kata Jony seraya memegang tanganku,Aku menarik tangan tak mau disentuh Jony karena Aku jijik banget.
"Gak tau bang, ayo yun kita masuk kamar saja,entar lagi kita sekolah,kalau kamu belum mau cerita tidak apa-apa,entar kalau udah baikan kamu cerita sama aku ya" kata Mila sembari menuntunku kedalam kamar. Jony terdiam duduk diruang tamu.
Mola mendudukan Aku dikasur semula tempat dimana Aku dilecehkan oleh Jony,seketika Aku ketakutan karena mengingat perbuatan Jony beberapa menit yang lalu, Mila kernyit dahi dia tidak tau apa-apa.
"Yun kenapa sih?" kata Mila sambil mengumpulkan pakaian kotor yang terletak dilantai kamar. Aku mengusap airmata mencoba tegar,mencoba menerima pelecehan ini dan memikirkan cara bicara dengan mila.Aku takut kalau cerita Jony akan nekat padaku entah hal apa yang iya lakukan kalau Aku mengadu.
"Yun aku cuci pakaian dulu ya,udah tengah tujuh entar telat kesekolah" kata Mila karena sudah terlalu lama menunggu jawaban dariku,dia juga punya kesibukan sendiri,Aku angguk kepala saja pada Mila,Aku tau Mila juga tak ingin telat sekolah.
Saat Mila sudah pergi kekamar mandi hendak memcuci pakaian,Mila berjalan keruang tamu hendak ambil detergen yang iya letakan diatas meja.
"Abang tau kenapa Yunita menangis?" kata Mila sambil tangan Mila megang detergen,karena Mila melihat Jony yang masih duduk dibangku sofa.
"Ah.., abang gak tau dek,tadi abang lihat dia teriak dikamar,mungkin habis mimpi buruk kali"jawab Jony lirih seperti mencari akal supaya tidak ketahuan. "oooo" gumam Mila sambil berjalan menuju kamar mandi,Jony melihat Mila sudah mencuci kain didalam kamar mandi.
Lalu Jony dengan cepat melangkah masuk kedalam kamarku,Aku terkejut dan geleng kepala melihat Jony berdiri dihadapanku, sementara Aku lagi duduk ditepi ranjang masih menangis,jemari kanan Jony mendarat mencengkram kedua pipiku menekannya dengan kuat,badanku gemetar ketakutan untuk kedua kalinya.
"Kangan bilang pada siapapun apa yang terjadi tadi,kalau ada yang tau, Aku tidak segan-segan membunuhmu,karena ini kotaku,pejamkan itu" ketus Jony bersuara rendah kekupingku,Aku yang mati ketakutan ini anggukan kepala,lalu Jony menghempas tubuhku kekasur setelah itu iya keluar dari kamar.
Aku menangis terus hendak duduk dikasur,meratapi nasibku yang malang ini,karena ini perdana bagiku,sepanjang hidupku baru ini Aku rasakan kejadiam yang membuatku menangis pilu,menangis sejadi-jadinya.
Y**a allah aku menyesal indekos disini,mending aku diasrama biar lah dengan peraturan yang membuatku bosan,dari pada disini dikandang buaya. Batinku menyayat pilu.
Aku mengutuk diriku sendiri karena menyesal memilih tinggal disini,karena biaya murah dan ingin bebas, akhirnya apa yang didapatkan hanya sebuah kepiluan yang berakhir seperti ini.Aku berdiri dari duduk langsung mengenakan pakaian sekolah.
Cepat-cepat aku pergi dari rumah yang membuatku jijik dan benci,tanpa mandi dan sarapan Aku pergi saja dari rumah itu berlari sekencang mungkin kejalan raya,Aku tidak menghiraukan jika Mila bertanya lagi.Saat aku berlari tadi Jony mungkin dikamarnya menikmati dan mengingat saat menyentuhku.
Aku memanggil angkot yang melintas dan pergi dari area rumah Ibu Gendut,Aku hapus airmata ini supaya tidak mau jadi bahan perhatian dengan orang lain,karena Aku sadar Aku sudah didepan umum didalam bus angkutan umum.
Dengan langkah malas dan lemas Aku berjalan masuk kedalam sekolah,Aku berjalan terus saja menuju kelas tanpa hiraukan teman yang menyapa atau menebarkan senyum kepadaku.
Saat didalam kelas tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku ini,ingin sekali Aku pulang kekampung memeluk mama,atau memeluk Ayah karena rasa ketakutanku ini mewarnai sanubari,membuat dadaku sesak seakan gak sanggup lagi untuk bernafas.
"kamu kenapa Yun?,diem saja,hei..ini jam istirahat melamun terus,mata kamu bengkak gitu kayak habis nangis" kata Rina teman sebangku Aku.Ternyata Rina sedari tadi memperhatikan Aku yang diam dan tertunduk saat jam pelajaran.
"Enggak apa apa, hanya rindu kampung saja rin" jawabku pura-pura menebar senyum supaya Rina tak bertanya lagi.
"Oh kirain entah kenapa-kenapa,kalau ada masalah bilang saja sama Aku Yun,aku siap dengarkan masalah kamu,kamu tenang saja Aku tidak seperti Nordiana atau jahra" kata Rina sambil tersenyum.
Rina mengajak aku untuk kekantin,Aku tidak mau ingin sendiri saja,Rina heran lalu berfikir tapi mungkin iya sungkan bertanya lagi entah apa masalah yang menimpa diriku ini.
Setelah Rina pergi menuju kantin,Aku berjalan kelantai paling atas disekolah ini, menaiki anak tangga satu persatu,sampai disana Aku berdiri sambil menatap langit,Aku memejam kan mata mengingat kejadian tadi pagi, saat Jony menciumku..memegang hal berharga dariku.
ooh....derita ini ingin sekali Aku bagi pada mereka tapi Aku tak kuasa.
"Hiksss...hiks...hikss.." suara tangis yang memilukan menyayat hatiku sambil menopang kepala tertunduk dikedua lutut tiada hentinya, sebuah tangan menyentuh bahuku dengan lembut,Aku terkejut siapa yang menyentuh bahuku?,karena Aku tertunduk Aku tidak bisa melihat siapa dia.
"Aku tau kamu pasti ada masalah,jangan simpan masalah kamu Yun,kita temankan" kata Rina saat jongkok menatapku yang tertunduk nangis.Karena suara Rina yang Aku dengar Aku mendongakkan wajah,melihat Rina yang udah duduk dilantai gedung denganku.
"Cerita Yun,aku tidak jadi kekantin,karena aku lihat kau kelantai atas,aku tau kalau kau ada masalah pasti kesini"kata Rina lagi sambil megang tanganku yang terletak lemas dilantai.
Aku diam saja harus memulai dari mana Aku akan menceritakan kejadian tadi pagi,apa Rina bisa kupercaya?,Aku takut Jony membunuhku karena mengingat ancaman Jony tadi.
"Apa kamu gak percaya sama Aku Yun?" kata Rina lagi karena sudah terlalu lama aku terdiam sambil berurai air mata.
"Kalau aku kasih tau apa kau bisa menjaga rahasiaku?" jawabku sambil meyakinkan manusia yang ada didepanku ini,dia sama tidak seperti yang lainnya,Rina tersenyum dan memandangku dengan teduh.
"Demi AllAh aku gak akan beberkan sama teman-teman sekelas" kata Rina meyakinkan aku lagi,supaya Aku mantap menceritakan masalah yang menimpaku ini.
Akhirnya Aku menceritakan kejadian tadi pagi sama Rina,dari awal sampai akhir kejadian, aku melihat wajah Rina yang tenang menjadi panik dan marah seperti ikut tersentuh didalam ceritaku ini.
"Hikss..hikss..hikss..demi Allah Rin aku jijik disentuh pria yang beranak dua itu,perut buncitnya,ah entah lah,benci aku benci, syukur dia belum merenggut kesucianku !!" bentakku menangis histeris,Rina yang merasa simpatik memelukku berusaha membuat Aku tenang.
"Gak sangka anak buk gendut kayak gitu,aku benci" sahut Rina sambil memelukku erat.
"janji ya Rin jangan bilang siapa-siapa aku takut pria sialan itu membunuhku" kataku lagi sambil menangis dibahu Rina, Rina terdiam saja seperti memikirkan sesuatu.
In**i gak bisa dibiarkan,aku harus lapor Ibu Gendut supaya dia tau anak nya seperti apa,enak saja pria itu berkeliaran tenang, sementara Yunita menahan penderitaan ini, maaf yun kayak nya aku harus menuntaskan masalah ini. batin rina marah.
"Teeeet...teet." bel jam istirahat usai,Rina menarik tubuhku berharap Aku ngikut dan berdiri.Karena sedari tadi Aku menangis.
"usap airmata kamu Yun,entar ada yang lihat jadi gosip ayo kita kekelas" kata Rina sambil menarik jemariku,Aku nurut saja dan diam berjalan masuk kedalam kelas.
Aku duduk bersama Rina sambil menunggu Guru sejarah datang.Rina sesekali melihatku dan tepuk-tepuk punggungku supaya Aku lega dan tenang,memang beban ini berkurang saat Aku menceritakan kepada Rina,nafas yang sesak sedikit plong untukku.
"Bentar ya Yun,buku aku ketinggalan diasrama,aku ambil bentar" kata Rina sambil berdiri dari duduk,Aku angguk saja melihat Rina keluar dari dalam kelas.
Lalu Aku mengeluarkan buku sejarah dari dalam tas,sebenarnya malas hari ini belajar seperti tak ada semangat hidup.
Sementara Rina berjalan menuju asrama, Rina dengan wajah geramnya mengingat kejadian yang menimpaku dia turut perihatin,lalu Rina berjalan mendekati dapur,dimana Ibu Gendut memasak untuk para Santriwati diAsrama.
A**ku harus kasih tau buk gendut supaya Yunita mendapatkan keadilan,enak saja anak Ibu Gendut yang namanya Jony tenang-tenang, kalau dibiarkan entar terulang lagi,aku gak mau. batin Rina sendiri.
"Bu.., sebentar,ada yang mau rina bilang sama ibu" kata Rina sambil melihat buk gendut menyiapi piring-piring para Santriwati, Ibu Gendut menatap Rina heran gak biasanya Rina mau ajak bicara Ibu Gendut,biasanya hanya bertegur sapa doang.
"Ada apa nak?" kata Ibu Gendut karena sudah siap menyiapkan makan siang. Rina memalingkan muka dia harus bilang apa sementara ini didapur takut terdengar orang lain.
"Ayo bu kekamar Rina saja,penting bu" kata rina lagi sambil menarik jemari Ibu Gendut. mereka berdua berjalan masuk kedalam kamar Rina, Rina menutup pintu tapi sebelum nya melihat kanan kiri takut ada yang mendengar obrolan mereka.
"Sebenarnya ada apa sih nak,kenapa sampai ditutup segala pintu kamar kamu?" tanya Ibu Gendut heran dan duduk dilantai kamar Rina. rina duduk disamping Ibu Grndut sambil menarik nafas supaya berani menceritakan hal yang buruk menimpa Yunita.
"Maaf ya bu sebelumnya" kata Rina memulai pembicaraan supaya Ibu Gendut enak mendengarkan perkataan Rina, kini Rina melanjutkan dan mengadu tentang kejadian yang menimpa Aku,Ibu Gendut geleng kepala tidak percaya apa yang dikatakan Rina, tapi rina menjelaskan lebih detail lagi.Ibu Gendut jadi menangis tersedu-sedu.
Tangisan Ibu Gendut membuat Rina simpatik.
"Anakku baik,lembut aku gak sangka" kata Ibu Gendut memecahkan kebisuan sejenak.
Karena sudah lama Rina permisi keAsrama dia hendak masuk kedalam kelas,Ibu Gendut bilang jangan kasih tau pada siapapun,dia yang akan urus masalah Aku ini.
Rina berjalan menuju kekelas,sedangkan Ibu Gendut mengusap air mata sembari jalan malas menuju kedapur,sesampai Rina dikelas iya duduk disampingku,Aku menatap heran kenapa Rina tidak membawa buku.
"Bukankah kamu bilang mau ambil buku Rin,mana buku sejarah kamu?" kataku sambil kernyit dahi dan melihat Rina seperti gugup.
"Ah...iya lupa, tadi perut aku sakit Yun, kamu tau kan sambal yang dibuat Ibu Gendut pedas" kata Rina menutupi.
"Ow ya sudah berbagi saja kita buku ini" kataku sambil mendorong buku ketengah meja,Rina tersenyum lalu melirik Buku Sejarah yang terletak didalam tas ransel Rina.
Ak tidak menahu apa yang dilakukan Rina diasrama,setelah itu Guru sejarah akhirnya datang mulai menerangkan mata pelajaran.
bersambung*
Jangan lupa like and komen nya ya sayang-sayang aku.