yunita

yunita
Yun bab 5



🌷HARI YANG SEDIH🌷


Suara burung berkicau merdu,tetesan embun tersapu sinar mentari,pagi yang cerah seperti dokter yang memberi kabar Aku sudah boleh pulang,karena Aku sudah sembuh.


"Pasien sudah boleh pulang,tapi kalau obat nya habis kesini lagi ya Bu,supaya sembuh total" kata Dokter sambil menulis resep untukku.


"iya Dok" senyuman Mama terlintas dibibirnya karena Aku bisa kembali lagi pulang.


Aku senang akan pulang kedesa dulu,karena kata Mama Aku istirahat jangan sekolah dulu, apalagi belum sembuh total, disisi lain wajah bahagia ini berubah total saat mengingat wajah Riandi.


oh Ya..allah aku akan pulang,pasti kami tidak ketemuan lagi setiap hari,padahal sebulan ini aku terbiasa ketemu Riandi,aku jadi ingin lama disini,tapi aku gak boleh egois aku juga harus melanjutkan kewajibanku .ucap batinku.


"Mama ambil obat dulu,kau susun baju yun, kita mau pulang" kata Mama sambil memakai sendal lalu berlalu dari ruangan tempatku dirawat. Aku terdiam sambil melamun dan memikirkan nasib percintaanku.


Datanglah bang,aku ingin melihat wajahmu, kamu tidak taukah hari ini aku akan pulang, semoga hatimu terdetak untuk datang sekarang,karena sebentar lagi aku pulang bang.ucap batinku.


Sambil berharap Riandi datang Aku menyusun tas keranselku,sambil jongkok dilantai ini.Kedua mataku ditutup jemari orang tiba-tiba.Aku tau pasti dia yang datang.


"Abang lepaskan,gak bisa lihat nih" ucapku sambil megang kedua tangan Riandi.


Riandi melepaskan kedua telapak tangannya dari mataku, Aku berdiri dan berbalik langsung memeluk tubuh kekar itu,perlahan Riandi membelai rambutku.


"Abang udah tau kamu hari ini pulang, jangan sedih gitu dik" kata Riandi sambil melepas pelukan dan menatapku.


"Tapi" ucapku tak bisa bicara lagi karena telunjuk riandi mendarat kebibirku,lalu Riandi geleng kepala.


"Kamu masih kekampungkan?, abang bisa datang kesana kapan-kapan, percayalah dik" kata Riandi sambil memelukku erat, cristal bening mulai jatuh dari pelupuk mataku,tapi Aku tahan supaya tidak kelihatan cengeng.


Riandi melihat mama berjalan keruangan, lalu dia menjaga jarak,Aku terheran sampai Mama datang baru Aku mengerti kenapa Riandi jadi panik.


"udah disusun bajunya?" kata Mama sambil mengambil termos tempat air panas menyimpan dikantungan yang besar.


"Udah ma" jawabku singkat karena riandi terduduk sambil melihatku menyusun barang-barang lain.


Riandi terus melihatku mengumpulkan barang-barang,lalu dia membantu sedikit dengan diam,sepertinya dia juga tak rela kalau Aku pulang, karena kami lain daerah.


Dia tinggal dikota T ini,sementara aku didesa, walau satu jam menuju kedesaku dari kota T, ya pastilah jarak itu membuat kami jarang untuk bertemu.


"Jangan lupakan abang" bisik Riandi saat melihat Mama kedalam toilet, sontak Aku ingin menangis,sukmaku terasa sesak menahan dan membendung airmata ini, aku angguk kepala saja,gak berani berkata takut kalau suara parauku terdengar Mama.


Setelah beres-beres kami berjalan keluar ruangan pasien,sebelumnya kami pamit sama Suster-Suster,karena semua sudah kenal aku, maklum lama diopname.


Kami bertiga jalan berbarengan menunggu bus,diperjalanan Riandi mencuri jemariku dan menggenggam jemariku erat, karena Mama sudah jalan didepan kami.


T**uhan wajahnya jadi sedih, jangan perlihatkan wajah itu bang,buat aku malas pulang, dan ingin bersamamu terus.ucap batinku ini.


Akhirnya kami sampai didepan jalan raya, sambil menunggu bus,Aku berharap bus lama datang,supaya bisa memandang wajah Riandi lebih lama.Ternyata fikiranku tak sesuai dengan apa yang Aku inginkan, Bus lewat dan tangan Mama melambai,seraya memanggil bus tersebut.


Melihat Bus berhenti, baru itu Aku lihat wajah Riandi memancarkan kesedihan mendalam, wajah yang selalu tersenyum bisa berubah karena Aku akan pulang.


"Ingat jangan lupakan abang dik" kata Riandi saat aku hendak masuk kedalam bus.


"Aku sayang abang"kataku sambil menatap sedih wajah Riandi, "abang juga" jawab Riandi melontarkan senyum seperti terpaksa tapi gak rela.Aku naik kedalam bus,Aku lihat Riandi berdiri sambil melihat bus berlalu.


Aku lihat lagi Riandi dari cendela bus melambai saja dan tersenyum.Kami tidak sempat melakukan ciuman terakhir karena keadaan yang begitu saja cepat berlalu.


jangan lupakan aku bang,aku sangat mencintaimu Riandi ucap batinku.


Aku duduk disebelah mama yang melihat kearah cendela.


"banguni Mama ya kalau sudah sampai desa, jangan ketiduran juga" kata Mama sambil memejamkan mata. "iya ma" hanya kata itu yang terlontar, karena masih memikirkan Riandi.


Karena Mama sudah tidur,butiran air asin akhirnya jatuh dikedua pipiku ini yang sudah dari tadi Aku bendung,Aku menangis sembunyi dibalik Mama yang sudah tidur.


A**ku sudah terbiasa ketemu dia setiap hari, perhatiannya, kasih sayangnya, dia begitu baik saat bersamaku,kini kami berpisah walau akan ketemu kembali, tapi entah kapan waktu itu akan datang. ucap batinku bergejolak sedih.


Aku menghapus airmataku saat orang melintas dan mencari tempat duduk didalam bus,Aku takut ada yang melihatku kalau Aku ini menangis.


Sepanjang jalan Aku melihat berderet-deret pohon karet saat bus melintas,karena desaku mulai dekat,walau hati ini masih sedih karena jauh dari Riandi, tapi Aku senang bisa pulang melihat tempat kelahiranku.


Kuguncang lengan Mama saat sudah sampai dipersimpangan rumahku,Mama terbangun dan melihat keluar cendela.


"Udah sampai rupanya,ayo turun" kata Mama sambil berdiri barengan denganku.Aku turun dari bus tersebut, lalu kami berjalan barengan menuju rumah.


Ditengah perjalanan kerumah, banyak mata tetangga melihat dan menegur kami.Yang bilang Aku cepat sembuhlah,bilang Aku makin cantiklah semua dibilang,karena Aku tau orang pondok ini ibu-ibunya biang gosip semua.Mulut nya saja ramah, tapi kalau lagi ngumpul sering ghiba tetangga yang tidak disukai.


Sampai didepan pintu rumah Ayah menyambut kedatangan kami,Ayah melontarkan senyuman lalu kami semua masuk kedalam rumah,Adikku juga gak mau kalah,ikut ngumpul sambil dipangku Ayah.


"Istirahat dulu Yun, seminggu lagi saja kamu pulang kekota M" kata Ayah sambil megang kepala Adikku.


"Iya yah, Mama juga bicara gitu tadi" kataku sambil berdiri dari duduk lalu Aku menuju kamarku.Sudah lama Aku tidak pulang kerumah ini suasananya masih sama,barang lamaku juga terletak masih sama, kugenggam buku-buku sekolah dasarku sambil mengingat saat sekolah dasar dulu.


Aku mendengar Mama ngobrol dengan Ayah diruang tengah,Aku diam saja saat didalam kamar terlintas lagi bayangan Riandi.


B**aru berapa jam aku pisah dari Riandi, sudah rasanya ingin ketemu,sampai kapan aku begini. kata batinku.


Kubaringkan tubuhku,Aku pegang bibirku ini mengingat saat bercumbu dengan Riandi, andai Aku punya foto Riandi mungkin rasa ini bisa berkurang,sedih ini juga bisa berkurang, tapi sayang foto itu tidak ada.


Aku memejamkan mata,sambil tidur miring kesamping kiri.


*************


🌷MALAM HARINYA🌷


Aku membuka mata entah sejak kapan Aku tertidur,biasanya Mama akan membangunkan Aku,mungkin karena Aku masih sakit dia membiarkan Aku tertidur pulas.


Aku berjalan keluar kamar menuju kamar mandi,Aku melihat Mama menyiapkan dagangannya untuk besok.


"ow udah bangun?, jangan lupa Yun minum obat ya" kata Mama sambil mengupas bawang duduk dilantai dapur kami.


"Iya ma" jawabku sambil mencuci muka didalam kamar mandi.


"waalaikum salam,Viva. masuk Vi.." kata Mama sambil melihat Viva yang tersenyum masuk kedalam rumah.


Aku melihat Viva yang datang,Viva duduk disamping teras rumahku,menunggu Aku datang, Viva itu anak tetangga kami, Aku akrab sama Viva saat dia mengikuti festival dangdut.


Dulu selain ketempat Wati Aku juga sering main kerumah Viva,dia itu Penyanyi alias Biduan, karena mungkin keturunan dari Bapak Viva, mereka juara festival dangdut didesa ini, Viva berhidung besar sedikit, bibirnya tebal,rambut ikal-ikal, berkulit sawo matang,tapi jika senyum iya manis,dia bersuku jawa.


"Maaf ya vi lama ya,aku baru bangun ces" kataku sambil duduk disamping Viva.


"Ah gak apa, maaf ya yun Aku gak bisa jenguk kau, karena banyak job" jawab Viva sambil tersenyum padaku.


"Santai Vi,aku gak marah kok" jawabku sambil menyeka muka,karena masih ada air yang tersisa sewaktu mencuci muka tadi.


"Kau makin putih ya Yun,angkrem aja diasrama ya, gimana enak?" kata Viva sambil menaikan alis padaku.


"Karena alAku pakai hijab,semua serba panjang bodoh,jelas kulit ini terus tertutup,apalagi dikurung diasrama kayak burung dalam sangkar Vi" kataku sambil tersenyum.


"Eh aku dapat pacar lho, namanya putra, kami jadian walau satu sekolah" kata Viva tersenyum sambil matanya menatap kelangit.


"Pelan-pelan kau ngomong kampret, kau tau kan mama aku gimana?,entar kita kena semprot gimana?" ujarku lalu menutup mulut Viva pakai handuk.


"Cih asin bodoh" kata Viva meludah karena alAku sumpal mulutnya, Aku tertawa renyah karena membuat Viva kesal,dia tidak marah karena kami sahabatan sudah lama.


"He..akupun dapat pacar saat opname, ganteng lagi" kataku sambil senyum tersipu malu.


"Wa...apa mama kau tau Yun?, kan dirumah sakit?" tanya Viva heran kenapa aku bisa ketemu pria,gimana cara kencannya.


"Cowok ini pandai ngambil hati Mamaku, jadi mama kira Aku sama dia cuma abang beradik" kataku sambil berbisik kekuping Viva.


"kampret, artinya dia lebih tua dari kamu Yun?, aku dengar pacaran sama yang lebih tua enak,lebih dewasa gitu Yun" Viva semangat berbicara dan menatapku lagi.


"Ya aku rasa gitu, aku bersyukur kenal dia Vi, jadi rindu sama riandi" kataku sambil bersedih menatap kedepan halaman rumahku.


"Sabar kalau jodoh gak kemana, namanya riandi ya, pasti cakep?, kalian pacaran ngapai aja?,kalau Aku udah sexwilda ahahaah" kata Viva sambil girang dan tertawa menutup mulut.


"Kampret..apa itu sexwilda?,aku gak paham kamus gaul kau itu?" tanyaku sambil heran dan penasaran.


"Sex wilayah dada, eheheh.. kau jugakan?, hayoo ngaku, aku udah jujur sama kau Yun" kata Viva sambil menaikan alis,dia juga ingin tau apa yang Aku lakukan.


"samalah kita" jawabku singkat,buat Viva mentoyong kepalaku, karena aku gak mau kalah dari Viva.


Seorang pemuda melintas dari halaman rumahku, lalu pemuda itu melihat kami duduk berdua.


"Bang Hadi" panggil Viva,saat Viva melihat hadi melintas.Hadi berjalan menuju tempat kami duduk.


"in-ini Yunita?, kok beda dik?, kok makin-makin saja ya" kata Hadi saat melihat aku duduk disamping Viva, Aku jadi tersipu malu saat hadi berbicara gitu.


"Apa kabar bang?" tanyaku sambil tersenyum pada hadi, "baik,kapan pulang?" jawab Hadi sambil duduk disebelah Viva.


"Apa abang gak tau dia baru opname?" tanya Viva sambil mencubit pinggang Hadi.


"Aw..sakit tau, masya Allah Yun abang gak tau sumpah,maaf ya abang gak jenguk kamu" kata Hadi sambil memasang wajah sedih.


Hadi menatap beda denganku, tidak seperti dulu saat Aku kecil,Hadi itu sepupu Viva, mama Viva dengan mama Hadi saudara kandung, apalagi Viva dan Hadi tetangga'an jadi Aku juga kenal sama Hadi.


Hadi terus menatapku tapi seperti beda dengan tatapan Riandi,perbedaannya Riandi menatap penuh cinta,Hadi menatap seperti ingin memakanku.


"Eleh lihatnya gitu kali bang,buat yunita takut" kata Viva sambil mengusap wajah Hadi yang sedari tadi mata Hadi tak lepas memandangku.


"Enggak abang pangling gitu, dulu diakan tomboi,gak palah putih gini, rambut pangkas bob mirip cowok, kok jadi cantik gini" ceplos hadi sambil garuk kepala dan geleng kepala,masih memandangku.


"Abang bisa aja,dulu ya dulu,mungkin karena aku tinggal dikota M bang,jadi kulit bisa bersih" kataku sambil tersenyum,padahal hatiku sedikit senang dapat pujian dari Hadi.


"Oh iya abang lupa,abang suruh mama tadi beli obat nyamuk, besok ketemu lagi ya Yun, besok juga mau sekolah" kata Hadi sambil berdiri dari duduknya, karena dia juga pelajar anak SMA.


"Sana...sana...menyemak" kata Viva sambil dorong tubuh Hadi,Hadi menuju halaman rumah tetangga disebelah rumahku, karena warung kelontong ada disitu.


"Abang ngomong sama Yunita kok, kau sewot, dasar bibir tebal" kata Hadi sambil main pergi gitu saja setelah ngejek Viva.


"hei....kerempeng" kata Viva pada Hadi,aku jadi tersenyum geleng kepala saja, melihat sepupu itu terus berdebat.


"Yun udah mulai larut, besok malam minggu, kalau kau suntuk, aku ajak jalan besok" kata Viva sambil berdiri dari duduknya.


" Oklah Vi, besok kalau aku jenuh ngurung dikamar, aku kerumah kau ya" kataku sambil melihat Viva berjalan kebelakang rumah.


"Ya .. ya.." kata Viva yang udah berjalan kebelakang arah rumah Viva, karena rumah Viva dibelakang rumahku.


Aku masuk kedalam rumah, Aku lihat dimeja makan Mama menyiapkan cemilan buat Ayah, Aku gak mau ketinggalan,aku ambil segenggam ubi kayu goreng, lalu Aku berjalan keruang tamu.


Saat diruang tamu Ayah fokus menonton Televisi, aku lihat acaranya seru film India Dil To Pagel Hai, karena film ini tenar sekarang.


"Kok ada india ya?" tanyaku pada Ayah, Ayah mengambil ubi kayu goreng dari atas meja lalu memakannya.


"ini bukan acara tv, apa gak lihat vcd itu hidup"kata Ayah sambil tersenyum.


Aku senang akhirnya ada vcd, sejak kapan dibeli Aku tidak tau,maklum saja selama ini Aku jauh dari Ayah dan Mama.


Kami fokus nonton film India tersebut, Aku mau nangis nonton itu,mungkin karena sambil memikirkan Riandi, Sahruk Khan Aku bayangkan Riandi,sehingga aku jadi berhalusinasi.


"Wei anak gadis nangis" ejek Ayahku saat Aku terharu nonton.


"Ayah nih ah.. Ayah juga mau nangis, sok ngejek awak"jawabku sambil malu dan tersenyum, langsung kuhapus airmataku, karena takut diejek Ayahku.


bersambung*


Jangan lupa like and komennya say.


author sangat terbantu dan semangat.