yunita

yunita
Yun bab 24



Malam semakin larut Aku melangkahkan kaki melewati rumah-rumah karyawan dengan barengan Yudi,ya Lelaki ini akan mengantar Aku pulang kerumah.


"Yunita?" kata Yudi memecahkan keheningan karena sedari tadi tidak ada yang memulai pembicaraan.


"Hemm,iya.." jawabku sambil berjalan lalu menatap Yudi sekilas dan Aku memutarkan mata seakan fokus berjalan kedepan saja,Aku berharap cepat sampai kerumah karena malas jika Yudi ajak ngobrol lebih lama,sekedar menghargai saja supaya Yudi tidak kecewa jika ketemu aku dilain hari,Aku juga takut kalau Yudi bertanya lagi soal cinta kepadaku.


*******


Sementara Anto lagi mendorong sepeda motor milik Jaka sambil menggerutu jengkel.


Ternyata mereka lama karena kejadian Ban kempis,mungkin terkena paku saat dijalan bebatuan yang mereka lewati saat melaju kesimpang dekat jalanan aspal.


"Idah kita cari tempel ban tapi gak ada juga yang buka" Anto mendengus kesal sambil menambah tenaga mendorong motor itu. Terlihat tubuh Anto yang kekar berkeringat.


"Iya sial..topi juga hilang malah bocor Ban motor ini,kita mau kemana lagi?,sudah keliling tidak ada juga yang buka" kata Cindi sambil mendorong juga buntut motor yang dibelakang.


"Tukang tempel Ban itu aku rasa lupa cabut sama bininya, sampai gak buka" sahut Anto bisa-bisa nya disituasi sulit itu dia bercanda,Cindi jadi tertawa kecil,Hal inilah yang disukai gadis ini tentang kepribadian Anto,membuat Cindi kelepek-kelepek karena candaan demi candaan terlontar dari ucapan Anto,jadi Cindi merasa nyaman dengan Anto.


"Huh..ya sudah kita hajar saja yok,biar saja Jaka marah,palingan besok lingkarnya Baling eheheh.."kata Cindi karena sudah merasa lelah mendorong motor itu terus.Terpaksa Anto mengikuti kemauan Cindi,karena perjalanan mereka masih sedikit jauh.Anto gak tega juga membuat Cindi jalan terus menuju rumah Yudi.


Kini Anto membawa motor dengan lembut sekali mungkin memakan waktu balik kerumah Yudi,tapi hati Cindi sangat senang dia dapat kesempatan berlama-lama dengan Anto,walau Anto anggap biasa saja Cindi sudah cukup senang.


Kapan Anto menembak Aku,sudah lama Aku menantikan momem itu? sudah dua tahun Aku tunggu tapi tidak ada respon.Batin Cindi.


Gi**mana Yunita ya? aku takut Yudi menggoda gadis itu,cepatlah sampai aku ingin sekali melihat wajah Yunita. Batin Anto.


Sinar lampu motor menerangi jalan yang sedikit bebatuan,sinar itu memperlihatkan Aku dan Yudi yang berjalan hendak sebrang kepondok sebelah,spontan Anto berhentikan motornya karena melihat Aku jalan berduaan dengan Yudi,mata sayu itu terbelalak menyimpan kecemburuan padaku.


"Kalian habis ngapai hayoo...?" tanya Yudi saat Anto sudah mendekati Aku dan Yudi,Aku tau tatapan Anto sudah memperlihatkan amarah,Aku tak berani menatap mata sayu itu yang sedikit terbelalak menatapku ngeri.


"Kau lihat Ban belakang kempis,nih kunci bawa balik,biar aku yang antar Yunita pulang" tukas Anto sambil mencengkram kuat tangan kiriku,Aku sedikit meringis kecil saat tangan ini dicengkeram kuat dengan jemari Anto,tapi Aku berusaha tenang takut kalau Yudi dan Cindi jadi curiga dengan hubungan kami yang gak jelas ini.


"Lho..lho gak bisa gitu men,aku yang antar Yunita,kamu antar Cindi saja,kan awalnya kau dengan Cindi" balas Yudi sambil kernyit dahi,Cindi memutarkan mata dan melihat tangan Anto terus mencengkram tangan Yunita.


Katanya Sepupuan tapi serasa ada yang aneh, entah karena perasaan aku saja kali ya,karena aku suka pada Anto jadi berperasangka seperti ini. Batin Cindi.


"Sudah biar aku saja yang antar,aku sekalian balik kerumahku,kau biar gak repot bolak-balik lagi" tukas Anto sambil menarik paksa tangan kiriku meninggalkan Yudi dan Cindi begitu saja.


Aku memutarkan kepala kebelakang sambil berjalan,Aku melihat Yudi menghidupkan motor dengan Cindi yang ada dibelakang bangku tumpangan motor lalu mereka pergi juga dari jalan bebatuan itu.


"Lepaskan ...sakit tau !" kataku sambil menarik paksa pergelanganku yang sedari tadi dicengkram kuat oleh Anto,Anto melepas kasar cengkaramannya lalu menatap nanar Aku yang sudah mulai emosi.


Aku sedikit menjaga jarak dengan Anto,Pemuda itu menatapku penuh dengan amarah apalagi Aku menarik tangannya tadi pasti emosinya semakin menjadi.


"Ow..gak mau jalan sama aku pulang?,mau nya sama Yudi?,apa kau lupa ucapan aku tadi jangan dekatan sama Yudi mau apapun !" bentak Anto membuat sakit telingaku,Aku memejamkan mata sekilas karena Aku sedikit takut, baru kali ini Aku melihat Anto semarah ini,entah karena dia cemburu atau memang sifat aslinya begitu.


"Emangnya apa hak kamu?,kita gak ada hubungan spesial,apa salah Yudi yang mau antar aku pulang?,karena kau lama jalan sama cewek bernama Cindi itu,mangkannya Aku minta pulang,gak mungkin Aku jalan sendirian pulang !" bentakku balik ,cristal bening ini mau jatuh dipelupuk mataku,tapi masih bisa aku bendung supaya tidak kelihatan cengeng didepan Anto.


"Ow..udah pintar ngomong sekarang ya?" sahut Anto sambil mendorong tubuhku ketembok rumah kosong yang ada didepan kami,dengan cepat Anto meraih bibirku menciumnya dengan kasar dan mengigitnya sedikit geram, mungkin Anto melakukan itu untuk melampiaskan kemarahannya supaya Aku jadi jera.


Aku sedikit meringis kesakitan saat bibir tipis bawah ini digigit kecil Anto,Aku merasa muak emosiku meninggi,Aku cengkram dada bidang Anto yang lebar,lalu Aku dorong tubuh Anto sekuat tenaga.


Ciuman kejam Anto dari bibirku akhirnya terlepas karena dorongan tanganku yang kuat, Anto sedikit berjarak didepanku,dia masih emosi,Aku juga mulai emosi.


"Cium..cium terus,aku bukan murahan yang seenak nya kau cium tanpa kata jadian" dengusku sambil mengusap bibirku ini.


Lalu butiran bening cristal ini yang sedari tadi Aku bendung pecah juga dihadapan Anto,Aku membalikan badan lalu berlari saja tanpa melihat Anto yang masih terpaku diam. Setelah didepan rumah Aku tekan knop pintu berjalan langsung masuk kekamar walau mata masih menangis.


"Hikss..hiks.." Aku berbaring sambil menangis karena kejadian tadi,sebenarnya Aku tak marah Anto mencium dengan kasar,yang Aku kecewa saat Aku Diantar Yudi kenapa dia menampakan cemburunya,sedangkan Aku yang diam melihat dia bersama Cindi hanya bisa berlapang dada.


E**gois banget nih cowok, kenapa dia marah padahal Yudi cuma mengantar,seharus nya tanya baik-baik padaku jangan langsung marah,gimana perasaanku saat dia dengan Cindi. Batinku


Aku mendengar suara pintu depan rumah terbuka,Aku tau pasti Anto yang sudah sampai kerumah,cepat-cepat Aku hapus air mata ini,lalu Aku raih selimut yang terletak dibawah kaki,Aku tutup tubuh ini dengan selimut sambil memejamkan mata.


Aku merasakan ada kehadiran seseorang duduk ditepi ranjang yang Aku tiduri,walau wajah ini tertutup selimut aku tau dia ada disampingku.Aku pura-pura terus tertidur memicingkan mata ini,perlahan tangan Anto menarik selimut yang menutupi wajahku.


"Maaf sayang" desah Anto ditelangiku,Aku pura-pura saja tak mendengarkan ucapan Anto barusan,Anto menggigit kecil telingaku mungkin sedikit geram karena aku tidak merespon ucapannya,atau Anto tau Aku belum terlelap jadi berusaha membujukku.


Aku tidak sabar karena Anto terus saja ganggu ketenanganku,selain menggigit dia juga meniup telinga kiriku,aku sedikit terpekik merinding geli,membuat Anto tersenyum puas karena sudah merasa menang membuatku kegelian.


"Jangan marah" kata Anto lagi bersuara pelan, Anto mungkin takut bervolume suara keras,takut jika kedua orang tua Anto terbangun dari tidurnya,Aku memutar mata lalu melontarkan senyum padanya,walau Aku tak berbicara,sepertinya Anto mengerti kalau aku sudah memaafkan dia.


***


Sementara dirumah Yudi,kini Yudi dan Cindi sudah sampai didepan halaman rumah Yudi. Jaka mengkernyit dahi kenapa Yudi bisa sama Cindi sementara tadi Cindi pergi bersama Anto.


"Lho..mana Anto?,tadi kau antar Yunita balik,sekarang bisa sama Cindi?" tanya Jaka terheran sambil duduk bersama Bunga disofa tamu.Yudi mendengus kesal lalu duduk bersandar disofa,sepertinya waktu berduaan dengan Yunita terhalangi karena perlakuan Anto yang aneh.


"Tanya Cindi tuh...gak ngerti ketemu mereka dijalan ee..nyatanya Anto minta balik sama Yunita,kami ditinggal dijalan" sahut Yudi sambil melirik Cindi karena wajah Cindi terlihat murung.


"Cin..kenapa kalian lama?apa kau sudah jadian sama abangku itu?"ujar Jaka ingin tau saja sambil mereguk sedikit teh yang tersisa digelas kepunyaan Jaka.


"Abang kau aneh...gak ada respon tuh,aneh nya lagi bawa Adik Sepupumu kayak marah,kayak gak suka Yudi antar Yunita" tukas Cindi sambil mendengus nafas kesal.Jaka berfikir lalu melihat Cindi yang sedikit bete.


"Ya mungkin takut diapa-apain Yudi" lirih Jaka sambil tertawa kecil.


Yudi bangkit Dari sandaran kursinya karena mendengar perkataan Jaka barusan.


"Aku gak serendah itu men,kau taukan sifatku,walau aku suka adik sepupumu itu,tapi gak ada fikiran macam-macam diotakku ini" sahut Yudi merasa kesal dengan ucapan Jaka tadi.


Bunga melihat Yudi aneh,Jaka juga sebenarnya sudah tau kalau Yudi naksir Yunita jadi mendengar itu dia biasa saja,berbeda dengan Bunga dan Cindi tak percaya kalau Yudi bisa suka dengan sepupu Jaka padahal Yudi sulit jatuh cinta.


"Wah..teman kita ini Cin..rupanya naksir ya sama adik sepupu Jaka,pepet terus Yud" kata Bunga sambil melirik kearah Yudi yang lagi mijat dahi.


"Kayak mana mau dipepet,Anto ganggu saja terus huh" kesal Yudi mendengus kasar.


"Kita senasib Yud..Aku saja gak pernah dapat lampu hijau dari Anto"sambung Cindi merasa cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Udah larut,besok kita sambung lagi"ujar Jaka karena melihat jam dinding sudah pukul sebelas malam.


Mereka memutuskan balik kerumah masing-masing,Jaka mengantar Bunga dan Cindi menuju rumah mereka masing-masing dipondok sebelah tidak begitu jauh dari rumah Yudi.Mereka mana tau ada hal apa dengan Anto dan Yunita.Karena sepupuan Anto merahasiakan hubungan gelapnya dengan siapapun.Sampai saat ini tidak ada yang tau hanya Tuhan yang tau.


*****


Sedangkan dua insan yang sudah memaafkan ini bercumbu sekelak menuntaskan hasrat masing-masing,dan bermesraan sedikit saja.


"Jangan marah lagi ya,tadi Ban motor Jaka bocor,tapi aku heran kenapa kamu marah,apa cemburu?"kata Anto sambil meledek saat Aku duduk dihadapan Pemuda ini walau ditepi ranjang.


"Eng-enggak" jawabku gugup berusaha menutupi gengsi kepada Anto,Pemuda ini meraih tangan kananku,lalu mencium punggung tanganku,hatiku tidak tahan mendapat perlakuan lembut Anto,walau sempat tadi kami bertengkar kami bisa bermesraan lagi, entah kenapa sulit sekali berlama-lama musuhan.


Lalu Anto membelai rambutku dengan lembut,aku memejamkan mata merasakan kemesraan ini, "tidur ya udah malam" kata Anto sambil mengecup pucuk kepalaku,Aku merasakan kehangatan itu sampai menusuk dikalbuku,entah cinta apa yang kurasakan ini, apa karena kesepian atau hanya ingin mencari sensasi saja.


"Abang juga ya" sahutku sambil menatap mata teduh kepunyaan Anto.


"Ingat yang aku bilang tadi,aku suka kamu kalau jodoh aku akan menikahimu" kata Anto sambil menampakan wajah serius,Aku terdiam walau ucapan Anto benar aku cemas karena hubungan kami terlarang,apa kata kedua orang tuaku?,apa mereka akan terima?,hatiku terus bertanya-tanya.


Anto berdiri dari duduknya,Anto menbungkukan badan sedikit karena ingin mengecup keningku sekilas,lalu Anto berjalan keluar dari kamar,Aku lihat tubuh tinggi itu tak lebih seratus delapan puluhan berjalan membelakangi Aku yang masih duduk ditepi ranjang.


Ti**nggi banget dia,aku serasa anak kecil kalau dipeluk dia,aku saja sebahu nya duh kayak gak cocok,kenapa perasaanku campur aduk gini? batinku.


Saat aku ingin berbaring dikasur empuk,Aku mendengar suara motor Jaka dari depan rumah,Anto membuka pintu rumah lalu Jaka memasukan motornya keruang tamu.


"Kenapa kau tinggal Cindi?,kasihan tadi aku lihat Cindi,Yunita bisa diantar Yudi,kenapa kau minta balik?"tukas Jaka heran sambil mengambil kunci kontak motor.


"Sudah aku bilangkan dengan kalian,aku gak suka dijodoh-jodohin,lagian memang aku gak suka sama Cindi" tegas Anto sambil duduk dilantai. Jaka mendengus kesal karena merasa tidak enak dengan Cindi,secara Cindi teman Bunga gebetan Jaka,otomatis Jaka pro dengan Cindi.


"Terserah kamu..malas aku,biar saja kau jadi jomblo terus sampai tua" ejek Jaka sambil membuka jaket kulit Jaka,lalu Jaka meletakan jaket kulit tersebut diatas sofa begitu saja.


"Gak usah ngejek,entar kamu yang gak nikah-nikah" balas Anto sambil berdiri dari duduknya.


Perkataan demi perkataan mereka bahas,walau berbeda pendapat Aku mendengar keributan kecil itu jadi senang,senang dengan ucapan Anto yang menolak keras perasaan Cindi,entah kenapa aku sangat senang.


Seketika terlintas fikiran ini datang wajah Riandi atau Wijaya,kenapa hatiku jadi bercabang tiga begini,aah..semua membuat Aku gila,semoga saja aku dapat memilih ketiga pria yang hadir membawa cinta.Aku tarik selimut ini,Aku buang fikiran bercabang ini jauh-jauh entah apa yang akan terjadi didalam hidupku kedepannya.Aku juga tidak tau.


Bersambung*


Jangan lupa like and komen kalian Author tunggu lho.. heeheh makasih sebelumnya.