yunita

yunita
Yun bab 21



🌺RUMAH UAK MIDAH🌺


Hari mulai sore,matahari mulai terbenam,mama hendak balik,Aku kira mama inap juga ternyata Aku yang inap disini.


"Kangan melalak saja,kalau ada kerjaan kau kerjai " kata Mama sambil memakai sendalnya saat didepan pintu rumah.


"Iya..Yunita gak boleh malas-malas disini uak gak suka"sambung Uak Midah buat Aku malas tinggal disini, "iya.."jawabku malas sambil melihat Mama pergi diantar Anak Uak Midah Jaka,setelah Mama sudah pergi,lalu Aku membersihkan meja tamu dan angkat gelas bekas teh menuju kedapur.


Hu**h...gak disini,dirumah sama saja,aku kira beda gak akan diomeli nyatanya sama kayak dirumah,payah bilang lah.Batinku.


Uak Midah pamit untuk belanja kewarung dia ingin masak karena anak kesayangannya entar lagi pulang,Anto paling disayang uak midah mungkin karena Anto paling ngerti, Jaka sebenarnya disayang juga karena Anak bungsu,jaka mau mengerjakan kerjaan Uak Midah seperti cuci piring,sapu rumah,pokok nya pekerjaan Cewek joko bisa.


Aku duduk disofa tamu sembari nonton Televisi, Aku mendengar Suara Motor berhenti didepan halaman Rumah,Aku bangkit dari duduk lalu berjalan menuju pintu Rumah,ternyata yang datang Abang Jaka,tapi siapa Pemuda yang duduk dibangku tumpangan motor?


"Itu siapa Jak?" tanya pemuda yang dibelakang Jaka dengan heran sambil menatapku senyum. Jaka melihatku lalu melihat lagi Pemuda itu.Aku jadi heran terpaku didepan pintu rumah.


"Oh dia..,kau gak kenal dia?,coba ingat siapa dia?"jawab Jaka sambil berjalan kearahku,Aku kernyit dahi sambil berfikir juga.


"Ah kampret kau Jak..,manalah aku tau siapa dia"kata Pemuda itu sambil menatapku lagi. Lalu Pemuda itu mengulurkan tangan kepadaku mungkin ingin berkenalan.


Dia memang tampan,apalagi badannya yang kekar tinggi membuat ketampanannya semakin menarik kaum hawa,mata yang besar tetapi sayu,hidung yang mancung ditambah bibir tipis nan merah siapa yang gak tertarik,rambut nya persis sama seperti Wijaya juga,apalagi alis yang seperti ulat bulu.


"Eee pake-pake salaman,dia sepupu kita,Anak Abang Darman" kata Kaka sambil menampik lengan pemuda itu,Pemuda itu berfikir keras dan mengingat siapa Aku?,Aku juga gak mau kalah mengingat siapa dia.


Di**a pasti Anto anak Uak Midah,aku tau karena tadi uak midah bilang, kok anak Uak Midah yang ini lain sendiri ya,Abang Jaka manis sih tapi kerempeng haaha...Batinku.


"Oh Abang tau..kamu Yunita kan?,dulu masih kecil suka kencing dicelana ahahahah.." ngekek Anto sambil mengacak pucuk kepalaku,Aku jadi malu dan buang muka.


"Dia Yunita,kau baru inge?" balas Jaka sambil tertawa-tawa karena Aku dulu tukang ngompol.


Ka**mpret nih sepupuku, buat malu saja pakai bicara kuat-kuat lagi. batinku.


"Itu dulu..sekarang gak lagi" kataku sambil pergi meninggalkan mereka berdua didepan pintu,Aku cemberut lalu duduk disofa sambil melihat Televisi padahal Aku gak niat nonton lagi,itu hanya pura-pura Aku sibuk karena kesal melihat kedua sepupuku menertawai Aku.


"Udah gadis pakai merajuk,jangan cemberut gitu nanti cepat tua" kata Anto sambil membuka sepatunya saat didepan pintu,Aku diam saja tidak perdulikan omongan Anto, sedangkan jaka geleng kepala membawa tas ransel kepunyaan Anto.


"Hei.., anak Lanang aku udah pulang" kata Uakidah ternyata dia sudah pulang dari warung. "Mama dari mana?,kayak hantu tiba-tiba nongol" jawab Anto sambil mencium punggung jemari Uak Midah.Uak Midah tersenyum karena tau Anto orang nya nyeplos saja.


"Dari pintu belakang Nak,Mama beli sayuran kamukan suka kangkung" sahut Uak Midah sambil berjalan menuju dapur lagi.Anto anggukkan kepala saja,Anto melihatku Aku buang muka karena masih kesal.


"Jangan buang muka gitu,awas lehernya patah nanti hilang cantiknya"goda Anto yang tiba-tiba duduk disebelahku.


"Jangan makan kangkung,nanti mata abang yang sayu tambah ngantuk" ejekku sambil buang muka.Anto tertawa renyah karena Aku bisa juga bercanda.Jaka keluar dari kamar karena mendengar ucapan Aku tadi.


"Jahhaha...mata dia memang begitu Yun,kayak orang ngantuk,mangkannya sampai sekarang dia jomblo akut" ejek Jaka sambil melirik kearah Anto.


"Lutung kau,adik durhaka,walau jomblo aku ngeganteng,gak kayak kau tulang sama kentut doang" cibir Anto gak mau kalah,tertawa Jaka berhenti karena ejekan Anto, kini gantian Aku yang ngakak sampai sakit perut.


"Puas...puas..,jangan ngejek ya,biar kurus begini pacar aku banyak" kata Jaka sambil cemberut lalu Jaka berjalan kedapur.


"Ma..Anto itu ngejek aku terus,baru saja dia pulang" jaka mengadu sama Uak Midah, Uak Midah hanya tersenyum saja sambil mengupas bawang,Aku berdiri dari duduk hendak kebelakang niat bantu Uak Midah,tapi langkahku terhenti karena Anto menarik lenganku.


"Disini saja temani abang nonton" ujar Anto tersenyum manis.


"Entar uak marah bang"ucapku karena Aku tau pesan Mama tadi,Anto geleng kepala dan memandangku,Aku jadi merasa aneh saja dengan sikap Anto barusan.


"Tenang saja,abang tanggung jawab,Uak kamu itu gak akan marah" jawab Anto sambil mencubit pipiku,Aku mengusap pipiku sambil tersenyum.


Malam harinya kami makan sama,ngobrol dan bercanda ria,memang ada Anto suasana jadi ramai dan hangat mungkin itu kenapa Uak Midah sangat sayang dengan anak nomor tiganya itu,Aku juga jadi merasa awet muda tertawa terus,Anto memang nyeplos saja dan suka bercanda,ada saja bahan pembicaraan yang iya buat.


Setelah makan malam Aku hendak duduk disofa,Aku melihat Anto dan Jaka siap-siap dengan gayanya masing-masing,mataku terbelalak karena Anto memakai kaos ketat seperti pamer dengan tubuhnya yang berotot itu alias roti sobek.


"Awas juling tuh mata" ledek Anto ternyata juga perhatikan Aku yang melihat Anto tadi,Aku jadi malu dan buang muka,Jaka tidak tau karena dia kedapur,sedangkan Uak Midah bersama Suaminya didalam kamar.


"Neak saja doain mataku juling" ketusku sambil buang muka karena malu pada Anto, Anto geleng kepala dan mendekatiku.


"Mau ikut?" tanya Anto sambil duduk disebelahku memakai sepatunya.


"Mau kemana kalian?,kalau orang abang ngajak aku mau saja ikut" jawabku sambil melihat Anto menggunakan kaos kakinya.


"Nih cium dulu kaos kaki abang,wangi" kata Anto sambil mengibas-ngibaskan kaos kaki bekasnya kewajahku,Aku menepis tangan Anto lalu Aku kesal.


"Buuuk" Aku pukul lengan Anto yang keras karena kesal,Anto tidak marah malah tertawa renyah. "Jorok kali..kaos kaki bekas taruh dimuka aku ih.." ucapku sambil menatap nanar Anto.


"Tinggal hirup gratis saja ngeluh, sudah sana ganti pakaian kamu,kita mau main kerumah teman abang" kata Anto yang sudah siap memakai sepatunya.


"Apa gak tarawih?" tanyaku sama Anto dan Jaka, Jaka geleng kepala sedangkan Anto tersenyum.


"Udah banyak orang didalam mesjid,pasti mereka doakan kita juga,cepat ganti pakaian kamu" kata Anto padaku.


"Iya orang dimesjid doakan kau cepat tobat" sambung Jaka sambil berjalan kedepan pintu rumah.


A**staga sepupu aku ini setan semua ya, ditanya gak Tarawih jawabannya candaan semua. Batinku.


Selesai Aku ganti pakaian,Aku keluar dari kamar,anto terpelongo menatapku yang mengenekan mini dres,Anto menghampiriku lalu menarik lenganku dan menuntunku keluar rumah.


"Cantik..tapi sayang sepupuan" kata Anto nyeplos sambil berbisik ketelingaku,Aku diam saja dan buang muka,padahal Aku melontarkan senyum malu karena dipuji Anto.


"Kita jalan kaki?" tanya jaka sewaktu dihalaman rumah mereka,Aku dan Anto berdiri dihadapan Jaka.


"Hei...!, jalan yang pelan saja,ini bukan lomba jalan" kata Jaka karena merasa kami tinggal.


"Cepatlah.., kau jalan kayak cewek,Yunita saja bisa cepat ikuti aku jalan" jawab Anto sambil menghentikan langkah karena menunggu Jaka yang dibelakang.


"Banyak makan bang,biar gemuk" sindirku membuat Jaka mendecis mulut,sedangkan Anto tertawa renyah.


"Benar tuh,banyak makan ahahaha" balas Anto membuat Jaka semakin kesal.


"Berisik kalian dua" kata Jaka yang sudah mendekati kami, lalu kami jalan barengan bertiga menuju rumah teman Anto dan Jaka.


sesampai dirumah teman mereka,seorang pemuda menyambut kami,Pemuda hitam manis dengan belahan dagunya bernama


Yudi.


"Wah..kapan sampai Bro?,makin aja ya" kata Yudi saat kami sudah duduk disofa tamu.


"Tadi sore bro,kau makin hitam saja Bro" sahut Anto sambil tersenyum,Yudi melirik Aku terus buat Aku salah tingkah.


"Maklum lah Bro jadi hitam gini,aku kerja dilapangan sekarang" sambung Yudi sambil melirikin Aku lagi.


Anto tau Yudi melirik Aku terus,Aku tidak berani menatap Yudi karena buat Aku kikuk,Aku sudah tau mata Lelaki yang memandang penuh arti jadi Aku merasa gugup dan gak tenang.


"Hak usah gitu kali lihatin Adik kami, biasa saja, dia bisa takut kau lihati gitu" kata Anto sambil mengusap wajah Yudi.


"Siapa adik kalian?,boleh aku kenalan?" kata Yudi sambil mengulurkan tangan,Anto menepis tangan Yudi,Aku jadi bingung.


"namanya Yunita,gak usah salam-salam" kata Anto sambil berwajah serius.


"alah baru kenalan saja,dia gak keberatan mau salam aku,iya kan Dik?" tanya Yudi sambil menatap Aku terus.Jaka hanya senyum-senyum lalu menatap Yudi.


"Nih Adik Sepupu kami" kata Jaka mulai bicara,Yudi jadi angguk-angguk kepala.


"Apa gini saja,mulut berbuih terus tapi gak ada teh atau apa kek" kata Anto sambil tersenyum. "Ah iya lupa" kata Yudi sambil beranjak kedapur.


"Sama gorengannya ya,kalau ada,kalau tidak ada piring itu goreng" teriak kecil Anto sewaktu Yudi didapur.


"Hus..Abang,kita bertamu disini" kataku karena merasa risih dengan omongan Anto.


"kami udah biasa bicara gini, tanyalah Jaka, iyakan Jak?"tanya Anto sambil menatap Jaka.


"entahlah ya.. aku gak dengar" lirik Jaka bermaksud buat Anto kesal.


"Gitu kau ya,dasar adik durhaka" kata Anto sambil buang muka,Aku yang duduk ditengah mereka hanya terdiam lalu tersenyum.


"Jangan mau didekat Jaka,dia bau gak pakai parfum" bisik Anto ketelingaku.


"Pakai bisik-bisik ya" kata Jaka melihat kami berdua,aku diam saja kikuk,sedangkan Anto buang muka. "apa katanya Yun?" tanya Kaka ternyata dia ingin tau juga apa yang dibisik Anto.


"Kata dia abang bau" ucapku polos sambil tersenyum,Anto jadi garuk kepala dan tak berani melihat Jaka yang udah menatap anto tajam,lalu Jaka buang muka kesal,setelah itu kami melihat Yudi membawa teh menuju ruang tamu. Yudi menyuguhkan teh untuk kami.


"Emak kau kemana?,kenapa kau yang buat teh?"tanya Anto karena heran sedari tadi tidak melihat mama Yudi. Yudi duduk disofa yang terletak dihadapan kami.


"Tarawih..apa kau gak ingat ini ramadhan kampret" jawab Yudi sambil tersenyum.


"Eh.., siapa yang banguni sahur tadi malam?" tanya jaka,Aku dan Anto diam saja dengar pertanyaan itu.


"Aku sama anak-anak lain,kau mau ikut nanti malam banguni orang sahur?" jawab Yudi sambil menawarkan kami icip teh buatannya.


"Kau inap saja dirumah kami,biar kita begadang" kata Jaka sambil minum teh diatas meja. Yudi berfikir sambil melirik kearahku.


"Boleh...boleh..kau mau ikut men?"ucap Yudi sambil melihat Anto yang juga minum teh.


"Ya..., sudah.. kita begadang ini malam" kata Anto sambil meletakan gelas teh diatas meja. mereka lanjut ngobrol lagi,setelah itu kami pulang kerumah Uak Midah,Yudi ikut juga pastinya.


Diperjalanan pulang Yudi berusaha jalan barengin Aku,tapi Anto menarik lenganku kesamping kiri Anto,karena sedari tadi Aku disamping kanan, karena Yudi berusaha mendekati Aku makan Anto jadi begitu.Tidak ada satupun kata yang terucap semua pada diam,hanya bahasa tubuh yang berkata.


Ke**napa bang Anto ini,kayak gak suka aku dekat sama Yudi,mungkin takut kali ya aku dekat sama Laki-Laki. Batinku.


Sesampai kami dirumah Uak Midah,kami semua duduk dilantai menghadap Televisi. Ngobrol bercanda ria,karena malam semakin larut,Jaka melihat jam dinding lalu menatap Aku.


"Idah malam Yun,kalau kau ngantuk tidur sana" kata Jaka, sedangkan Anto dan Yudi fokus nonton.


"Ua sudah.." jawabku sambil beranjak duduk, memang sudah mulai larut,Aku juga baru ini tidur jam satu malam,Aku masuk kedalam kamar,kamar yang Aku tiduri sama seperti kamar kepunyaan Aku didesa, hanya memakai tirai saja tanpa daun pintu. Sedangkan kamar Uak Midah disebelah kamar yang hendak Aku tempati ini,tapi memakai daun pintu.


Rumah Uak Midah cuma dua kamar,maklum Rumah Karyawan Perkebunan yang dikasih sama pihak Perusahaan.Jadi para karyawan terima saja Rumah Dinas itu,tapi bedanya rumahku masih terbuat dari kayu,rumah Uak Midah sudah tembok batu.


Setelah Aku masuk kedalam kamar Aku menutup tirai pintu dan membaringkan badan dikasur tilam kapuk.


Sebelum terlelap Aku memikirkan soal Riandi yang tak pernah ada kabar sekalipun,entah apa yang dilakukan Riandi jauh disana mungkin dia sudah ada yang baru.Itu fikirku,


Aku juga gak mau kalah sudah pacaran dengan Wijaya.fikiran-fikiran itu membayangi diriku,sambil memejamkan mata.


Lalu Aku tidur terlelap,entah sudah berapa menit Aku tidur terlelap sampai Aku merasakan ada yang mencium bibirku ini dengan lembut.


Bersambung.


like ya sayang, author sangat sedih gak ada yang mau like. huhuhun...