yunita

yunita
Yun bab 3



RUMAH SAKIT PERKEBUNAN


Tiga hari kemudian jadwal Operasiku tiba,Suster berjalan menuju keruanganku,sambil membawa pisau cukur,Suster memberiku pisau cukur tersebut,Aku jadi heran dan mengambil pisau cukur dari jemari Suster.


"untuk apa nih sus?" Aku beranikan bertanya pada Suster tersebut,Suster tersenyum geli dan matanya melihat kearah bawahku.


"cukur ya,karena mau operasi" ucap Suster itu lagi, lalu berjalan keluar dari ruanganku.Aku jadi geli karena mencukur itu,jadi malu sendiri.Aku berjalan masuk kedalam toilet hendak mencukur,tidak berapa lama Aku selesai mencukur,setelah itu Aku keluar dari toilet menuju ruangan Suster.


"nih Sus" ucapku memulangkan pisau cukur tersebut,Suster menolak katanya untukku saja, Aku jadi nalar karena itu bekasku,mana mau Suster mengambilnya lagi,kok Aku jadi bodoh gini.Lalu Aku berjalan masuk lagi keruanganku sambil menyiapkan mental menuju ruangan operasi, Mama sudah siap-siap menunggu jadwal operasiku.


"Ser..ser..ser.."seperti ada yang mengalir diarea bawah,sontak Aku terkejut karena aliran diarea bawah itu begitu hangat, Aku berjalan masuk kedalam toilet,Aku buka lalu aku lihat, "berdarah huh" keluhku ternyata Aku datang bulan.


Aku mengadu sama Mama kalau Aku lagi dapet,terus Mama mengadu sama Suster. Terpaksa jadwal operasiku ditunda karena tidak bisa kalau lagi Mens,entah kenapa tidak bisa itu urusan pihak Rumah Sakit,aku tidak tahu menahu soal itu, wah kelihatannya sedikit lama dirumah sakit,Aku jadi senang karena bisa lebih lama ketemu sama Riandi.


🌷MALAM HARINYA🌷


Aku duduk ditepi ranjang sambil melamun, mama lagi ngobrol sama Suster diruangan Suster,ruangan Suster terletak disebelah ruangan Aku dirawat.


Aku mendengar suara langkah sendal menuju ruanganku. "Hai" ucap Riandi menyapaku dia baru datang.Aku tersenyum bahagia dan seperti biasa jantung ini tidak mau berdetak lamban.


"Udah makan adik?"tanya Riandi sambil berjalan mendekatiku, Riandi duduk disebelah diriku, Aku menjadi kikuk dan berusaha menjawab pertanyaan dari Riandi.


"udah tadi bang, abang juga udah makan apa belum?"tanyaku lagi balik memberanikan diri menutupi rasa yang sudah tidak dapat Aku bendung lagi.


Tiba-tiba Riandi menatapku penuh arti,jemari Riandi mulai berani menyentuh jemariku,Aku diam dan terpaku sambil membiarkan jemari Riandi tetap megang jemariku.


"Abang mau bilang sesuatu sama kamu" kata Riandi sambil tersenyum manis membuatku salah tingkah dan penasaran.


"Bilang saja bang,siapa tau aku bisa bantu" jawabku melirik saja tidak berani menatap wajahnya dari tadi, Aku hanya tertunduk malu.


"lihat abang,kalau bicara, jangan tegang gitu" kata Riandi sambil menambah tenaga menggengam jemariku.


"Abang suka pandangan pertama sama adik, apa boleh abang lebih dekat sama adik?" tanya Riandi sambil menatap aku dengan mata berbinar-binar, sontak jantungku semakin berdetak kencang tak tentu arah.


what...apa Aku ditembak?,atau hanya ungkapan hati Riandi saja?,tuhan aku harus jawab apa? ucap batinku terus bertanya-tanya.


"dek kok melamun?,abang suka sama adik, jujur apa mau adik jadi pacar abang?" ucap Riandi kini iya berterus terang tidak ingin berlama-lama dengan perasaan Riandi.


Aku tersipu malu dan tertunduk,lalu Aku beranikan diri menatap wajah Riandi sekelak, Riandi menatap balas tatapanku.


"Aku juga su-suka sama abang dari pertama ketemu" sahutku sambil tertunduk malu padahal Aku hanya beranikan diri menjawab itu,tapi hati ini tidak tenang kalau tak menjawab perkataan Riandi tadi.


"Beneran dek?" ucap Riandi girang sambil megang kedua bahuku dan menatapku dari depan, Aku berhadapan dengan Riandi,Riandi jadi lebih leluasa memandang hidungku yang bangir kecil,dan bibir tipisku.


"Jadi mau kan adek jadi pacar abang?"tanya Riandi meyakinkan Aku lagi untuk menjadi kekasihnya.Aku angguk kepala saja tidak berani menjawab itu, Riandi menjadi senang dan gembira karena Aku menerima Riandi.


Riandi terus megang jemariku sampai jemariku berkeringat karena gugup, kami bercerita hal lain dan bersanda gurau.Malam semakin larut Aku tau mama sebentar lagi masuk keruanganku,syukur Riandi juga ingin pamit pulang.


Kami berdiri barengan saat dari duduk ditepi ranjang, lalu kami berhadapan didepan pintu ruanganku,Riandi melihat kanan kiri memastikan tidak ada orang yang melintas.


"Dek abang boleh minta sesuatu?"tanya Riandi mendekati sedikit tubuhku.


"Apa itu bang?" tanyaku penasaran sesekali menatap wajah Riandi yang sedikit lebih tinggi dariku.


Riandi megang area dibawah dagu dan tersenyum manis membuatku heran.


"Adek deg-degan ya?,jangan takut abang gak jahat,abang cuman minta cium saja sebagai tanda kita jadian" kata Riandi lalu menatapku lagi.


Apa minta cium,tanganku saja dipegang jantungku sudah mau copot,apalagi dicium, gak mungkin Aku tolak karena kami baru jadian. ucap batinku sendiri.


"serah abang" ucap ku memberanikan diri, Aku sedikit mendongakkan wajah sambil memejam mata,menawarkan wajahku kepada Riandi,entah bagian mana yang diinginkan Riandi mencium bagian wajahku.


Perlahan wajah Riandi mendekati wajahku, a


Aku tau walau memejamkan mata, karena hembusam nafas dari hidung Riandi terasa dipipiku ini.


Riandi mencium bibirku,Aku terkejut batin,ternyata bagian itu yang diraih bibir Riandi.


"Plaaak" Aku menampar pipi Riandi karena Aku sangat terkejut,Aku kira ciuman bibir hanya kecup saja ternyata dihisap.Aku jadi jijik lalu aku dorong tubuh Riandi keluar ruangan.Aku tutup juga daun pintu tersebut.


"Dek kok marah,abangkan udah permisi" ucap Riandi dari luar pintu,Aku diam saja sambil memejamkan mata,Aku baru tau ternyata cara berciuman bibir begitu,ciuman pertama ini tidak seru karena Aku yang bodoh ini bisa menampar orang yang Aku suka.


Aku seka-seka lagi mulutku yang bekas bibir riandi,suara Riandi tidak terdengar lagi dari balik pintu,lalu Aku buka pintu riandi ternyata sudah berlalu, Aku jadi sedikit menyesal karena menampar Riandi,padahal dia sudah minta izin.


Huh...,bodoh kau Yunita, ini ciuman pertama kamu kenapa kau sakiti pacar pertama kamu, batinku jadi gerutu kesal,dan mengutuk diriku sendiri.


Aku berjalan kekasur dan membaringkan tubuhku sambil megang bibirku,Aku jadi tersenyum sendiri mengingat kejadian yang begitu cepat terjadi,walau terkejut tapi Aku senang karena aku punya pacar.


Gimana ketemu besok,aku takut dia marah karena aku tampar,oh bodohnya Aku.Batinku berkata lagi sambil Aku berbaring dikasur.


Aku dengar langkah kaki lagi, jantungku mulai lagi deh berdetak,Aku kira Riandi yang datang, ternyata Mamaku,Aku jadi bernafas lega karena Aku takut kalau ketemu lagi, ucapan apa yang akan Aku lontarkan pada Riandi, karena tadi Aku menamparnya.


"Tidur kau Yun, udah malam nih, pasien kok gak tidur, itu anak mana tadi?,apa kau kenal?"tanya Mama padaku, Aku menelan ludah takut harus jawab apa sama Mama.


"ow itu riandi ma,tetangga pasien sebelah" jawabku sambil memejamkan mata.


"Aku ngantuk mau tidur ma" ucapku lagi supaya Mama tidak bertanya yang lain,Aku tidak tau mau jawab apalagi kalau Mama tanya soal Riandi,Aku membuka mata satu mengintip Mama,ternyata dia sudah tarik selimut, akhir nya Aku bisa tenang.


**********


🌷ESOK HARINYA🌷


Bintang bertaburan membuat indah nuansa malam ini,dibantu cahaya bulan yang bersinar membuat Aku semangat duduk didepan cendela ruangan ini, mataku tak lepas memandang terus keatas,wajah Riandi selalu terbayang disetiap Aku memikirkan itu.Kami belum bertemu sejak kejadian ciuman semalam.


Bahuku dari belakang dipegang seseorang, kepala ini menoleh kebelakang dan menjadi terkejut,ternyata Riandi yang menyentuh bahuku, dia tersenyum manis.


"Adik ngapai melamun,yuk jalan-jalan ini malam minggu" kata Riandi sembari berdiri disamping.


"Boleh,tapi aku pasien bang,bisa Aku jalan-jalan?"jawabku sambil berfikir kernyit dahi.


"kita gak jauh-jauh,cuma jalan dikoridor rumah sakit ini" senyum Riandi membuatku meleleh,Aku tidak bisa menolaknya,apalagi dia tersenyum manis mungkin kejadian semalam iya lupakan.


Aku berdiri dari dudukku lalu barengan jalan dengan Riandi, sebelum kami pergi Mama melihat Riandi lalu mereka berkenalan,Riandi pandai bicara bercanda gurau,Mama jadi tertawa mereka kelihatan akrab bicara,ujung- ujungnya Riandi meminta izin pada Mama untuk membawaku sebentar kewarung depan.


"Jangan lama ya..Ibu takut dimarah suster" kata Mama sambil tersenyum,dengaren ini mama tersenyum pada orang yang baru iya kenal.


"Aman itu Bu,kalau gitu kami pergi bentar ya bu, ibu mau titip apa?"tanya Riandi saat didepan pintu ruangan bersamaku.


"Titip nasi goreng ya rian, ini uang nya" jawab Mama sambil mengambil dompetnya.


"Oh gak usah Bu" ucap Riandi lagi karena dia ingin membelinya sendiri,seakan menyuap Mama itu akal Riandi,Mama tersenyum lalu kami berjalan keluar ruangan pasien.


Kami terus berjalan disepanjang koridor rumah sakit,berbicara lepas kelihatan nya jantungku mulai seperti biasa,karena Aku sudah nyaman saat jalan dengan pria tampan ini.


"Abang bisa gandeng tangan adik?" ucap Riandi meminta izin terlebih dahulu,Aku hanya mengangguk kepala tersenyum sambil tertunduk malu,sambil berjalan perlahan jemari Randi menyentuh jemariku, dia senyum,ow indah...sangat indah malam ini.


Tutur Riandi sangat santun,sopan kepadaku meminta izin terlebih dahulu membuatku selalu tersenyum berbunga-bunga dihati.


"Adik capek?,kalau capek kita duduk sebentar"kata Riandi menghentikan langkah riandi dikoridor itu,Aku melihat bangku panjang berwarna putih,terbuat dari kayu. kami memutuskan duduk berdua disitu, sejumlah pejalan kaki berlalu lalang sesekali melirik kami, kami tidak perduli,kami hanya fokus pada cinta yang mulai kami bina.


Perlahan jemari riandi membelai rambutku setelah meminta izin terlebih dahulu, kali ini sukmaku bergemuruh,badanku serasa panas disentuh riandi, debaran ini menjadi kencang lagi.


"Cium ya dek?" izin Riandi lagi sambil memegang kedua belah pipiku.


Ow...Tuhan Aku gak sanggup menatap mata kalau dari dekat,aku malu hanya melirik dia sesekali.aku jadi kikuk dan tak berkutik.


"Jangan tegang gitu sayang, abang hanya ingin lihat wajah kamu saja" kata Riandi sambil mencium keningku sekilas.


Aku memejamkan mata saat bibir tipis Riandi mendarat kedahiku.


Tuhan..,suasana ini sangat indah,aku tak ingin waktu berlalu cepat,Aku ingin berlama-lama duduk bermesraan dengan wajah pakistan ini, ucapan batinku terus berkata.


"dik....abang sayang sama kamu, jangan pernah melirik pria lain ya" kata Riandi sambil megang kedua tanganku,Aku buang muka pipiku sudah memerah merona dan menyunggingkan senyuman kecil nan malu.


"Abang juga ya,jangan melirik cewek lain lagi" jawabku sambil memberanikam diri menatap bola mata Riandi yang bening.Aku lihat kumis tipisnya yang tersusun rapi,hidung bangirnya yang kecil membuatku terpesona.


"Mana mungkin abang lirik wanita lain lagi, karena ada wanita cantik yang didepan abang sekarang"ucap Riandi membuatku terbang keawan.


"Jangan menggodaku bang,aku jadi malu" sahutku sambil tertunduk dan menatap kakiku sendiri.Perlahan jemari kanan riandi megang daguku,Riandi mendongakkan wajahku,mataku masih melihat kebawah.


"Tatap abang dik" suruh Riandi karena dari tadi Aku tak kuasa menatap wajahnya dari dekat secara lama, perlahan Aku menggerakkan mata melihat wajah Riandi yang mulai dekat, mata kami bertemu akhirnya,aku lihat kedua mata itu ada cinta disana.


Setelah kami bermesra'an,Riandi beranjak dari duduk dan menarik jemariku dengan lembut.


"Kita pulang yuk udah malam dik,entar dicari suster lagi" kata Riandi,Aku nurut apa yang dikatakan Riandi, lalu kami berjalan menuju warung membeli apa yang dipesan Mama, Riandi tidak menatapku setelah membayar pedagang nasi goreng yang terletak didepan rumah sakit.


"Ayok dik"kata Riandi sambil meraih lagi jemariku,Aku mengerti maksud Riandi, akhirnya kami bergandeng tangan sambil berjalan bareng menuju ruangan pasien.


Sesampai diruangan pasien,Riandi memilih duduk dilantai,sedangkan Aku langsung ketoilet takut berhadapan sama Mama.


"bu ini nasi goreng nya" Riandi menyodorkan nasi goreng.Lalu Mama membuka bungkusan tersebut.


"kalian lama,habis dari mana?" tanya Mama sambil mengambil sendok hendak makan.


"Ow iya bu ramai tadi,eheehheh..." jawab Riandi sambil menutupi apa yang terjadi.


Mama tidak bertanya lagi dia konsen makan yang kami bawa tadi.Aku didalam kamar mandi mendengar pembicaraan itu, pertanyaan itu lah yang Aku jauhin,karena Aku susah berbohong,apa lagi sama Mama pasti bahasa tubuhku bisa membuat Mama curiga.


Aku keluar dari kamar mandi, sambil berjalan duduk sedikit menjaga jarak dari Riandi, padahal ingin sekali Aku berduaan lagi dengan Riandi seperti perangko tidak mau lepas dari amplopnya, tapi karena situasi ditengah ada Mama aku memaklumi itu.


Mereka ngobrol lagi,Mama menghabiskan nasi goreng tersebut lalu melipat bungkusnya, berdiri dari duduk membuang bungkusan itu ketong sampah.


"Oh.. iya Rian, apa kamu gak dicari orang tua jam segini belum pulang?" tanya Mama sambil minum air putih yang terletak diatas meja.


"gak bu, kalau sendok mama Rian hilang. baru mama mencarinya" jawab Riandi sambil senyum-senyum.


Mama jadi tertawa ngekek dibuat Riandi,dia geleng kepala saja,kami sekali-kali mencuri pandang dan tersenyum,Aku berkhayal semoga cinta kami terus seperti ini.


bersambung*


like and komen kalian penting lho buat author.


author sangat dihargai.. terima kasih.