
Yunita masih mendengarkan perkataan Joko dan Sutono disamping tempat nongkrong Joko dan Sutono.sedikit berjarak kebetulan sepi tiada orang lalu lalang ditempat itu.
"Kalau itu benar,kenapa dari dulu kalian tidak bilang..!!" tukas kesal Yunita membentak Joko dan Sutono. "kalian malah beri tahu sekarang disaat aku sangat mencintai dia" ucap Yunita lagi,lalu Yunita berlari meninggalkan Joko dan Sutono yang terdiam saja.
"Yun..!, ah gimana ini?" kata Sutono hendak mengejar Yunita tetapi Sutono tidak jadi mengejar Yunita karena Joko menarik lengan Sutono, "Kita harus susul dia bang" kata Sutono kernyit dahi heran kenapa Joko melarangnya.
"Biarkan dia sendiri,kita ikuti saja dari belakang,apa kamu tidak tau dia marah pada kita?" kata Joko sambil berjalan mengikuti Yunita yang lari ketengah pohon karet.
"Hiks...hiks...hiks..Wijaya kau biadab" keluh kesah Yunita sambil berlari menangis pilu,marah,kesal,kecewa bercampur satu itu yang dirasakan Yunita saat ini.Yunita berlari tidak tahu mau kemana saking kecewanya,sampai berhenti ditepi jurang pinggiran kebun karet.
"Kenapa....!?.....kenapa ....!!? apa salahku padamu Wijaya....kau pembohong" teriak Yunita sambil menarik kesal rambutnya sendiri.Yunita menatap kosong berdiri didepan jurang yang terjal,sedikit Yunita bisa saja terjatuh dijurang yang curam itu kalau tidak hati-hati.
"Aaaaaaaaaa" Yunita berteriak sekencang- kencangnya untuk melepaskan sesak batin yang iya rasakan,nafas tersengal dikala hati dipenuhi dengan amarah bercampur emosi.
Yunita menutup mata serasa ingin mengakhiri semuanya,kaki kiri Yunita sudah bergerak ingin melompat kejurang curam itu.
"Hentikan !" teriak Joko sembari menarik lengan Yunita,Joko menarik lagi lengan Yunita untuk menjauh dari jurang tersebut.
"Bodoh" ketus Joko sambil memegang kedua bahu Yunita yang terdiam menatap kosong,Yunita melihat wajahJoko dan memeluk Joko,kegundahan hatinya ingin iya sampaikan kepada Joko yang sangat prihatin dengan keadaan Yunita sekarang.
"Kau mau mati?, mati saja sana,tapi ingat kalau kau mati apa Wijaya akan sedih?,tetap saja waktu tidak bisa diputar kembali Yun" kata Joko sambil memeluk tubuh Yunita yang sedikit lemah dan gemetar.
"Hiks...hiks.." Hanya tangis dan isakan yang Yunita lakukan saat ini,dia tidak bisa berkata apapun lagi,dadanya sesak dan nafasnya tersengal,Joko semakin memeluk erat Yunita supaya Yunita tenang sedikit.
"Sudahlah....aku tau ini memang sakit,tapi tolong jangan bertindak bodoh seperti tadi,jangan putus asa hanya karena satu pria kau seperti ini" ketus Joko sambil melepas pelukan dan menatap tajam Yunita.
"Tak ada arti lagi hidup ini,aku mencintai dia hikss....hikss.." sahut Yunita sambil tertunduk,air mata deras mengalir dengan kepiluan hati yang kecewa,Joko kernyit dahi dan berfikir gimana caranya Yunita berhenti menangis.
"Masih ada kami,entar lagi Wati akan kemari,Sutono menjemput Wati" kata Joko sambil menatap Yunita.lalu Joko mendudukan Yunita dibatu besar yang terletak disamping salah satu pohon karet.
"Wat...wati?,kalian memberi tahu dia?" tanya Yunita dia tidak ingin membagi dukanya dengan siapapun,apalagi Wati yang selalu menasehati Yunita supaya tidak terlalu mendalam dengan Wijaya.
"Iya yun...kami terpaksa memanggil dia,kau tidak mungkin pulang dengan keadaan kacau begini" sahut Joko sambil menatap Yunita dengan tajam,memang benar Yunita kacau sekali dengan rambut yang urakan kusut,apalagi mata Yunita bengkak sembab karena menangis pilu sedari tadi.
Yunita diam saja sambil menunggu apa respon Wati saat tahu tentang Wijaya yang berbohong.Suara Motor Sutono terdengar dari arah depan mereka,Joko menandai suara motor itu. "itu mereka sepertinya" kata Joko sambil berdiri dari duduknya.
Sutono mematikan motor saat sudah dihadapan Yunita dan Joko,Wati langsung turun dan memeluk Yunita,karena saat diperjalanan Sutono sudah cerita kepada Wati sebelumnya.
"Biadab Wijaya,aku tidak tau kalau dia sudah bertunangan" kata Wati sambil memeluk Yunita,tangis Yunita semakin menjadi seraya ingin menumpahkan keluhannya kepada Wati sahabat karib Yunita.
"Kenapa kalian baru kasih tahu kami sekarang?,ah... aku menyesal kenalkan kamu Yunita dengan pria bejat itu" kata Wati sambil melepaskan pelukan,Yunita tertunduk dan menyeka hidungnya karena sudah mampet karena banyak nangis.
"Maaf Wati,kami mau memberi tahu,tapi waktunya tidak pernah ada" kata Joko merasa bersalah juga.Wati terdiam sambil menatap Yunita yang tertunduk,Wati tahu perasaan Yunita gimana,Wati belum tahu juga kalau Wijaya sudah merenggut kesucian Yunita.
"Bawa dia dik...dia tidak mungkin pulang sendiri dengan keadaan begini,kalau ada kamu pasti bisa jadi alasan" kata Joko memecahkan keheningan,karena semua pada diam berfikir sendiri.
"Ayo Yun kita pulang,sudah jangan diingat lagi pria gila itu" kata Wati sambil menarik lengan Yunita untuk berdiri dari duduknya.Yunita nurut tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
"Kami pulang ya,trima kasih ya abang Joko sama Sutono" kata Wati sambil menggengam jemari yunita.Joko tersenyum kecil sambil melirik kearah Yunita.
"kalau dia masih sedih,malam nanti kita ketemu lagi,buat hibur dia" bisik Joko kekuping Wati.Lalu Wati angguk kepala saja.
Joko sangat sedih karena dia merasa bersalah, kenapa tidak sedari dulu kasih tahu kebenaran ini,mungkin karena belum ada waktu untuk menemui Yunita,Joko juga ada kesibukan sendiri bekerja disebuah bengkel.
Lalu Wati dan Yunita sudah berjalan kaki meninggalkan Joko dan Sutono ditempat itu.
dieperjalanan balik kerumah Yunita,Wati hanya sesekali melirik kearah Yunita dan berfikir.
"Yun..sudah jangan sedih lagi" kata Wati berbicara lembut seakan tidak ingin menyinggung Yunita lebih dalam lagi.
"Aku sudah tidak suci lagi Wat....hancur sudah,ini yang aku sesali,aku tidak menyesal jika Wijaya putus denganku,yang aku sesali kesucian ini..hikss.." jawab Yunita sambil tertunduk berjalan.
"Apa...!" sontak Wati terkejut menghentikan langkah seketika. "Gila, kok bisa yun?" tanya Wati geleng kepala lalu menatap Yunita dalam-dalam.
"Mama tidak suka dengan Wijaya,dia membujukku supaya kami melakukan itu Wat,dia berjanji akan menikahiku" kata Yunita sambil terisak pilu mengingat kenangan yang baru saja terukir dimemory Yunita.
"Astaga...kurang ajar itu,bodoh sekali kau Yun?,percaya dengan kata-kata dia,ah..kau hanya dimanfaatkan,jangan polos jadi cewek entah lah" jawab Wati sambil buang muka dan mengepal tangan,Wati geram sekali pada Wijaya.
"Aku harus bagaimana Wat?,sudah terlanjur begini,aku memang bodoh,bodoh..!" kata Yunita menangis terjongkok sambil memukul-mukul kepala nya sendiri.
Wati jadi ikut sedih dan kasihan pada Yunita.Wati melihat kanan kiri takut kalau kepergok orang lewat apalagi yang dikenal,pasti akan jadi bahan gosip melihat Yunita menangis histeris.
"Hapus air mata kamu,aku ngerti perasaan kamu,ayo entar dilihat orang" kata Wati sambil menarik lengan Yunita,dia nurut perkataan Wati,Yunita jadi sadar sendiri bila kepergok orang lewat,karena posisi mereka dijalanan.
"Ayo sebentar lagi mau maghrib,aku takut Mama kamu marah" kata Wati sambil berjalan menarik lengan Yunita,Wati tahu sifat pemarah Mama Yunita,karena dulu Wati pernah melihat Mama Yunita memukul Yunita saat mereka bermain masak-masakan,sebab nya Yunita tidak mau tidur siang.
Saat sedikit lagi sudah sampai kerumah,Yunita menyeka air mata takut ketahuan.
"tidak ada mama aku" kata Yunita melihat tidak ada tanda-tanda keberadaan orang tuanya dirumah.
"Baguslah,ayo kekamar kamu saja" ajak Wati sambil melangkah masuk kedalam rumah Yunita.Mereka berjalan menuju kamar Yunita.
"Aku udah antar kamu sampai rumah,kamu jangan sedih lagi,nanti malam aku datang lagi,ini mau maghrib takutnya bapak aku cariin" kata Wati sambil berdiri didepan pintu.
"Makasih ya Wati,kamu hati-hati" jawab Yunita sambil duduk ditepi ranjang.Wati angguk kepala lalu pamit dengan Yunita.
Yunita mendengus kesal dan menatap dirinya sendiri didepan cermin yang tidak begitu jauh dari ranjang Yunita.
"Aku mencintai kamu Yunita" kata-kata Wijaya masih terngiang-ngiang dimemory Yunita tanpa sadar terjadi begitu saja.
"Sialan...laki-laki iblis,penipu" kata Yunita sendiri saat menggengam sprei dengan kuat menuntaskan emosinya sendiri.
Yunita menghapus air mata saat suara Mama dan Ayah nya terdengar masuk kedalam rumah.Yunita pura-pura berbaring dikasur supaya mama nya tidak melihat mata bengkak sembab Yunita.
Indi membuka tirai kamar Yunita,Indi ingin melihat putrinya,lalu iya geleng kepala.
"Anak ini mau maghrib malah tidur"kata Indi Mama Yunita sambil geleng kepala.
"Biarakan saja,mungkin sebentar lagi dia terbangun" kata Darman Ayah Yunita yang duduk mendengar ucapan istrinya itu.
"Huh" Indi menurut lalu masuk kedalam kamar sebelah,kamar Indi dan Darman.Yunita membuka mata satu dan berusaha tidak nangis lagi,takut juga kalau ketahuan kedua orang tua Yunita.
*******
Malam ini sangat cerah bintang bertaburan diatas langit dengan kemilaunya yang indah,ditambah sinar rembulan berbentuk uang logam sangat membuat hati cerah,tapi gadis yang merana ini tidak secerah seperti dulu.
Yunita duduk melamun kosong tanpa memikirkan hal lain lagi,hatinya rapuh tapi berusaha iya tutupi, "aku benci kau" keluh kesah Yunita bercampur aduk antara benci dan cinta,mulut bisa berkata begitu tetapi hati kecil masih ada tempat untuk Wijaya.
Ingin sekali Yunita ketemu dengan Wijaya,ingin juga mencakar-cakar wajah Wijaya supaya cacat,biar tidak ada yang mau dengan Wijaya,tapi itu hanya lamunan Yunita saja tidak dengan kenyataan sekarang.
"hemm...melamun ya?" tanya Wati tiba-tiba datang berbisik dikuping Yunita.Sontak lamunan Yunita terputus dan mendorong kecil tubuh Wati.Wati tersenyum tipis sembari menutup mulutnya.
"seperti hantu kau datang,buat aku jantungan saja" kata Yunita sambil menatap tajam Wati.
Wati duduk disamping ranjang Yunita.
karena dari tadi Yunita tidak keluar dari dalam kamar, kedua orang Yunita senang kalau anaknya ngurung diri didalam kamar, mangkannya membiarkan Yunita,karena mereka mana tau apa yang terjadi sama Yunita anaknya.
"Mama kamu didepan tuh nonton sama ayah kamu" kata Wati sambil menatap Yunita.
Yunita mengambil sisir rambut dan merapikan rambut didepan cermin.
"Aku tidak keluar kamar,takut kalau Mama lihat mataku yang bengkak ini" kata Yunita berkata pelan takut kalau Mama mendengar.
"Kamu sih nangis melulu,memang masih bengkak tuh" kata Wati sambil melihat Yunita sehabis sisir rambut.
"Eh cepat kita ditunggu Joko dan Tono didepan rumah,tadi mereka mau ikut jemput kamu tapi aku larang,aku tahu Mama kamu cerewet" kata Wati sambil tersenyum .
"Untuk apa mereka nunggu kita?,apa kamu yang suruh?" tanya Yunita sebenarnya dia risih juga kalau akrab dengan Joko,sebab Joko teman Wijaya,kalau Sutono sudah lama kenal jadi tidak begitu canggung.
"Sudahlah mereka baik,apalagi sitolol Sutono mau saja kalau kita atur-atur" kata Wati.
sebenarnya Wati banyak sekali pacarnya,Wati banyak pacar karena ingin makan gratis,Wati suka meminta-minta cowok Wati sendiri saat kencan,bisa juga dikatakan matrealistis.
"Ya sudah terserah kamu" kata Yunita sambil memakai jaket,Yunita jadi ingat gimana dia pamit keluar malam,secara besok sekolah apa Indi akan mengizinkan Yunita keluar malam.
"Kau mikir apa?,aku tau kau pasti takut kalau kita keluar malam?" kata Wati yang peka sekali apa yang difikirkan Yunita.
"Iya benar,gimana ini" sambung Yunita dia cemas dan bingung gimana pamit keluar malam ini,Yunita tidak begitu yakin diizinkan keluar malam.
"Tenang saja,biar aku yang bicara,aku ada alasan jitu" kata Wati sambil tersenyum,karena tidak mau mengulur waktu Wati keluar dari kamar menuju ruang tengah rumah Yunita.
"Bulek..kami pergi sebentar ya,Yunita aku bawa keluar mau pinjam buku sekalian ngerjai PR dirumah teman" bohong Wati memberanikan diri,Yunita yang mendengar kebohongan Wati jadi cemas dan menggigit bibir bawah takut kalau tidak dikasih mama Yunita.
"Owww..jangan lama ya,besok kalian sekolah,tapi kamu sekolahnya lain?" tanya Indi kernyit alis seperti curiga karena tahu Wati sekolah dikota.
"Memang lain bulek,tapi PR kami sama,sebentar saja kami kerumah teman" kata Wati tanpa canggung sedikitpun membuat Indi percaya,Ayah Yunita diam saja sambil fokus nonton televisi.
"Jangan lama,ya sudah" kata Indi sambil tersenyum kecil yang sedari tadi duduk disamping suaminya menikmati acara televisi yang terletak didepan mereka.
"siap bulek" Wati menjadi semangat,ucapan Wati berhasil membuat Yunita diberikan izin keluar malam ini,sebenarnya Wati sedikit merasa berdosa tapi karena ingin menolong Yunita yang lagi galau,Wati terpaksa berbohong.
"Dikasih keluar kamu,Ayo jangan ngulur waktu" kata Wati sambil menarik lengan Yunita.Yunita diam saja nurut,lalu mereka berdua memakai sendal saat didepan pintu belakang rumah. Mereka sengaja dari pintu belakang karena takut kalau kedua orang tua Yunita melihat mata sembab Yunita.
"Entar kita kestadion ya" kata Wati sambil berjalan barengan sama Yunita.Wati melihat Yunita sudah baikan sedikit.
"Mereka dimana?" tanya Yunita lagi pada Wati tentang Joko dan Sutono.
"Kamu lupa ya,aku bilang didepan rumahku,mangkannya jangan mikirin yang aneh lagi jadi gak fokus kamu" kata Wati kernyit dahi sambil geleng kepala.
"huh" keluh Yunita mendengus panjang karena sesak dengan permasalahan Yunita sendiri.
Mereka terus berjalan melintasi rumah penduduk lain sambil bercerita tentang hal lain,Wati tidak mau membahas dulu tentang Wijaya sampai Yunita benar-benar bisa tenang dan nyaman.
Bersambung*
Dilike dong,apa gak suka ya? tidak ada satupun yang mau like novel ini,Author jadi sedih nulisnya,ingin tidak melanjutkan novel ini tapi serasa nanggung.