yunita

yunita
Yun bab 20



Aku pamit dengan Mama untuk Tarawih lagi, entah kenapa hati ini terus memikirkan Wijaya,mungkin Aku sudah gila sampai beralasan Tarawih tapi nyatanya Aku akan kencan dengan Wijaya, sepertinya Aku menukar rasaku pada Wijaya diatas mahligai dosa karena beralasan Tarawih.


Sampai ditempat semalam sambil mencincing mukenaku,Aku menunggu Wijaya didekat kandang lembu ini,Aku mendengar suara motor Wijaya,Aku tersenyum sudah menduga kalau itu Wijaya.


"Tidak lama kan dik?"tanya Wijaya saat menghampiriku dan mematikan motornya.


"enggak baru aja" jawabku sambil tersenyum malu, tanpa basa basi lagi Aku naik kemotor Wijaya,lalu motor tersebut melaju menuju jalan kecil setapak.


Aku melingkarkan lengan kepinggang Wijaya, dan melihat rambut Wijaya,telinga Wijaya, mungkin dia tidak tau Aku memandang terus kepala Wijaya dari belakang,seperti kena pelet jalan sama Pemuda ini membuat sejuk dan nyaman.


"Bang jangan dari sini,ini jalan kerumah aku" kataku karena Wijaya membelok motor kearah jalan setapak yang terhubung dengan Rumahku, "tenang saja" sahut Wijaya sambil mengambil jalan pintas menuju pohon karet. Sebenarnya Aku belum cerita pada siapapun kalau Aku sudah pacaran dengan Wijaya.Jadi takut saja kalau kepergok teman apalagi orang yang Aku kenal.


Sampai ditengah perkebunan karet tapi bukan tempat semalam,bahkan sedikit jauh dari tempat semalam,Wijaya menghentikan Motornya,lalu kami berdua turun dari atas Motor. Aku berdiri membelakangi Wijaya entah apa yang Wijaya fikirkan tiba-tiba memelukku dari belakang.


Awal nya Aku kaget saat wijaya kecup leherku yang jenjang dari belakang,tapi Aku memejam kan mata menikmati sentuhan bibir Wijaya.


"kangen" kata Wijaya saat berbisik dibelakang kupingku,Aku tersenyum malu lalu membalikan badan.


"Aku juga" jawabku memberanikan diri,sambil melingkarkan kedua lengan dileher Wijaya, Wijaya spontan memelukku,Aku membalas erat pelukan Wijaya,jiwaku bergemuruh dengan bercampur rasa yang mulai mendalam padahal baru jadian semalam,kenapa hati ini berkecamuk ingin mesraan terus dengan Wijaya, berbeda sekali Aku rasakan saat berdua dengan Riandi.


Wijaya terus memberikan kehangatan cinta denganku,yang sangat berbeda,kami bercumbu rayu bahkan Aku sudah duduk diatas pangkuan Wijaya, kami bercerita tentang diri kami masing-masing.


"Jadi Adik mau sekolah disini?" kata Wijaya yang masih memangku Aku, mungkin kedua paha Wijaya sedikit kram tapi dia tak perduli.


"Iya..lagian kalau aku masih dikota M,mungkin kita gak ketemu seperti ini" jawabku sambil menatap bola mata Wijaya yang indah dan bening.


"Benar juga,tapi kamu sudah tau kan abang jarang dikampung ini, karena abang Supir lintas sumatera jadi jarang pulang, ini saja karena ramadahan,besok balik kerja lagi,mungkin lebaran pulang lagi kekampung ini" kata Wijaya sambil membelai pipiku dengan mesra,sedikit bersedih sih dengan ucapan dia barusan,tapi Aku pura-pura tersenyum kecil.


"Yang penting abang pulang kabari aku" jawabku singkat karena tak kuasa membayangin Wijaya pergi,karena baru jadian berat rasanya hati ini kalau berpisah,tapi mau apa dibuat hubunganku masih seumur jagung dengan Wijaya.


"Pasti..!,kalau abang pulang gadis cantik ini yang aku temui lebih dulu" kata Wijaya sambil mencet hidungku dengan lembut.Aku terpekik malu dan tertunduk,lalu kami bercumbu menebar kemesraan ini.


Tak terasa saat kami bermesraan malam semakin larut lalu Aku minta pulang,Wijaya paham karena Aku sudah cerita kalau Mama sangat mengawasiku keluar malam,Wijaya menghidupkan Motornya,kemesraan kami hilang saat motor melaju menuju tempat awal kami janjian.


"Besok abang sudah pergi,jaga diri kamu baik-baik" kata Wijaya sambil memberikan kecupan dikening dan pipiku dengan lembut.


"Jangan lama-lama ya abang,Aku tunggu sampai lebaran tiba" jawabku sambil megang kedua jemari Wijaya,Wijaya anggukan kepala dan tersenyum.


"Abang balik ya" kata Wijaya saat menghidupkan motor,Aku melambai tangan saat motor Wijaya melaju pelan,Wijaya tersenyum lalu ngebut saja menuju jalan besar yang dekat dengan rumah penduduk.


Aku tersenyum sambil berjalan, walau kami berpisah Aku tetap bahagia karena janji Wijaya untuk bertemu lagi saat lebaran nanti.


Diperjalanan tidak ada seorangpun yang lewat hanya aku saja,Aku cepatkan langkah kakiku menuju rumah,mungkin Orang Tarawih sudah selesai sepertinya aku terlambat pulang.


Ma**mpus aku..mudah-mudahan Mama gak curiga,karena berduaan sampai lupa waktu tadi. Batinku sendiri.


Saat sudah didepan rumah Aku lihat Mama menonton dengan Ayah diruang tengah,Aku berjalan pelan menuju kamar supaya Mama dan Ayah tidak tau Aku pulang dari pintu dapur.Lalu cepat-cepat Aku baringkan tubuh ini tarik selimut pura-pura sudah terlelap.


"Orang tarawih udah pulang, kenapa Yunita gak pulang ya?" kata Mama saat menatap Ayah yang lagi konsen nonton televisi.Ayah melihat wajah Mama yang sedikit bingung.


"Coba lihat kedapur atau kamar Yunita,siapa tau dia udah pulang" jawab Ayah sambil menonton lagi.


"Hemm" Mama berdiri dari duduk nya lalu mama berjalan menuju kamarku,Mama membuka tirai pintu kamarku,melihatku yang pura-pura terlelap,lalu Mama menutup tirai lagi,Mama sudah tenang karena melihatku sudah tertidur.


Aku membuka mata sambil mengintip kecil, memeriksa kalau Mama sudah tidak ada lagi didepan pintu kamarku, ternyata suara mama sudah didepan lagi,Aku bernafas lega karena selamat tidak dengar omelan Mama.


******


🌺ESOK HARINYA🌺


Siang hari selesai Aku mandi,Aku menghadap kecermin untuk dandan,Aku melihat Mama masuk melalui pintu dapur,Mama keluar entah darimana Aku juga tidak tau.


Tiba-tiba dengan wajah geram dan seperti hendak mamakanku Mama membuka tirai pintu kamarku,Aku melihat Mama membawa sapu lantai sambil menatapku nanar.


Glek..


Aku menelan ludah takut,sepertinya Aku melakukan kesalahan tapi apa?,sedangkan Aku tidak membuat kesalahan.Dengan cepat tangan kanan Mama melayangkan batang sapu kearah kakiku,Aku dengan cepat naik keatas ranjang.


"Dari mana kau tadi malam hah?!!,Tetangga bilang kau gak ada dimesjid" kata Mama sambil tetap tangannya memukul pahaku dengan gagang sapu,Aku spontan menangis menerima sakit dan amukan Mama.


Aku gak berani jawab karena tidak mungkin Aku jujur kalau Aku sedang kencan,karena Aku diam Mama malah menambah pukulan itu sampai kepunggungku,Aku tetunduk sambil megang bantal, kalau Mama memukul lagi Aku tangkis pakai bantal itu fikiranku.


"Jawab...!!!, kemana kau tadi malam !!" bentak Mama sambil melayangkan lagi sapu.Aku sudah siap dengan bantal tidur ini.


"Tem-tempat...ka-kawan..Ma"kataku terbata-bata karena sudah menangis tersedu-sedu sambil ketakutan.


Saat Aku menundukkan kepala Mama melihat tanda merah yang ada dileher belakangku,dia semakin berang.


Mama seperti kesetanan memukulku lagi, karena melihat tanda yang dibuat Wijaya,Aku saja baru sadar kalau Wijaya membuat tanda dibelakang leherku.


"Ampun mak..ampun..." Aku tidak bisa lagi menahan pukulan Mama sampai batang sapu lantai terbelah dua karena kuat menghantam tubuhku ini, setalah Mama puas memukulku.


Dia berhenti dan mengancamku.


"Awas kalau kau keluar malam lagi !!" bentak Mama sambil berjalan keluar kamar Aku.


Aku menangis sejadi-jadinya,lalu aku menghadap cermin saat melihat tanda itu,aku sedikit kecewa kenapa Wijaya membuat itu Aku tidak tau,karena baru kali ini tanda itu ada dileherku,Riandi tidak pernah membuat itu,


Badanku sedikit pegal dan sakit lalu Aku membuka baju,semua sudah memar membiru karena hantaman batang sapu.


S**ebenarnya aku anak kandung dia apa bukan sih?,dari kecil aku terus dipukuli gini, apa memang dia Mama aku atau bukan sih?.Batinku sedikit geram.


Aku sedikit kesal sama Mama sampai segitu nya menghajarku,memang Aku salah tapi Aku tidak ikhlas dipukul begini,buat Aku menggeram didalam hati,dengan meringis dan nyilu Aku memakai pakaian lagi lalu berbaring supaya nyilu tubuh ini sedikit menghilang.


Sore harinya Aku tau Mama ada didapur,Aku tak berani kedapur karena malas melihat Mama, lalu Aku keruang tamu saja sambil menonton televisi,lalu Aku mendengar suara Ayah pulang kerja,Aku jadi takut kalau Mama mengadu pada Ayah,Aku berlari menuju kamar lagi takut kalau kena marah untuk kedua kalinya.


Hampir satu jam Aku pura-pura berbaring ditempat tidur,tapi Ayah tidak ada menegur apapun,sepertinya Aku selamat,sampai perutku terasa lapar karena cacing-cacing diperut mulai ribut,karena Mama tidak ada didapur Aku berjalan menuju kedapur.


Lalu Aku makan cepat-cepat takut kalau Mama melihatku,siapa tau Aku dihantam lagi pakai batang sapu yang lain,dulu Mama sering membeli sapu baru karena sapunya terus patah,ya..senjata itu yang terus melayang ketubuhku,membuatku gerutu kesal,membuatku semakin membangkang.


Ka**lau Mama tidak memukulku aku pasti nurut,sekarang aku gak mau nurut lagi, aku sudah besar,aku udah gadis kenapa aku dapat lagi perlakuan ini. Batinku terus berkecamuk.


Walau Aku terus gerutu didalam hati dengan kesal sekali,tapi tidak pernah Aku berkata kasar pada Mama,Aku hanya diam membisu mungkin saking takut, takut kalau dipukul. kalau pemuda yang melihatku,Aku masih dipukul begini,apa yang mereka bilang,pasti Aku malu sekali, syukur cuma tetangga Aku saja yang dengar.


*******


🌺ESOK HARINYA🌺


Saat Aku bangun tidur Aku melihat pakaianku disusun mama kedalam ransel,Aku kernyit dahi Aku mau dibawa pergi kemana,ingin Aku tanya pada mama Aku tidak berani,karena kejadian semalam Aku tidak berbicara sama Mama.


"Cepat kau mandi,kita mau kerumah uak midah" ketus Mama denganku,Aku diam saja langsung nurut sambil berjalan menuju kamar mandi,sekarang Aku baru tau kami mau kemana ternyata tempat Uak Midah.


Uak Midah itu Kakak Ayahku tapi lain Bapak, karena Kakek Aku nikah tidak satu Wanita saja, walau begitu Uak Midah akrab dengan Ayah, suadara perempuan tiri Ayah ini sangat cerewet dia punya Anak empat tapi Laki-Laki semua,kalau Aku datang kerumahnya dia senang sekali karena mungkin dia tidak punya Anak Perempuan.


Selesai Aku mandi,Aku cepat-cepat masuk kedalam kamar dan mengganti pakaian,Aku memakai kaos sedikit berkaret dan memakai celana jeans panjang,setelah itu Aku makan sekelak karena Aku melihat mlMama sudah masuk kedalam Kamar Mandi.


Aku makan dengan lahap walau daun singkong tumbuk,dengan sambal teri kacang itu kesukaanku,masakan Mama memang enak, bukan Aku saja yang mengakuinya semua orang juga tau,mangkannya jualan mama tak pernah sepi dengan pengunjung, pasti dagangan Mama ramai selalu.


Setelah Aku makan,Aku menunggu Mama diluar rumah, biarlah Aku pergi ketempat Uak sekalian jalan-jalan,Aku melihat Mama sudah siap,lalu tanpa kata-kata apapun Aku mengikuti Mama dari belakang berjalan menuju jalan besar aspal.Menunggu bus menuju kota T.


Bus melintas lalu berhenti karena melihat dua sewa berdiri didepan jalan yaitu kami, lalu kami langsung naik kedalam Bus.disepanjang perjalanan Aku hanya diam saja sambil menghadap cendela melihat pohon-pohon karet yang berjejer rapi dengang sekilas.


Sesampai kami dikota T,kami naik lagi Bus menuju kampung uak midah, kampung uak midah lewat kota T sedikit,kampung itu juga perkebunan karet,Suami Uak Midah juga karyawan perkebunan tapi bagian kelapa sawit,karena bukan hanya pohon karet saja tapi pohon kelapa sawit juga ada dikampung uak midah.DiDesaku juga ada kelapa sawit tapi lebih banyak pohon karet.


Tiak berapa lama kami berhenti disimpang rumah uak midah,lalu Aku dan Mama berjalan kepangkalan Ojek,karena naik Ojek lagi untuk kedalam,Aku dan Mama beda Ojek tidak mungkin kami tarik tiga satu mlMotor,tukang Ojek pasti keberatan.


Sepanjang Aku naik Ojek,tukang Ojek sedikit mengajakku ngobrol,Aku jawab saja dengan santai karena mungkin dia ajak bicara supaya gak boring saat diatas Motor.


Sesampai dirumah Uak Midah kami disambut hangat,Aku dan Mama masuk kedalam rumah Uak Midah duduk disofa tamu.


"Wah udah besar ya Yunita" kata Uak Midah sambil mengulurkan tangan saat Aku hendak salam Uak Midah.


Aku diam hanya tersenyum saja,Aku lihat jaka anak bungsu Uak Midah yang masih sekolah SMA tersenyum padaku.


"Iya beda udah Gadis" kata Jaka saat duduk disamping Uak Midah.


"Ya.., ini Yunita anak bang Darman" kata Uak Midah sambil tersenyum, Uak Midah pamit untuk buat teh kedapur,sedangkan Mama sudah ngobrol akrab dengan jaka.Aku hanya diam dan melihat sekeliling rumah Uak Midah.


"Anto entar lagi pulang kerumah,karena puasa dia libur" kata Uak Midah sambil membawa dua gelas teh manis,lalu Uak Midah menyuguhkan teh tersebut keatas meja tamu.


"Masih melintas dia Kak?,betah ya jadi Supir lintas" sambung Mama sambil tersenyum melihat Uak Midah duduk kembali.


"Ya gaji nya besar,lumayan lah bantu-bantu beli beras" jawab Uak Midah sambil tersenyum.


S**upir lintas?, apa bang Anto kenal ya sama Wijaya ?, ah mungkin gak kenal aku dengar bang Anto lintas kota besar arah Jakarta sana, sedangkan wijaya lintas Sumatera. blBatinku.


Aku tidak pernah ketemu sama Anto sejak Aku umur sembilan tahun,seingatku dulu kami bertemu saat pernikahan Anak Sulung Uak Midah itupun Aku masih kecil, kalau Abang Jaka sering main kerumahku sesekali jadi Aku kenal Abang Jaka, Anto ini anak nomor tiga diatas Jaka.


Bersambung*


jangan lupa like and komen nya sayang-sayang aku.