yunita

yunita
Yun bab 10



🌷SAAT AKU DIDALAM KAMAR🌷


Suara kicauan burung terdengar merdu saat iya bertengger dipepohonan,matahari bersinar dengan ramah,sinarnya menyapu embun dideaunan,bunga-bunga bermekaran liar didepan halaman rumah,membuat hati yang melihat bersemangat saat mulai beraktivitas,tapi tidak seperti aku yang sekarang ini.


"Hatcim", sejak kejadian kemarin malam Aku jadi demam campur flu,genap sudah dua hari badanku panas,terpaksa izin tidak sekolah sementara Nordiana sudah pergi kesekolah sejak pukul setengah tujuh pagi,Aku hanya bisa terbaring disini,karena jenuh Aku mencoba menulis surat buat Riandi, sudah lama juga kami tidak berkomunikasi.


apa kabar dia disana?,aku rindu banget...aku ingin ketemu dia.. ya tuhan apa lagi kejadian kemarin aku merasa bersalah...


Aku terduduk dari tidurku lalu kaki kanan menapak dilantai,setelah itu Aku berdiri berjalan sedikit menuju meja belajar,Aku ambil pena yang terletak didalam tas sekolah dan secarik kertas warna merah berbentuk love,karena sudah Aku sediakan sebelumnya membeli disupermarket,tersedia berbagai motiv dan karakter spesial surat cinta.


Ah tulisanku jelek, terpaksa ganti lagi, ah ini gak bagus kata-katanya.. gerutu batinku.


Aku terus menulis,lalu Aku baca lagi ternyata kata-kata dan tulisanku kurang sempurna,Aku remas kertas itu dan membuangnya begitu saja terletak dibawah lantai berserakan. kertas surat tinggal satu helai lagi, terpaksa Aku harus konsen menulis untuk riandi.


Isi suratku pada Riandi :


assalamu'alaikum


buah duku


buah mangga


senyum dulu


baru dibaca.


apa kabar bang?,adik rindu sama abang, udah lama ya kita gak ketemu bang,apa abang tidak rindu sama aku?,aku ingin sekali kita bertemu, aku muak disini bang,aku udah gak nyaman lagi disini, abang jaga kesehatan ya disana, jangan lupa makan yang teratur, aku berdoa supaya kita cepat ketemu ya sayang.


buah apel


mangga udang


kapan ngapel


kita bang?


salam dariku :


Yunita Ananta.


Surat selesai juga akhirnya Aku masukan kedalam amplop berpita biru, besok saat pulang sekolah Aku akan kekantor pos.Surat Aku simpan dibawah kasur seperti biasa.


Kuhapus airmata ini yang sedari tadi menetes saat menulis surat buat Riandi.


Pukul empat sore Nordiana pulang,Aku melihat Nordiana membuka pintu utama lalu berjalan masuk kedalam kamar.


"Udah sembuh yun?" tanya Nordiana saat membuka sepatu sekolah,sembari duduk ditepi ranjang.


"Hemm...bau Nor,buka sepatu disana dong, jangan dikamar,aromanya menyebar,kamu tau kan kamar kita cuma cendela ini" kataku sambil ngedumel,karena tidak tahan harum kaos kaki bekas Nordiana pakai.


"Urusanmu situ, buka dong cendelanya,kan aku gak salah buka sepatu disini" kata Nordiana sambil berdiri mencampakan sepatu dan kaos kaki kesudut pintu.


Ingin sekali Aku buang sepatu nordiana itu, bau banget soalnya.Aku menutup hidung terus saat diatas meja belajar,Nordiana menatapku sinis saat duduk ditepi ranjang.


"Hei kau belum jawab pertanya'anku?,apa kau udah sembuh?" tanya Nordiana lagi.


"Udah mending tadi minum obat, bawel amat kau"jawabku gerutu menatap Nordiana


tetapi aku suka walau begitu dia perhatian.


"Yun pakai uang kamu,Mama aku belum antar uang bulanan,jajan aku udah habis" kata Nordiana dengan wajah bodohnya memelas,buat hatiku jadi iba.


"Nah pakai,gak usah diganti,aku masih ada simpanan" jawabku sambil kasih uang kepada Nordiana,yang sebelumnya aku mengeluarkan dompet didalam tas sekolah.


"Wah beneran yun?,makasih ya yun, kau teman yang baik" kata Nordiana girang dan tersenyum lebar.


"Ya.. pakailah.." balasku sambil tersenyum tipis kepada Nordiana.Lalu Nordiana menyimpan uang pemberianku kedalam dompet usangnya,dia tidak mau mencuci dompet itu dibiarkan lusuh begitu saja,tunggu rusak baru iya beli lagi.Mau nya instant saja,itulah Nordiana.


kalau lagi aku baik dibilang aku teman baik, kalau aku gak mau jawab kata-katanya dibilang nya aku gila dasar Nordiana. batinku.


"dakocan pulang" seruku pada Nordiana, sontak kami keluar kamar barengan saat Aku melihat dari celah cendela,Mertua Muk Wadinah sudah berjalan menuju pintu utama, dia baru pulang dari psantren sehabis mengajar.


Kami jalan cepat menuju dapur, karena piring-piring masih berserakan,kain jemuran masih tergantung belum diangkat,lantai belum disapu,kami takut kena semprot.


Aku kan sakit ngapai lah Aku takut,kan ada alasan Aku gak ngerjai pekerjaan ini, Aku kok jadi dungu gini ya,ketularan kali sama nordiana ahahah...karena sudah mendingan badanku ini, jadi Aku lupa kalau Aku sakit,ah lanjutkan saja cuci piring ini kasihan Nordiana kerjakan sendiri. Batinku.


Aku melihat Nordiana menyapu lantai sembari Aku cuci piring, Nordiana menyapu tapi kotoran yang dilantai,Nordiana pinggirkan kekolong bawah lemari makan.Aku kernyit dahi seharusnyakan buang diluar, kenapa disumpal dibawa kolong lemari?


"Nor...buang keluar, apa kau mau kena marah kalau dakocan tau?, jorok banget kamu" ucap Aku sambil bersuara rendah. nordiana melihatku, lalu Nordiana melihat lagi kolong lemari.


"Tidak nampakkan?, biarkan saja aku malas tiap hari ngerjai ini,kalau gak kau bilang gak ada yang tau" ketus Nordiana sambil meletakkan sapu begitu saja dibalik pintu.


Aku diam hanya geleng kepala,Aku masih berdiri menyusun piring ketempatnya,sementara Nordiana duduk dicendela sambil melihat aku,seperti majikan yang melihat babunya.


"Tujhe dekha toyi janna sanem,pyar o tahe diwana sanem" suara lagu india terdengar dicendela rumah tetangga, lalu suara seorang pemuda juga terdengar bersenandung dicendela tersebut,mengikut suara musik diradio.


Aku melirik kearah asal suara itu.Ternyata itu kamar pemuda anak tetangga,pemuda itu lebih dewasa seperti Riandi,hidung nya mancung besar,matanya sedikit cipit, bibirnya tebal tapi sexy sensual,kulitnya juga bersih terawat,badannya tinggi semampai,jadi kelihatan ganteng.


Pemuda itu terus bersenandung ria, sampai melihat kearah cendela dapur kami, mata pemuda tersebut kearah kami.


"Sssss...ssssss" pemuda itu mendecis mulut berharap kami melihat kearahnya.Aku tau tapi pura-pura tidak tau,pura-pura fokus menyusun piring.Sementara Nordiana mendengar itu lalu menoleh kebelakang cendela tetangga.


"Apa abang?" kata Nordiana saat melihat pemuda itu mengeluarkan kepala dan leher sedikit dicendela kamar pria itu.


"Itu.. saya panggil dia !" kata pemuda itu menunjuk kearahku,Nordiana senyum tipis dan melihatku.


"dipanggil kau Yun" kata Nordiana saat menatapku terus.


"Dik ini kartu nama abang,abang mau kenalan, sini yang dicendela" kata pemuda itu memanggil Nordiana karena Aku gak respon. Entah kenapa Nordiana jadi percaya diri dan girang,cepat-cepat Mordiana lompat dari cendela,lalu Nordiana berjalan mendekati cendela pemuda tersebut.


"Dik kasihkan ya kartu nama abang sama teman kamu itu, siapa namanya dia?" tanya pemuda itu mungkin penasaran.


"Yunita bang" jawab Nordiana sambil menerima kartu nama tersebut lalu membacanya.


"Abang gak tanya nama aku?" ucap Nordiana sambil menatap dongak pemuda itu.


Pemuda itu entah dengan terpaksa atau tidak bertanya nama Nordiana,dengan senang hati dia kenalan dengan pemuda itu.Setelah itu Nordiana balik lagi kecendela dapur, karena sebenarnya letak cendela tak begitu tinggi jadi mudah untuk melompat keluar dari cendela.


"Nih...kartu nama diberi abang itu" Nordiana kasih kartu nama pemuda tersebut,tapi wajahnya seperti kesal.Aku mengambil kartu nama tersebut.


"Andri Tarigan" gumamku saat membaca kartu nama pemuda tadi,Nordiana melirik-lirik kearah kartu nama tersebut.Aku melihat tingkah aneh Nordiana apalagi dia tidak tersenyum seperti biasa.


"Buatmu aja,kau simpan" kataku sambil menyodorkan kartu nama Andri buat Nordiana, kini senyum Nordiana terukir dibibir dan jadi girang, Aku sudah tau dan menebak kalau Nordiana naksir tuh cowok.


makan saja Andri itu, aku gak naksir kok, bukan typeku. walau dia orang berada. batinku.


Perumahan ini komplek orang berada memang, sudah jelas kalau andri itu tajir,aku sering lihat dia turun dari mobil saat pulang ngantor, Aku cuek saja saat pulang sekolah melihat Andri didepan halaman rumahnya yang mewah dan besar.


"Yun aku simpan ya, kamu ikhlas kan?" kata Nordiana saat menyimpan kartu nama Andri, Aku senyum dan angguk kepala malas berkata-kata, serah Nordiana apa mau dia, karena bukan Riandi yang dia taksir Aku selow saja.


Selesai mencuci piring Aku berjalan menuju kamar, saat melintas dipintu belakang Aku melihat andri tersenyum,Aku membalas saja menghargai Andri, entar dibilang sombong.


********


🌷MALAM HARINYA🌷


Pada saat makan malam semua pada diem, melahap makanan dipiring masing-masing.


"Yun besok udah bisa sekolah nak?" tanya Buk Wadinah saat selesai makan,tapi masih duduk dimeja makan.


"Udah Bu,udah mending demam aku" jawabku sambil tersenyum,lalu cepat-cepat aku menghabiskan nasi dan lauk dipiring ini, takut kalau ditanya yang lain lagi.


Selesai makan Aku dan Nordiana mengumpul kan piring, sedangkan Buk Wadinah sudah masuk berdua bersama Suami kedalam kamar,Mak Lampir dan Suaminya nonton Televisi diruang tengah.


"Nor..ini giliran kamu cuci piring" kataku sambil menaruh piring kotor diwastafel khusus pencuci piring.


"Ya aku yang nyuci" jawab Nordiana seperti malas mencuci piring tersebut,dia kadang gerutu gak jelas saat menyabuni piring kotor tersebut.


Beda denganku kalau hatiku terpaksa disuruh, sampai mati Aku gak mau cuci piring biar kena hukuman, tapi kalau enak hati sampai piring numpuk Aku mau mencucinya, setiap orang beda-beda pemikiran, termaksud Aku dan Nordiana.


Kamar tetangga bersenandung lagi, Andri bersiul-siul sambil buka cendela, entah cari perhatian atau memang hobynya, tapi kalau hoby kenapa baru-baru ini dia begitu?, Aku udah lama disini baru ini dia begitu, artinya cari perhatian.Pikirku sendiri.


Mendengar suara Andri bersenandung lagu india, bibir nordiana yang bungkam jadi senyum,sekali-kali mata Nordiana dongak menuju cendela andri,Aku memperhatikan itu, lalu Aku diam saja.


Hati Nordiana bisa Aku tebak kalau dia memang naksir tuh cowok suku Batak Karo,karena sebenarnya Nordiana juga suku Karo.


"Aku masuk ya kekamar,bosen" kataku sambil berdiri dari duduk Aku,Nordiana makin senyum.


"Dah masuk sana,biar aku sendiri" ucap Nordiana, lalu Aku berjalan menuju kamar, Aku tau Nordiana kayak senang gitu Aku pergi dari dapur,pasti karena Andri,supaya Nordiana gak terganggu curi-curi pandang Andri.


*********


🌷KEESOKAN HARINYA🌷


Kami sudah siap-siap hendak kesekolah,Aku dan nNordiana setelah sarapan jalan barengan menuju pintu utama.


"Nor...entar pulang sekolah temani aku ya" kataku sambil duduk disofa memakai sepatu.


Nordiana kernyit dahi dan berfikir sambil makai sepatu Nordiana juga.


"mau kemana pulang sekolah?"tanya Nordiana mungkin mulai penasaran.


"Kantor pos,gak mungkin keneraka" ucapku sambil bercanda cubit pipi kanan Nordiana, lalu Nordiana menepis lenganku,mungkin sedikit sakit cubitan yang Aku beri,


"Ya sudah" kata Nordiana sambil berjalan menuju pintu utama,Aku juga menyusul Nordiana.


Saat kami berjalan menuju jalan raya, kami menyusuri gang kecil, gang yang pernah Aku lewati bersama Deny, lewat gang ini aku jadi teringat kejadian malam minggu kemarin.


Setelah menyusuri gang itu,Aku melihat didepan Ruko kosong Deny dan sekelompok temannya ada didepan Ruko tersebut, duduk sambil menunggu Angkot.


"men.. aku benci sama cewek yang murahan, dicium mau,digerepein mau, eh giliran minta gituan gak dikasih,malah digantung ahahhaah..gila kan men" Deny bicara dengan volume besar sama teman-temannya, seakan menyindir aku.


Mungkin memang sindir Aku karena Aku dengan Nordiana berdiri tunggu Angkot didepan jalan raya, sementara Deny dibelakang kami bersama geng nya.


"Lah sial amat kamu den, siapa cewek itu?,membosankan ya" sambung salah satu teman Deny berbadan ceking.


"Adalah..dia pakai hijab,kalau malam gak pakai ahahah" sahut Deny sambil tertawa renyah,teman-teman Deny jadi ikutan tertawa.


cowok sialan,ditolak kok marah,malah ngehina aku lagi, kasihan ya ditolak pelampiasan nya menghina aahahah.. batinku


Aku melihat angkot dari kejauhan,sementara nordiana menatap Aku heran,sepertinya nordiana sedikit nyambung apa yang disindirkan Deny.


"Nordiana... kasihan banget kamu, ditolak malah marah-marah gak terima,pakai cara ngehina lagi" Ucapku suara keras pada nordiana sambil melirik kearah tempat Deny duduk.


Nordiana heran bingung,kenapa Aku bicara sama Nordiana kayak gak nyambung, sementara wajah Deny sudah merah padam, Aku rasa Deny mulai marah dan geram, teman Deny juga diam tidak tertawa-tawa lagi.


"Yun kau masih demam ya?,apa maksud kamu" ucap Nordiana sambil megang keningku, padahal Nordiana berusaha megang keningku karena Aku lebih tinggi dari Nordiana.


"Dah diem aja kamu, entar aku jelasin" jawabku sambil melambai kesupir Angkot, karena Angkot udah dekat dengan kami.


Nordiana diam dan masuk kedalam Angkot, sementara Aku dibelakang Nordiana,lalu Aku naik kepintu Angkot,saat Aku duduk dibangku tengah angkot, Deny melihat kearahku, Aku mengacungkan jari tengah kearah Deny,Deny langsung berdiri dari duduknya.


Aku lihat dari kaca belakang angkot,Deny dan teman-temannya ngedumel sambil berdiri nunjuk-nunjuk angkot yang kami naiki, munkin Deny mengutuk diriku, atau kesal padaku, aku tidak takut bila Deny melawanku, karena Aku gak bersalah.


"Yun itu kan cowok yang sering kirim surat sama kau?,apa kalian ribut?,kok kayak nya tadi ada yang aneh" Nordiana membuka suara didalam angkot.Aku diam sambil berfikir, jawaban apa yang harus Aku beri sama sikutu kupret ini.


"Ow..aku balas surat dia,Aku menolak dia malah marah" jawabku sambil berfikir keras berharap Nordiana percaya dan gak banyak tanya lagi.


Nordiana berfikir lalu kepalanya menghadap kedepan.


bersambung*


Like and komen sayang.


maaf cuma ingati kadang-kadang lupa like nya ehehhe....