yunita

yunita
Yun bab 26



🌻BERPISAH JUGA🌻


Siang ini Anto begitu murung dan beda,setelah dia pamit pada Mama dan Ayah untuk pulang Anto akhirnya pergi.Aku mengejar Anto karena dia tidak pamit denganku,sewaktu Aku dikamar mandi Anto sudah tidak ada.


Aku melihat Anto dari kejahuan. "Abang...!" teriakku saat Aku berlari,langkah Anto terhenti lalu Aku berjalan cepat menghampiri Anto dijalan menuju jalan besar.


"Tega ya...mau pulang tidak pamit denganku,apa sampai disini saja kita?" kataku sambil menampakan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf...mungkin perkataan kamu benar,kita sampai disini saja dik,aku sudah tau kalau hubungan kita ini gak bisa dilanjuti" kata Anto wajahnya sedikit murung.


"Kalian para Cowok mau nya enak saja,sudah buat Orang jatuh cinta seenak nya pergi,aku benci kau" jawabku sambil berlari pergi dari hadapan Anto.


maaf Yunita aku gak mau hubungan ini dilanjutkan,karena aku sadar kita saudara,apalagi Mama kamu sangat menentang ini, aku gak mau ada perselisihan diantara keluarga kita. Batin Anto.


Anto menunggu Bus diaspal jalan itu,wajahnya terlihat murung dan penuh sesal,sebenarnya dia gak mau memutuskan hubungan dengan Yunita,tapi Anto gak mau saja hubungan Ibunya dengan Ayah Yunita menjadi renggang karena hubungan mereka.


Bus melintas dan pergi, tampak Yunita kembali lagi sambil menatap pilu Bus tersebut yang ada Anto didalamnya.


"Dia pergi...aku tau pasti dia mendengar perkataan Mama tadi malam,ini tidak adil.. ini tidak adil ..!" gumamku kesal dan marah.Aku berjalan malas menuju Rumah.


Riandi pergi ngegantung begitu saja,Anto yang mulai kusayang juga pergi,sia-sia hubungan ini bukan?,sudahlah Yunita mending kamu pasrah saja. Batinku bicara sendiri.


Dengan wajah kusam Aku sampai didepan Rumah,Aku malas melihat Mama kenapa dia selalu ikut campur dalam urusanku,Aku tidak pernah pacaran melebihi batas.Entahlah biar bagaimana pun juga dia Orang yang melahirkanku,berdosa kalau Aku menentang Ibuku sendiri.


Aku baringkan tubuh ini dikasur,air mata terus saja mengalir tiada hentinya,dalam hati terus bertanya gimana Anto sekarang?,apa dia sama sepertiku?,meratapi nasib hubungan yang sudah hancur ini.


"Ihh..,Mbak nangis.. ma----" kata Addiku saat masuk kedalam kamar,Aku bungkam mulut Adikku karena dia ingin mengadu sama Mama.


"diaam....!, entar Mbak kasih duit jajan, jangan bilang ya dik...sama Mama" kataku sambil membungkam mulut Adikku.


Jemari Adikku menarik jemariku yang masih mendarat dimulut Anton Adikku.


"Ya sudah..aku gak bilang sama Mama,mana jajan nya?" tanya Adikku sambil mengulurkan tangan. "Dasar setan kecil,mata duitan" gumamku sambil mengambil uang didalam saku.


"Kok cuma seratus perak?,aku mau dua ratus perak" kata Adikku sambil menatap tajam.


"Sudah segitu dulu" kataku sambil mendorong tubuh adikku keluar kamar.


"gak ditambah lagi awas saja" kata Adikku mulai geram. "Maa....!." Anton hendak memanggil Mama,Aku jadi panik langsung mengambil uang seratus perak lagi untuk Anton.


"Nah..gitu,jangan pelit sama Adik sendiri" kata Anton sambil cengengesan,Aku kesal banget.


"Apa...manggil Mama?" kata Mama ternyata dia mendengar seruan Anton.


"Gak apa Ma...gak jadi eheheh" balas Anton sambil berlari keluar Rumah,mungkin mau jajan.


"Huh..punya adik mata duitan" keluhku sambil mengganti pakaian,sedangkan Mama hanya geleng kepala saja karena Anton tidak serius memanggilnya.


******


Malam harinya Aku hendak keluar ingin main kerumah Wati,lihat-lihat situasi kalau Mama dan Ayah pergi.Aku melihat mereka bersiap-siap hendak pergi,karena suasana masih lebaran mungkin mau bertamu keRumah teman mereka.


Setelah Mama dan Ayahku pergi,Aku juga langsung kabur.Aku berjalan menuju rumah Wati tidak taunya Aku bertemu Wijaya dijalan.


"Adik...apa kabar?" tanya Wijaya sambi mematikan mesin Motornya,entah kenapa hatiku jadi senang,seakan-akan luka yang dibuat Anto sedikit hilang.


"Baik bang...kapan pulangnya Abang?" kataku penasaran,Wijaya turun dari motornya lalu mendekatiku. "Semalam pulang dik" jawab Wijaya sambil menatapku penuh arti.


"Jadi mau kemana Abang?" tanyaku ingin mengobrol sedikit saja.


"Mau ketemu kamu,tadi rencana pura-pura lewat depan rumah kamu,supaya tau kalau aku sudah pulang" jawab Wijaya sambil mengacak rambutku.


"Kirain entah mau kemana" Aku tersenyum lalu duduk diatas Motor Wijaya.Wijaya kernyit dahi sambil berfikir.


"Emangnya Yunita gak kangen sama Abang?" Wijaya manyun merasa Aku gak suka ketemu dia,padahal sudah janji lebaran ini ketemuan.


"Kangen...kangen kok" ujarku sambil tersenyum, Lalu Wijaya naik keatas Motor.


"Yuk kita jalan-jalan" ajak Wijaya lalu menghidupkan mesin Motornya,Aku tidak bisa menolak karena Motor itu langsung melaju.


"Peluk dikit" kata Wijaya sambil menarik lenganku dari belakang,Aku nurut dan memeluk Wijaya,beban ini serasa lepas sedikit apalagi baru pisahan dengan Anto.


Aku kayak cewek mauan ya semalam sama Anto,sekarang dengan Wijaya,lagian aku udahan sama Anto aku tidak salahkan,kali ini aku milih Wijaya saja,semua gak jelas cuma Wijaya yang jelas. Batinku.


"Diam saja Dek?,ngomong dong" kata Wijaya sambil fokus bawa Motor.Aku menyandarkan kepala dipunggung Wijaya.


"Kita masih dijalan Abang,kita kemana nih?" tanyaku penasaran entah kemana Wijaya ajak Aku kencan.


"Sini aja yuk" Kata Wijaya sambil berhentikan Motor diBelakang Stadion.Ya ini tempat orang main Bola,lapangannya sangat besar DiDesa kami,terkadang tiap malam banyak Orang kencan dilapangan ini,maklum suasananya remang apalagi tersedia tempat duduk.


"Eh...,ada teman abang itu kayak nya,kita pindah saja" kata Wijaya sambil hidupkan Motornya lagi,Aku memang melihat sepasang Orang lagi kencan diatas Motor,kenapa Wijaya kayak ketakutan gitu kalau kami ketemu temannya, apa dia merahasiakan hubungan denganku?.


"Kenapa abang kayak takut gitu,biarin aja kita kepergok,toh mereka juga kencan" kataku padahal Aku tidak kenal siapa Teman Wijaya itu. Wijaya diam sekelak berfikir,lalu Wijaya menepikan Motornya ketengah Kebun sawit berjarak sedikit jauh dari Stadion.


"Gak enak dik,sudahlah biarkan mereka,aku juga takut ganggu mereka" balas Wijaya sambil turun dari motornya.


"Kamu jangan fikir aneh,Abang cinta kok sama kamu" kata Wijaya lagi sambil megang kedua belah pipiku,lalu menatapku dengan mesra.Aku tak berani menatap lama kedua bola mata Wijaya karena malu.


"Cinta..." kataku seakan gak percaya sambil mencibir. "Entar bohong" kataku lagi sambil buang muka. Wijaya megang daguku lalu memutar kepalaku yang kesamping supaya Aku memandang dia dari depan.


"Sumpah Abang gak bohong" kata Wijaya sambil mencium bibirku dengan mesra.Aku sedikit membalas ciuman dari Wijaya walau Aku belum lihai Aku bisa sedikit membuat Wijaya mendesah,lalu melepaskan ciuman.


"Udah mulai pintar ya,biasanya kaku" ledek Wijaya sambil menatapku penuh Arti.


"Oh iya..kita gak pernah kencan siang,Aku mau kencan siang hari,seminggu lagi aku sekolah" kataku biar ada bahan obrolan saja dengannya.


"Ide bagus,boleh..Aku tunggu dimana besok siang?" tanya Wijaya sambil berfikir keras.


"Dibelakang Rumah Wati saja,aku tunggu disana jam satu siang,gimana?" sahutku sambil memegang memainkan kerah baju Wijaya.


"Boleh...tapi malam minggu Abang gak bisa menemui kamu,gak apakan?" tanya Wijaya sambil meraih kedua jemariku.


"Ada janji ya sama cewek lain?" tanyaku sambil manyun lalu Aku buang muka,Aku ingat perkataan Wati kalau Wijaya Playboy.


"Bohong" kataku sambil memandang wajah Wijaya, Aku membaca raut Wijaya apa dia berkata jujur,tapi sayang Aku tidak pandai mungkin belum sampai kesitu pengalamanku.


"Ya sudah kalau tidak percaya" kata Wijaya sambil membalikan badan padaku,Aku menarik lengan Wijaya supaya berbalik badan berhadapan denganku.


"Ya aku cuma menebak,gitu saja marah" kata Aku sambil memasang wajah memelas berharap Wijaya tidak manyun.


"Abang cuma main-main mana mungkin marah" sahut Wijaya sambil memeluk tubuhku dengan erat.


Entah kenapa sikap Wijaya begitu hangat,lembut penuh perhatian,Aku yang merasakan ini jadi nyaman.Wijaya sedikit bercumbu denganku,Aku menepis lengan Wijaya saat ingin membuka resleting celana jeans yang Aku kenakan.


"Kenapa?" tanya Wijaya heran karena Aku menolak,tak mau melakukan hal yang lebih jauh dulu. Wijaya kelihatan sedikit kecewa.


"Kita belum nikah sayang,aku mau kalau kita Sah dulu,kamu gak marahkan?"tanyaku supaya Wijaya gak kecewa.


"Eng-enggak...iya gak apa,aku gak marah" balas Wijaya sambil menatapku dalam-dalam.


"Aku gak mau kalau hubungan kita dilandasi nafsu Abang,lagian aku belum pernah pacaran sampai sejauh itu" kataku lagi berterus terang dengan polosnya.


"Ya aku ngerti" sahut Wijaya sambil memeluk tubuhku lagi,Aku tersenyum karena Wijaya ternyata ngerti mauku,Aku sangat senang.


Ternyata dia bukan nafsu saja,buktinya aku melarang dia gak memaksaku, aku nyaman. batinku.


Nampaknya harus penuh usaha lagi nih dapatin Yunita luar dalam,hemm...dia berbeda sama cewek yang aku kencani,yang lain kelepek-kelepek,kalau yang ini mesti penuh bujuk rayu lagi. Batin Wijaya.


"Ayo kita pulang entar Mama kamu nyariin lagi" kata Wijaya sambil melepas pelukan padaku.Aku tersenyum dan langsung naik keatas motor dibarengi Wijaya.


"Ngerti banget ya..inget kalau Mama aku cerewet" kataku sambil memeluk pinggang Wijaya diatas Motor.


"Iya dong..tapi kata kamu suka sama cowok perhatian" kataku Wijaya sambil membawa Motornya,Aku diam saja sambil memeluk erat pinggang Wijaya,merasakan wajahku diterpa angin malam saat Motor melaju menuju jalan arah Rumahku.


Wijaya menurunkan Aku dibelakang Rumah sedikit berjarak,mungkin supaya tidak kepergok orang kalau Aku jalan dengan Wijaya."Sampai ketemu besok siang abang" kataku sambil berdiri yang sebelumnya turun dari atas Motor Wijaya.


"Iya sayang" kata wijaya lalu lengan Wijaya menarik kepalaku untuk mencium keningku dengan sekilas,Aku memejamkan mata saat bibir Wijaya mendarat dikening ini,lama sekali dia kecup kening ini buat Aku terpesona,seakan tak ingin kemesraan ini berlalu cepat.


"Cepat tidur ya,besok kita ketemu lagi" kata Wijaya sesudah mengecup keningku mesra.


"Hati-hati Abang jangan ngebut" kataku sambil melambai saat Aku berjalan menjauh dari pandangan Wijaya.


Wijaya Langsung engkol Motornya dan tancap gas dari jalan setapak itu, sementara Aku berjalan menuju kerumah,Aku berjalan ringan takut kalau Mama mergoki Aku keluar malam. "Sepi" gumamku saat Aku sudah masuk dari pintu dapur.


Aku bebas masuk karena Mama dan Ayah ternyata belum pulang,Aku lihat jam ternyata masih jam tengah sepuluh,artinya hanya dua jam saja Aku kencan dengan Wijaya.


"tau gitu tadi gak usah pulang dulu,masih ingin duaan sama dia" kataku sambil menukar baju dengan baju daster tidur.


Aku berbaring dikamar sambil mengingat kemesraan tadi saat kencan dengan wijaya, Aku memejamkan mata mengingat dia mencium dan memeluk dengan mesra.Buat Aku kesem-sem dan berbunga-bunga.


***


Dengan waktu yang bersamaan ternyata Wijaya tidak pulang,pantes dia minta pulang cepat dari Yunita,ternyata Wijaya belokan Motor kebelakang rumah tetangga Ranti.


Ranti pacar Wijaya,entah pacar yang keberapa.


"Pasti dia marah,niatnya tadi mau ketemu sama Ranti,tidak taunya ketemu Yunita yang bohai,sayang sih Yunita aku lewati,karena aku suka banget sama wajah Yunita" kata Wijaya sambil turun dari Motor.


Wijaya berjalan sedikit,tampak seorang Gadis berdiri dengan gelisah dan marah.


"Dari mana kamu?,aku sudah satu jam nungguin,dasar jam karet !" ketus Ranti sambil manyun pada Wijaya.


Wijaya pasang wajah senyum indah supaya Ranti kelepek-kelepek.Lalu Wijaya memeluk Ranti dengan hangat.


"Maaf sayang...tadi antar Mama aku kewarung,kamu taukan Mama aku manja,ya lagian aku anak paling kecil jadi cuma aku yang diandalkan,sementara saudara aku lainnya sudah menikah semua" Kata Wijaya sambil kecup sekilas leher Ranti saat dipeluk.


"ih...selalu saja gitu,awas kalau bohong ya" jawab Ranti sambil melepas pelukan Wijaya.


"Sumpah...cuma kamu yang Aku cinta" Wijaya mengecup sekilas bibir Ranti,Entah jurus apa lagi Wijaya membujuk Ranti supaya percaya.


Akhirnya Ranti percaya.Lalu wijaya menumpahkan hasratnya yang tertunda karena Yunita tidak mau tadi.Wijaya bercumbu panas dengan Ranti,ditengah percumbuan itu...


"Aku lagi dapat bulan" kata Ranti sambil megang jemari Wijaya saat ingin membuka kancing kemeja Ranti. "Aah" decis mulut Wijaya merasa terhujung karena hasratnya tak tersalurkan.


"kenapa marah?,aku memang dapat bulan,apa kamu mau nya itu saja dariku?" tanya Ranti lalu mendorong tubuh wijaya kesal.


"Eng..enggak sayang,kamu sensitif banget, gini nih kalau cewek lagi datang bulan bawaan marah melulu" balas Wijaya sambil belai rambut Ranti dengan mesra.


"Kirain.."kata Ranti sambil cemberut lalu lipat tangan,Wijaya tersenyum kecut dan membisu, Ranti menatap Wijaya dan memeluk Wijaya dengan mesra.Ranti berciri rambut sebahu kulit kuning langsat,hidung pesek tetapi enak dipandang,tapi kalau dia hitam pasti jelek,hanya menang di moodies karena Ranti jago bermakeup.


Sial...udah sama aku dia memang gak perawan lagi,syukur aku trima dia jadi pacar.batin Wijaya geram.


Karena malam semakin larut tiba-tiba Wati melintas dari belakang rumah Ranti yang tidak begitu jauh dari rumah Wati.mungkin Wati baru siap kencan juga dengan pacarnya.


"eh...bang Wijaya..lagi kencan ya?" tanya Wati tersenyum manis.Wijaya sedikit kikuk karena kepergok Wati.


Mati aku bisa-bisanya Wati lewat,mudah-mudahan Wati gak cerita sama Yunita. batin Wijaya.


"Iiih...kamu ganggu saja" Kata Ranti sambil menatap sinis Wati. "ehh" geram Wati sambil pergi gitu saja,Wati tidak mau menunggu ucapan Wijaya karena kesal dengan Ranti.


Mentang-mentang dapat Wijaya dia sombong, ih...katanya abang Wijaya pemilih tapi kok mau sama Ranti sompret itu. batin Wati geram.


Bersambung*


diatas meja ada omelet.


dibawahnya ada buah salak.


siapa yang gak like..


jangan sampai gue jitak...


just kidding....


haaahah makasih ya sayang udah mau singgah dinovel saya ini.