
Yunita mengingat lagi kenangan demi kenangan saat berdua dengan Wijaya,impian untuk memiliki sudah sirna seketika,hanya bayangan cinta semu yang iya rasakan.
Ow..pahit dan getir disanubari Yunita rasakan sendirian dikamar Yunita.
Ya Tuhan..aku ingin melupakan dia,sampai kapan aku akan begini terus?. Batin Yunita.
Yunita sampai terlelap didalam tangisnya,tidak sedikitpun iya keluar dari kamar,walau terkadang Mamanya memanggil mungkin untuk mengajak makan malam.
*******
đź’–KEESOKAN PAGINYAđź’–
Sinar mentari menyapu bersih embun yang menitik disetiap helai daun,suara burung berkicau merdu,kokok ayam jago mengalunkan melodi untuk membangunkan setiap insan yang terlelap.
Pagi ini Yunita bergegas untuk mandi ingin kesekolah,langkahnya berjalan malas untuk kesekolah,tapi demi tanggung jawab iya paksakan untuk kesekolah.
"Ngurung diri aja kau tadi malam,kenapanya?" tanya Indi sambil menyiapkan sarapan, sementara Yunita didepan pintu kamar mandi.
"Capek ma" jawab singkat Yunita sambil mengunci kamar mandi,Yunita menciduk air didalam tong dan menyiram tubuhnya,walau dingin menusuk tulang pagi ini air dingin tidak membuatnya menggigil.Hanya kehampaan yang iya rasakan saat semalam melihat Wijaya walau sekilas.
Selesai Yunita mandi iya berjalan menuju kamar dan memakai seragam sekolah.Setelah itu seperti biasa dia bergegas menikmati sarapan yang sudah disediakan Mamanya diatas meja makan.
Setelah sarapan Yunita pamit pada mama dan berjalan menuju kesekolah,mula nya biasa saja disekolah tidak ada masalah yang terjadi hanya insiden kecil tentang Ryu yang melihati Yunita terus.Saat menuju warung Bulek lontong.
"Kau semalam kemana Yun?,Aku sama Wati menunggu kau,tapi kau tidak datang" tanya Indar yang berjalan dengan Yunita kewarung Bulek lontong,sedangkan Puput dan Merry dikelas masih sibuk dengan urusannya sendiri.
"Kau tau lah Mama aku,kayak biasanya enggak izinin aku keluar" kata Yunita berbohong mencari alasan. Indar kernyit alis dan berfikir.
"Oh karena itu,ya sudahlah kami tidak marah" sahut Indar sambil tersenyum.
Maaf ya kawan aku terpaksa berbohong,tidak mungkin aku cerita bertemu sama Wijaya. Batin Yunita.
Ingin sekali Yunita cerita tentang unek-unek yang membuat gelisah hatinya,tapi iya simpan sendiri mungkin lebih baik Indar atau Wati tidak tahu kalau sebenarnya Yunita niat menepati janji untuk bermain semalam sore.
Bel tanda pelajaran telah usai,murid-murid keluar dari kelas untuk pulang kerumah.
"Sama yok jalan" Ajak Indar dan menggandeng tangan Yunita.Merek berjalan menuju gerbang sekolah.
"Kapan kapan kalian mainlah kerumahku" ajak Puput barengan dengan Yunita dan Indar, tak lupa Merry menyusul dari belakang.
"selow kau,kalau ada waktu kami main kerumah mu,iya kan Mer...Yun..." balas Indar sambil tersenyum manis.
"Ok..aku duluan ya" kata Merry sambil menyebrang dijalan karena rumah nya yang paling dekat dari sekolah.
"Byee... Merry" semua serentak melambai,Puput gabung anak lain menunggu mini Bus arah kampungnya.Sedangkan Indar dan Yunita masih barengan menuju kerumah.
"Yun hari minggu Wati ajak lagi tuh,main...,kau mau kan?"Tanya Indar saat masih jalan barengan menuju rumah. Yunita berfikir sekelak lalu melihat Indar yang menunggu jawaban dari Yunita.
"Serah kalian saja,nanti aku kabari ya,bye Indar" kata Yunita mereka mencar karena persimpangan sudah sampai, Indar belok kiri sedangkan Yunita belok kanan.
"Jangan lupa ya Yun" kata Indar sambil melambaai tangan yang jarak nya sedikit jauh.Yunita hanya anggukan kepala saja lalu meneruskan jalan menuju rumah.
Sewaktu Yunita berjalan kearah rumah,jantung Yunita berdegup kencang dan berfikir, karena melihat sepatu yang iya kenal dulu, sepatu kepunyaan sesorang yang pertama kali mengukir cinta dengannya.
Riandi....?,tidak mungkin dia datang lagi, sudah hampir lama dia tidak ada kabar, mungkin teman Mama atau Ayah. Batin Yunita.
Langkah Yunita terhenti saat ingin masuk kepintu depan karena suara itu kepunyaan Riandi, perlahan Yunita mengintip dan terkejut hati ternyata benar,pria yang selama ini tiada kabar datang lagi, ow...apa yang harus Yunita katakan pada Riandi,apa kabar kek?, atau kecanggungan yang iya rasakan.
Tuhan kenapa dia datang lagi, apa mau nya?, aku bukan tempat persinggahan. Batin Yunita.
"Hei ngapai kau didepan pintu" tegur Indi melihat Yunita yang berfikir berdiri terpaku didepan pintu,Riandi melihat Yunita dengan penuh kesenduan,seakan Riandi ingin memeluk Yunita tapi terhalang Mama Yunita ada dirumah.
"Dek" sapa Riandi berdiri dari duduknya.
"Papanya meninggal" kata Indi bisik kekuping Yunita,Yunita terkejut lalu menyalam Riandi, Riandi melihat atas bawah perubahan fisik Yunita,lalu Yunita canggung berjalan kearah kamar untuk mengganti pakaian sekolah.
Yunita didalam kamar mendengar Riandi ngobrol dengan Ayah dan Mama Yunita,ada pertanyaan buat Yunita untuk Riandi kenapa tidak ada kabar,memang Yunita masih terkejut dengan kedatangan Riandi tiba-tiba.
Tadi dia lihatin aku terus,apa yang iya fikirkan ya, kenapa dia datang lagi?,apa selama ini tak ada kabar karena meninggal Papanya?. Batin Yunita.
Setelah Yunita mengganti seragam iya berjalan dulu menuju dapur,tapi langkah nya terhenti saat Riandi berjalan menuju kedapur.Yunita canggung saat Riandi menatap nanar dari atas bawah.
"Siapa yang mengambilnya?" tanya Riandi dengan wajah kesal,Yunita tidak tahu maksud Riandi,dia jadi bingung dan buang muka.
"Dek..maafin aku selama ini tidak pernah beri kabar,Papaku meninggal,karena aku anak pertama, aku mengurus keluargaku,maaf ya dek, tapi aku mau tanya siapa yang mengambil nya?" Tanya riandi sambil megang kedua bahu Yunita.Sedangkan Yunita tak berani menatap Riandi hanya tertunduk.
"Maksud abang apa?,aku tidak mengerti?" Tanya Yunita beranikan diri menatap Mata yang penuh kekesalan dan kekecewaan itu.
"Dik aku kenal semua bentuk tubuh kamu, aku tahu semua dik,aku bukan sehari mengenal kamu, plis siapa yang berbuat padamu?,katakan siapa yang mengambil nya?" Tanya Riandi sambil mata berkaca-kaca.
"Apa yang kamu maksud?" kata Yunita sambil membalikan badan,Yunita hampir mengerti apa maksud Riandi soal kesucian Yunita.
"Jangan pura-pura tidak tahu,siapa dia?,siapa pria itu?" kata Riandi sambil membalikan tubuh Yunita kehadapannya,sementara kedua orang tua Yunita diruang tamu sembari ngobrol.
Ow..hancur sekali hati Riandi mengetahui kalau Yunita sudah tak suci lagi,Riandi mengepal tangan.
"Dulu kujaga-jaga nafsuku untuk menghargai kamu,cinta bukan nafsu itu prinsipku padamu, tapi selama aku tak ada ternyata orang lain yang memetiknya" ucap Riandi dengan suara parau dan mata berkaca-kaca,ibarat bunga yang iya sirami dan iya jaga selama ini,nyatanya orang lainlah yang memetik dan merampas yang Riandi jaga selama ini.
"Lihat abang dik?, apa kamu tidak cinta lagi denganku?" tanya Riandi menatap penuh kekecewaan pada Yunita,Yunita hanya buang muka dan ingin menangis,Yunita tak kuasa untuk bercerita ada sedikit ketakutan dan malu pada Riandi membuat mulut Yunita bungkam saja.
"Iya saya yang salah,maafin selama ini gadis nakalku" Riandi menarik paksa lengan kiri Yunita,berharap memeluk Yunita,kini Riandi memeluk erat Yunita,derai air mata hanya itu Yunita tumpahkan seraya penyesalan dan jawaban untuk Riandi.
"Aku pikir abang tidak akan pernah datang lagi,aku berhubungan sama dia" kata Yunita sambil sengugukan dan memeluk erat tubuh kekar Riandi,sebenarnya Yunita masih ada rasa sayang untuk Riandi,tapi karena waktulah Riandi tak kunjung ada kabar, sementara kesetiaan Yunita goyah dan berpindah untuk Wijaya.
"Ssssss...jangan katakan apa-apa lagi,aku tidak sanggup mendengarnya,mohon jangan katakan lagi" kata Riandi sambil melepas pelukan, Riandi menghapus air mata Yunita yang jatuh dipipi,perlahan Riandi mengecup kening Yunita. Ow... perasaan Riandi bercampur aduk antara cinta dan rindu menjadi kecewa.
"Maafin aku juga,aku tidak tahu, dia menjeb--" omongan Yunita terputus saat telunjuk Riandi mendarat dibibir Yunita,lalu Yunita menatap sendu Riandi dan Riandi geleng kepala.
"Sudah abang bilang jangan katakan hal tentang dia,apa kamu tidak tahu dik?,aku sangat merindukan kamu" Riandi memeluk Yunita lagi dengan penuh haru,Yunita tidak sanggup dia penuh dengan penyesalan, dia merasa berdosa kalau Riandi kembali padanya lagi.
"Abang kalau marah silahkan saja aku pasrah, memang aku yang salah,abang boleh tinggalin aku" kata Yunita beranikan diri. Riandi menatap nanar Yunita setelah melepaskan pelukan pada Yunita.
"Kamu bicara apa dik?,sampai sekarang abang mencintai kamu,aku mohon jangan katakan pisah" kata Riandi sambil jemarinya megang kedua pipi Yunita.
"Aku tidak suci lagi" kata Yunita sambil menepis lengan Riandi.Riandi kernyit dahi dan heran dengan gadis yang dihadapan Riandi sekarang,Walau Riandi kecewa dia tetap ingin memiliki Yunita.
"Hei...bukan itu yang abang mau sama kamu, mau apapun kejadian dengan kamu sayang,abang tidak perduli,yang penting kamu mau perbaiki semua ini,sudah jangan bahas lagi" kata Riandi sambil menarik lengan Yunita seraya ingin duduk diteras samping rumah.
Kini Yunita sudah duduk dengan Riandi dibangku teras samping rumah.Yunita tidak tahu mau bicara hal apa lagi,selain perasaan bersalah iya hanya diam membisu.
"Jangan diam saja,gimana sekolah kamu?,apa baik -baik saja?" tanya Riandi memecahkan keheningan, Riandi megang jemari Yunita yang gemetar saat diatas paha Yunita.
"Baik abang" jawab Yunita sambil menatap sesekali Riandi, Yunita masih menemukan cinta dimata Riandi,tatapan mata Riandi itu yang tidak pernah Yunita lupakan teduh dan pasrah.
"Lupakan masa lalu,abang juga punya masa lalu, semua orang juga punya masalah dan masa lalu,jangan difikirkan lagi ya" kata Riandi sambil tersenyum kecil, walau dia amat kecewa cintanya sedikit pun tidak luntur buat Yunita.
"Abang tidak ielfil?" tanya Yunita ingin sekali meyakinkan naluri Riandi dengan ucapan dia barusan. Riandi menatap kedepan dan menghembus nafas panjang.
"Tidak...,kalau abang ielfil mungkin sudah dari tadi abang pulang, mungkin ini memang sudah jalannya" kata Riandi sambil nenatap sendu Yunita. Yunita diam saja sambil berfikir lagi kenapa bisa jadi begini.
"Besok abang pulang,kamu liburkan?, gimana kalau kita kekampung abang,maukan?" tanya dan ajak Riandi sambil mengacak rambut Yunita.Tak mau Riandi kecewa Yunita angguk kepala saja setuju ajakan Riandi.
Biar lah waktu yang menjawab dik, aku tahu kalau kau sudah tak seperti dulu, aku akan buat kamu jatuh cinta lagi. Batin Riandi.
Serah mau diajak kemana,aku merasa berdosa dan bersalah pada dia, kenapa takdir ini begitu sulit,disaat rasaku sudah hilang dia datang kembali, sementara orang yang aku cintai tidak mengharapkan aku. Batin Yunita.
Riandi pamit beranjak dari duduknya untuk keruang depan rumah Yunita, mungkin ingin ajak ngobrol ayah dan mama Yunita lagi. Sementara Yunita masuk kedalam kamar.
******
đź’–ESOK HARIđź’–
Yunita sudah siap-siap dengan kemeja kotak-kotak dipadu dengan jeans panjang,iya kuncir rambut panjangnya dengan pita dihadapan cermin. Karena hari ini akan pergi dengan Riandi kekampung halaman Riandi.
Baru kali ini dia ajak aku kerumah kenapa tidak dari dulu saja, kenapa harus sekarang, ya sudahlah mungkin hari minggu ini akan jadi hari yang panjang .Batin Yunita.
"Dik sudah siap?" Tanya Riandi yang sudah lama menunggu diruang depan sambil duduk disofa. Sementara Riandi sudah pamit duluan pada Indi dan Darman untuk membawa Yunita jalan-jalan kekampungnya.
"Sebentar cerewet" jawab Yunita dari dalam kamar sambil lengan Yunita memakai lipstik tipis-tipis biar kelihatan segar. Wajah imut nan manis itu jadi lebih cantik saat memakai lipstik.
Yunita berjalan menuju ruang tamu, mata Riandi sedikit terkagum walau tiada kata pujian Yunita tahu kalau Riandi sangat kagum dengan penampilan Yunita sekarang.
"Ayo kita pergi, tadi mama sudah kasih izin" kata Riandi sambil memakai sepatunya. Yunita menurut dan memakai sendal bertumit tebal membuat tubuhnya jadi lebih tinggi lagi supaya sepadan dengan tinggi Riandi.
"Sudah di tutup pintu belakang sayang?,periksa lagi sana,ayah kamu lama pulang apalagi mama kamu berdagang" kata Riandi sambil berdiri dihadapan Yunita.
Setelah dicek semua keadaan rumah untuk ditinggalkan, sepasang kekasih ini bergegas pergi keluar rumah dan berjalan kaki menuju jalanan aspal untuk naik kedalam Bus menuju kota.Banyak mata jalang yang memandang liar Yunita dan Riandi saat berjalan berduaan.
Pasti jadi gosip, orang pondok sini memang perduli sama hal-hal gosip. mampus situ cuek saja, kami cuma jalan saja tidak ada tebar kemesraan. Batin Yunita.
"Jangan diam,kenapa lagi?"tanya Riandi sambil tersenyum, walau mereka masih berjalan sedikit lagi akan sampai kejalanan aspal.
"Mata tetangga minta dicolok, buat kesal saja" jawab Yunita sambil menatap Riandi.
"udah gak usah difikirin,buat pusing dik" kata Riandi sambil berdiri menunggu Bus, karena mereka sudah sampai dijalan aspal hitam.
Tidak berapa lama Bus datang menuju kekota, tanpa dipanggil Bus mengerti kalau kedua sewa ini hendak kekota.Yunita dan Riandi naik kedalam Bus dan mencari tempat duduk khusus berdua,kebeteluan ditengah bangku tidak ada penghuninya.
"Kalau ngantuk bilang saja" kata Riandi sambil menarik kepala Yunita yang menyandar dibangku tersebut.
"Tidak sabar sampai kekampung abang" kata Yunita sambil memejamkan mata.
Bersambung*