yunita

yunita
Yun Bab 27



🌻KENCAN SIANG🌻


Siang ini sangat terik,walau cuaca panas tidak mengurungkan niatku untuk Kencan dengan Wijaya.Karena sudah janjian Aku harus menepati Janji dengan Wijaya.Kalau siang Aku bebas kemana saja karena Mama Berdagang seperti biasanya.


Aku keluar dan berjalan menuju tempat janjian dengan Wijaya dibelakang rumah Wati.


Sebelum sampai kebelakang rumah Wati ternyata Wijaya menghampiriku dijalan.


"Ayo dek cepetan naik" seru Wijaya entah kenapa,Aku yang bingung naik saja keatas Motor Wijaya lalu Wijaya tancap gas dengan Motornya,sampai rambutku sedikit terbang terbawa angin kencang diatas Motor.


"Abang pelan dong,entar kita jatuh, emangnya ada apaan sih?" kataku heran dan bingung kenapa Wijaya bertingkah aneh dan gugup. Biasanya Wijaya tenang dan buat nyaman.


Hampir saja ketahuan Ranti ,syukur aku duluan yang nyampe tadi, jadi bisa hadang duluan Yunita. Batin Wijaya.


"kok diem sih bang...?" tanyaku karena sedari tadi Wijaya tak mau bicara sepatah kata.


"Maaf dek tadi Abang ketemu teman,takut ajak gabung,kalau ketahuan kita tidak bisa berdua begini" kata Wijaya sambil megang lenganku dengan lembut saat lenganku melingkar dipinggang wijaya.


"Oh..Aku kira entah kenapa" Balasku sambil tersenyum langsung memeluk erat Wijaya dari belakang karena masih diatas Motor.


Wijaya tiba-tiba muter Motornya,malah masuk kedalam kebun karet yang dipenuhi semak belukar,ilalang yang menjulang tinggi.


"Lho kok kesini?,kitakan mau kejoglo dekat sungai itu" kataku bingung lihat Wijaya gugup lagi.Wijaya mematikan Motornya lalu turun dari Motor sambil menginjak rumput teki yang lebat.


"Kawan Abang lewat tadi jadi kita disini dulu ya" jawab Wijaya sedikit gugup sambil menarik nafas panjang.


Fiuh...susah memang pasang lima cewek,hampir saja tadi kepergok mega, kalau enggak habislah.Batin Wijaya.


"Oh ya sudah... asalkan sama kamu ditempat begini aku gak apa,tapi aku diatas motor saja ya,takut kalau ada pacet,(hewan penghisap darah)" kataku sambil tersenyum menatap Wijaya yang kini dihadapanku.


Baru kali ini Aku melihat Wijaya siang hari,memang benar dia ganteng banget tidak kalah dengan Anto dan Riandi.Wajahnya mulus banget tidak ada bekas jerawat satupun atau bekas luka,bentuk wajahnya buat aku terpesona,mungkin kaum hawa diDesa ini sanga tergila-gila kali ya? fikirku terlintas begitu.


"Jangan lihatin terus,entar kamu tidak bisa pulang" ledek Wijaya sambil mencium punggung jemari kananku.Aku tersipu malu lalu tak berani lagi menatap Wijaya,dibawah pohon karet bias matahari mebuat silau sehingga kami mencari tempat teduh.


Aku melihat Wijaya memetik batang pohon kelapa sawit,ternyata tidak jauh dari Pohon karet tersebut ada beberapa pohon sawit yang masih umur setahun lebih ditanam.


Kata orang buah sawitnya masih buah pasir.


"Disini saja" kata Wijaya sambil menarik lenganku,seketika Aku jatuh dipangkuan Wijaya,Aku menutup muka dengan kedua telapak tangan karena Malu dan canggung apalagi aku duduk dipangkuan paha Wijaya.


Perlahan lengan Wijaya menarik lembut kedua lenganku yang terletak diwajah.


"Jangan ditutupi nanti cantiknya hilang" kata Wijaya sambil megang kedua tanganku.


"gombal" kataku sambil menenggelamkan kepala diperut Wijaya.


"Jangan didaerah situ entar aku bisa khilaf, kamukan gak mau" kata Wijaya seakan geli wajahku tenggelam diperut bawahnya.


"Ah maaf abang" jawabku hendak bangkit dari pangkuan Wijaya,tetapi Aku tidak jadi bangkit duduk karena Wijaya menahannya, seperti berharap Aku tetap dipangkuan Wijaya.


"Gak boleh begini saja" kata Wijaya sambil membungkukan badan sedikit untuk meraih bibirku.Kami berciuman dengan mesra dan lembut,Aku membuka mata saat Wijaya melepas ciuman.Lalu perlahan jemari kanan Wijaya membelai mengusap lembut rambutku yang panjang sedada.


"Rambutnya halus,hitam legam..aku suka" kata Wijaya sambil menatap aku yang masih dipangkuannya.Aku jadi terpesona malu.


"Jangan menggodaku,jadi malu" jawabku sambil memejamkan mata.


"Beneran lho..aku tidak bohong,kamu paling cantik diDesa ini" kata Wijaya lagi membuat pujiannya padaku,Aku jadi semacam diawang-awang melambung tinggi dan bahagia dengan perkataan Wijaya.


"Oh iya.. seminggu lagi kamu sekolah dimana dik?" kata Wijaya yang tangannya masih membelai rambutku,sehingga Aku terbuai didalam kelembutan sentuhan tangan Wijaya.


"Tsanawiyah abang dekat SD aku dulu" jawabku sambil tersenyum menatap Wijaya.


"Aku boleh tanya?" kataku tiba-tiba pada Wijaya,Membuat Wijaya kerut alis dan berfikir, sebenarnya Aku enggan tanya soal ini, tapi seperti ada yang mengganjal dihati,cuma ingin memastikan benarkah apa yang dikatakan orang tentang Wijaya.


"Tanya apa ya?....kayak serius amat" jawab Wijaya sambil mencet pipiku dengan lembut.


"Kata teman-teman aku, Abang banyak pacar ya?" tanyaku sambil menatap serius Wijaya.Lalu iya seperti berfikir membuat dugaanku semakin menjadi.


"Ah..siapa bilang?,udah lama putus,banyak yang ngejar aku sayang,jadi jangan percaya apa kata mereka,bisa saja mereka syirik kalau aku suka sama kamu" kata Wijaya meyakinkan diriku.


"Kirain...,tapi aku percaya kok buktinya kita sering ketemu,walau jarang didepan umum,aku ingin kita pacaran didepan umum,kamu berani?" tantang Aku supaya percaya sepenuhnya.


"Ber-berani...siapa takut" jawab wijaya sambil mencium keningku sekilas,padahal Wijaya sudah gugup banget dengan tantangan Yunita,Yunita merasakan kecanggungan Wijaya tapi dia diam,sebelum Yunita melihat dengan mata kepala sendiri.


"Sudah jangan difikirin lagi, aku cinta sama kamu" kata Wijaya sambil mencium Aku lagi. Ya kami bercumbu mesra dengan lama,Aku merasakan nafas Wijaya yang mulai tersengal mungkin sedikit birahi,Wijaya juga mendengar desahanku sedikit,lalu Aku menghentikan percumbuan ini takut kalau kelewat batas.


"kok berhenti cium?" tanya wijaya merasa nanggung dengan permainan tadi,Aku jadi duduk dan membelakangi Wijaya,lalu lengan Wijaya tetap saja melingkar diperutku.


"Maaf abang aku mau pacaran kita yang sehat" kataku sambil bersandar didada Wijaya.


"iya gak apa" kata Wijaya aura wajahnya sedikit meninggalkan kesan kecewa, tapi Wijaya tetap berusaha menutupi belangnya didepan Yunita.


Kami ngobrol lagi seperti biasa karena hari mulai sore,Yunita minta balik kerumah,dengan terpaksa atau memang trik Wijaya dia nurut saja keinginan Yunita.


"Lusa kita ketemu lagi ya sayang" kata Wijaya saat menurunkan Aku dibelakang jalan setapak menuju rumahku.


"Hati-Hati ya" jawabku sambil memejamkan mata karena Wijaya mengecup keningku sekilas.


Sembari berjalan kerumah,Aku mendengar suara Motor Wijaya sudah menyala lalu hilang dari pendengaranku,Aku tidak tau sampai dirumah ternyata Mama sudah ada didalam Rumah,karena Aku lihat gerobak dagangan Mama disamping rumah.


Glek...


Aku menelan ludah sambil ketakutan,Aku takut kalau Mama memukulku atau tahu kalau Aku habis kencan.


"Dari mana kau??" tanya Mama dengan ketus saat melihatku jalan dari arah dapur menuju kamar.Langkahku terhenti sejenak,Aku sedikit berfikir mencari alasan yang tepat supaya Mama tidak marah.


"Dari rumah Wati ma" kataku sambil berbohong,kalau Aku jujur tidak mungkin takutnya sapu melayang ketubuhku ini.


"hemmm...Awas kalau aku dengar aneh-aneh atau kau menggatal sama Laki-Laki" kata Mama sambil menatapku tajam.Aku hanya menundukan kepala lalu aku diam saja.Sampai Mama tidak bicara lagi atau ngedumel,artinya dia percaya lalu aku bisa pergi kekamar.


Aku berjalan menuju kamar dengan nafas lega,karena hari ini tidak ada sapu atau penggorengan yang melayang ditubuhku ini.


"Syukur deh... fiuh..." gumamku saat hendak mengganti pakaian.Aku melihat sedikit rumput teki tersangkut dikaos yang aku kenakan saat kencan.


"Syukur Mama tak perhatikan ini,kalau enggak habis lah aku" gumamku sambil menaruh pakaian bekas kedalam Ember tempat cucian kotor.


*******


Hari demi hari Wijaya mengisi hari-hariku dengan perhatian,kasih sayang dan cinta,Aku semakin terhanyut dengan Wijaya,Aku sampai lupa cinta yang pernah Aku ukir dengan Riandi yang sama sekali tak pernah ada kabar.


Malam ini malam minggu,Wijaya tidak ada janji denganku,dia beralasan hendak bertamu kerumah suadara Ayah Wijaya,apalagi hari seninnya Aku akan masuk kesekolah,jadi puas-puasin ngeluyur malam.


Karena Mama dan Ayah tidak ada dirumah,Aku keluar sebentar hendak kerumah Wati.Ya karena Aku boring gak ketemu Wijaya,lalu Aku berjalan menuju rumah Wati.


Sampai dirumah Wati dia sudah siap-siap mau kencan dengan kekasihnya mungkin.


"Kau mau kencan Wat?,aku ganggu ya?" tanyaku saat didepan Rumah Wati.


Wati tersenyum manis padaku.


"Iiih..enggak lah Yun..mangkannya punya pacar baru kamu, Riandi kamu itu kagak jelas tau" sambung Wati yang berdiri dihadapan Aku.


"heehe...enak jomblo" kataku sedikit tertutup pada Wati,karena Aku belum cerita kalau udah jadian lama dengan Wijaya.


"Eh ada gosip" kata Wati sambil mengajak Aku jalan keluar dari halaman rumah Wati.


"Kita mau kemana?,gosip apaan Wat?" tanyaku penasaran juga sambil mengikuti jalan kemana Wati membawaku.


"Aku dengar kau jadian sama Abang Wijaya, apa benar Yun?" tanya Wati tersenyum sambil membawaku kebelakang rumah Wati.


"Ah gosip dari mana kamu?" kataku menyangkal padahal itu benar,Wati menatap serius Aku,langkah kami terhenti.


"Udah jangan bohong,Orang Siska pernah melihat kamu jalan sama Wijaya kemarin, bisa juga ya kamu taklukan Playboy itu, secara dia pemilih" kata Wati sambil tersenyum,buat Aku salah tingkah.


"Huh..sudah ketahuan aku mau bilang apa lagi sama kamu Wati,sudah lama sejak bulan puasa kemarin kami jadian" kataku kini jujur sama Wati,membuat Wati tercengang.


"Tapi aku ingatkan sama kamu Yun, jangan kecintaan sama dia,entar kamu sakit" kata Wati seperti tau sesuatu.


Kasih tau enggak ya sama Yunita kalau aku pernah lihat Wijaya jalan sama Ranti,tapi aku lihat malam ini kayak nya Wijaya gak ada tuh dibelakang rumah Ranti. Batin Wati.


"Woi..melamun aja.. kampret" kataku sambil menggoyang jemari didepan wajah Wati.Lamunan Wati buyar lalu sedikit canggung.


"hemm...kayak nya cowok aku gak datanglah,kamu gak janjian sama Wijaya?" tanya Wati.


"Dia keRumah saudara dia,katanya ada perlu" jawabku sambil nongkrong dijalan sama Wati.sebenarnya hatiku sepi juga kalau tak dikencani Wijaya malam ini,tapi apa mau dikata malam ini tidak ada kencan untukku.


"Aku tau tempat ngumpulnya,mana tau dia sudah pulang Yun" seru Wati sangat anstusias,Aku jadi berfikir enggak mungkin Aku temui Wijaya kalau tidak buat janji.


"Malas Wat... biar sajalah lagian besok sebenarnya kami ada janji" Kataku sambil tersenyum.


"Brum..Brum..." kami mendengar suara motor Rx.King dari kejahuan.Wati berfikir.


"Yun...jangan-jangan itu Wijaya,mana tau dia sudah pulang" kata Wati sambil berdiri dari duduknya.


"Manalah mungkin Wat...apa dia saja yang punya Motor kayak gitu?" tanyaku seakan gak percaya dengan feeling Wati.


"dodol kau....dikampung ini jarang punya Motor kayak gitu,yang punya cuma dua orang Wijaya sama Beno mantan aku" kata Wati sambil kernyit dahi,Aku diam saja dan berfikir.


"Aku tanda suara Motor mereka,apalagi Beno diakan mantan aku,ya pasti aku taulah,kamu kan baru ini lama Dipondok kita,selama ini kamu tinggal dikota M" kata Wati lagi sambil serius menatap Aku.


Tidak berapa lama suara Motor itu semakin dekat lalu melintas dari hadapan kami.Benar saja dia memang Wijaya hampiri kami.


"benarkan pacar kamu?" kata Wati sambil berbisik padaku.Aku jadi girang dan senyum.


"Hai....sijelek disini" kata Wijaya sambil turun dari motornya mendekatiku.


Aku sudah putuskan Ranti,enak saja minta dinikahi. Batin Wijaya.


"Jelek..jelek.. huh" kataku sambil manyun pada Wijaya. "becanda dik" kata Wijaya lagi.


"tunggu..aku kebelet" kataku sebenarnya sudah kebelet dari tadi.


"sudah pipis dibelakang rumahku sana, kami tunggu disini" kata Wati sambil tersenyum.


"Sebentar ya Abang" Aku pamit dengan Wijaya dan Wati karena sudah gak tahan lagi ingin buang air kecil, kamar mandi Wati diluar rumah dengan mudah Aku bisa masuk untuk buang air.


Sementara Wati dan Wijaya menunggu Yunita, mereka ngobrol serius tanpa tahu Yunita.


"Abang jangan sakiti Yunita,aku gak mau lho kalau dengar abang sakiti dia" kata Wati menatap tajam Wijaya yang lagi berdiri dihadapan Wati.


"Segitunya ya dik...lagian abang sudah putusin Ranti,nuntut melulu malas" jawab Wijaya sambil cengengesan.


"Pokok nya aku gak mau kalau Yunita sakit hati suatu hari titik,syukur aku gak kasih tau hubungan abang sama Ranti,karena aku menjaga perasaan Yunita aku takut dia hancur,Yunita memang gak pernah cerita tentang perasaannya,tapi dari bahasa tubuh dia, aku sudah tau kalau dia sudah cinta sama abang" kata Wati panjang lebar, membuat Wijaya memutar mata,mungkin sedikit jenuh dengan ceramah Wati.


"Ya dik.. abang janji gak menyakiti Yunita" kata Wijaya sambil memijat kening.Wati menatap sinis lalu mendecis dan buang muka,dulu Wati sebenarnya sempat naksir Wijaya tapi sayang ditolak,Wati juga tarik diri karena tau kalau Wati bukan type Wijaya.


"Itu dia bang..selamat kencan ya,aku mohon fikirkan ucapan aku barusan" kata Wati sambil berjalan mendekati Yunita, tanpa melihat Wijaya dibelakang Wati.


"Yun..kayak nya aku lapar,aku pulang mau makan" kata Wati sambil tersenyum.Yunita heran dan bingung kenapa Wati begitu?.


"Sudah jangan bingung gitu,lagian aku tau kok kamu mau kencan,gak mungkin aku jadi obat nyamuk" kata Wati sambil mengacak rambutku.


"Ya sudah Wati.., makan sana" balasku sambil tersenyum,lalu Wati berjalan menuju rumah.


Aku berjalan mendekati Wijaya yang termenung duduk diatas Motor.


"ih..menung dia,awas kesambet" kataku sambil mendekati dan melihat wajah yang tanpa senyum itu.


"Siapa yang menung..Ayo kita jalan" ajak Wijaya sembari memutar kunci kontak,menghidupkan Motor kepunyaan Wijaya.


Aku pergi dengan Wijaya meninggalkan area tersebut,untuk kencan romantis yang kami bina.Bercumbu rayu memadu kasih semesra-mesranya.


Bersambung*


Jangan lupa like nya ya sayang, jempol anda sangat author butuhkan eheheheh... makasih untuk jempol yang baik..