
đź’–KENCAN PETAKAđź’–
Matahari menjulang tinggi,sengatan panas matahari menggelitik pori-pori kulit setiap insan yang beraktivitas siang ini,seperti Aku yang hendak keluar rumah memakai payung.
Aku melangkahkan kaki menuju tempat janjian dengan Wijaya.
Aku menunggu Wijaya ditengah kebun karet,berdiri dijalan setapak ini,kebetulan suasana disini sangat sepi.Hanya orang lewat sesekali melintas itu pun jika ada,kalau tidak hanya Aku sendiri saja yang disini menunggu kekasih.
"Lama amat sih" kataku sudah merasa jenuh sembari tangan memegang payung,karena cuaca masih panas tidak bisa diajak kompromi,lalu Aku mendengar suara Motor Wijaya dari kejauhan,saat Motor Wijaya mendekatiku,Aku terpana melihat ketampanan Wijaya mengenakan kemeja biru dipadu jeans panjang.
"Maaf ya... aku telat" kata Wijaya sambil turun dari Motornya,Aku pasang wajah cemberut.
"Merajuk ya,Maaf sayang..." ucap Wijaya lagi sambil menaikan alis,memasang wajah memelas membuatku tak berdaya,seketika kesal dihati hilang.
"Lain kali jangan begini ya,Abang kan tau besok Aku sudah sekolah" kataku sambil naik keMotor Wijaya.
"Maaf sayang" Kata Wijaya sembari naik juga diatas Motor,lalu kami pergi meninggalkan jalan setapak itu.
"Kita mau kemana?"kataku sambil melingkarkan lengan diperut Wijaya.Lengan kiri Wijaya mengelus pucuk kepalaku,Aku tersenyum sambil menyandarkan kepala dipunggung Wijaya.Sampai tidak tau Wijaya mau bawa Aku kemana.
"Katanya mau bawa aku ketempat umum,kok ditempat kayak gini lagi?" tanyaku saat Wijaya memberhentikan Motor ditengah pohon kelapa sawit, alias tempat yang kemarin juga.
"Maaf sayang disini saja deh,kapan-kapan aku janji akan bawa kamu kencan ditempat ramai,emang kamu jumpai aku untuk pamer sama orang ya?" kata Wijaya membuat Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Serah deh" kataku sambil turun dari Motor lalu berjalan sedikit berjarak dengan Wijaya yang sudah berdiri duluan.Wijaya memelukku dari belakang sambil memandang persawahan yang ada dibawah tempat ini, karena ada sedikit jurang yang tidak begitu dalam ternyata ada sepetak sawah dan beberapa tanaman pisang.
"Jangan ngambek dong,yang penting kita ketemu" kata Wijaya membuat Aku terpekik geli saat dia mengecup leherku.
"Jangan kissmark ya,entar tau orang" kataku sambil berbalik badan untuk melihat Wijaya secara berhadapan.
Setelah itu kami bercumbu rayu,membuat ciuman hangat dan hot sampai kewilayah dada,membuat Aku terbang keawan merasakan kemesraan yang kami buat ini.
Karena saking senangnya tidak terasa hari mulai senja.Aku melihat jam tangan sudah pukul lima sore.
"Ayo pulang..entar keburu Mama pulang berdagang" kataku sambil melepas pelukan mesra kami. "Ayo" jawab Wijaya sembari berjalan menuju Motor Wijaya yang terletak tak begitu jauh dari tempat kencan kami.
"Brum...brum..." Wijaya sudah gas Motornya lalu Motor melaju meninggalkan area tersebut,tak lepas kedua lenganku ini melingkar lagi dipinggang Wijaya.
Motor itu terus melaju menyusuri semak belukar sampai kejalan setapak tempat biasa Wijaya menurunkan Aku.
Wijaya tekan rem Motor,seketika Motor terhenti dijalan menuju rumahku.
"Abang pulang ya,kamu besok sekolahkan, malam kamis kita ketemu lagi" kata Wijaya sembari menngecup sekilas kening dan kedua pipiku.
"Hati-hati ya Abang..jangan ngebut" sahutku sambil menatap senyum Wijaya.Aku berjalan menuju rumahku,saat dibelakang rumah ternyata keduluan Mama yang pulang berdagang.
Saat Aku hendak masuk kepintu dapur ternyata Mama sudah berdiri menunggu kepulanganku.Mama menatap tajam Aku dan matanya terbelalak,tangan kanan Mama sudah megang sapu.
Glek...
Aku menelan ludah,sembari gemetar dan jantungan melihat Mama yang berang.
"DARI MANA KAU ??!!" bentak Mama sambil menarik lenganku.Sebelum Aku menjawab sapu hampir melayang kekaki kananku,tapi tidak kena karena Aku berlari menuju kamarku,mencari tempat berlindung dari hantaman batang sapu yang dibawa Mama.
Mama berlari menuju kamar, "buuk" batang sapu itu melayang kepunggungku,Aku terpekik kesakitan, tapi raunganku tidak diperdulikan Mama yang sudah dilanda emosi memuncak.
"Aku bilang dari mana kau??" bentak Mama lagi sambil mata melotot padaku.
"Buk ...bak..buuk" batang sapu itu melayang lagi dua kali dikaki dan dilengan kiriku karena Aku diam saja,hanya menangis dan meraung kesakitan yang terlontar dimulutku ini.
"Cepat katakan ..!!!" kata Mama sambil berteriak mungkin tetangga sebelah tau jeritan tangisku dan suara Mama yang keras.
"tem....tempat....Wa-wati ....Ma" kataku terbata-bata karena sudah menangis terisak-isak, sambil mengelus tanganku yang nyilu karena hantaman batang sapu itu.
"Bohongg...!!!, aku selama ini dapat kabar kalau kau ketemu sama Jantan.. iya kan!!?" ketus Mama sambil berang.
"Kau jalan sama anak kampung sebelahkan?, Wijaya kan?,Anak siBani itu...hah..!!?" ketus Mama lagi sambil melayangkan lagi batang sapu itu kepunggung Aku.
"Ampun mak..." isakku sambil meringis kesakitan,tetapi Mama tidak perduli kali ini dia marah sekali,bahkan tidak ada Ayah yang membelaku seperti biasa,hari ini memang badanku harus kenyang dengan pukulan Mama.
"Awas kau jalan sama Wijaya lagi,aku tidak suka,kau tau bapak Wijaya itu tukang kawin pasti nurun sama anaknya,jangan kau pacaran sama dia,dia sudah tunangan sama anak siPandi,dulu mereka pacar- pacaran diwarung miso aku,apa kau tau hah.!!?" bentak Mama sambil menatap nanar Aku.
"Dia itu mau menikah sebentar lagi sama anak siPandi namanya Eva,jangan sampai aku tau kalau kau berhubungan lagi sama dia awas saja" kata Mama lagi,lalu Mama berjalan keluar dari kamar karena sudah puas memukul Aku dan memberi kabar yang membuatku syock berat.
"jdeeeeeer jdeeeer"
Sedari tadi hatiku bagai disambar petir saat disiang bolong,pukulan yang melayang berkali-kali ditubuh ini tidak sesakit dengan apa yang Aku dengar dari perkataan Mama beberapa menit yang lalu.
Enggak...enggak mungkin wijaya sudah bertunangan, enggak ini tidak mungkin, tapi tidak mungkin Mama aku berbohong, untuk apa dia berbohong padaku?,Ya Allah yang mana harus aku terima,aku tidak kuasa menahan kesakitan ini.
Dengan gemetar dan tangis pilu terisak-isak Aku turun dari kasur,Aku duduk ditepi kasur tepat didepan ada cermin tiolet.Ini seperti mimpi,barusan Aku bercumbu mesra,berkencan dengan Wijaya,lalu mendengar berita ini,sakit memang yang dipukul Mama tapi lebih sakit lagi Wijaya ternyata sudah bertunangan.
"Aku harus ketemu Wijaya,aku harus cari tau apa benar Wijaya bertunangan dengan Evi?, Enggak Wijaya bilang dia mencintaiku" gumamku sambil geleng kepala dihadapan cermin.Aku menutup muka sambil menangis pilu seakan ini semua mimpi belaka.
*****
Jam sebelas malam Aku tidak bisa tidur,hanya sesekali menangis pilu,Mama membiarkan Aku yang mengurung diri didalam kamar,Aku sekarang duduk ditepi kamar sambil menekuk kedua kakiku,tangan melingkar dikedua lututku sambil menundukan kepala.
Kabar ini membuat hati tak tenang,jiwa dirundung nestapa kedukaan mendalam.Ingin sekali Aku bertanya pada Wijaya soal tunangan dia itu,hatiku diselimuti hawa penasaran bercampur emosi,dengan badan gemetar dan lusuh Aku bangkit berdiri.
"Aku akan tanya pada Wijaya,aku harus cari tau" kataku sendiri bersuara pelan,Aku melihat kedua orang tuaku sudah terlelap pulas,dan Aku lihat Adikku juga terlelap.
Aku memutuskan hendak keluar malam ini tanpa setahu Mama dan Ayah.
Aku berjalan menuju ruang tamu dan melihat cendela samping kiri,karena pintu utama pasti terkunci dan kuncinya pasti disimpan Ayah.Perlahan Aku buka cendela sampai tidak meninggalkan bunyi engsel,karena biasanya cendela ruang tengah ini berbunyi jika dibuka.
Setelah cendela terbuka lebar,kaki kananku naik keatasnya lalu Aku melompat.Kedua kakiku sudah menapak ditanah luar rumahku.
Malam sangat sepi hanya cahaya rembulan yang menerangi jalan setapak ini,Aku menuju tempat tongkrongan Wijaya dikampung belakang.
"sreek" Aku menginjak ranting dahan kecil yang jatuh ketanah saat berjalan kaki melewati pepohonan karet, karena kampung belakang harus melewati sedikit pohon karet.Suara jangkrik dan binatang liar lain saling bersahutan.Dingin malam yang menusuk kulit tidak Aku hiraukan saat tekat hati ingin mencari kebenaran dimulut Wijaya sendiri.
"Aku sangat mencintaimu Wijaya" kataku sendiri sambil menangis berjalan menuju tempat tongkrongan Wijaya.Sesampai ditempat nongkrong Wijaya Aku melihat ada tiga Pemuda yang lagi ngobrol riang gembira,salah satunya adalah Wijaya.
"Eh jaya itu bukannya pacar kamu bang?" kata Joko saat melihatku berjalan mendekati tongkrongan mereka.Wijaya memicingkan mata melihatku sudah hampir dekat ditempat duduk mereka.Lalu Wijaya sudah berdiri,berjalan menghampiriku.
"Sayang kamu ngapai kemari?,tidak pakai sendal lagi,nanti kena duri kaki kamu,kenapa menangis?" Kata Wijaya sambil mengusap air mataku.Joko dan Sutono terheran-heran sambil menghampir Aku dan Wijaya yang berdiri didepan tongkrongan mereka.Aku juga melihat mereka bertiga minum Tuak alias Arak batak ditempat tongkrongan tersebut.
"Aku ingin bicara,tapi tidak disini" kataku ketus sambil menatap tajam Wijaya,melihat kataku yang ketus dan tatapanku yang marah Wijaya langsung menghidupkan Motornya.
"Naiklah" ucap Wijaya berharap Aku naik keatas Motor.
"Kalian tunggu disini" ucap Wijaya pada Joko dan Sutono,kedua teman Wijaya angguk kepala saja, lalu Wijaya tancap gas menuju tempat lain sembari membawa Aku.
Disepanjang perjalanan Aku dan Wijaya diam tanpa kata,Aku juga mencium aroma minuman dari belakang punggung Wijaya.
Aku pasrah saja dan diam ketika Motor Wijaya terhenti ditengah pohon karet.Wijaya turun dari Motor lalu menatapku.
"Mau bicara apa?,kenapa kamu kacau sekali sayang?,apa tidak dimarahi Mama kamu keluar malam-malam begini?" tanya Wijaya sambil memegang wajahku,lalu Aku menepis lengan Wijaya membuat dia heran.
"Kamu mabuk?" kataku sambil buang muka,lalu Aku turun dari atas motor Wijaya.
"sedikit...biasa begini kok,aku masih sadar ya" kata Wijaya sambil memeluk tubuhku dari belakang,Aku menarik badan dan menghindar dari pelukan Wijaya.
"Kenapa sih?,marah gini apa salahku?" tanya Wijaya sambil kernyit dahi,Aku memutar tubuh dan menatap tajam Wijaya.
"Katakan Abang?,apa benar kau sudah bertunangan dengan cewek bernama Eva?" kataku,lalu mata ini seketika berkaca-kaca.
Wijaya terdiam sekelak lalu berfikir sambil tersenyum. "Hahahahah..." Wijaya tertawa terbahak membuatku kernyit dahi dan kesal.
"Jangan permainkan Aku bang?,Mama sudah cerita padaku tentang kau dan Eva "bentakku membuat tertawa Wijaya terhenti.
"Lalu kau percaya?,hah...percayalah padaku kita hampir lima bulan pacaran,aku menghabis kan kencan hanya bersama kamu, setiap minggu kita ketemuan,gimana aku ketemu tunanganku?,fikir.." kata Wijaya sambil membelai wajah ini.
Aku menepis lengan Wijaya seakan tak percaya pada kata-kata Wijaya barusan.
"Mama gak setuju kita berhubungan,Aku harus apa?,aku tanya sama kamu sekarang apa benar kamu mau serius dengan aku?" kataku sambil terisak menatap sendu wajah Wijaya.
"Sumpah..aku mencintaimu Yunita,Ok kalau kamu mau aku buktikan,aku rela melepas perjaka ini untuk kamu,aku akan menikahimu,kalau Mama kamu menentang hubungan kita aku punya satu cara supaya kita bisa menikah" kata Wijaya sambil memeluk tubuhku.
"Cara apa?,aku gak mau kita pisah" kataku sambil melepas pelukan Wijaya.Lalu Wijaya mengecup bibirku sekilas dan mengusap lagi air mataku.
"Dengarkan aku" kata Wijaya sambil menatap lekat-lekat padaku.Aku akan siap apapun perkataan Wijaya yang bisa membuat kami bersatu tanpa halangan.
"Malam ini kita harus melakukan nya,aku harus menghamili kamu,ya kita harus itu sayang" kata Wijaya sambil megang kedua bahuku.Aku menepis lengan Wijaya terkejut dengan perkataannya.
"Tidak bisa Abang,aku tidak mau melakukan ini sebelum kita menikah,aku tidak mau" kataku sambil geleng kepala, lalu Aku menangis dan menyandarkan kepala didada bidang Wijaya.
"Cuma ini salah satu cara supaya Mama kamu setuju sayang,aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain membuat kamu bisa hamil,kalau kamu tidak mau tidak apa,palingan kita akan berpisah" kata Wijaya membuatku nangis histeris.
"Hikss..hikss.. tidak aku tak ingin kita berpisah,jangan ucap kata itu aku tidak mau,kumohon jangan..." kataku sambil memeluk erat tubuh Wijaya.Lalu Wijaya membalas memeluk erat Aku sembari mencium pucuk kepalaku.
"Ayolah sayang kalau kamu hamil kita bisa menikah,aku janji,kamu juga tau dimana rumah aku,kampung kita bersebelahan tidak mungkin aku pergi dari sini, aku hanya mencintaimu Yunita" kata Wijaya meyakinkan Aku,Aku melepas pelukan lalu menatap penuh cinta Wijaya.
"Baiklah...aku rela menyerahkan semua ini untuk kamu,kalau memang ini satu-satunya cara buat kita bersatu dipelaminan" kataku sambil menatap Wijaya,mendengar kata-kataku Wijaya tersenyum manis.
Demi cinta aku rela menukar mahligai dosa diatas keinginan Wijaya,Aku rela menyerahkan kesucian untuknya mungkin cara ini memang satu-satunya supaya kami direstui.
"Dimana kita melakukan nya?" kataku saat berhadapan dengan Wijaya.
"Disini sayang...aku perjaka,kau perawan adilkan?,percayalah kau esok akan hamil,lalu kita menikah" pujuk rayu Wijaya sambil mengecup lagi Bibirku,Aroma khas minuman dimulut Wijaya tercium dihidungku, membuatku tak perduli saking cintaku pada Wijaya.
"tidak apa-apa kita disini melakukan nya?, kita tak punya Alas" kataku bingung saat melihat sejumlah dahan-dahan pohon karet kering yang berguguran dibawah tanah.Sedikit lembab karena sebenarnya Jam delapan tadi gerimis melanda Desa kami.
Bersambung.
JAngan lupa lika and komennya sayang para readers.