
🌷SIANG HARINYA🌷
Entah kenapa siang ini Aku merasakan jenuh sekali, karena hari ini minggu otomatis Viva tidak sekolah, Aku memutuskan bertemu dengannya,apalagi ingat kejadian tadi malam,mungkin Viva membutuhkanku.
Aku berjalan menuju rumah Viva, ditengah perjalanan saat melewati pohon-pohon pisang yang berjejer,Hadi juga melintas berjalan lawan arah dariku,Aku ingin balik lagi tapi tidak mungkin, karena Hadi juga melihatku,Aku pasang muka ketat saat sudah melintas berhadapan dengan Hadi.
"Yun" kata Hadi saat alAku sedikit berjarak dari hadi, Aku menoleh kebelakang,Aku pandang wajah Hadi yang memancarkan penyesalan, Aku diam saja walau aku berhenti saat Hadi memanggilku.
"Maafin yang tadi malam ya,aku salah yun, aku khilaf,karena aku gak sangka kamu bisa seaduhai ini,maaf ya sekali lagi,aku juga tidak tau kalau kamu udah ada yang punya" ujar Hadi dengan wajah tertunduk dan berusaha, berharap kalau Aku melupakan kejadian tadi malam.
"Ya...sudah bang,maaf ya kalau tadi malam aku menampar kamu" jawabku sambil tersenyum tipis dan menatap Hadi yang menatap Aku juga.
"Jadi abang masih bisakan berteman sama kamu?" kata Hadi kini iya sudah tersenyum dihadapanku.
Aku angguk kepala saja dan melontarkan senyuman kepada hadi,supaya Hadi tau kalau Aku sudah memaafkan Hadi.
"Oh iya tadi malam,kenapa Viva nangis-nangis?,abang lihat, tapi karena lagi marahan sama kamu jadi malas menegur kalian"kata Hadi.
mampus apa yang harus aku bilang,aku tau kalau mereka sepupuan,kalau aku bilang yang sebenarnya,aku takut Hadi marah,entar dia mengadu pula sama orang tua Viva. ucap batinku sendiri dan merasa cemas.
Karena Aku diam, Hadi jadi menatap heran padaku,Hadi bersabar menunggu jawabanku."Sebenarnya dia nangis karena ribut, biasalah abangkan pernah pacaran,wajarlah Viva nangis" ucapku berbohong dikit,Hadi jadi angguk-angguk saja,Aku sedikit bernafas lega karena dia percaya kebohonganku ini.
"Aku kerumah Viva dulu bang" kataku sambil berjalan saja,takut kalau Hadi tanya yang lain lagi,Hadi terpaku diam karena aku berjalan saja menuju rumah Viva.
"huftt....selamat" gumamku sambil berjalan kedepan rumah Viva.
"Bolek...Viva mana?"tanyaku saat Aku melihat mama Viva lagi duduk diruang tamu sendirian.
"Ow mandi,masuk yun" kata mama Viva,lalu Aku masuk saja sambil mengucap salam,aku berjalan menuju kamar Viva, tapi dia tidak ada disitu, tiba-tiba Viva berlari memakai handuk, Aku terkejut.
Dia sengaja berlari supaya tanda kissmark tidak terlihat sama mama Viva.
"Cepat pakai baju kamu" kataku sambil suara pelan,supaya mama Viva tidak mendengar.
cepat-cepat sahabatku itu memakai baju panjang yang menutup leher.
"Kita kemana Vi?,aku bosen" tanyaku saat Viva sudah mulai pakai lipstik. lalu Viva melihat Aku didalam cermin.
"Kita kewarung Mbak Rika aja, banyak cowok yang lewat,cuci mata hihihi..." kata Viva sambil tersenyum,sepertinya kejadian tadi malam tidak pernah terjadi,Aku jadi heran.
"Vi kamu gak sedih lagikan?,jangan difikirin ya" kataku sambil megang pundak Viva. Viva geleng kepala dan tersenyum,tapi Aku tau dari bahasa yang dipancarkan wajah Viva, kalau sebenarnya dia masih bersedih.
"Ayo kita keluar,aku udah siap" kata Viva sambil mengkuncir rambut ikal panjang itu.
Kami meminta izin pada mama Viva untuk jalan sebentar, setelah itu kami menuju warung Mbak Rika dengan jalan kaki. Sebenarnya desa kami ada tempat wisata yang digemari orang kota, kebanyakan yang datang orang dari kota T, jadi kalau setiap hari minggu begini pasti jalanan aspal ramai.
Sampai disana kami duduk dibangku kayu yang memanjang,warung Mbak Rika kecil-kecilan, tetapi selalu ramai karena perlintasan orang lalu lalang, sambil duduk kami membeli jajanan.
"Suit suit suit" siulan seorang pria yang melintas melihat Aku dan Viva yang lagi duduk, karena jelek kami menatap sinis saja, apalagi tatapan pria itu seperti pria hidung belang,kami mengacuhkan pria itu sampai iya pergi dari hadapan kami.
"Gak ada yang ganteng,mana sih pria ganteng kayak sahruk khan" kata Viva sambil menaikan alis,mata Viva masih melihat arah jalanan tersebut.
"Cowok gantengnya udah mbak kantongi" canda Mbak Rika ternyata dia mendengar ucapan Viva.
Kami cengengesan saja,seorang pria naik Rx.King melintas dari hadapan kami, Viva tebar-tebar pesona tapi sayang dicuekin.
"Ahahaahahaah" Aku jadi tertawa ngekek karena Viva kesal, cowok tersebut jual mahal.
"Puas..puas..mentang-mentang aku jomblo" kata Viva sambil mentoyong kepalaku.Aku tetap tertawa saja.
Sampai hari mulai sore kami masih duduk disitu,Aku mulai jenuh karena tidak ada faedahnya.
"Ayo balik udah sore" ajak Aku saat Viva hendak membeli jajanan lagi diwarung Mbak Rika.
"Ok, Mbak Rika entar juga mau tutup" sahut Viva ternyata dia juga berfikiran sama denganku.
Akhirnya kami berjalan pulang,ditengah gang kami pisah jalan soal viva ada keperluan lain, lalu Aku berjalan menuju kerumah, saat didepan pintu rumah Aku melihat sepatu sport orang,sepertinya ada tamu,Aku masuk dari pintu belakang malas kalau dari depan.
Aku membuka pintu belakang dapur,lalu masuk kedalam rumah,saat hendak kekamar langkahku terhenti karena mendengar suara yang Aku kenal,suara yang Aku rindukan selama ini.
*A*pa Riandi ya yang datang bertamu, suaranya mirip banget,tapi mana mungkin dia datang sekarang,ah mungkin aku banyak berkhayal tentang dia,sampai-sampai aku berhalusinasi. ucap batinku.
"Tertawa itu" gumamku saat didalam kamar, Aku penasaran siapa dia,apalagi tertawa dia mirip banget sama Riandi, Aku intip dari celah kamar,karena rumah kayu Aku gampang melihat kedepan ruang tamu.
"Riandi" gumamku Aku jadi senang dan girang nya bukan main.
Riandi hendak kekamar mandi,Aku tau yang jalan itu dia,cepat-cepat Aku berjalan menuju kedapur.
"Abang" ucapku sambil melihat Riandi yang hendak tutup pintu kamar mandi.
"Dik..." sahut Riandi sambil menatapku penuh arti. "tunggu ya abang kebelet" kata Riandi menutup lagi pintu kamar mandi.
Aku menunggu disamping rumah, duduk dengan risau tidak sabar menumpahkan rasa rindu ini.
"Sayang" kata Riandi yang udah datang diteras samping, Aku berlari kecil menuju Riandi, aku memeluk Riandi dia menangkap tubuhku,kami menumpahkan segala kerinduan ini.
"Abang kangen,mangkannya kemari" kata Riandi saat mengelus punggungku.
"Aku juga bang" balasku masih memeluk Riandi dengan erat, Riandi mencium pucuk kepalaku dengan lama,Aku jadi tenang, kami melepas pelukan,kami bertatapan,Aku lihat mata Riandi sangat teduh.
"Dari mana Dik?,gak selingkuhkan?" tanya Riandi yang masih menatapku dengan penuh arti.
"Enggak... sama temen tadi duduk diwarung depan" kataku sambil senyum kepada Riandi.
"Awas aja kalau macam-macam" sambung Riandi sambil menyelipkan rambutku ketelinga, itu kebiasaan Riandi menyelipkan rambutku, kata Riandi biar lebih leluasa wajah Aku terlihat Riandi.
"Sumpah abang kangen" kata Riandi lagi sambil memeluk tubuhku kembali.
"Sesak abang,erat banget peluknya" kataku sambil cubit kecil perut Riandi.
Riandi tersenyum lalu kami duduk berdua disamping teras,bercerita ngapai aja selama tidak ketemu?,seperti biasa dia membuatku nyaman.
"Dik ayo jalan-jalan" ajak Riandi kini iya berdiri dari duduknya. "Ayo" jawabku sambil girang.
Walau berjalan kaki sambil bergandengan tangan kami sudah bahagia,saat melintas disebuah parit besar langkah kami terhenti.
"Dek jangan lewat sini,kayaknya lapuk titi ini" kata Riandi sembari memperhatikan titi papan yang ada diselokan besar.
"Sini sayang abang bantu" kata Riandi sambil menarik lengan kananku...
tidak sabar Riandi menggendongku,kepalaku bersandar dipunggung Riandi.
Lalu Riandi menurunkan Aku, kami berjalan lagi kejalan aspal, didepan ada pohon karet.
"Abang capek?,duduk sebentar disitu yuk" kataku saat melihat bangku panjang dari bambu dipinggir pohon karet.
Riandi nurut saja lalu kami berjalan menuju bangku tersebut.
"Abang inap berapa hari?"tanyaku saat duduk berduaan dengan Riandi.
"Sehari sayang,abang gak bisa libur lama, ini aja bolos kerja"jawab Riandi buat aku jadi gak enak hati.
"Wah bolos,entar abang dipecat aku gak mau" aku jadi risau lalu memandang wajah Riandi, walau remang Aku masih bisa melihat bibir tipis itu.
"Demi adik apa yang enggak, bintang abang panjat dimesjid,kalau adik pingin bintang" kata Riandi sedikit ngegombal.
"Huhuhu...jangan goda aku,gak mempan" balas ku sambil menjulurkan lidah.
"Jangan difikirin dek, yang penting kita ketemu" kata Riandi tersenyum manis, Riandi menatapku lagi lalu kami bermesraan, kami bercumbu dibawah teduhnya pohon karet.
Kami hampir saja kelepasan saat bercumbu,Aku mengerti Riandi tidak mau melakukan sejauh itu,karena dia sangat menghargai Aku.
"Begini kalau pacaran ditempat gelap,pasti setan dimana-mana,fikiran yang mengendalikan kita berbuat maksiat" ucap Riandi saat menatap aku yang tertunduk heran.
"Makasih ya bang" kataku sambil membelai lembut pipi Riandi,Riandi memejamkan mata saat Aku memebelai pipi Riandi.
Lalu Riandi mengecup mesra punggung jemariku.Aku tersipu malu dan tertunduk, sambil menatap sesekali wajah yang membuatku selalu memikirkannya.
"wlWoi ngapai disitu !!! " teriak Pria setengah baya ,saat mergoki kami berduaan dipinggir pohon karet,kami terkejut dan berdiri dari tempat duduk.
"Woi kalau mau mesum jangan dikampung ini, pergi kalian !!, besok aku hancur kan bangku itu" kata Pria itu lagi sambil berjalan mendekati kami berdua.
"Dek jangan takut ada abang" ucap Riandi mantap sambil genggam jemariku, membuat
Aku merasa terlindungi. Mungkin Riandi akan melawan peria tersebut.Pria itu semakin mendekat.Riandi sudah pasang langkah tegap.
"Dek ayo...satu ...dua ..tiga.." Riandi menarik lenganku, kami berlari..Aku salah paham Aku kira Riandi seperti didalam film, melawan dengan kekerasan.
Kami berlari sampai ditengah jalan menuju rumahku. Nafas kami tesengal karena berlari kencang.
"Aku kira abang mau melawan Kakek itu, ternyata kabur huh...gak gentel" ucapku saat berhenti berlari sembari mengatur nafas.
"Abang bisa melawan dia dek, tapi kalau dia mengadu sama orang kampung bisa gawat, apa adek mau Ayah sama Mama tau" kata Riandi sambil mengacak rambutku.
*B*enar juga yang dia bilang, aku kok gak terfikirkan, dasar Riandi ada-ada saja akalnya, ucap batinku.
"Capek sayang sini abang gendong" kata Riandi sambil jongkok menawarkan punggung nya. Awalnya Aku malu dan menolak tapi Riandi memaksa,terpaksa Aku naik kepunggung Riandi.
Malam semakin larut Riandi masih saja menggendongku.Karena rumahku sedikit jauh.
"Abang gak capek?"tanyaku karena Aku tau dia juga berlari tadi.
"Enggak ah... udah kalau ngantuk sandar aja dipunggung abang,entar lagi kita sampai rumah" balas Riandi sambil berjalan lagi.Aku sandarkan kepala dipunggung Riandi, nyaman sekali hati ini. Andai bisa aku memutar waktu lebih lama Aku ingin seperti ini terus.
"Dek.... dek ...." panggil Riandi langkah Riandi terhenti.
"Hemmm" gumamku karena Aku mengantuk hendak tertidur, saking nyamanya bersandar dipunggung Riandi.
"Ydah sampi sayang" kata Riandi, Aku terkejut dan melihat kami udah dibelakang rumah, rasa ngantuk hilang karena sudah sampai dirumah.
Riandi menurunkan Aku, lalu kami berdiri berhadapan.
"Tidur ya..udah malam,entar Ayah dan Mama marah,Abang gak mau kepercayaan mereka hilang" kata Riandi sambil kecup keningku sekilas.
"Abang juga ya" balasku sambil memejam mata saat Riandi kecup lagi pipi dan keningku.
Riandi membuka pintu dapur rumahku, kini Aku masuk duluan dan berjalan menuju kamar, sedangkan Riandi berjalan keruang tamu ternyata Ayah belum tidur masih menonton televisi, sedangkan Mama sudah molor didalam kamarnya.
Aku mendengar Riandi ngobrol dengan Ayah diruang tamu, mereka ngobrol lepas dan akrab,buatku yang didalam kamar berbunga-bunga,hari ini sangat membahagiakan.
*************
🌷ESOK HARINYA🌷
Siang ini Riandi akan pulang, Riandi sudah pamit dengan mama tadi pagi duluan, karena Mama berdagang jadi tidak sempa sedangkan Ayah masih kerja karena hari ini hari senin.
"Abang pulang ya dek, jaga diri baik-baik, karena semalam mama bilang sama abang, adik minggu depan balik keAsrama" kata Riandi saat memakai sepatu hendak siap-siap pergi.
"Ini alamat abang,kalau adik rindu kirim surat, abang juga udah tau alamat Asrama adik dikota M,abang nanti kirim surat ya sayang, jangan sedih gitu jadi gak enak mau pulang" kata Riandi memeluk Aku langsung, karena dari tadi Aku memasang raut kesedihan.
"Aku tunggu surat abang, awas kalau nipu" balasku sambil memeluk iya erat sekali.
"Mana mungkin abang lupa sama wajah imut ini, gadis nakalku" sambung Riandi sambil melepas pelukan dan menatap Aku dengan senyum.
"Hati- hati ya abang,pasti aku kangen sama abang nanti" kataku sambil cemberut. Riandi kecup keningku lagi.
"Sumpah abang gak mau ninggalin adik, tapi kita punya tanggung jawab masing-masing sayang, adik sekolah,abang kerja, jangan sedih ya" rayu Riandi supaya aku mengerti, karena dia tau Sku tukang merajuk sedikit egois.
Riandi sudah tau sifat dan sikapku mungkin karena iya lebih dewasa dariku,jadi Riandi selalu bersabar kalau aku lagi marah.
Akhirnya airmata ini gak bisa terbendung saat Aku melihat Riandi naik kedalam Bus, entah kapan lagi kami akan bertemu. Aku melambai tangan saat Riandi melihatku dari kaca cendela bus tersebut.
bersambung*