yunita

yunita
Yun bab 4



Hari demi hari Aku semakin akrab dengan Riandi,ciumam kedua,ketiga dan seterusnya sudah Aku rasakan saat bersamanya setiap kami kencan,walau semakin akrab Riandi masih bisa menjaga batas-batas disaat kami berdua,karena dia lebih dewasa dariku, Aku bahagia bisa kenal dengan Riandi.


Mama juga mulai akrab ngobrol bersama riandi,mungkin Mama lebih bisa membaca sifat asli Riandi dari bahasa tubuh dari ucapan juga.Mungkin karena mereka berdua sama-sama sudah dewasa kali ya.


Hari ini jadwal operasiku tiba,Aku memakai baju berwarna hijau,Suster juga menyuruhku baring diatas berankar dorong,karena hari masih siang mungkin Riandi tidak datang.


Terlihat mama mengikuti Aku yang didorong para Suster masuk keruangan operasi.


Kini Suster mulai menginfus lengan kananku karena Aku kidal,jadi lengan kanan yang diinfus.


Aku memejamkan mata tidak tau apa yang terjadi lagi,mungkin Aku sudah dioperasi, baru pertama kali ini Aku seperti ini, jadi harus menyiapkan mental dan berdoa supaya selamat.


Perlahan Aku membuka mata,Aku sudah diruangan ICU yang dingin ber AC,mungkin Aku sudah siap dioperasi,karena Aku lihat perut kananku sudah diperban.Aku hendak memakai bantal tapi tidak boleh dilarang suster, kata Mama, Suster mengadu kalau Aku bandel karena saat diruangan operasi Aku dibius gak mempan, lama sampai aku tak sadarkan diri.


"Ma aku ingin pipis"ucapku saat melihat Mama yang berdiri disamping kiriku.Mama diam lalu pergi mungkin hendak mengambil pispot tempat tampungan air seni pasien.Aku memejamkan mata lagi seraya menunggu Mama.


"Dik" suara itu sepertinya Aku kenal, Aku membuka mata ternyata memang dia Riandi yang tersenyum melihatku,bahagianya saat selesai dioperasi ada Riandi,ternyata diupaya kan datang siang hari ini demi melihatku selesai operasi,karena sebelumnya Riandi yang kasih Aku semangat supaya tidak takut menjalani operasi ini.


Riandi megang jemari kiriku sambil duduk menatap wajahku, padahal Aku sudah sesak sekali ingin pipis,tapi Aku tahan.


Duh Mama lama banget ambil pispot saja,gak mungkinkah Aku bilang sama Riandi Aku mau pipis,Aku malu, ya tuhan udah gak tahan lagi ucap batinku sendiri.


"Seeer" air seni itu mengalir sendiri diarea bawah,Aku jadi cemas dan menggigit bibir bawah.Riandi melihat wajahku yang berubah.


"kenapa dik?,kok pucat gitu?"tanya Riandi sambil menatapku penuh keheranan.Gimana Aku mau jawab ya kalau Aku pipis dicelana.


mau taruh dimana mukaku ini.


"gak apa bang"jawabku sambil melirik kearea bawah karena sudah basah.


Tidak berapa lama Mama datang membawa pispot,duh siMama ada Riandi bawa-bawa itu, Riandi jadi ngerti apa mauku, dasar siMama gak lihat kondisi,batinku berkata.


"Yun ini" kata mama lagi,membuatku semakin kikuk dihadapan Riandi, Riandi menatapku dan tersenyum sepertinya dia tau kenapa wajahku tadi begitu,Aku jadi diam membisu dan memejamkan mata.


"Rian kamu keluar dulu,dia mau kencing" kata Mama sambil mendekatiku. "Ya bu" jawab Riandi sambil tersenyum penuh arti,sekilas Riandi menatapku dan geleng kepala.


"lho kok basah !" kata Mama dengan suara kuat,padahal Riandi masih berjalan kearah keluar,pria ganteng itu mendengarkan lalu pergi keluar.


"tadi gak tahan Ma,jadi keluar sendiri' jawabku karena rlRiandi udah keluar dari ruangan ICU.


"udah gadis kok ngompol" ketus Mama sambil mengganti pakaian dalamku,karena alAku masih lemah.


Kenapa Mama ini ngomong suara keras tadi, pasti Riandi tau kalau Aku ngompol,ih malu nya diriku,kayak mana kalau Aku ketemu dia lagi, argggg..., siMama macam tak pernah muda aja.Ucap batinku sendiri serasa cemas.


Memang benar selesai mlMama mengganti pakaian dalamku,Mama pergi keluar sebentar,Riandi masuk lagi dan tertawa renyah, sepertinya Aku tau kenapa Riandi tertawa pasti dia mengerti perkataan mama tadi, atau Mama mengadu saat bertemu Riandi diluar ruangan ini, sebab Mama suka cerita tentang Aku kecil,tentang aibku,Mama ini buat kesal saja.


"Abang kok tertawa?,gak ada yang lucupun" kataku sambil menatap sinis Riandi.Riandi langsung duduk dan menatapku lalu tertawa lagi,buat Aku semakin kesal.


"Puas tertawanya?,buat orang kesal aja" kataku sambil buang muka dan cemberut.


"Merajuk....abang baru tau kalau pacar aku ini bisa ngompol juga" kata Riandi sambil tertawa lagi. Aku buang muka dan malu, memang riandi sudah tau.Jadi mau apa lagi yang harus Aku tutupi.


"jangan ngambek,abang paham kok sayang, sini satu harian gak abang cium" kata Riandi sambil mencium keningku sekilas.


"Aku gak tukang ngompol ya, rasaku keluar sendiri air ini,biasanya aku tahan kok menahan rasa ingin buang air" ucapku lagi biar Riandi tidak ielfil kalau aku pacarnya bukan tukang ngompol.


"Abang paham kok, suer dek,karena ada yang gitu,maklum operasikan makan waktu beberapa jam jadi air seni ngumpul, kalau sudah sadar baru ingin buang air, apa lagi buang angin" kata Riandi sambil belai rambutku.


Walah malah cerita buang angin, makan saja dihadapan riandi aku malu, apa lagi cerita begituan ucap batinku sendiri.


"Dek gak haus?,biasanya kalau habis operasi haus" kata riandi sambil menuang air putih kedalam gelas, Aku diam membisu saja, lengan riandi menopang kepalaku,lalu menyodorkan gelas berisi air putih dimulut aku, selesai minum Aku mengucap terima kasih karena dia memperhatikanku.


"Nanti kalau keluar daru ICU adik makan ikan gabus banyak,biar cepat kering jahitan operasinya,biar cepat sembuh kita jalan-jalan lagi"kata riandi sambil mencium punggung jemari tanganku.


"Iya bang,abang gak kerja?"tanyaku karena ini masih siang,pasti orang-orang masih beraktivitas.


"Abang minta izin kok sama pengawas, udah jangan difikirkan yang penting adik cepat sembuh sayang" jawab Riandi sambil belai rambutku dengan mesra,Aku kini semakin berani menatap wajah Riandi,mulai terbiasa karena setiap hari kami bertemu.


Demi aku dia izin kerja, padahal dia karyawan perkebunan susah kalau minta izin, mungkin itu sedikit pengorbanan Riandi ingin beri Aku semangat saat operasi,ow Riandi aku jadi sayang banget sama kamu ucap batinku.


"jangan ngelamun,entar kesambet" kata Riandi sambil menggoyang jemariku yang dari tadi riandi genggam erat.


"gak melamun bang, cuma inget aja kalau abang siang ini bisa duduk disini,Aku jadi gak enak" jawabku seakan risau kalau Riandi dipecat, atau diberikan sangsi sama atasan Riandi.


"udah abang bilang jangan difikirin, yang penting kamu sembuh sayang" jawab Riandi sambil cubit pelan pipi kiriku, Aku jadi diam dan tersenyum saja.


"ow iya dek,didepan ada bapak-bapak kata mama itu Ayah adek,entar lagi pasti kedalam" ucap Riandi tiba-tiba sambil mata Riandi menghadap cendela, cendela yang berada disisi kananku.


"Abang gak takut kalau ketemu Ayah?,lagian mereka belum tau kita pacaran" kataku sambil menatap Riandi yang menundukan kepala.


Riandi menatapku dan tersenyum.


"Ngapai takut orang anak gadisnya gak abang apa-apain kok" jawab Riandi lalu megang kedua belah pipiku.


Lalu kami ngobrol lagi,sampai suster datang memberikan injeksi diselang infusku, setelah itu riandi pamit keluar karena ingin merokok, Aku paham.


Aku melihat tubuh tegap itu berjalan keluar ruangan ICU, Aku membuka gorden berwarna hijau,karena jarak cendela ruangan dekat disebelah kanan,Aku lihat Riandi ngobrol dengan Ayahku, mereka seperti akrab sambil tertawa, benar-benar pria yang berkharisma, pandai sekali dia membuat Ayah dan mamaku tersenyum gitu.


Aku semakin berkhayal siapa tau memang Riandi jodohku,walau perbedaan usai kami yang jauh,tapi Riandi banyak mengajariku tentang cinta. Benar kata teman-teman punya cowok serasa asyik membawa kita terbang keawan,membuat kita berkhayal seperti orang gila, ah memang benar. Ucap batinku.


Beberapa hari kemudian Aku keluar dari ruang ICU, apalagi Aku sudah bisa duduk,berjalan pelan dan makan dengan lahap, Aku selalu semangat karena Riandi tak lepas dari sisiku.


Riandi terus datang beri aku suport, beri Aku cinta kasih, beri Aku kasih sayang.


Sampai Aku tidak bisa jauh dari Riandi,entah kenapa perasaan ini terus semakin kuat.


Sampai diruangan baru Aku tetap ditemani Riandi,Mama sudah mempercayai Riandi sampai hari ini Mama menitipkanku kepada Riandi,untuk menjaga Aku seharian, karena Mama hendak pulang kedesa,Aku mengerti karena tidak mungkin mama terus menjaga Aku, adik masih kecil dia butuh perhatian juga, jadi Aku gak boleh egois.


"Dik udah ada kemajuan?,abang dengar kayak nya entar lagi adik udah boleh pulang" kata Riandi saat duduk berhadapan denganku.


"Udah bang tidak sakit lagi, jangan bilang pulang bang,entar kita gak ketemu lagi" jawab ku sambil masang muka sedih.


"Lho kok gitu,abang bisa datang kerumah sayang, jangan sedih nona cantik" kata Riandi sambil menyelipkan rambutku ketelinga.


"Kalau aku balik kekota M kita pasti gak bisa ketemu lagi bang" sahutku cemas dan menaikan alis.


"Ada surat,abang akan kirim surat buat kamu, jangan sedih, sini abang peluk" jawab Riandi dengan tersenyum,Riandi mendekap tubuhku dengan erat,Aku juga membalas pelukan Riandi.


seperti ini terus bang,jangan pernah melepas pelukanku,Aku gak tau apa yang terjadi nanti jauh darimu Riandi. ucap batinku bersedih.


Riandi melepas pelukanku, lalu Riandi mengecup keningku sekilas.


"Abang mulai cinta banget sama kami dik, abang janji gak akan meninggalkan kamu, abangkan tunggu sampai kamu tamat kita kepelaminan ya" kata Riandi sambil belai lagi rambut panjangku yang sedada.


Ucapan Riandi menyentuh kalbuku,janji Riandi membuatku semakin terbang sampai kepuncak,hari yang indah saat ucapan itu terlontar dari bibirnya. Aku jadi berharap.


"Dek kok diem saja?" tanya Riandi karena Aku diam membisu, Riandi tidak tau Aku berkhayal tentang dia.


"Dik" kata Riandi lagi membuat lamunanku buyar, Aku jadi tertunduk malu, dan berani megang jemari Riandi.


"janji abang Aku pegang,Aku bahagia kenal sama kamu bang" ucapku beranikan diri kali ini, sampai Aku meletekan kepala didada bidang Riandi.


"percaya dek, abang pegang janji abang sama adik, oh iya kita ngomong-ngomong apa adik gak lapar?,masa makan cinta doang" kata Riandi merusak momen indah ini.


"hemm.. sebenarnya lapar,tapi abang ajak mesra'an melulu" jawabku sambil memutar mata saat masih duduk dihadapan Riandi.


Riandi berdiri dari duduk lalu mengambil sepiring nasi buatku, Aku sebenarnya malu kalau makan dihadapan Riandi,tapi Aku tepis rasa malu ini,kalau Aku begini terus entar Riandi gak nyaman lagi.


"Abang suap ya" kata Riandi sambil mengambil sendok lalu duduk dihadapanku lagi.


"Enggak biar aku saja" aku menolak karena tidak ingin buat Riandi repot.Riandi menatapku Aku mengerti tatapan itu, lalu Aku membiarkan dia menyuapi Aku,Aku mengunyah makanan itu dengan anggun, padahal bukan tipeku makan berlama-lama, kalau bisa dengan jarak berapa menit nasi dipiring habis.


"Kalau makan jangan lama, kata orang jaman dulu cewek kalau makan lama pasti kerjanya lama,kalau makannya cepat pasti kerjanya cepat" kata Riandi entah itu pancingan buat Aku gak zaim lagi,atau memang ada perkataan jaman dulu seperti itu.


langsung Aku tarik piring dari tangan Riandi, Aku rampas sendok ditangan Riandi.


Aku makan dengan lahap,membuat riandi menelan ludah karena melihat asliku makan.


"Sebenarnya abang udah tau kalau adik itu makan dengan lahap,gak kemayu" kata Riandi sambil mengambil sisa nasi ditepi bibirku.


what?..pasti mama ini yang kasih tau kalau Aku tomboi,atau makanku kayak kerakusan, dasar simama bocor.. kata batinku sendiri.


"Abang tau dari mana?"tanyaku sambil mengkerutkan dahi, lalu malu dan tertunduk.


"Gak usah malu gitu, abang suka adik bukan dari sikap itu.jangan difikirin ini minum nya" kata Riandi sambil nyodorkan air putih.


"Ya.. sudah deh,aku gak akan zaim lagi ehehe.Aku takut abang malu lihat asliku" sahutku sambil cengengesan setelah itu Aku minum air putih pemberian Riandi.


"Nah gitu lah, abang suka adik itu apa ada nya, jangan ada apanya" sambung Riandi sambil tertawa kecil.


"Uh..ada apa nya" ketusku sambil cemberut melihat Riandi.


"Gadis kecilku ini tukang merajuk, jangan ngambek nanti dicium kecoak" kata Riandi sambil mencubit pipi kananku.


"Mana mungkin kecoak, mending abang yang cium" kataku sambil buang muka.Riandi jadi mencium kedua pipiku.


"Dari pada kecoak mending abang yang cium" kata Riandi sambil mencet hidung bangirku.


"Alah bilang aja memang abang yang mau cium, pakek bilang kecoak lagi" tanyaku mulai merepek.


"Ya.. menang dia" kata riandi sambil gelitik perutku sehingga Aku ngekek.


"Duh.. pelan bang bekas operasiku" kataku sambil menangkap lengan kanan Riandi.


"Ah iya, maaf ya dik, abang lupa " sambung Riandi sambil elus perut sebelah kananku ini.


"Adik istirahat ya,abang keluar bentar mau merokok" kata Riandi sambil berdiri dari duduknya.


"Duduk diteras sampingkan, adik ikut" kataku sambil manja kepada Riandi, Riandi tidak bisa menolak kalau Aku memasang wajah imut, lalu Riandi megang pucuk kepalaku sambil berjalan keteras samping.


Lagian memang Aku jenuh kalau didalam ruangan saja, mending bersama Riandi hirup udara segar sambil mesra-mesra'an diteras samping ruangan pasien.


"Suster dek" kata Riandi sambil melepas pelukan kami, Aku jadi panik dan pura-pura jaga jarak.


setiap hari kami seperti itu, curi-curi kemesraan kalau suasana sepi, kalau ada orang atau suster kami menjaga jarak.


bersambung*