
💖SEKOLAH💖
Suara burung berkicau merdu,sinar mentari menyapu bersih embun yang melekat didedauan,pagi yang cerah hati menjadi riang gembira,Yunita sudah menerima kenyataan soal Wijaya yang iya dengar kemarin.
"Sarapan lontong ternyata" kata Yunita saat duduk dimeja makan,Yunita menikmati hidangan yang disediakan Indi diatas meja makan.Pagi ini Yunita akan berangkat kesekolah.
"Itu kan kursi aku,aku mau duduk" kata Anton adik Yunita yang mendorong Yunita saat Sarapan. "Pakai kursi lain" sahut Yunita sambil melanjutkan sarapannya.
"Mama mbak ini" ngadu Anton karena Yunita tidak mau menuruti kemauan Anton,sebenarnya salah Yunita iya duduk dikursi kepunyaan Anton.Jelas saja kalau Anton menyuruh Yunita pindah tempat.
"Arggg.." Yunita kesal, "Tuuk" Yunita menjotos kepala adiknya karena kesal,Wajah Anton mulai mewek "Mamaaa!" teriak Anton sambil menangis histeris,Yunita kebingungan karena Anton menangis,Yunita takut juga kalau dipukul Mama,karena kejadian bukan baru kali ini saja Yunita menjotos kepala adiknya.
"Rasain" kata Yunita sambil memakai sepatu menyudahi sarapannya,Yunita langsung berlari keluar rumah menuju sekolah.
"Yunitaaa !" panggilan seru Indi mungkin sudah tahu kalau Yunita menjotos kepala Adiknya.
"menyusahkan saja" kata Yunita sendiri sambil berlari menuju sekolah.Hos...hos..hos
Yunita berhenti berlari karena sudah jauh dari area rumah Yunita. "huh..tida enak punya adik kecil manja keterlaluan" gumam Yunita sambil berjalan santai.
"Yuun..!" panggil Indar dari belakang Yunita,Yunita menoleh dan melihat Indar berlari kearah nya.Indar teman sekolah Yunita ternyata rumah Indar dibelakang rumah Wati,sempat juga Indar tahu pribadi Yunita dari Wati.
"Tumben jalan kaki?,biasanya kamu diantar bapak kamu?" Tanya Yunita sambil jalan barengan bersama Indar.
"Malu dong...sudah besar gini pakai diantar segala,apalagi kalau kepergok cowok aku" kata Indar sambil tersenyum.Walau mereka belum akrab tampak kalau Indar anaknya baik.
"Ow.. gitu,emang nya pacar kamu anak mana?" Tanya Yunita penasaran,iya ingin juga akrab dengan Indar mana tau bisa bertukar fikiran masing-masing.
"Anak kampung sebelah,ya tapi tidak satu sekolah dengan kita,aku dengar kamu juga punya pacar?" Jawab dan tanya Indar dia juga ingin akrab dengan Yunita.
Mendengar kata pacar Yunita sedikit gugup karena dia baru patah hati,apalagi itu yang membuatnya sampai sekarang tidak bisa lupa dengan kenyataan cinta yang iya jalani.
"Kok diem?,apa bang Wijaya menyakiti kamu?" Tanya Indar ternyata dia sudah tahu pacar Yunita,Pertanyaan Indar membuat Yunita sedikit sakit,tapi Yunita mengerti bahwa Indar tidak tahu cerita yang sebenarnya.
"Entar kamu tahu sendiri,aku lagi malas ngomongi soal pria itu" kata Yunita sambil berjalan fokus kedepan,padahal mata Yunita sudah berkaca-kaca tapi iya menoleh berusaha menutupi luka hatinya.
"Eh itu Merry" kata Indar sambil melihat Merry teman sebangku Indar,Rumah Merry tak begitu jauh dari sekolah mereka, jadi Merry berjalan kaki hanya beberapa menit menuju sekolah mereka.
"Woi...ayo cepat entar telat" teriak Merry saat tahu Indar melambai tangan kearah Merry yang sudah dipintu gerbang sekolah.
"Ayu yun !" seru Indar sambil menarik lengan Yunita menuju gerbang sekolah,Yunita sedikit lega karena Indar melupakan pertanyaan soal pacar tadi,Yunita bernafas lega.
"Eh puput mana?" Tanya Indar dengan Merry karena rumah Puput yang lebih jauh dari rumah ketiga gadis ini,Puput harus menaiki bus besar menuju arah Kota yang melewati kampung kami.
"Mungkin telat,wajar rumahnya jauh,Kamu kok bisa sama Yunita?" tanya Merry sama Indar sambil tersenyum kepada Yunita. Yunita membalas senyum Merry.
"Kami ketemu dijalan" jawab Indar yang sudah duduk dikursi kelas,begitu juga dengan Merry dan Yunita.Mereka melanjutkan ngobrol lagi sebelum Bel tanda masuk berbunyi.
"Eh kalian lihat tuh rafa,ih suka sama kamu ndar,jadian kenapa?"kata Merry sambil melirik rafa.Indar buang muka saat rafa melihati indar terus alias curi-curi pandang.
Rafa itu temannya Fandi dan riyu mereka murid paling ditakuti dikelas,sikap Rafa kalau bertemu Indar sedikit berbeda dari teman cewek lainnya,tampak kalau Rafa naksir Indar. sedangkan Fandi murid paling resek dan mulut nya lemes pada semua murid.
Beda dengan Riyu,suara Riyu sangat mahal jika ditanya dia membungkam saja,sikap Riyu juga dingin,tapi pada saat Yunita hadir disekolah mereka Riyu selalu saja mencuri pandang Yunita,walau Yunita tahu dia cuek saja.
"Eh adek Yun...dicariin Abang riyu" Ledek Fandi saat melihat Riyu mencuri pandang dengan Yunita,spontan semua murid melihat kearah Yunita,jadi pusat perhatian.
"Diam kau Fandi,resek...urus saja urusan kamu" ketus Indar dia juga tidak suka dengan Fandi,Fandi sedikit takut kalau melawan indar karena ada Rafa yang menjadi Bos ditempat tongkrongan sekolah.
"Kau jangan jahil" kata Rafa saat melotot kepada Fandi.Riyu hanya diam saja tidak berani lagi menatap Yunita takut kalau Fandi tahu dan berkoar-koar didalam kelas.
"Ibu Guru woi.." teriak salah satu murid yang sedari tadi berdiri didepan pintu,Murid-murid duduk tertib dikursi masing-masing,tampak kalau Puput baru masuk kedalam kelas karena Bel Baru saja berbunyi.Jadi Puput belum bisa dikatakan telat.
"Busnya mogok" kata Puput saat Yunita melihati Puput duduk disebelahnya.Puput tersenyun lalu membuka tas ransel cepat-cepat karena Ibu Guru sudah duduk dimeja depan.
"Mogok kenapa?" tanya Yunita penasaran bersuara pelan takut kalau mengganggu fokus teman-teman lain.Yunita juga mengeluarkan buku Matematika,karena mata pelajaran pertama Matematika.
"Ceritanya panjang entar saja"kata Puput sambil membuka kotak pensil yang iya sediakan diatas meja,Yunita juga mengerti karena Ibu Guru sudah mulai menerangkan mata pelajaran tersebut.
Indar berciri hidung besar selaras dengan bibirnya,berkulit sawo matang dan mempunyai rambut ikal sepanjang dada,wajah yang bulat.kata orang sedang-sedang saja tapi masih enak dipandang.Sifat indar sedikit sensitif tetapi baik,dia juga tidak pelit kepada teman.
Sedangkan Merry berkulit kuning langsat,muka persegi hidung pesek tapi imut dan bibir tebal,dia juga sedang-sedang saja tetapi sifat nya mau menolong teman,dan penurut kepada teman.
Puput berbadan kecil,muka baby face dan bekulit putih,matanya cokelat dan hidung nya mancung,dia manis jika tersenyum.sifat nya netral saja,baik dan gampang tersenyum.
Jam istirahat tiba murid-murid berhamburan keluar dari kelas masing-masin.Yunita beserta Merry,Indar dan Puput berjalan kewarung langganan mereka,walau Yunita murid baru dia sudah terlihat akrab dengan teman sekelasnya.
"Disini saja" Kata Indar duduk diwarung yang mereka sebut warung Bulek lontong.Yunita memesan lontong dan duduk disebelah Indar.
"Merokok yun" kata Indar sambil mengeluarkan sebatang rokok.
Yunita terkejut karena ternyata teman barunya texas dan metal. "Kalau stres ini obatnya" kata Indar sembari mnghidupkan pemantik membakar rokok dan menghisapnya.
Kebetulan Yunita lagi stres memikirkan percintaannya.Yunita ikut-ikutan merokok.
"Uhuk..uhuk"sedikit batuk saat belajar merokok.
"Wah aku kalah" terdengar suara Fandi dari belakang rumah bulek lontong,kelihatannya pemilik warung membiarkan sejumlah anak nakal bermain judi uang logam alias tuok didapur rumah pemilik warung.Mungkin demi habis dagangannya.
"Ayo kita tonton Rafa sama Fandi main judi" kata Merry sambil mematikan rokok diasbak.
"Emang nya orang itu bermain apa sih?"tanya Yunita terheran,Yunita sedikit tenang saat nikotin masuk kedalam benaknya,walau itu sebenarnya menghancurkan generasi muda entah kenapa mereka seperti itu.
"Eh lontong nya datang tidak jadilah"ucap Puput saat melihat bulek Lontong menghidangkan diatas meja,semua terdiam hanya menyantap makanan tersebut.
"Ehem...ehem..." Rafa mendehem saat masuk kedalam warung melirik kearah Indar.Gadis yang ditaksir Rafa itu buang muka sembari menikmati lontongnya.
"Yunita ada Abang Riyu nih" Fandi menyusul dari belakang barengan berjalan sama Riyu.
Riyu malu dan mentoyong kepala Fandi.
"Aduh" Fandi meringis karena merasakan sakit dikepala belakang,tangan Riyu begitu kuat ternyata.
"Sudah jangan menggoda murid baru ini, aku tau kau naksirkan?" kata Rafa dengan Riyu,membuat wajah Riyu merona malu.Yunita mendengus kesal saat Riyu tersenyum.
Rafa berdiri dihadapan Indar,memandangi Indar, sedangkan Indar sudah muak ingin sekali iya habiskan makanannya dan cepat pergi dari warung.
"Huss" cerca mulut Puput melihat Rafa sinis,lalu Rafa mencubit dagu Indar,dengan cepat Indar menepis lengan Rafa.Membuat Yunita tersenyum-senyum,begitu juga dengan Mery yang gagal fokus makan lontongnya hingga tersedak.
"Aduh cepat minum Mer" ucap Yunita menyodorkan segelas air putih pada Mery.
"Ayo..Ayo" kata Indar sambil membayar semua tagihan makanan teman-temannya denga bulek lontong,Indar selalu mentraktir temannya karena dia banyak uang.
Indar selalu mengambil uang diwarung Ibunya, tanpa sepengetahuan ibunya,karena Ibu Indar buka usaha dirumah sendiri wajar kalau dia banyak uang.
"Ya malah pergi" Ucap Fandi kesal karena Indar dan Yunita beserta Mery dan Puput berjalan menuju kelas mereka.
"Kenapa sih kamu tidak suka dengan Rafa?" Yunita ingin memastikan hati Indar. Indar mendecis mulut ingin sekali dia tidak menjawab pertanyaan Yunita.
"Dia tukang main judi,aku malas" jawab Indar sambil berjalan menuju kelas.
"Jangan benci nanti jatuh cinta" ledek Merry sambil mencibir kearah Indar, Yunita dan puput jadi tersenyum merasa lucu dengan ulah Indar yang salah tingkah duduk dikursi kelas.
Geng nakal itu masuk Rafa dan Riyu beserta siresek Fandi.Semua murid takut dan diam kalau ada yang bersuara Fandi akan mengganggunya atau tak segan-segan memaki murid yang ketakutan.
"Kenapa sih semua pada takut,sama-sama makan nasi" kata Yunita sembari duduk dibangku kelas sedikit heran dan bingung.
"Kau tidak tahu,kalau mereka melawan Fandi memaki atau memukul" jawab Puput sambil melirik Fandi yang merampas buku pekerjaan rumah milik teman lain.
"Aneh sekolah ini" gumam Yunita sambil geleng kepala,Sebenarnya Yunita sudah nyaman sekolah ditempat ini,tapi Yunita bingung dengan tingkah dan sikap murid-murid yang berlaku sesuka hatinya.
Tibalah saatnya pulang Indar mengajak Yunita pulang bersama.Dan Yunita mau karena rumah mereka tidak begitu jauh.
"Ayo temani aku sebentar ketemu Ricko" kata Indar sambil menarik lengan Yunita.Sementara Puput dan Merry sudah berjalan pulang kerumah masing-masing.
"Siapa Ricko?,apa pacar kamu yang dikampung sebelah?" tanya Yunita sambil berjalan menuju belakang sekolah.Indar tersenyum dan angguk kepala mengakui kalau Ricko itu pacar Indar.
Yunita berjalan barengan menemani Indar dijalan setapak belakang sekolah,langkah Yunita terhenti ketika melintas dikebun karet yang disebelahnya kebun kelapa sawit. Terlintas kenangan berasama Wijaya dikebun sawit tersebut,malah Indar mengajak menunggu dikebun sawit itu.
"Kok disini ?" kata Yunita karena dia merasa sedih saat didepan kebun kelapa sawit tersebut.sebelum Indar menjawab pertanyaan Yunita,Ricko sudah datang dengan berjalan kaki sendirian mendekati mereka berdua.
"Kami biasa disini Yun,sebentar saja ya" kata Indar sambil menyapa Ricko.Yunita serasa seperti obat nyamuk tapi dia berusaha tersenyum supaya Indar tidak tersinggung.
"Beb ini temanku kenalkan" kata Indar sambil merangkul pinggang Ricko,lalu Ricko mengulurkan tangan dan berkenalan dengan Yunita.
"Yunita" ucap Yunita sambil melepas salaman dengan Ricko,cowok itu tersenyum dan menyebutkan namanya juga.
"Yun sebentar saja ya" kata Indar sambil berjalan berdua bersama Ricko ketengah kebun sawit.
"Jangan lama ya" kata Yunita berteriak sedikit karena Indar dan Ricko sudah sedikit jauh. Yunita berjalan mendekati salah satu pohon kelapa sawit. Benar saja tempat kenangan itu masih tetap sama,batang pohon yang dipetik Wijaya masih terpampang dibawah pohon tersebut walau sudah kering.
Yunita memungut bungkus permen dan mengingat lagi saat Wijaya makan permen sewaktu mereka kencan,tak terasa butiran cristal itu jatuh secara perlahan dipipi lembut Yunita.
"Hiks.. hiks..kenapa saat aku mau melupakan dia ada saja kenangan ini, seperti tidak mau pergi" gumam Yunita sambil membuang bungkus permen begitu saja.
"Kau selingkuh,aku minta putus !!!" Tiba-tiba suara Indar terdengar seperti bertengkar dengan Ricko.Yunita cepat-cepat menghapus air mata dan berlari kecil menuju tempat kencan Indar.
"Sayang itu bisa aku jelaskan" tegas Ricko sambil menarik lengan Indar tetapi indar menepis lengan Ricko,dan mendorong Ricko.
"Kita putus,aku tak suka lelaki pengkhianat!" ketus Indar sambil berjalan mendekati Yunita. Indar menarik lengan Yunita mengajak pergi dari tempat itu, "Indaar !" teriak Ricko berdiri dibelakang Indar dan Yunita yang berjalan saja.
"Kalian kenapa?,dia memanggil kamu" kata Yunita sambil melihat indar yang ingin menangis tapi Indar berusaha membendung air mata supaya tidak terlihat Yunita.
"Dia selingkuh dengan satu sekolahnya untuk apa denganku lagi,aku bukan cewek bodoh" kata Indar sambil berjalan saja,lalu Indar mengambil sebungkus rokok,dengan gemetar dia menghisap sebatang rokok.
Yunita pernah merasakan hal itu,dia tau banget perasaan Indar,Lalu mereka bedua berhenti dipinggir pohon karet.
"Hiks..hiks.." Tangis Indar pecah juga dihadapan Yunita,dengan cepat Yunita merangkul Indar.
"Sudah..jangan difikirin,mungkin dengan mengetahui dia selingkuh kau akan jadi kuat Indar" kata Yunita sambil menyalakan pemantik dan menghisap sebatang rokok juga, karena Yunita juga sedikit pusing dengan patah hatinya.
"Sakit banget ya diduakan,aku baru tahu sesakit ini" Kata indar sambil menghembus asap nikotin yang iya hisap barusan.Lalu Indar mengusap air matanya sendiri,Yunita mengelus-elus punggung Indar supaya temannya itu tenang.
Kau baru tau indar sesakit ini, kau belum tau temanku, sesakit apa jika kekasih yang kita cinta akan menikah dengan orang lain,apalagi pria itu pernah tidur dengan kita,mungkin tangisanku tidak akan puas merasakan kesakitan hati yang rapuh ini. Batin Yunita.
Bersambung*
Like dan komen disini