
Hari demi hari kulalui diPesantren ini,walau Aku muak dengan peraturannya tetap Aku jalani,karena Aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku. Saat ini Aku hendak berjalan keAsrama selesai pulang sekolah, karena dari jam tujuh pagi kami masuk kekelas, sampai jam setengah empat sore baru pulang, katanya les tambahan, buat otak Aku pusing tapi harus dijalani.
Saat menuju asrama tiba-tiba Aku terbungkuk dan meringis kesakitan diarea perut sebelah kanan,Ummi Asrama berlari mendekati Aku karena Aku sudah kesakitan sekali.
"Kenapa nak?, apanya yang sakit?" tanya Ummi saat memapah aku kedalam kamar Asrama.
"sakit banget Ummi,tolong Telfon Mama" jawabku sambil meringis dan mengucurkan keringat jagung.
Karena aku sedikit pucat umi Asrama berlari menuju telfon rumah, kini Ummi menelfon dari nomor kantor tempat Ayahku bekerja, sedikit terlambat mama mengetahui sakit yang Aku derita, karena telfon yang dihubungi umi asrama bukan dari rumah, tapi karyawan kantor akan mengabari Ayahku yang bekerja dilapangan.
Malam harinya Mama menelfon dari Warung Telfon,jaman dulu nama nya (Wartel).
"tilililit.. tilililit" Ummi Asrama berlari dan mengangkat telfon tersebut. lalu Ummi Asrama memanggilku dan Aku bicara dengan Mama.
"masih sakit yun?" tanya Mama padaku, Aku pun meringis kesakitan, lalu Mama berpesan besok iya akan menjengukku kekota M, aku sedikit lega karena sudah mendengar suara Mama walau lewat Telfon.
Umi Asrama memapahku sampai kedalam kamar, sejumlah Santriwati prihatin padaku lalu mereka ajak Aku ngobrol sebentar,supaya rasa sakit perut sebelah kanan ini sedikit saja berkurang, karena lama mengobrol Aku jadi tertidur pulas,tidak tau lagi apa yang terjadi.
*********
🌷Esok harinya 🌷
Aku membuka mata, sudah kudengar suara Mama yang memanggilku, Aku hendak bangkit dari kasur tapi sedikit perut ini tidak bisa diajak kompromi.
"Yun masih sakit?" tanya Mama padaku saat Mama sudah duduk dilantai bersama teman sekamarku.
"Sakit kali Ma,Aku udah gak tahan"jawabku sambil jalan terbungkuk, karena wajahku semakin pucat lagi,Mama langsung meminta izin membawaku berobat. Kami pun permisi dan pergi dari Psantren itu.
"masih tahan kan?" kata Mama sambil memapahku masuk kedalam Bus menuju kota T, Aku angguk kepala menyembunyikan rasa yang tak tertahan lagi,sebenarnya sakit banget,tapi Aku takut Mama menjadi cemas, jadi Aku diam saja. Lalu akhirnya Bus melaju pergi dari kota M menuju kota T.
Ada beberapa jam akhirnya Bus berhenti disebuah Rumah Sakit Perkebunan,Rumah Sakit ini gratis bagi Anak Karyawan yang belum menikah,yang masih ditanggung orang tua. DiRumah Sakit inilah Aku bakal ketemu cinta pertamaku.
Mama terus memapahku ke UGD,lalu dokter jaga memeriksaku, Dokter menyuruhku menekukan kaki kanan saat Aku berbaring, Aku jadi tambah kesakitan, Dokter langsung tau lalu Aku disarankan supaya opname.
"Sakit apa anak saya Dok?" tanya Mama yang sudah berdiri didepan Dokter.
"Sepertinya usus buntu Bu, besok pagi kami akan periksa lagi supaya akurat" jawab Dokter sambil tersenyum.
Setelah itu,Suster datang bertanya soal dataku,berdiri disamping berangkar dorong.
"nama siapa dek?" tanya Suster saat mulai mencatat dikertas selembar.
"Yunita Ananta Sus" jawabku sambil tersenyum. Suster melihatku lagi lalu bertanya soal umurku,awal nya Aku bilang lima belas tahun, tapi karena belum genap lima belas, Mama menjawab empat belas tahun, buat Aku jadi malu karena Aku masih kecil. Padahal badanku sudah berisi semuanya termaksud bagian dada ahaha..
Suster membawaku keruangan Anak-Anak Aku jadi bingung.
"Sus aku kok diruangan ini?" tanyaku saat Aku diatas Brankar Dorong rumah sakit.
"Umur kamu masih segitu, ya gak mungkin kami masukan kamu ditempat orang tua" jawab Suster sambil tersenyum lalu mendorong tubuhku sampai keruangan Anak tersebut.
lalu tubuhku dipindahkan tempat tidur rumah sakit setelah dari brankar dorong tersebut.
Ruangannya sepi karena sepertinya tidak ada pasien lain,Aku jadi lebih nyaman walau bukan ruangan VIP.
Disebelah terdengarku suara tangisan Anak kecil,sepertinya ruangan sebelah ada pasien juga,aku tidak bisa melihat karena masih terbaring.
Jam delapan malam suster datang menghampiriku, Suster injeksi Aku supaya rasa nyeri diperut ini berkurang,setelah Suster Injeksi bokongku dia tersenyum lalu pergi, sedangkan Mama pergi pamit keDesa hendak ambil termos,gula, pokoknya peralatan dan persedia'an aku opname.
Ada satu jam sakit perut sebelah kanan Aku memang berkurang,sepertinya obat yang disuntikan bereaksi ditubuhku.
"Gludek..gludek" suara Brankar dorong terdengar ditelingaku, Aku terduduk dari kasur,Aku melihat pasien baru, seorang Anak balita yang tidak sadarkan diri, sejumlah Orang dewasa sibuk mengikuti brankar dorong itu sampai keruangan sebelah.
Aku juga mendengar suara Wanita menangis mungkin meratapi anaknya yang sakit,apalagi tidak sadarkan diri, sejumlah Suster berlari langsung infus Anak tersebut.Saat semua pada sibuk,seorang pria tampan berdiri ngobrol didepan ruangan.
Aku dengar mereka ngobrol tentang pasien yang baru tadi,ternyata pemuda itu yang turut serta mengantar pasien balita tersebut.Pintu ruanganku terbuka lebar,sementara kasur rumah sakit yang Aku tempati didekat pintu ruangan itu, dengan leluasa Aku bisa melihat orang yang berada diluarnya.
Saat Aku memandang terus pria yang berhidung mancung,tinggi tegap,berkulit putih,seperti belasteran pakistan,dia melihat kearahku sekilas,lalu menoleh lagi kearahku untuk kedua kalinya, lalu dia gak konsen ngobrol sesekali melirik kearahku.Aku juga begitu saat aku melihat nya mata kami bertemu.
Aku turun dari kasur hendak memandang pria itu dari dekat, lalu kuberanikan diri bersembunyi dibalik daun pintu, saat Aku mengintip lagi wajahku langsung heran, dan mengkernyitkan dahi, karena sejumlah orang yang aku lihat sudah tidak ada,apalagi pemuda tampan tadi.
Aku bersandar didepan pintu,sedikit kecewa karena pemuda itu sudah tidak ada lagi, padahal baru ini aku merasakan perasaan lain menatap pria.
"Halloo" suara pria menyapaku saat Aku bersandar dibalik pintu tadi, jantungku berdegup kencang,bibirku terkatup, ternyata pemuda itu yang menyapaku. Aku melihat dia dari dekat,langsung kepala ini tertunduk karena malu.
Ya malu karena baru pertama kali ada perasaan aneh dihati, pemuda itu lalu tersenyum dan menatapku lekat-lekat, membuatku semakin malu tidak berani menatap wajahnya,kuselipkan rambut ini ketelinga supaya terlihat mempesona didepan dia.
"Kenalkan nama abang Riandi" dia menawarkan tangan kearahku, dengan gemetar tanganku membalas salaman jemari Riandi, "Yunita" ucapku singkat dan tersipu malu, tangan kami masih berpegangan satu sama lain,sampai lama bersalaman Aku tersadar kalau Aku Anak Psantren.Lalu dengan canggung Aku menarik lengan kanan ini,membuat Riandi heran.
"Umur berapa dek?" tanya Riandi padaku, bicara soal umur Aku semakin terkejut, gimana menjelaskan pada dia soal umurku yang masih muda, sedangkan Riandi kelihatan nya jauh diatasku.
"Jalan enam belas tahun bang" jawabku berbohong, karena sebenarnya Aku malu bilang kalau umurku masih empat belas tahun.
"ow kita beda sepuluh tahun" kata Riandi membuatku terkejut.
what, dia sepuluh tahun diatasku,wah dia dua puluhan lebih, pria yang udah dewasa, batinku berkata seperti itu.
"Adik jadi melamun?" tanya Riandi yang sudah duduk disebelahku, Riandi terus menatapku penuh arti membuat jantungku terus bergemuruh,hawa panas dibadanku tiba-tiba datang,karena melihat bola mata Riandi yang indah.
"Gak melamun kok bang,oh iya Abang disini ngapai,Aku lihat Abang baru datang sama pasien baru itu?" tanyaku sedikit tersenyum sebenarnya masih gugup bicara sama pria dewasa, apalagi tampan.
"Oh itu,Anak tetangga Abang sakit,demam tinggi" jawab Riandi sambil menatapku terus.
Setelah lama membisu dan Riandi masih menatapku,tiba-tiba teman Riandi memanggil namanya,lalu dia pamit padaku.
"Sampai ketemu besok ya dik, abang pulang dulu,sudah mulai larut" ucap Riandi tersenyum manis sambil megang pucuk kepalaku.
oh my god dia megang kepalaku, sumpah aku malu banget,inikah namanya puber?,kok aku jadi senyum sendiri, apa ini yang dirasakan wati dan indarti teman SD ku?,aku tidak tau karena baru kali ini aku rasakan perasaan aneh ini.
Randi berjalan dengan temannya keluar dari ruangan tersebut,Aku yang berdiri terpaku didepan pintu hanya bisa bengong saja. Setelah tidak aku lihat lagi Riandi dari ruangan, Aku berjalan sambil berbaring dikasur memikirkan perlakuan riandi tadi, Aku megang sendiri pucuk kepalaku sambil tersenyum sendiri.
"dia ganteng,wajahnya mirip orang pakistan, tinggi semampai,lengannya berotot, matanya bulat" aku bicara sendiri sampai tidak sadar, kalau mamaku sudah ada diruangan tempat aku dirawat.karena jarak desaku tidak berapa jauh dari rumah sakit ini.
"siapa yang kau maksud itu?, siapa?" tanya Mama ternyata mendengar Aku bicara sendiri.
Aku langsung terkejut,jantungku kali ini berdebar bukan karena pria,tapi karena Mama, Aku takut dipukul, Aku diam saja tidak berani menjawab pertanya'an mama,Aku tutup badan dan wajah pakai selimut supaya Mama tidak bertanya lagi.
"eee.. ditanya malah tidur" kata Mama sekali lagi saat melihatku yang pura-pura terlelap.
**********
Keesokan harinya.
Pagi harinya Aku diperiksa Dokter spesialis, lalu Dokter itu bicara mengenai jadwal operasiku, Aku menelan ludah takut karena akan dioperasi,kata Mama tidak sakit kita dibius,ketakutanku berkurang karena perkataan Mama.
Jadwal operasi lusa Aku harus siap-siap kan diri, untuk menyambut hari lusa.
"Mama pulang dulu ya,semalam Mama libur jualan,ini Mama suruh orang bantuin karena sudah terlanjur belanja kemarin" ucap Mama sambil membawa baju kotorku.
"Ya sudah ma" jawabku lalu Aku melihat Mama berjalan keluar ruangan, sebenarnya Aku tidak mau ditinggal pasti Mama datang sore hari,tapi Aku sadar kami bukan orang kaya, biarlah Mama berdagang sebentar,karena menjaga orang sakit perlu biaya juga keperluan ini ono.
Siang harinya Aku duduk sendiri melamun ditepi ranjang,tidak ada teman ngobrol karena pasien cuma Aku, sementara diruangan sebelah pasien cuma dua itu pun Anak Bayi.
"Adik" ucap Riandi tersenyum saat udah nongol didepan pintu.
Sontak jantungku berdetak lagi seperti tadi malam,Aku berani menatap dia saat jauh, saat Riandi mendekati Aku buang muka tidak berani menatap wajahnya dari dekat, karena canggung dan malu.
"Lok diem?, Abang bawa roti, kamu mau?" tanya Riandi tersenyum dan megang jemariku kasih roti srikaya tersebut.
Ya Tuhan.. dia pegang jemariku,panas.. panas perasaanku, sumpah kalau ingin nyelam kelaut, Aku akan terjun mendinginkan hatiku yang terbakar api asmara ini.
"Hem...anu Bang sebentar lagi aku operasi jadi sedikit cemas" jawabku begitu,padahal karena Riandi didekatku.
"ow jadi beneran sakit usus buntu Dik?, kalau gitu cepat sembuh ya" sahut Riandi sambil tersenyum menatapku lebih dekat lagi.
Langsung Aku menjaga jarak sedikit karena semakin tak kuasa ditatap Riandi, Riandi kernyit dahi melihatku yang gak nyaman, lalu Eiandi bercerita humor membuatku sedikit nyaman.
"Adik berapa bersaudara?" tanya Riandi saat kami habis tertawa.
"Dua Bang, Aku paling besar,Adikku Laki-laki" jawabku sambil tersenyum,kini Aku sedikit berani menatap wajah ganteng Riandi.
"wah sama kita Anak sulung, tapi Adik abang banyak ada tiga,cewek dua, cowok satu" sambung Riandi lalu menatap langit-langit dinding ruangan.
"dimakan rotinya dik" ucap Riandi sambil membuka kantungan roti tersebut,Aku hanya angguk kepala,saat Riandi memotong roti dan beri padaku,Aku nerima dari tangannya, kumakan roti pemberiannya dengan anggun dan pelan-pelan, padahal cara makanku tidak seperti itu. sedikit jaga image saja.
"Dek abang toilet bentar ya" ucap Riandi sambil berdiri dari duduknya, lalu aku melihat Riandi masuk kedalam toilet.
cepat-cepat roti yang kumakan tadi, Aku kunyah cepat-cepat,lalu Aku ambil lagi roti baru dan kumakan dengan lahap.
"hek.. hik.. hik" tenggorokanku cegukan karena tidak ada air yang masuk, sepertinya Aku terlalu rakus makan roti srikaya ini.
Kuraih gelas yang berisikan air lalu Aku minum cepat-cepat,Aku dengar knop pintu berbunyi pertanda Riandi hendak keluar dari toilet, cepat-cepat roti bekas yang Aku makan tadi aku buang ketong sampah.
Malu dong makan dihadapan cowok, entar dia ielfil lagi lihat cara makanku batinku bicara sendiri.
Riandi berjalan kearahku, lalu Riandi melihat rotinya sudah berkurang dua, Riandi tersenyum sembari menatapku.
"lapar ya dek?,kalau lapar abang belikan nasi" kata Riandi sambil menatap kearah bibir tipisku.
"ah eng-enggak bang,Aku kenyang kok, nanti juga diantar nasi pasien" jawabku sambil gugup.Tangan Riandi mendarat kesamping kanan bibirku,dan mengambil sesuatu.
"Iya lapar nih,buktinya roti nya habis dua, makan belepotan lagi, nih cuilan roti dekat bibir kamu" kata Riandi sambil memperlihat kan apa yang riandi ambil dari tepi bibirku.
"ups" Aku jadi malu,spontan saja pipiku memerah merona karena Riandi tau.Riandi geleng saja dan tersenyum.
"adik cantik, apa punya pacar?" tanya Riandi tiba-tiba membuatku jadi salah tingkah. aku menatap langit-langit ruangan, dan garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal,hanya sedikit mengulur waktu untuk menjawab pertanyaan Riandi.
"diam saja, artinya sudah punya pacar nih" tanya Riandi lagi supaya rasa penasaran Riandi terjawab.
"eng....enggak-enggak bang, Aku sekalipun belum pernah pacaran" jawabku cepat karena takut Riandi salah paham lagi dan menebak- nebak Aku lagi.
bersambung*
visual Riandi ,berwatak penyabar,penyayang sopan dan humoris,bertanggung jawab serta dewasa.
jangan lupa like and komennya ya say.
kalau tidak like jari kalian keriting wkwkwkw...
just kidding....author.