
Desa Pxx.
Suara burung berkicau merdu,sinar mentari menyapu bersih titik embun yang ada dedaunan,pagi yang cerah membuat orang yang hendak beraktivitas menjadi semangat.
"Yunita..!!!" teriak Mamaku saat membangunkanku, Mama berjalan kearah kamarku, Mama mengguncang tubuhku yang masih tertidur,sebenarnya Aku dengar tapi malas bangkit,tubuhku serasa berat hendak bangkit dari tempat tidur lima kaki ini.
"bangun..!!, nanti kusiram air kau Yun, katanya mau ambil ijasah?" geram Mama saat mengguncang lagi tubuhku kedua kali, mendengar kata ijasah Aku baru ingat kalau hari ini pengambilan ijasah disekolah dasar, Aku langsung bangkit,Aku lihat Mama masih berdiri disamping kasur yang aku tiduri dengan tolak pinggang, terlihat wajah Mama sudah berang.
"jam berapa ini Mak?"tanyaku saat Aku duduk lalu berdiri dari tempat tidurku.
"ini jam sembilan,cepat mandi !" jawab Mama sambil berjalan meninggalkan kamarku menuju dapur,karena Mama hendak masak untuk jualannya dihari ini.
Aku mengumpulkan nyawa saat berdiri dihadapan cermin,kuraih handuk yang tergantung dibalik daun pintu, lalu Aku berjalan masuk kedalam kamar mandi. kubilas tubuhku didalam kamar mandi.
"udah jam segini masih saja lamban, tapi katanya udah gadis,bangun pagi aja gak bisa, cepat kau mandinya Yun !!" teriak Mama yang lagi ngedumel saat memasak didapur bersebelahan dengan kamar mandi.
Langsung cepat-cepat kuciduk air yang ada ditong, karena Mama sudah mulai keluar tanduknya, kubuka daun pintu kamar mandi langsung berlari menuju kamar.
"gak pagi,gak sore,gak malam ngedumel terus, cerewet" gumamku saat ingat tentang hal Mama kalau lagi marah.
Ya..,Mamaku itu orang nya sedikit tempramen, salah sedikit pasti Aku kena pukul, pakai sapu,pakai penggorengan, apa yang didapat saat Mamaku marah pasti itu jadi bahan buat memukul tubuhku, dari kecil Aku selalu dipukuli kalau Mama marah.
Pernah dulu badanku biru-biru, Ayahku selalu membela Aku jika kayu atau apapun mendarat kekaki atau tubuhku. mereka jadi bertengkar kecil kalau Ayahku membela saat Aku dipukul Mama.
Sekarang Aku mulai beranjak dewasa,umurku jalan lima belas tahun, mungkin aksi memukul Mama mudah-mudahan tidak berlanjut lagi.
Aku pakai sepatu sekolahku,lalu berjalan menuju dapur,walau Mamaku sibuk akan berdagang miso,tapi iya masih bertanggung jawab sama Aku dan Adikku, aku lihat sarapan sudah Mama sediakan diatas meja,aku lahap makan nasi sambal ikan asin tanpa bersuara dan bertanya pada Mama,kalau aku tanya pasti Mama seperti malas menjawab, mending makan saja biar tidak lapar perutku.
"Mak Yun pergi,samlekom" ucapku saat didepan pintu dapur,Aku berjalan saja tidak menunggu balasan perkata'an Mamaku, karena Aku tau pasti kalau gak nunduk, dia diam saja seperti orang tuli, hanya konsen pada masakannya diatas kompor.
Sekolahku tidak begitu jauh dari rumah hanya berjarak seratus meter,dengan berjalan kaki Aku cepat sampai kesekolah. Aku berjalan terus menuju sekolah, saat mendekati sekolah terlihatku sejumlah murid kelas enam sudah ngumpul diruang Guru. Teman-teman sudah melakukan sidik jari di Ijasah mereka.
Aku juga gak mau kalah langsung mengerjakan apa yang disuruh Bapak Guru.Aku melihat Wati dan Indarti teman satu kelas. mereka tersenyum padaku, Aku juga membalas senyuman mereka.
Tidak berapa lama akhirnya kami selesai mengambil Ijasah,Aku hendak pulang tapi langkahku terhenti. "Yunita !" panggilan Wati dari jauh berlari menuju kearahku yang sudah dihalaman sekolah dasar kami.
"apa...? apa gak capek kau lari-lari gitu?" tanyaku sama Wati, Wati terdiam masih membetulkan nafas nya yang tersengal dan tak beraturan.
"kau dapat nilai berapa?, hos hos hos" ucap Wati yang menelan ludah seperti haus saat melihatku.
"lumayanlah, tapi kayak nya gak bisa masuk SMP negeri, rata-rata enam ahahha" jawabku sambil tertawa renyah dan merangkul Ijasahku ini.
"masih syukur Kau dapat nilai segitu, Aku ada angka lima diijasah, mampuslah Aku pasti bapak marah" keluh Wati sambil menahan rasa takut dan cemas.
"rasain kau, kayak mana gak jadi bodoh, kau aja udah pacaran sama anak SMA, sama anak SMP, anu siapa namanya itu?" tanyaku mengingat-ingat pacar Wati.
"Junaidi sama Doni dodol"jawab Wati sambil toyong kepalaku, Aku melihat Bapak Wati sudah menjemput Wati naik sepeda untelnya.
Wati tau Bapaknya jemput, lalu Wati pamit dari hadapanku.
"hati-hati" ucapku dengan Wati, Wati angguk kepala,lalu Wati pergi dengan Bapak Wati pulang kerumah.
Aku hanya geleng kepala saja mengingat siapa Wati, Wati bertubuh tinggi sedikit membungkuk,kulitnya tak begitu putih, rambut Wati sebahu,dia kelas lima SD sudah mendapat bulan mungkin karena itu Wati cepat pacaran fikirku.
Saat Aku berjalan menuju kerumah, Aku berpas-pasan sama Indarti,teman satu kelas juga, Indarti sama dengan Wati cepat punya pacar,karena mungkin puber pertama mereka.
"Yun kau mau masuk sekolah mana?"tanya Indarti saat barengan jalan pulang samaku.
"belum tau Aku,semalam Mama bilang mau masukkan Aku KePondok Psantren" jawabku sambil tertunduk,karena Aku baru inget kalau Mama menawarkan Aku masuk kedalam Pondok Pesantren.
"apa.!" teriak Indarti, "ih jangan mau,kata Kakakku gak enak, tinggal diasrama jauh sama Mama dan Bapak, terus gak ada cowok" jawab Indarti nyeplos tanpa memikirkan perasaanku. Aku mendengar itu jadi ragu tapi keraguan itu Aku tepis.
"Aku coba aja dulu, siapa tau Aku betah" jawab Aku sambil berfikir.
Sesampai dirumah Aku pisah jalan dengan Indarti karena rumah kami beda pondok, Aku masuk kedalam pintu utama rumahku, walau rumahku bertembok papan,kamar hanya dua,beralaskan semen,tapi keluarga kami bahagia tanpa konflik apapun.
Saat masuk kedalam rumah Aku lihat tidak ada siapapun, mungkin Mama masih berjualan,Ayahku mungkin masih kerja,sedang kan Adikku lagi main ketempat tetangga.Aku berjalan masuk kedalam kamar lalu kurebahkan tubuh ini dikasur karena lelah sehabis berjalan,hingga aku terlelap.
************
🌷malam harinya🌷
"Yun...!, bangun kau" teriak lagi Mamaku saat diruang tamu, karena kamarku tidak jauh dari ruang tamu,maklum rumah kami hanya sepetak saja, jadi suara pelan maupun kuat sangat terdengar jelas.
Aku menggumam dan terbangun, "lho kok gelap?" kataku sendiri saat aku lihat hari sudah gelap, Aku lirik jam dinding ternyata sudah pukul tujuh malam.
Aku keluar dari pintu kamar,karena tidak ada daun pintu,hanya tertutup gorden pintu saja, Aku berjalan kekamar mandi dan cuci muka.
kubasuh wajah ini biar segar,setelah itu Aku keluar dari kamar mandi.
"tidur sampai maghrib,kau pikir gak pantang (pamali),tidur maghrib-maghrib, udah gak pernah solat" repet Mamaku sambil menyediakan makan buat Ayahku.
"sini bentar Ayah mau bicara" ucap Ayahku saat hendak makan malam, Aku nurut dan duduk didepan Ayah saat dimeja makan, aku lihat Ayah bicara padaku sambil makan, walau hanya sambal terasi,ikan asin sama rebusan daun ubi,Ayah begitu menikmatinya.
"kata Mama,Yunita mau masuk Pesantren?" tanya Ayahku setelah minum airputih, sambil sesekali menatapku.
Aku terdiam,kapan aku bilang iya sama Mama, wah ini ngarang-ngarang Mama, fikirku saat mengkaji ucapan Ayah tersebut.
terlihatku Mama menatapku nanar,Aku tertunduk dan mengerti maksud tatapan Mama,aku juga takut dipukul Mama.
"diam aja,kok gak jawab Yun?"tanya Ayah padaku lagi, Aku pun dengan hati yang ragu dan setengah angguk kepala saja,sambil bicara.
"serah Ayah sama Mama,Yun ikut saja" itu jawabku saat ditanya.
"ingat, itu sekolah bukan murah, banyak biaya nanti,kau harus sungguh-sungguh belajarnya nak, Ayah cuma ingati saja" kata Ayahku yang udah selesai makan,lalu Ayah pergi gitu saja dan berjalan keruang tamu,mungkin Ayah hendak nonton televisi.
Sebenarnya jujur saja Aku tidak mau masuk Pesantren dikota M, tapi karena tekad Mama dan Ayah sudah bilang gitu,Aku coba saja dulu, kasihan Mama dan Ayah mungkin itu impian mereka memasukkan Aku disekolah Agama. Ya karena Aku nakal seperti Anak Cowok sedikit tomboi yang pastinya.
***********
Singkat cerita Mamaku sudah mendaftarkan Aku kePondok Psantren tersebut dikota M, kota M sedikit jauh dari desaku, perjalanan tiga jam kurang lebih begitu,karena masih satu propinsi.
Mama hari ini memborong semua perlengkapan Aku dipesantren nanti, buku-buku tulis,pena, tidak ketinggalan hijab panjang yang akan Aku pakai diPesantren nanti.
Aku mantapkan tekadku, Aku tanya lagi pada hatiku,bisakah Aku jauh dari keluarga?, mudahan bisa.
" cepatlah Yun" ucap Mama saat Aku termenung mandi, Aku cepatkan mandi seperti biasa,setelah itu Aku keluar dari kamar mandi. lalu berjalan masuk kedalam kamar.
Aku melihat pakaian terusan panjang menutupi mata kaki, Aku pakai pakaian yang disediakan Mamaku dan hijab juga sudah terletak diatas kasur,kini Aku sudah siap dengan hijab warna putih dan pakaian panjang terusan. ternyata Mama sudah menungguku didepan pintu utama dengan tas ransel yang berisi baju-bajuku.
Setelah itu Aku pergi dengan Mama berjalan menuju jalan besar,hendak menunggu mobil sewa yang melintas.mobil bus besar melintas didaerah Desa kami, lalu berhenti saat melihat dua Orang sewa,yaitu kami.
Setelah naik kedalam bus tersebut. Bus melaju meninggalkan area pedesaan tempat kelahiranku itu, disepanjang jalan Aku teringat saat pamit pada Wati dan Indarti, pamit dengan Ayahku tadi, ingin sekali Aku menangis meninggalkan desa yang Aku sayangi.karena Mama masih disampingku duduk didalam Bus,airmata masih bisa Aku bendung,kutahan jangan sampai menetes.
Sampai diterminal kota T,kami nyambung lagi naik bus kekota M,entah berapa ongkos yang dibayar Mamaku,Akupun tidak tau. kini kami naik Bus kekota M,terlihatku Mama sudah menyusun lagi merapikan barang-barangku didalam tas ransel.
"ini semua udah masuk kedalam tas, jadi sampai sana kamu gak kekurangan Yun" kata Mamaku sambil meletakan tas kebawah kaki Mamaku. Aku diam saja hanya anggukan kepala sebagai isyarat kalau Aku berkata "ya".
Sesampai dikota M, Mama memanggil Becak Dayung karena jaman dulu masih Becak Dayung yang melintas disetiap kota itu.
"Pak antar kami kepondok psantren dijalan DD ya Pak" ucap Mamaku saat kami sudah naik diatas Becaknya.
Tukang Becak tersenyum dia sudah tau karena pesantren itu terkenal didaerah situ. Bapak itu mengkayuh Becaknya walau cuaca terik dia menahan rasa lelahnya,sampai Aku lihat mengucurkan keringat dipori-pori kecilnya.
Aku merasa iba melihat perjuangan Bapak tukang Becak itu demi mencari sesuap nasi menghidupi keluarganya, inikah perjuangan Ayah demi anaknya?, artinya Ayahku mungkin seperti itu bekerja demi anak dan istrinya,Aku semakin bertekad tidak akan mengecewakan mereka, karena Aku tau Ayahku tukang bangunan diperkebunan tempatku tinggal.
Sampailah didepan Pondok Psantren Putri. Aku lihat pohon berjejer-jejer menjulang tinggi menutupi asrama tersebut, dan dibelakang nya ada gedung tiga lantai mungkin itu sekolahnya fikirku.
kami turun dari atas Becak lalu Mama membayar ongkos Becak, Bapak Becak tersenyum sambil menyeka keringatnya dengan handuk kecil,yang sedari tadi melingkar dileher bapak tukang Becak tersebut.
kami berjalan kepintu utama asrama pesantren tersebut, seorang wanita paruh baya dengan hijab panjang menyambut kedatangan kami dengan ramah.
"ini murid nya ya Bu " ucap wanita itu katanya iya harus dipanggil dengan sebutan Ummi.
"iya Bu ini anaknya" jawab Mama sambil kami jalan berbarengan menuju asrama.
Sebuah kamar berjejeran tersusun, dan aku melihat Santriwati tersenyum padaku, mungkin itu Santriwati lama yang sudah lebih dulu dariku.
Mama sibuk ngobrol dengan Ummi tersebut, sedangkan Aku sibuk melihat-lihat kamar yang akan Aku tempati. satu ruangan ternyata ada enam tempat tidur berukuran tiga kaki.
"hai murid baru ya" kata seorang Santriwati saat melihatku berdiri didepan pintu ruangan tersebut. "iya Mbak" jawabku sambil tersenyum ramah.
"nama saya Silwa, panggil saja saya Ukhti, karena disini sebenarnya harus memakai bahasa arab" kata Silwa sambil menjulurkan tangan kearahku. Akupun menyebut namaku sembari membalas uluran tangan Ukhti Silwa.
Hari mulai sore Mama dan Ummi sudah selesai ngobrol didepan tadi, Mama berpamitan denganku ingin pulang kedesa. awalnya Aku tersenyum, saat Mama sudah pergi naik Becak lagi, air mataku pun jatuh tak terbendung,karena aku tidak bisa lagi melihat mereka dari dekat.
"hikss..hikss..hikkkss" Aku menangis senggugukan berdiri digerbang pintu Asrama. kedua tanganku dibelakang punggung, sambil meratapi Mamaku yang semakin jauh saat diatas Becak untuk pulang kedesa.
"hei jangan nangis nak, disini banyak teman, banyak kok yang jauh dari orang tua, lama-lama yuni akan terbiasa" kata Ummi penjaga Asrama, supaya aku berhenti menangis. Ukhti Silwa menghampiri kami, dan membujukku masuk kedalam Asrama.
Setelah masuk kedalam kamar baruku, Aku menyusun bajuku sendiri didalam lemari dua pintu, yang disediakan pihak Psantren. biasa nya Mama yang menyusun pakaianku, seperti nya Aku harus mandiri disini. Aku lihat dibalik tas ransel ada setoples sambal ikan teri kacang tanah, ternyata itu yang disediakan Mamaku sibuk didapur semalam.
"baik sekali Mama, ternyata walau cerewet dia masih memperhatikanku" gumam sendiri saat menaruh setoples sambal tersebut didalam lemari, sebenarnya mama jarang bicara soal diriku, hanya dari sikap saja Mama memperhatikanku contohnya sambal teri kacang tadi,Aku tidak tau kapan iya membuatnya.
"Yun ayo Sholat" ajak Ukhti Silwa padaku, ya.. disini harus disiplin Sholat lima waktu, semua harus teratur, kalau tidak akan dikenai sangsi, ikhlas gak ikhlas gerutu dalam hati Santriwati harus mengikuti aturan-aturan diPsantren ini.
bersambung*
Jangan lupa like and komen nya say, komen kaliam dan like kalian membuat author semangat untuk menulis.