yunita

yunita
Yun bab 32



"cepat kan sarapanmu" tukas Indi saat melihat Yunita sarapan dengan melamun.Takut Mamanya marah Yunita cepat-cepat menghabiskan nasi goreng dengan ceplok telor yang sekarang iya nikmati.


"Ma...,pergi samlekom" kata Yunita sembari keluar dari pintu rumah.Seperti biasa Indi hanya menggumam dan menjawab salam anaknya.Entah kenapa memang sedari dulu hanya begitu saat anak nya mau pergi sekolah.


Yunita berjalan hingga sampai kesekolah.Terlihat Merry berlarian kearah pintu gerbang sekolah. "Yuun...!" seruan Panggilan Merry menghampiri Yunita saat digerbang sekolah dengan nafas yang tak beraturan.


"Manggil atur nafas dulu Merr....kau kenapa lari-larian kita belum telat" tukas Yunita saat melihat Merry masih mengatur nafas.Hanya Merry yang terlihat pagi ini.


"Indar mana?,Aku sudah janjian dengannya tadi malam tapi dia tidak datang" jawab Merry yang sudah bicara lancar tanpa nafas ngos-ngosan.Yunita berfikir memang sejak kejadian putus dengan Ricko pacarnya,Indar jadi murung.


"Hei....itu dia" Girang Yunita saat melihat Indar tersenyum manis sambil berjalan kearah gerbang sekolah.Merry mendekati Indar yang hampir mendekati gerbang sekolah.


"Kau tadi malam kemana?,aku nungguin tadi malam.Dasar keong" kesal Merry memukul kecil bahu Indar.Indar tersenyum dan melihat Yunita juga menghampirinya.


"Maaf...gak bisa keluar tadi malam ada acara,eh entar lagi Bel masuk,ayo" kata Indar dengan semangat sambil menarik tangan Merry dan Yunita sambil berjalan menuju kelas mereka.


Padahal baru putus,kok dia bisa girang gitu?,aku harus seperti Indar tak boleh berlarut dalam kesedihan memikirkan cowok,belajar ya fokus belajar entar lagi naik kelas tiga lalu tamat SMP " Batin Yunita.


Sesampai didalam kelas terlihat Rafa mendekati Indar,Indar mulai membalas manis senyum Rafa. semua teman-teman terheran tidak biasanya Indar begitu.Rafa girang seperti mendapat lampu hijau dari Indar.


"Angin apa kau coy....tumben senyum sama Rafa?" Tanya Merry yang duduk dibangku sebelah Indar.Indar menaikan alis membuat Puput dan Yunita bingung.


"Apa kau suka dengan Rafa sekarang?" Tanya Puput sambil kernyit dahi. "Nampaknya benar nih?" kata Puput lagi karena Indar diam saja dan tersenyum malu.


"Kalian semua ini ya...heboh,kalian apa tidak senang kalau aku jadian sama Rafa?" tanya Indar ingin sekali mendapat persetujuan dari teman-temannya.


"Kami senang-senang saja yang menjalani kamu,iya kan Mer...Yun..."jawab Puput sambil melihat Merry dan Yunita tersenyum.


"Kau apa sudah putus dengan Ricko?"tukas Puput lagi sambil kernyit dahi.


Indar melihat Yunita artinya Yunita bisa dipercaya,kalau rahasia putus dengan Ricko harus dirahasiakan itu permintaan Indar saat dengan Yunita tempo hari.


"Sudahlah jangan difikirkan Ricko,itu gak penting lagi" Sangkal Indar sambil sibuk mengeluarkan buku Biologi.


"Hem.." gumam Puput menaikan alis saja,karena Ibu Guru sudah datang mereka fokus kearah depan melihat dan mendengarkan Guru menerangkan pelajaran Biologi.


Bel pertama tanda jam Istirahat tiba,murid-murid berhamburan keluar kelas,ada yang memilih kumpul diwarung depan sekolah,ada yang menuju warung belakang sekolah yang tempat Geng Yunita nongkrong. Warung Bulek lontong.


"Bulek biasa ya,empat lontong,empat minumannya" kata Indar sambil masuk kedalam warung.Bulek lontong tersenyum manis apalagi dagangan nya laris,iya rela saja kalau ruang tamu rumahnya dimasukin Geng Yunita sambil menikmati lontong terkadang merokok.


"Hei merokok gak baik,kita masih sekolah lho,apalagi kita cewek" kata Puput sambil merebut rokok dari tangan Yunita.Puput memang sedikit cupu dari antara teman-teman Yunita.


"Sedikit saja Put...aku lagi stres" kata Yunita sambil memasang lagi rokoknya dan menghisap lagi.Puput buang muka sambil lipat tangan.


"Udah put...,kau belum kesitu ilmu kau,yang penting kau jangan ikutan,kami tidak memaksa ahahha..."tukas Indar sambil mengambil tempat duduk disebelah Merry saat disofa.


"Ya ...ya...terserah kalian deh,aku udah lapar mana lontong kita?" kata Puput sambil melihat kejendela karena Rafa Dkk sudah datang. "Hei Rafa tuh,pasti mau berjudi lagi" kata Puput sambil muka masam.


"Aku akan larang,kalian lihat saja" sahut Indar sambil berdiri dari duduknya, saat Rafa sudah nongol didepan pintu,Indar langsung mendekati Rafa. "Tidak ada yang akan main judi didapur bule lontong" kata Indar tegas sambil melotot kearah Rafa.


"Hei kok ngatur pula kau,ini urusan cowok!" ketus Fandi sambil kernyit dahi,sedangkan Ryu diam saja memperhatikan sikap temannya,sesekali Ryu melirik kearah Yunita yang duduk disofa dengan Puput.


"Hari ini tidak ada main judi,kita gabung bersama mereka" kata Rafa sambil menarik lengan Indar duduk disofa.Indar diam saja dan nurut,Indar jadi merasa puas karena Rafa mau menuruti kemauannya.


"Ciee...jadian sajalah,kami setuju" kata Merry sambil tersenyum.Indar dan Rafa saling tatap malu,sedangkan Fandi gerutu gak jelas kesal karena Rafa menuruti kemauan Indar,ya Rafa lebih kuat terpaksa Fandi mengalah dan duduk disofa pinggir sendirian.


"Ehem...ehem.. Ryu jangan curi pandang terus,kalau suka bilang saja" kata Puput meledek Ryu yang matanya kearah Yunita.


Yunita buang muka dia tersenyum kecil nan malu.


"Berisik" kata Ryu sambil salah tingkah melihat meja dengan tatapan kosong.Ryu baru kali ini dari dekat melihati Yunita,ya dia jadi salah tingkah terkadang menggaruk tengkuk nya yang tak gatal,terkadang melihat Fandi yang nyerocos terus dengan Puput.


Indar dan Rafa berjalan menuju dapur rumah bulek lontong,mungkin mau mencurahkan perasaan masing-masing, setelah semua sudah siap makan lontong.


"Eh mereka kedapur tuh" heboh Puput sambil melihat Rafa mentutup pintu tengah rumah.


"Biarin saja, biarkan mereka hihihi" sahut Merry sambil tersenyum menutup mulut.


"Eh put..ayo temani aku ketoilet" kata Merry karena ingin buang air.Yunita kernyit dahi karena tidak mau ditinggal bersama Ryu dan Fandi.


"Bentar saja Yun.." kata Puput sambil menyusul Merry yang sudah didepan puntu rumah,Yunita anggukkan kepala saja karena iya tidak takut kalau temannya cowok diruangan tersebut, karena dulu SD sebenarnya Yunita memilih teman cowok jarang sekali berteman dengan anak perempuan. Hanya Wati saja dan Indarti.


Yunita tidak sadar kalau Fandi sudah didalam kamar mandi, berdiri diatas Bak mandi yang terbuat dari batu,Fandi seperti mengintip sesorang.Ryu juga penasaran apa yang dilihati Fandi didapur. Yunita jadi ikut penasaran dan ingin melihat apa yang dilihat Fandi dan Riyu sambil tersenyum sendiri.


"Wah enak sekali dia" Bisik Fandi saat dikuping Yunita tanpa sadar membicarakan Rafa yang masih melakukan hal enak itu.


"Kampret ayo jangan ngintip lagi entar mata kita benjol" kata Ryu tanpa sadar melihat Yunita dari dekat sekali.


Cantik benar kamu Yun,aku gak bisa bilang isi hatiku,andai kau tau Yun aku suka padamu" Batin Ryu sendiri.


Yunita turun dari Bak mandi dan menarik celana Fandi dan Ryu berharap mereka menghentikan aksi mengintip Rafa dan Indar.


"Ayo kalian mau kena bogem Rafa kalau tau kita memgintip mereka kencan?" bisik Yunita sambil menahan tawa sedari tadi.


Fandi dan Ryu menurut dan berlari kedepan rumah dibarengi Yunita. "Hahahahah" Mereka semua tertawa terbahak-bahak geli melihat adegan film yang mereka intip tadi.


"Hus jahat kalian,rahasiakan itu pada orang lain" kata Yunita tanpa sadar jemari nya menggelayut lengan Ryu,membuat Ryu malu dan merona,Fandi hanya fokus apa yang iya lihat tadi tanpa melihat Ryu dan Yunita ,kalau tidak pasti Fandi akan meledek mereka.


"Maaf" kata Yunita sambil melepas pegangan lengan Ryu.Ryu angguk kepala dan buang muka terlihat wajah nya memerah semu karena pertama kali bertegur dan berdekatan dengan Yunita.


"tidak apa-apa" balas Ryu sambil tersenyum manis tanpa melihat Yunita,Fandi tahu langsung tersenyum iya masih fokus dan memikirkan hal yang iya lihat tadi.


"Wah pacaran kayak gitu,apa enak pacaran?, ih tak mau pacaran tidak enak diatur-atur cewek" cibir Fandi sambil kernyit dahi.Karena sebenarnya Fandi tidak suka pacar-pacaran dia anti sama yang namanya pacaran.


"Bodoh kau" kata Ryu sambil buang muka,Ryu melihat Rafa dan Indar sudah keluar dari rumah Bulek lontong,mereka berdua heran kenapa temannya diluar semua?,mereka berdua mana tahu kalau Fandi,Ryu dan Yunita mengintip tadi.


"Kalian kok senyum-senyum gitu?,tidak ada yang lucu" kata Indar saat melihat Yunita juga senyum kecil.Ryu dan Fandi geleng kepala sedangkan Rafa cuek bebek membayar tagihan jajan Yunita beserta Indar,Puput dan Merry tadi.


Setelah pulang sekolah Yunita dan Indar jalan berdua menuju rumah mereka.Tampak kalau Indar lagi berbunga-bunga karena baru jadian dengan Rafa.


"Ciee yang baru jadian,kok bisa sih kamu baru putus sambung lagi sama Rafa?" tanya Yunita ingin tahu saja apa sebab Indar menerima Rafa.


Indar tersenyum diam sekelak matanya berputar sembari memikirkan sesuatu.


"Hemm...gimana ya?,Rafa sudah mau aku atur tidak main judi lagi,walau nanti nya Fandi jadi benci sama aku" kata Indar.


"Benci?, untuk apa cowok gila itu benci sama kamu?" tanya Yunita heran dengan ucapan Indar,sebenarnya Yunita sedikit paham maksud Indar.


"Ya pastilah benci,kalau aku atur Rafa otomatis mereka tidak main judi lagi,biarin saja,rasain siFandi itu" kata Indar berharap sekali Fandi sengsara.


Sesampai dipersimpangan Indar dan Yunita berpencar menuju rumah masing-masing.Diperjalanan Yunita terus berfikir tentang masalah percintaannya.


"Woi yun..." terdengar seruan panggilan dari belakang Yunita.Langkah Yunita terhenti dia mengenal suara itu,lalu Yunita berbalik badan.


"Wati...kau sudah pulang sekolah juga?,cepat juga ya" kata Yunita tersenyum saat Wati sudah dihadapannya.


"Ya Guru kami ada rapat,entar sore jam lima kita kesungai yok..aku sudah ajak Indar dan Merry" kata Wati yang sudah mengenal juga teman sekelas Yunita.


"Kapan kau ketemu mereka?,kami masih pulang sekolah?"Tanya Yunita terheran dan bingung,sambil kernyit dahi.


"Sebenarnya sih belum janjian,ya pasti mereka mau lah,kau tenang saja kalau sudah aku jemput mereka mana bisa nolak" kata Wati sambil kernyit dahi.


"Ya sudah,kita pulang dulu ganti seragam sekolah,nanti kamu jemput aku ya" kata Yunita sambil tersenyum. "Ok" jawab Wati.


Sesampai dirumah Yunita langsung merebahkan tubuh untuk menghilang rasa lelah sejenak. Yunita menarik nafas panjang memikirkan ajakan Wati nanti sore.


Yunita terduduk dari kasur lalu membuka seragam sekolah dan hijab nya. Setelah itu dia beranjak dari kamar karena perutnya sudah lapar. Dia ambil piring dan duduk dimeja makan,rumah sementara tiada penghuni lain,seperti biasa Mama Yunita berdagang,Ayahnya masih bekerja.


pukul lima sore Yunita sudah bergegas keluar dari rumah,dia berjalan menuju rumah Wati.


Sewaktu dia berjalan dia mendengar suara sepeda Motor yang iya kenal.Yunita berlarian menuju pohon mangga besar dan bersembunyi dibalik pohon.


Wijaya... dia sudah pulang,tidak aku tidak akan menemuinya lagi,dia pengkhianat lelaki kurang ajar. Batin Yunita


Saat Wijaya melintas dia tidak tahu kalau Yunita bersembunyi dibalik pohon tersebut,butiran air bening tak terasa secara perlahan jatuh dipipi Yunita,Oh...sungguh Yunita merindukan pemuda tersebut,tapi Yunita tidak kuasa kalau ketemu Wijaya,Yunita pastikan luluh karena perasaan nya lebih besar dibanding bencinya,lebih baik tak bertatap muka.


Yunita bersandar dibalik pohon dan terjongkok dia tidak tahu lagi mau mengadu sama siapa?,Yunita ingin melupakan pemuda itu tapi kenapa harus melihat pemuda itu barusan.


Tak mau bertemu Wijaya dijalan Yunita berencana pulang kerumah,Yunita tidak jadi ketemu Wati,Dia berlari sembari lengan kanannya mengusap derai air mata kepedihan dihati.


Bersambung*


Like dan komen nya sayang.


Kalau berkenan.