
🌺ASRAMA🌺
Hari ini Aku tidak masuk sekolah lagi dengan alasan demam,sebenarnya Aku sudah sembuh hanya saja aku malas masuk kedalam sekolah dan kelas, karena mereka tiada hentinya menggunjingku.Bahkan cara mereka memandangku sudah tidak seperti biasanya.
Rina juga kemarin ribut dengan nordiana sampai ada yang tau, itu juga tersebar, karena itu Rina tidak ditemani mereka karena membelaku, mungkin Rina takut kehilangan teman yang lainnya dia juga gak berdaya dan sedikit jaga jarak denganku, Aku pun mengerti.
Aku sudah tidak tahan lagi,semua semakin parah, asrama ini semakin neraka Aku rasakan. Aku terduduk didepan lemari sambil menyusun pakaianku kedalam tas, dan juga menyusun barang-barang milikku kedalam tas satu lagi, Aku berniat kabur saja dari sini Aku sudah malu dan tidak tahan lagi disini.
Karena semua pada sekolah cuma Aku yang didalam asrama,Aku lebih leluasa mengumpul pakaian dan menaruh nya kedalam tas, mungkin ada juga murid yang izin sakit Aku harus waspada saat lari dari tempat ini.
Y**A Allah aku sudah tidak tahan lagi tinggal disini, mereka tidak mau berteman denganku, karena takut ketularan aku memberikan dampak negatif sama mereka,takut kalau aku ajari mereka hal-hal berbau pria. Ya aku harus pergi dari sini. membatin.
Setelah Aku kumpul pakaian dan barang-barangku, Aku keluar dulu dari kamar melihat situasi digerbang depan asrama, karena ummi asrama sering mengawasi gerbang itu, terkadang gerbang itu juga dikunci gembok.
Aku taruh dulu tas ini didalam lemari dua pintu, lalu Aku berjalan menuju gerbang membaca situasi.
"Aman..ummi juga gak ada" gumamku sambil berjalan lagi masuk kedalam asrama.
Aku berjalan cepat menuju gerbang asrama yang terbuka, entah karena Ummi lengah atau apa Aku bisa keluar tanpa halangan dari gerbang itu,saat Aku sudah diluar gerbang, santriwati lain melihat Aku kabur membawa dua tas.
"Yunita lari..!?, Ummi Yunita keluar !!" Santriwati itu menjerit dan berlari menuju kantor sekolah,Aku jadi panik dan lari sekencang mungkin,Aku tidak perduli lagi mereka mau bilang apa tentangku,serah mereka saja Aku udah pasrah.
Sampai dijalan besar Aku cepat-cepat naik angkot yang menuju terminal,dengan nafas tersengal karena habis berlarian,lega akhirnya Aku lepas dari asrama yang membuat Aku stres.
A**khirnya aku tidak akan jumpa kalian lagi, teman-teman yang munafik, situa tukang masak itu aku juga jijik sama dia, selamat tinggal kota M, aku tidak akan menginjak asrama itu lagi,biarlah Mama marah atau apa padaku, yang penting aku pergi dulu dari kota M ini. batinku.
Sesampai aku diterminal,mencari Bus arah kota T, lalu Aku naik kedalam bus menuju kota T, jarak setengah jam bus melaju karena jumlah penumpang sudah full didalam Bus, Aku tersenyum lega karena Bus sudah sampai dijalan Yol.
E**ntah apa yang dibuat Mama dan Ayah nanti kalau aku pulang kampung, kalau mereka tau aku kabur dari Asrama aku sudah siap dipukul atau dimarahi mereka,aku pasrah ya Allah, ini jalan yang aku pilih.batinku.
Aku tertidur saat sudah sampai dikota T,sampai ditempat tujuan Aku terbangun, dan Supir menginjak pedal rem, lalu Aku turun dari Bus tersebut,akhirnya Aku melihat kota T ini. ingin sekali Aku melihat Riandi sejenak tapi Aku tidak tau rumah Riandi yang mana,lagian Aku cewek apa kata orang tua Riandi?
"Desa pxx...desa pxx" Supir bicara saat Aku lewat didepan Mini Bus nya, karena Aku mau kedesa itu tempat Aku sebelumnya,Aku naik kedalam Mini Bus menuju arah kampungku.
Belum sampai saja jantungku sudah memompa dengan kencang karena Aku menebak-nebak apa reaksi Mama dan Ayah melihat Aku pulang,mungkin Aku akan dipukul atau dimarahi.
Siang berganti senja,matahari kian menurun kini Mini Bus yang Aku tumpangi, sudah sampai dijalan area desaku,Aku berfikir jawaban apa yang harus Aku jawab nanti kalau Mama dan Ayah bertanya?.
Saat sampai disimpang rumahku,Aku turun dari dalam Bus,Aku lihat jam tangan ini sudah pukul setengah tujuh maghrib,Aku berjalan terus menurusi gang arah rumah,dengan perasaan cemas dan takut.
Si**ap-siap akan dimarahi, oh Ya Allah.
batinku terus berkecamuk.
Sesampai didepan rumah langkahku terhenti, karena Aku lihat Mama dan Ayah duduk disamping teras,kupandangi dari kejahuan wajah yang mulai keriput itu,Ayah yang kulitnya menghitam akibat sinar matahari saat bekerja demi mencari uang,hatiku semakin terhiris melihat mereka berdua ngobrol dengan tertawa,haruskah aku rusak momen mereka yang indah dengan kedatanganku?
A**ku gak tega samperin mereka,kalau aku gak pulang kerumah aku harus tidur dimana?, aku gak mungkin tidur dirumah VivA,atau dirumah Wati,apa kata Mama dan Ayah temanku itu, entar yang datang masalah baru.Membatin.
Aku menghapus air mata ini dan berniat masuk kerumah, Aku sudah putuskan apapun yang terjadi Aku akan tanggung jawab,karena ini memang salahku kabur dari Asrama itu.
Mama dan Ayah jadi berhenti ngobrol karena melihat anaknya berdiri didepan mereka, dengan wajah tertunduk Aku beranikan diri menapakan kaki dirumah ini.
Ayah dan Mama terkejut sekali dan pasang muka cemas dan marah.
"Lho kenapa kau pulang?,apa libur?"tanya mama yang menatapku heran dan penasaran, Aku menelan ludah sembari ketakutan saat mendengar suara lantang Mama.aku gak berani jawab hanya tertunduk dan menangis.
"Cepat katakan sama Mama,kau kenapa pulang sendiri !?,apa kau tidak takut naik bus sendiri !?,apa tidak takut diculik atau diperkosa orang dijalan hah !!" bentak Mama geram karena Aku gak mau jawab pertanyaan pertama Mama, Ayah diam saja sambil menatap Aku juga.
"Aku gak betah ma disana,Aku mau pulang" kataku sambil menangis tersedu-sedu,mendengar jawaban dariku mungkin Mama emosi,kini tangan Mama menarik rambutku sekuat mungkin hingga berputusan,Ayah melerai dan menarik tangan mama.
"Berarti kau kabur dari asrama kan?, hah apa kau gak mikir kami disini mencari hutangan demi sekolah kau,sampai hati kau kabur gitu, kau buat malu saja !!" bentak Mama dan marahnya semakin menjadi.
Aku hanya diam sambil menangis,lalu tanganku memungut hijabku yang jatuh kelantai karena tangan Mama yang menariknya.
"Anak gak tau diri, dulu mau sekolah disana, minta pindah sana sini, kayak bola aku kau buat hah...!!!, kini kau sekarang kabur dari sana,mau mu apa Yun?,kau mau buat Mama sama Ayah mati berdiri" kata Mama sambil melayangkan lagi tanganya kewajahku,tapi tidak jadi karena Ayah lebih dulu menarik lengan kanan Mama.
"Sudah..sudah..Yunita kamu masuk sana kekamar" kata Ayah sambil memegang tangan Mama,aku menangis tersedu-sedu sambil berlari masuk kedalam rumah,lalu masuk kedalam kamar menghempas begitu saja kekasur tubuhku ini sambil menangis.
"Aku gak terima yah, anak itu semakin lama semakin gak bisa diatur,sesuka hatinya saja" kata Mama saat bertengkar dengan Ayah Yunita.
"Tanya pelan-pelan sama anak,dia udah gadis dia yang jalani disana,apa kita tau dia kenapa jadi gak betah?,sudah tenangi diri kamu" jawab Ayah saat berdiri dihadapan Mama.
"Memang anak gak tau diri dia, gak mikir sudah berapa buat sekolah dia,Adiknya sampai gak bayar uang sekolah" kata Mama sambil bersuara parau karena hampir menangis.
Aku mendengar juga perkataan mereka karena teras disamping kamarku,karena rumah ini dari kayu,Aku sangat jelas mendengar perkataan mereka,hatiku bagai disayat silet saat dengar itu,Aku menangis sambil memeluk bantal.
Hiiiks..hiks..andai kalian tau Mama penderitaan aku disana,pasti dia tidak marah seperti ini, apa aku harus bilang,akibat dilecehkan anak situkang masak itu aku jadi begini, kalau itu tidak terjadi mungkin aku masih diasrama Mama...Ayah..hiksss..hiks..batinku.
Tapi hatiku tak sesuai sama keberanian hati, Aku ingin sekali mengatakan hal sebenarnya tapi tidak kuasa,seperti Aku dihimpit batu yang besar,Aku seperti malu menceritakan ini, biarlah aku pendam aib ini, biarlah Mama dan Ayah anggap Aku anak gak tau diri, yang penting Aku sudah disini,dan sudah pergi dari tempat itu.
*********
🌺KEESOKAN HARINYA🌺
"Panggil anakmu itu mau nya apa sekarang?" kata Mama saat didepan duduk sama Ayah. Ayah berfikir lalu memanggil namaku.
"Yunita" panggil Ayah,Aku diam saja lalu keluar dari kamar berjalan kedepan dekat ruang tamu.
"Mau kamu apa!?" kata Mama dengan lantang saat melihatku duduk dilantai,dihadapan mereka. Aku tertunduk takut seperti tidak ingin menjawab,tapi Aku beranikan karena takut mereka semakin kesal dan marah.
"Mau pindah ma" jawabku pelan seperti tak bersuara,karena saking takutnya hati ini, badan serasa mengeluarkan hawa panas karena jantung memompa dengan kencang.
"Sudah sana,buat emosi,muak lihat kau" kata mama sambil geram lihat Aku didepan dia, Aku diam tanpa kata lalu berdiri,setelah itu Aku berjalan masuk kedalam kamar.Aku tau Mama lagi marah jadi perkataannya gak pernah Aku ambil hati,karena dari dulu memang begitu jadi terbiasa.
"Entar lagi puasa,naik-naikan kelas,kalau dia niat sekolah masukan saja diTsanawiyah depan sekolah SD dia dulu,biar dekat" kata Ayah yang sudah menemukan jalan buatku.
"entahlah..aku udah pusing yah..terserahlah Aku udah capek urusin sekolah dia" kata mama sudah pasrah saja apa yang mau dibuat.
Aku mendengar itu sedikit tersenyum,Aku bisa bernafas lega karena bisa sekolah lagi, biarlah sekolah dikampung asal Aku bisa nyaman, Aku juga bisa ketemu teman-teman lama yang baik dan gak nusuk dari belakang seperti teman diAsrama.
Malam harinya Aku bosan karena mengurung diri terus didalam kamar, karena Ayah dan mama pergi kondangan,sedangkan Adik dirumah tetangga,Aku berniat hendak kerumah Wati saja sudah lama tidak bertemu Wati.
Aku tutup pintu rumah dengan rapat,lalu berjalan menyusuri pondok karena rumah Wati sedikit jauh, saat ditengah perjalanan.
"brum..brum" sebuah Sepeda Motor RX.king melaju dengan cepat hampir saja menyenggol Aku yang jalan kaki ini.
"Woi pelan-pelan dong,udah bertiga malah kebut-kebutan,dasar preman kampung !!" teriakku kesal,mereka tidak mendengar ucapanku,mungkin lebih kuat suara Sepeda Motor mereka dari pada mendengar suaraku ini.
Sesampai dirumah Wati Aku disambut hangat dengan Wati, Aku masuk kedalam rumah Wati.
"apa kabar Yun?,wah pulang juga kau akhirnya,gimana enak disana?"kata Wati saat mencubit pipi kananku karena gemes.
"Aku mau pindah wat,aku gak betah,rindu sama kalian"kataku saat aku sudah duduk ditepi ranjang Wati,karena Wati masih berdandan ria didepan cermin kecil.
"Lho kok pindah?,katanya enak disana, aneh kamu" ujar Wati sambil memakai bedak bayi supaya kelihatan segar.
"Ah gak betah..enakkan gabung kalian" jawabku sambil tersenyum, lalu Wati duduk disampingku.
"Jadi mau sekolah dimana kamu Yun?" kata Wati lagi sambil memakai jaket kulitnya.
"belum tau Wat,mungkin diTsanawiyah,serah lah yang penting aku pindah" jawabku lagi sambil menutupi luka ini.
A**h lebih baik aku gak cerita tentang kejadian disana,biarlah membusuk didalam hatiku ini, malu juga aku cerita sama Wati,walau aku tau Wati orangnya cuek.membatin.
"Kalau kau diTsanawiyah kita beda sekolah, aku dikota, ya gak apa lah Yun,yang penting kita masih ketemu kawan" kata Wati sambil berdiri dari duduknya,lamunanku buyar saat Wati bicara begitu.
"Yok Yun kita kesebelah gabung sama kak leni"kata Wati menarik jemariku tanpa menunggu ucapanku lagi,Aku nurut saja karena Aku tau Wati sering nongkrong disamping rumah Lenni .
Rumah Wati bersebelahan dengan rumah Lenni, mereka sering nongkrong bersama pemuda kampung ngobrol dan bercanda ria, lenni yang ajari Wati pacaran,saat Wati kelas lima SD sudah mengenal laki-laki,karena malu dia masih sekolah dasar,Wati sering menipu pacarnya mengakui kalau dia anak sekolah SMP,pacar-pacar Wati percaya karena melihat postur tubuh Wati yang tinggi.
Kini aku sudah gabung bersama mereka,bercanda ria, lepas rasanya beban dihati ini karena stres saat diAsrama seketika hilang,indah rasanya bisa pulang kekampung ini lagi. Memang disinilah tempatku.
Aku melihat Sepeda Motor RX.King tadi yang hampir menabrak Aku,Sepeda Motor itu berhenti saat dipanggil Wati,lalu tiga pemuda itu duduk diatas sepeda motor didepan rumah Wati.
Aku melihat Wati ngobrol sejenak dengan mereka,Pemuda yang ditengah melihat Aku terus dari kejauhan,Aku cuek lalu aku ngobrol dengan teman-teman lenni siska dan Nanda.
"Yunita sinilah" panggil Wati sambil tersenyum
"Abang ini mau kenalan yang tengah" bisik Wati saat mendekatiku,Aku diam saja sambil melihat Pemuda yang tersenyum manis padaku.
"dia mau kenalan,paling ganteng itu disini, cepat Yun" kata Wati sambil heboh menarik jemariku untuk mendekati Pemuda itu.
saat sudah dekat Aku baru tau kalau memang dia tampan,bibir sensual nan kecil ditambah hidung bangir beralis tebal.dia lebih muda dari Riandi,maklum baru satu tahun yang lalu tamat SMA.
"Ini anak bang Darman ya?,sudah besar ya, makin-makin lagi,siapa namanya dek?" kata Pemuda tampan itu sambil menatapku senyum.lalu Pemuda itu mengulurkan tangan.
Wati senggol lenganku berharap Aku membalas uluran tangan Pemuda itu, karena sedari tadi Aku diam dan tersenyum saja.
kini tanganku sudah jabat tangan Pemuda itu sambil menyebutkan namaku, "Yunita".
"Wijaya" dia tersenyum dan lama megang lenganku, Wati tersipu malu karena Wijaya melihatku sampai tak lepas.
"Ehem..ehem" lepas dong tangan kalian, entar lengket lho" sindir Wati sambil tertawa renyah, teman Wijaya juga melirik Aku,Aku juga kenalan dengan mereka Joko dan Tino.
bersambung*
visual Wijaya.
playboy,tukang bohong,julukan sikumbang, Desa.
Jangan lupa like and komen nya say,jempol kalian sangat author butuhkan biar semangat nulis. makasih.