
🌺MASIH DIRUMAH WATI🌺
Aku melepas jabatan tangan Wijaya yang sedari tadi kami saling pandang lama,Aku sedikit malu dan tertunduk, sementara Wijaya dengan senyuman manisnya tetap saja tidak mau lepas memandangku,Wati melirik sambil tersenyum,sepertinya Wati tau apa yang dirasakan Aku dan Wijaya.
"Kalau begitu kami pergi dulu ya dek, mau ketempat teman sebentar" kata Wijaya sambil tersenyum, Wati tersenyum kecil Saja,Aku diam sambil melontar senyum sesekali karena canggung,Joko membawa Sepeda Motor itu pergi dari hadapan kami.
"Ehem..ehem.."dehem Wati sambil senggol lenganku karena sedari tadi Aku diam membisu. "gantengkan !" kata Wati sambil berbisik kekupingku,Aku terpekik geli karena nafas Wati singgah dikupingku,
"bising" kataku sambil malu-malu.
"Tapi dia playboy yun,walau begitu dia pemilih, aku saja yang naksir gak pernah ada sinyal tuh dari bang Wijaya" kata Wati sambil menatapku,Aku hembus nafas panjang mendengar perkataan Wati kalau dia Playboy.
"Lagian aku ada Riandi,gak mungkinlah"kataku sambil menyangkal kalau Aku ada sedikit rasa dengan Wijaya itu,mungkin suka pandangan pertama, "apa iya?" ledek Wati seakan tau isi dalam hatiku yang tersembunyi ini.
"Ah mending kita duduk lagi" Aku mengalihkan ledekan Wati takut iya terus menggangguku,Wati menaikan alis dan terdiam lalu kami jalan barengan menuju rumah lenni gabung lagi dengan mereka.
"Woi beli kemek-kemek lah" kata Lenni dengan Siska dan Nanda, "ok sabar ya" jawab Siska sambil beranjak pergi menuju warung kelontong, setelah itu kami berbincang-bincang lagi, entah kenapa otakku ini terus memikirkan pemuda yang baru saja Aku kenal, wajah Wijaya terus saja membayangi kalbuku ingin sekali aku dekat dengan Wijaya, sampai Aku gak sadar diri kalau Aku sudah punya Riandi.
"Bengong aja..hayoo mikirin apa kau?"kata Wati melihat Aku diam saja sambil melamun, lamunan ku terhenti dan buyar karena Wati senggol kakiku yang duduk disamping nya, "ah..apa sih Wat" ucapku sambil buang muka karena gugup dengan pendangan Wati yang ingin menebak hatiku.
"Kayak nya ada yang suka nih sama cowok ganteng" ledek Wati lagi membuat mukaku semakin merona pink,Lenni kernyit dahi dan menatapku serius.
"apa karena Wijaya?"kata Lenni sambil menebak-nebak juga kalbuku.
"Iya kali haahah..ternyata bukan kita aja yang diobok-obok hatinya karena melihat Wijaya, tuh yunita juga" kata Wati sambil mendorong badan Lenni, Lenni terdiam dan buang muka sepertinya dia menyimpan sesuatu.
"Kau bisa saingan sama kak lenni, dia juga beter-beter Wijaya tapi gak dapat hihihi.. " bisik Wati membuatku jadi sungkan pada lenni.Aku melihat jam tangan ternyata sudah pukul sepuluh malam, Aku berdiri dari duduk.
"Wati aku balik ya, kau tau kan mama aku gimana"kataku sambil melihat Lenni yang sedikit beda dari yang tadi.
"Ok..entar aku main kerumahmu ya" kata Wati sambil tersenyum. "ok Wat, ayo kak Len" kataku tersenyum pada Lenni,Lenni hanya senyum kecil dan sedikit dingin,tadi dia hangat saat bicara padaku,kenapa sekarang lenni jadi dingin gitu,Aku cuek saja gak memikirkan hal itu.
Aku pergi meninggalkan perkumpulan itu, lalu berjalan menuju rumah, menyusuri sedikit rumah penduduk dan semak belukar, kakiku melangkah sampai belakang rumah,sampai dipintu dapur Aku membuka pintu.
"dari mana kau?" kata Mama ketus sambil menatap nanar Aku,Aku jadi kikuk dan gugup karena takut dimarahi,Aku diam saja langsung berjalan sedikit cepat kedalam kamar,Mama tidak mau lagi membahasnya walau Aku gak menjawab pertanyaan Mama.
************
Hari demi hari Aku lalui sampai bulan suci ramadhan tiba,malam ini malam pertama tarawih,Aku sudah janjian dengan Viva untuk tarawih pertama bersama,kini Aku sudah berjalan kerumah Viva sambil membawa mukena dan sarung,sampai dirumah Viva Aku menunggu dia sebentar.
"Gak lamakan Yun?,aku tadi habis makan" kata viva sambil memakai sendal jepitnya, Aku berdiri saja didepan pintu sambil tersenyum.
"ayo udah mau azan" kataku sambil berjalan barengan dengan Viva menuju mesjid, mesjid sedikit jauh walau berjalan kaki kami sudah senang sambil melewati perkampungan lain.
Dua Pemuda lagi duduk ditempat remang-remang sambil ngobrol tentang Aku.
"benar ton...Yunita itu teman SD kamu dulu?" tanya Wijaya sedikit penasaran tentang Yunita.Sutono berfikir dan mengingat namaku itu."benar bang,emangnya kenapa?" jawab Sutono karena sudah ingat tentang Yunita.
"Kata orang-orang dia sudah balik dari kota M, makin bohai bang,makin aduhai,aku masih dengar saja sih,aku gak percaya"kata Sutono lagi saat mengingat-ingat perkataan yang iya dengar, Sutono melihat Wijaya sedang berfikir-fikir. "Kenapa kau gak percaya?"kata Wijaya menatap Sutono serius.
"Soal dulu dia tomboi bang,rambutnya saja seperti kita ini bang bentuknya,nakal lagi, aku gak percaya kalau dia feminim sekarang"kata Sutono sambil cengengesan takut kalau Wijaya marah,karena Wijaya satu kampung dengan sutono,Sutono sering gabung dengan Wijaya nongkrong,walau Sutono lebih muda Wijaya menerima Sutono gabung kalau lagi nongkrong.
"Eh itu ada cewek lewat...suit..suit" Sutono melihat Aku dan Viva berjalan melintas,kami mendengar siulan itu tetapi cuek karena kami anggap itu pemuda iseng-iseng saja.
"Gak usah diladeni anggap saja gila" kata Viva saat kami berjalan sedikit pelan.
Kami melihat seorang pemuda berlari kearah kami,sampai dia mendekati kami berhenti sebentar mengatur nafas,karena barusan berlari,Aku memandang pemuda seumuran kami, Aku seperti mengenalnya.
"Su....Sutono ya?"kataku memastikan kalau dia itu teman SD,Sutono angguk kepala saja karena masih mengatur nafas,Viva diam saja dan berfikir. "Ngapai kamu lari-lari ?" kataku lagi penasaran kenapa Sutono menghampiri kami sedangkan dulu kami disekolah tidak begitu akrab.
"Aku disuruh abang itu untuk menemui kamu Yun, wah gak sangka aku kau berubah Yun" kata Sutono kagum saat melihat aku dari atas bawah,Viva hanya tersenyum kecil sambil menutup mulut,Aku juga tersanjung dan tersenyum malu karena ucapan Sutono.
"Siapa yang suruh kamu Ton?,mau apa dia?" kataku penasaran sambil melihat kearah depan yang sedikit remang,Aku melihat bayangan orang dengan sepeda motornya lagi duduk diatas sepeda motor tersebut.
"Ayolah yun,kata abang itu kamu sudah kenal dengan dia" ajak Sutono sambil melirik kearah viva,viva tidak kenal sutono karena Viva lain SD dulu.
"Vi..kamu duluan saja,entar aku susul kamu kemesjid" kataku penasaran siapa Pemuda yang ingin ketemu denganku.
"Ya sudah Yun aku tunggu kamu dimesjid" jawab viva lalu aku melihat Viva sudah berjalan menuju kemesjid, sedangkan aku dan Sutono berjalan mendekati Pemuda yang sedari tadi menunggu kedatangan kami.
Nau kotoran lembu tersebut tidak kami hiraukan karena pertemuan kedua ini,Sutono melihati kami berdua masih saling pandang.
"Ehem..kalau gitu aku balik dulu ya,entar ganggu" kata Sutono mengerti dengan suasana yang menggetarkan kalbuku ini.
"Tidak perlu diantar ton?" tanya Wijaya merasa tidak enak karena sudah menolong untuk memanggil Aku, Sutono sambil berjalan hanya geleng kepala saja lalu Sutono berlalu dari pandangan kami, sementara Aku masih canggung dan gugup saat dekat sedikit dengan Wijaya.
"Adik apa kabar?,mau tarawih ya?"kata Wijaya saat memandang Aku lekat-lekat, Wijaya ini penuh kharisma entah melihat dia bagai aku dipelet saja.
"Ya bang.."jawabku singkat malu-malu sambil sunggingkan senyuman.
"Sudah telat dik,sudah jam berapa ini, gimana kalau kita jalan saja,abang gak tahan bau kotoran lembu" kata Wijaya sambil mengajak aku berharap Aku akan mau,Aku berfikir takut kalau Viva kecewa,pasti Viva menunggu Aku dimesjid,tapi entah kenapa kharisma Pemuda ini membuat Aku tergoda sampai Aku anggukan kepala seraya mau dengan ajakan Wijaya.
Mukena dan sarung Aku sembunyikan dipagar hijau dekat area itu, lalu Aku naik saja keatas Sepeda Motor RX.king tersebut,lalu Wijaya menghidupkan sepeda motornya dan melaju keperkampungan lain.
Saat kamu melewati sejumlah kebun karet yang sedikit remang,Wijaya menarik lenganku dan menaruh kepinggang Wijaya,Aku mengerti langsung melingkarkan kedua lengan ini kepinggang Wijaya,jantungku sedikit berdetak kencang walau Aku dibelakang wijaya.
"Jangan malu dik,kita muter-muter dulu ya cari angin" kata Wijaya sambil mengegas sepeda Motornya menuju pertengahan kebun karet,Aku sedikit takut karena Wijaya membawaku ketengah kebun karet,tapi fikiran buruk itu Aku tepis karena rasanya hati ini nyaman sekali dekat Wijaya,berduaan dengan Wijaya.
"Brum..brum" Wijaya menekan pedal rem,Motor berhenti seketika ditengah kebun karet, Aku terdiam saja tanpa kata,apalagi saat Wijaya turun dari Motornya,Aku melihat tubuh semampai tinggi itu berdiri didepan Aku, sementara Aku masih duduk diatas motor Wijaya.
"kok diem saja?" kata Wijaya saat menyentuh daguku yang sedikit runcing,Aku tak kuasa saat Wijaya mendekati wajahnya kewajahku,lengan kananku mendorong wajah wlWijaya yang semakin dekat dengan wajahku, karena Aku malu sekali atas perlakuan sikap Wijaya itu,mungkin dia hendak menciumku.
"Maaf ya.. abang mau tanya lebih dulu, apa adik sudah punya pacar?" tanya Wijaya entah apa maksud dia berbicara seperti itu,dengar pertanyaan itu Aku jadi sadar kalau Aku sudah punya Riandi.
Oh tuhan apa aku akan khianati Riandi?, ah sampai sekarang Riandi tidak ada kabar denganku, dia juga tidak tau kalau aku sudah tidak dikota M lagi. Batinku.
"Kenapa diem dek" kata Wijaya karena Aku tidak mengucapkan jawaban pertanyaan wijaya tadi,mungkin Wijaya sudah terlalu lama bertanya, "jangan malu gitu atuh" kata Wijaya saat Aku terus tertunduk.
Tanpa izin tanpa ucapan cinta Wijaya memberanikan diri kecup keningku sekilas, entah kenapa Aku tidak menolak kecupan Wijaya itu,tubuhku terasa panas dan nyaman saat didekat Wijaya.Wijaya tersenyum manis karena Aku pasrah saja saat dikecup Wijaya.
Kini Wijaya mendekati lagi wajahku,bibir Wijaya mendarat kebibirku yang mungil,Aku ingin menolaknya lagi-lagi tak kuasa,bibir ini seperti menerima ciuman mesra Wijaya itu. setelah itu Aku membuka mata karena Wijaya melepas ciuman tersebut.
"Diem aja dih...ngomong dong" kata Wijaya sambil menidurkan tubuhku distang motornya, Aku lagi-lagi pasrah saja,apalagi wijaya naik keatas motor,membelai rambutku dengan mesra,Aku merasa begitu tenang dan hangat,entah kenapa Pemuda ini membuatku takluk padahal kami belum ada kata jadian.
"Abang udah punya pacar?" tiba-tiba pertanyaan itu terlintas dipikiranku,entah kenapa juga Aku berani bertanya seperti itu, mendengar pertanyaan Aku Wijaya seperti berfikir sejenak dan menaikan alis,Aku bersabar menunggu jawaban Wijaya.
"Belum..kenapa dik?"kata Wijaya sambil merogoh saku Wijaya ternyata dia mengambil sebungkus rokok.
"Gak apa bang" kataku sambil tersenyum, kepalaku terasa sakit saat menyandar distang kereta ini,lalu Aku bangkit melihat wajah Wijaya dengan leluasa.
Walau dari samping Aku melihat Wijaya yang menikmati sebatang rokoknya,tapi membuat hasratku ingin mengecup pipi itu, entah kenapa Aku berfikiran seperti itu,tapi itu tidak alAku lakukan karena Aku masih malu dan canggung.
"Abang suka sama adik" tutur Wijaya lalu menatapku,Aku terkejut perkataan itu membuatku terbang melayang keawan,Aku juga tidak bisa berkata-kata hanya senyuman saja yang alAku lontarkan.
"Jadi kalau suka?" Aku beranikan berujar tapi mataku bukan melihat Wijaya,malah melihat pohon karet yang tersusun rapi dihadapan kami sekarang.
"Kalau suka...ya kita pacaran lah" kata Wijaya mungkin begini caranya menembak cewek.
Entah kenapa Aku angguk kepala saja membuat Wijaya sedikit berharap padaku,mungkin Aku sudah gila,punya pacar tapi bersama orang lain lagi,apalagi baru dua kali kami bertemu,hati ini tak mampu menolak untuk tidak menerima Wijaya.
"Yuk dik kita pulang,kelihatannya orang tarawih sudah pulang" kata Wijaya sambil membuang rokoknya begitu saja ditanah,Aku nurut saja karena Aku takut juga ketahuan mama kalau aku sebenarnya tidak Tarawih,malah Aku kencan dengan Pemuda ini.
Sampai kami ditempat semula Wijaya mematikan motornya,lalu Aku mengambil mukena yang Aku bawa tadi setelah Aku turun dari Motor Wijaya,sementara Wijaya masih diatas Motornya.
"Kapan kita ketemu lagi dik?" kata Wijaya dia ingin ketemu lagi denganku,Aku berfikir dan terdiam
"Besok malam ya,karena abang mau kerja, kamu tau kan abang supir lintas" ucap Wijaya sambil tersenyum padaku.
Aku angguk kepala saja, lalu Wijaya kecup keningku sekilas setelah itu dia pergi dari hadapanku, "yes" ujarku sendiri gembira serasa berbunga-bunga,Aku lanjut berjalan menuju rumah,karena Aku keluar malam dengan alasan Tarawih Mama tidak marah Aku jadi tenang sambil berjalan masuk kedalam kamar.
Aku berbaring telentang sambil mengingat momen tadi,Aku memegang bibirku ini saat mengingat dicium Wijaya tadi, entah kenapa perasaan ini gak bisa Aku tepis,sampai Aku bisa lupa dengan Riandi sedikit,padahal Aku cinta dengan Riandi entah kenapa Wijaya mengalahkan hatiku,membuka benteng pertahanan didalam hatiku ini.
bersambung*
Author butuh banget like and komen kalian.
maaf ya author gak maksa, kalau gak like tapi yang like pahala nya bisa gede kayak jempol kalian yang like part ini wkwkwm....