We

We
Delapan




...We...


...|Delapan|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Hanya datang untuk melunasi hutang. Atan hanya meneguhkan pikiran dan hatinya seperti itu, ketika poros roda mobilnya mulai menyentuh aspal deretan perumahan elite bergaya Eropa yang di tinggali Tyra.


Tadi, Tyra juga sempat mengirim pesan lagi jika tema pesta yang akan mereka hadiri. Temanya, bebas. Yang penting memakai baju hitam. Boleh T-shirt, boleh kemeja. Yang penting warnanya hitam.


“Harusnya udah deket sih.” gumam Atan setelah melirik map di ponsel yang ia letakkan di atas dashboard.


“Sial.” umpat Atan dalam hati saat menyadari Tyra sudah berhasil membuatnya terlihat seperti driver Uber kejar setoran. Hingga mobil Fortuner hitam yang ia kemudikan itu sampai didepan pagar sebuah unit minimalis namun begitu elegan saat dipandang, Atan meraih ponselnya. Dia hendak menghubungi Tyra, namun urung saat melihat presensi gadis itu baru saja keluar rumah dan sedang mengunci pintu. Satu pertanyaan muncul dalam benak Atan. Tyra tinggal sendirian?


Atan tetap diam memperhatikan. Lalu, ponselnya bergetar, Tyra sedang meneleponnya.


“Kamu dimana?” tanya Tyra ketus saat Atan sudah menjawab panggilan tersebut.


“Didepan rumah anda.”


Benar-benar seperti driver sejati.


Tanpa kalimat penutup, Tyra mengakhiri panggilan dan berlari keluar menuju pintu gerbang. Atan melihat semua tingkah laku Tyra, kemudian tersenyum kecil.


Tak lama berselang, pintu rumah terbuka dan Tyra muncul dari balik pintu kecil yang ada disisi pagar besar. Atan membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Dia bahkan sedikit terkejut dan dibuat melongo oleh penampilan Tyra yang sangat ... cantik.


Rambut pirang itu dibiarkan tergerai dengan curly di bagian bawah. Make-up nya tipis namun tak mengurangi pesona ayu di wajahnya. Kulitnya yang putih terlihat begitu kontras dengan gaun berwarna hitam selutut berleher turun hingga menampakkan tulang selangka yang indah dan kedua bahunya terekspose, yang dipakainya.


“Nggak nyasar kan?” tanya Tyra alih-alih meminta maaf sudah merepotkan pria didepannya itu. Ia bahkan dengan berani dan tanpa sungkan melongok ke arah mobil Atan. “Pakai mobilku bisa nggak?” lanjut Tyra mencoba memastikan.


Atan bahkan ikut menoleh kebelakang. Apa yang salah dengan mobilnya? Baginya, mobil ini sudah mahal dan berkelas. Ya, meskipun kelas yang dia maksud jelas berbeda dengan kelas yang dianut Tyra.


“Kenapa dengan mobilku?” tanya Atan dengan wajah datar. “Nggak cocok sama kamu?”


Tyra mengedikkan bahu. Dia tidak mau munafik. Mobil Atan terlalu sederhana untuk menghadiri party mewah temannya malam ini.


“Bisa nyetir Ferrari nggak?” tekan Tyra tidak mau mengalah. Dia akan malu datang hanya dengan mobil Fortuner yang harganya tidak sampai menyentuh angka M, tidak sebanding dengan kartu hitam limited edition miliknya.


“Tidak bisa. Kalau tidak mau pakai ini, ya sudah. Saya balik pulang.”


Atan sudah berbalik hendak mengurungkan niatnya menuruti kemauan dan permainan Tyra. Lebih baik dia hutang Bank saja lagi untuk membayar penalti, lalu mencicil tiap bulan, dari pada harus berubah jadi seperti orang bodoh yang mudah dimanfaatkan. Meskipun dia juga sebenarnya tidak terlalu dirugikan. Adapun sistem yang sedang ditawarkan adalah simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan.


Tyra terbelalak. “E-e-eh. Ya sudah deh.” kata Tyra dengan bibir maju seperti bebek. Kakinya menghentak dua kali kemudian dia berjalan melewati Atan sambil menabrak dengan sengaja satu sisi bahu Atan. Tyra menarik handle pintu mobil dan suasana hatinya yang semula dongkol, berubah berdebar. Aroma Atan yang memenuhi bagian dalam mobil menyapa hingga kakinya terpaku. Aroma lembut berbaur coklat yang sangat ia sukai.


“Kenapa berdiri saja? Nggak mau, ya sudah. Saya bayar penalti saja—”


Tyra bergegas naik dan duduk di jok samping kemudi tanpa berbicara sepatah katapun. Bahkan, setengah perjalanan mereka gunakan untuk berdiam diri. Ternyata, T-rex bisa juga di jinakkan.


“Kasih tau saya rules pestanya. Biar nanti saya tidak mempermalukan anda disana.”


Tyra melirik sinis. Bagaimana bisa dia menyukai orang semacam ini? Entahlah, masih menjadi misteri untuk dirinya sendiri.


“Nggak tau.” ambeknya tidak peduli. Saat turun dari mobil saja nanti dirinya sudah di ledek habis-habisan oleh teman-temannya yang memang berasal dari kaum Borjuis.


“Masih marah sama saya gara-gara mobil ini?”


Tyra hanya diam sambil membuang pandangannya keluar jendela mobil.


“Mbak Tyrana, saya memang punyanya ini. Jadi, ya saya harus pakaiannya ini. Bukan miliknya mbak. Sama saja saya—”


“Nggak usah ceramah. Males dengerin.”


Dengan sangat terpaksa, Atan menepikan mobil. Yang justru, membuat Tyra semakin bingung.


“Saya tidak memaksa. Kalau anda masih ingin pergi, saya antar sampai tempat tujuan, tidak berhenti didepan lokasi, dan saya akan kembali pulang.”


Atan memang memiliki sikap yang tegas. Dia calon seorang pemimpin hidup dalam berumah tangga, dia harus berani mengambil keputusan.


Mendengar hal itu, Tyra merasa disepelekan. Dia bukan wanita mu-ra-han yang bisa diturunkan di tepi jalan.


“Udah deh, diem aja nggak usah ngomong. Tambah kesel nanti aku ke kamu.”


Atan menahan senyuman hingga bibirnya berkedut kecil. Ia pun memilih melipat bibir ke dalam, sambil mengangguk agar si yang paling kesel merasa senang.


Mobil belok ke kanan sesuai dengan penunjuk arah di Gugel. Ya mau bagaimana lagi, Atan sendiri tidak pernah datang ke alamat yang di tunjukkan Tyra, dan sekarang, matanya membola sempurna saat tau tempat apa yang sedang ia datangi. Sebuah klub malam dengan pengunjung yang memakai pakaian kurang bahan, dan saling menggoda satu sama lain. Atan berhenti bukan di area parkir, melainkan area tepi jalan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari lokasi parkir klub.


“Masuk,” titah Tyra dengan suaranya yang menuntut Atan agar menuruti kemauannya.


Atan mendengus dengan rahang mengeras dan sepuluh jari meremas kuat kemudi mobil. Ia benar-benar diujung batas kesabaran menghadapi perempuan sejenis Tyra.


“Ayo—”


“Kenapa kamu nggak bilang kalau tujuanmu adalah datang ke tempat seperti ini?” tanya Atan datar dan dingin, sudah menghilangkan rasa segannya yang sedari tadi ia coba pertahankan pada sosok Tyra.


Tyra menatap tidak percaya pada ucapan Atan. Apa pria ini pria kolot? Kenapa dia seperti terkejut melihat tempat yang menyenangkan seperti ini?


“Memangnya kenapa? Kamu jangan sok suci deh—”


“Aku nggak sok suci. Tapi aku nggak hidup di lingkungan seperti itu.” tegas Atan dengan suara meninggi hingga urat di lehernya tercetak dan menyembul jelas. “Nggak ada alasan lagi, ayo pulang. Ini demi kebaikan kamu.”


Atan mengubah posisi kopling, hendak mengubah haluan menjauhi tempat yang terlihat tidak menyenangkan dimatanya.


Lain Atan, lain pula Tyra. Gadis itu masih kekeuh untuk datang lalu masuk ke dalam klub untuk bertemu teman-temannya yang sedang ada birthday party. Dia bahkan melepas seatbelt, menarik pengait pintu mobil, dan melompat keluar dari mobil Atan yang masih dalam mode berjalan lambat.


“Tyra!” pekik Atan yang terkejut dan langsung menginjak pedal rem, menarik tuas rem tangan, ikut melepas seatbelt dan melompat turun mengejar Tyra yang setengah berlari hendak memasuki klub.


“Ayo, aku antar pulang atau kemana pun yang kamu mau. Tapi jangan ke tempat seperti itu.” pinta Atan dengan tatapan lembut pada Tyra agar perempuan itu bersedia mengubah haluan untuk menjauh dari klub tersebut.


Tyra tersenyum sarkas. Matanya menatap nyalang pada sosok Atan yang ternyata jauh dari ekspektasi. Atan ternyata tidak seru, dan bukan tipikal Tyra. Hanya fisiknya saja yang memang memukau di mata Tyra.


“Memangnya, kamu pikir aku mau ngajak kamu kemana? Ke tempat ibadah? Jangan ngarep.” ketusnya tak tau diri.


“Apa?” pekik Atan begitu terkejut dengan ungkapan Tyra. Wajahnya terlihat seperti orang bodoh di mata Tyra. “Astaga ... ” de-sah Atan frustasi sembari memijat keningnya. Sebelum ini, dia tidak kenal dan tidak peduli dengan pola dan gaya hidup serta pergaulan Tyra, karena dia memang tidak kenal dan juga bukan wewenangnya untuk memberi nasehat. Tapi sekarang, gadis itu pergi bersamanya, yang artinya, secara tidak langsung Tyra menjadi tanggung jawabnya.


“Kenapa? Nggak suka?”


Atan diam mematung di tempatnya berdiri. Dia bahkan tidak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari fitur wajah perempuan itu.


“Ya sudah, kamu pulang saja. Masalah kita sudah aku anggap impas. Aku nggak akan ganggu kamu lagi. Makasih udah anterin aku ke sini.”


Tyra memutar tumit, namun ia tidak menduga sama sekali ketika tubuhnya terangkat ke udara. Atan memapah tubuhnya menuju mobil.


Sialan. Jantung Tyra seakan berhenti berfungsi saat aroma Atan begitu nyata untuknya. Dia bahkan tertegun dan tidak melakukan perlawanan apapun hingga sampai di dalam jok mobil milik Atan. Tak lama kemudian Atan juga ada didalam mobil, dan roda si hitam itu kini bergerak menjauh dari klub.


Atan memacu kendaraan dengan kecepatan lumayan tinggi, kemudian berhenti di sebuah rumah makan lesehan yang biasa ia datangi saat kuliah dulu.


“Yuk, makan.”


Tyra yang seolah baru saja di tarik oleh kesadaran, memutar pandangannya mengamati sekitar.


Tempat yang menurutnya kotor dan tidak layak untuknya.


“Ch, kamu memaksaku ikut, tapi mengajakku ke tempat seperti ini?” cebiknya kesal bukan main. Tapi Atan? Pria itu tidak peduli dengan kemarahan dan protesisasi yang dia suarakan.


“Turun. Makanannya enak. Anda pasti lapar, ini memang sudah lewat waktu makan malam, tapi ayo makan saja.”


Ia tidak peduli dengan kemarahan Tyra, karena perempuan itu masih menjadi tanggung jawabnya saat ini. Atan rasa, dia wajib melindungi gadis itu tanpa diminta. Sudah kewajibannya membawa Tyra pergi dari sana, tadi. Setelah mereka berpisah nanti, dia tidak akan peduli lagi. Begitu pikirnya.


Tyra yang masih marah, enggan keluar dari mobil meskipun Atan sudah berjalan sendirian memasuki area rumah makan sederhana dan duduk melantai itu. Tyra tidak akan sudi ikut.


Akan tetapi, sadar jika Tyra tidak ada bersamanya, tidak menyusul dirinya, Atan berjalan kembali ke mobilnya dan membuka pintu dimana Tyra berada.


“Ayo.” ajak Atan. Dia juga harus segera makan karena tidak ingin asam lambungnya kambuh dan berakibat dia tidak bisa bekerja.


“Nggak. Sekali enggak, ya enggak.”


“Kamu maunya makan restoran berbintang?” tanya Atan. “Maaf, nona Tyrana. Saya bukan orang kaya, jadi tidak mungkin bisa membayar mahal makanan restoran berbintang. Ayo, coba dulu, makanan disini enak. Saya dulu langganan makan disini saat kuliah.”


Mendengar nostalgia Atan tentang tempat seperti ini, Tyra jadi penasaran. Apa rasanya memang enak?


Akhirnya, Tyra luluh. Kakinya turun menyentuh tanah sedikit lembab yang disambut senyuman manis milik Atan. Lagi-lagi, egonya menipis. Ia berdebar.


“Nah, gitu. Jangan rewel sama orang berdompet tipis seperti saya.” goda Atan, masih dengan senyuman manis yang membuat Tyra berkali-kali lipat luluhnya.


Argh, kenapa aku bisa suka sama dia sih?!


Tyra bahkan mengumpati dirinya sendiri dalam hati. Mengapa bisa-bisanya dia kesemsem dengan pria seperti Atan. Tapi, dia penasaran.


Ia pun berjalan di balik punggung Atan yang gagah dan lebar. Tinggi mereka memang tidak terpaut jauh, tapi Tyra masih saja kalah tinggi dari Atan meskipun sudah memakai heels tingginya.


Sesampainya di pintu masuk, Tyra terkejut karena tempat itu begitu nyaman dan bersih. Nuansanya seperti di daerah yang begitu asri. Ada banyak tumbuhan bambu yang di padu dengan gemericik air seperti air terjun berukuran kecil yang mengaliri sungai buatan.


Atan duduk terlebih dahulu pada salah satu pendopo, disusul Tyra dan salah satu pegawai. Tyra mendengar dengan seksama menu yang dipesan Atan tanpa melihat buku menu. Bebek adalah menu utama disini. Tyra yakin Retno akan mencekik lehernya jika tau Tyra mengkonsumsi makanan tersebut.


Nggak apa-apa, aku hanya perlu diet nanti malam, sampai dua hari kedepan.


“Kamu, mau pesen apa?” tanya Atan.


“Sama kayak kamu aja.”


Pegawai rumah makan itu mencatat pesanan, kemudian pergi meninggalkan Tyra dan Atan yang hanya saling diam. Tapi, tak lama kemudian, Atan bersuara.


“Maaf, tadi maksa anda—”


“Dahlah, jangan sok formal gitu. Panggil aja aku-kamu.” protes Tyra karena merasa risih untuk panggilan Atan padanya. Atan mengangguk.


“Maaf, saya maksa ngajak kamu pergi dari sana, karena saya tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu, karena kamu jadi tanggung jawab saya.”


Tyra menghela nafas. Dia pasti akan menjadi olokan di grup nanti. Hah, sudahlah. Sudah terlanjur.


“Ya udah. Udah terlanjur juga.” kata Tyra terpaksa.


“Saya juga punya adik perempuan, usianya nggak jauh beda sama kamu. Jadi, lihat kamu datang ke tempat itu, saya jadi ingat adik saya di rumah.”


Kolot.


“Saya cuma pingin lindungi kamu, sama seperti saya melindungi adik saya sendiri.” []


...—To be continue—...


###


No baper baper ya T-rex, dia lindungi kamu karena dia keinget adiknya di rumah


______


Naskah ini diketik dengan 1960 kata. Jadi mohon di apresiasi ya teman-teman, biar authornya gembira seperti Tyra ☺️


Terima kasih sudah baca si Atan dan T-rex ya ...


See you di bab selanjutnya 🥰