We

We
Dua puluh dua



...Yuk mari, ramaikan lapak TyTan dengan memberi like dan komentar pada tiap paragraf ya ... Jangan lupa juga untuk subscribe, vote dan beri hadiah jika berkenan....


...Terima kasih ☺️...



...We...


...|Dua puluh dua|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Hari ini pun terealisasi. Atan menjemput Tyra ditempat gadis itu melakukan pemotretan. Atan sempat menjadi pusat perhatian saat menyempatkan diri keluar untuk mencari udara segar. Tatapan semua orang tak lelah memerhatikan dirinya, seolah mempertanyakan siapa dia yang bisa dengan leluasa memasuki kawasan bebas wartawan ini.


Tapi Atan acuh, dia tetap percaya diri dan tak gentar menunggu Tyra di luar mobil. Tujuannya kali ini sudah bulat. Dia ingin menyatakan perasaannya kepada Tyra. Ditolak atau tidak, lihat saja nanti.


Atan mendongak, menatap langit yang malam ini terlihat begitu indah. Bulan dan bintang bersinergi memperindah gelapnya hari, lalu tersenyum.


Dan, ketika tatapan matanya kembali jatuh ke arah pintu masuk tempat yang riuh oleh beberapa orang yang sibuk keluar dan masuk, Atan melihat Tyra berjalan keluar.


Rambutnya yang sedikit panjang dibawah bahu yang tertiup angin, riasan tipis yang membingkai wajahnya yang ayu, kulitnya yang putih bersih terpapar sinar lampu pencahayaan, dan senyumannya yang begitu menawan, membuat Atan berdebar. Matanya tak sedikitpun teralih dari sosok yang kini berjalan mendekatinya itu.


Lalu,


“Hai,” sapa Tyra dengan senyuman merekam yang begitu indah.


“Hai.” jawab Atan.


“Baru sampai?”


“Iya.”


Atan berjalan ke sisi kiri mobil dengan tujuan membuka pintu untuk Tyra.


“Oh, thank you.” ucapnya berterima kasih atas kebaikan Atan. Setelah itu, mata Tyra tak lepas memandang sosok Atan yang kini sedang berlari memutari kap depan mobil untuk menuju kursi kemudi.


Ah, satu hal yang baru disadari Tyra. Dirinya mulai merasa terbiasa dan nyaman duduk di dalam mobil Atan yang memang terbilang cukup murah baginya. Ditambah lagi Atan yang selalu mahir mengemudi, membuat Tyra merasa aman dan nyaman dalam satu waktu.


“Kita mau kemana?” tanya Tyra, menahan rasa pusingnya yang masih belum sepenuhnya sirna ketika menoleh ke arah Atan.


“Kamu akan tau, nanti.” jawab Atan dengan senyuman yang sama sekali tidak bisa diartikan oleh Tyra. Lalu Atan melepas rem tangan dan mobil pun berjalan meninggalkan gedung pemotret yang baru saja di gunakan Tyra mengais rejeki.


“Retno nggak marah kamu pergi sama saya?” tanya Atan, melirik sekilas Tyra, kemudian kembali menatap kedepan.


“Enggak. Kalau dia marah sama saja cari apes.”


Atan tertawa. Suara tawa itu kini menjadi hal yang selalu ingin didengar Tyra. Semua yang berhubungan dengan Atan, Tyra tidak ingin melewatkan. Apalagi aroma coklat yang masih terhirup begitu menggoda di hidungnya.


“Besok berangkat Amrik jam berapa?”


Tyra menoleh. “Malem. Duh, perjalanannya lama banget. Aku males aslinya, suer.”


Atan tertawa lantang. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan Tura sekarang, karena dia sering berada di mood yang seperti itu.


“Tapi itu kerjaan kamu. Jadi mau nggak mau yang dilakuin, gitu?” goda Atan yang kontan mendapat tepukan keras dari Tyra.


“Tau ajah.” jawab Tyra tak kalah serius menggoda.


Perjalanan kali ini terasa begitu menyenangkan. Mereka tak berhenti bicara dan jauh lebih banyak bicara dari sebelum-sebelumnya. Terutama Atan yang notabenenya adalah pribadi pendiam didepan orang lain. Tapi, didepan Tyra dia tidak lagi ragu memperlihatkan dirinya yang sebenarnya. Dia jadi banyak bicara, termasuk hal-hal bersifat objektif yang biasanya selalu dia junjung tinggi. Dia merasa nyaman dan bisa menjadi dirinya sendiri didepan Tyra. Tidak perlu menjaga image atau berusaha bersikap seperti yang orang lain inginkan. Dia hanya cukup menjadi dirinya sendiri.


Hingga mobil Atan masuk ke sebuah area perumahan yang sama sekali belum pernah Tyra kunjungi.


Setelah memasuki portal masuk yang terbuat dari kayu sederhana, mobil semakin melesak masuk melewati setiap blok, hingga Atan menghentikan laju mobil hitam tinggi mengkilat itu didepan sebuah rumah sederhana yang tidak Tyra ketahui tipe apa itu. Terkesan sumpek karena kecil. Ah, jangan katakan kecil, mungkin minimalis lebih tepat dan cocok untuk pria yang dia sukai.


“Eumm ... rumah siapa?” tanya Tyra gugup. Pasalnya dia belum pernah juga diajak seorang laki-laki sampai bermain ke rumah mereka. Jika sampai itu rumah Atan, Tura harus menata sikap karena disana, akan ada calon ibu mertua tersayang yang masih menjadi angan karena Atan belum mengungkapkan perasaannya. Atau mungkin memang tidak akan pernah?


“Rumah saya.” jawaban Atan yang singkat itu justru membuat Tyra menahan nafasnya singkat, kemudian menegakkan punggung dan mulai menata diri diam-diam. Selain itu, dia juga berusaha menata bahasa dan tutur katanya agar terdengar sopan. Dia tidak ingin di cap buruk oleh adik dan ibu Atan, lalu di buang dan tidak diberi restu. “Yuk, turun.” ajak Atan setelah berhasil menarik tuas rem tangan, mematikan mesin, dan melepas seatbelt dari badannya.


“Ke-kenapa tidak bilang kalau mau ajak kerumah kamu? Kan saya bisa beli oleh-oleh kecil buat ibu dan adik kamu?” kata Tyra terbata karena merasa sangat gugup. Bahkan telapak tangannya sudah dingin dan basah. Sensasinya lebih memacu adrenalin dari pada harus dihadapkan pada pemilik brand besar dunia yang menilai posenya didepan kamera.


Tyra melongo. Jadi Atan memperkenalkan dia di depan ibu dan adiknya dengan sebutan apa sampai kehadirannya diinginkan disini?


“Ta-tapi tetap saja nggak enak dong bertamu nggak bawa apa-apa kayak gini.”


Atan meraih pergelangan tangan Tyra yang terasa begitu dingin, dan menggenggamnya lembut.


“Percaya sama saya, ibu saya orangnya tidak akan mempermasalahkan itu. Ibu hanya ingin bertemu kamu.”


Jantung Tyra terasa seperti terjun ke dasar lambung saat Atan kini meletakkan telapak besarnya di puncak kepala dan mengusapnya pelan penuh perhatian. Tyra mengangguk, dan mereka pun akhirnya turun dari mobil.


Atan membawa langkah Tyra melewati teras rumah, kemudian menuju pintu utama yang sudah terbuka sejak mobil Atan datang tadi. Tyra semakin gugup karena takut dirinya tidak diterima disini. Pakaian yang ia kenakan tadi terlalu mencetak lekuk tubuh, dan ...


Tyra ingin sekali berteriak sambil mencakar wajah Atan karena tidak berkata terus terang. Mengapa Atan tidak memberitahunya? Setidaknya dia akan membawa baju ganti yang sopan untuk dia kenakan dan membuat kesan pertama untuk si ibu calon mertua.


Sesekali Atan menoleh dan melempar senyuman pada Tyra yang terlihat tegang. Dia memberi isyarat agar Tyra relax dan tidak berfikiran macam-macam, karena ibu dan adiknya memang orangnya welcome.


Hingga akhirnya, mereka berdua sampai di ambang pintu, dan Tyra dapat mendengar suara husky kesukaannya itu mengucap salam. Dan terdengar pula jawaban dua jenis suara yang berbeda dari dalam rumah. Tyra memejamkan mata, bersiap untuk menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.


Ya mau bagaimana lagi? Dia terlanjur berpenampilan seperti ini.


“Lho, mana temannya?”


Tyra sedikit kecewa saat tau ternyata Atan memperkenalkan dirinya sebagai teman kepada anggota keluarganya. Tapi tunggu! Kenapa suara itu terdengar familiar di telinga Tyra? Penasaran, Tyra pun melongok dari sisi bahu kiri Atan.


“Ini.” tunjuk Atan sambil memiringkan diri hingga kini, baik Lastri maupun Linda bisa melihat Tyra dengan pandangan sangat jelas.


Dan semua terasa bak kutub es mencair, setelah Tyra tau dan mengenal siapa yang kini sedang menatap penuh kejut pada Bu Lastri.


“Ibu?” panggil Tyra dengan mata berbinar. Dia memiliki harapan setelah tau siapa ibu dari sosok Atan yang dia sukai.


“Nak Tyra?”


Dan sekarang, bukan hanya Tyra dan Lastri yang terkejut. Atan pun ikut terkejut karena keduanya sudah saling kenal.


Tanpa Atan duga, Tyra menyalip dirinya dan menyelinap masuk untuk memeluk Lastri. Mata Atan berkedip cepat karena masih berusaha mencerna situasi yang sedang terjadi.


Mengapa mereka terkesan akrab?


“Jadi kamu toh yang dimaksud Atan? Aduh nak, ibu tidak menduga jika gadis yang dibawa Atan pulang adalah, kamu.”


Tyra melepas pelukannya, lalu mengulurkan tangan didepan Linda yang terlihat syok dengan bibir menganga tidak percaya.


“Hai, kamu Linda, kan? Aku Tyra, Senang bertemu denganmu.” kata Tyra memperkenalkan diri. Kata Atan, usia adiknya tidak terlalu jauh dengan dirinya. Jadi, sapaan seperti ini sudah pantas kan?


“Sa-saya Linda. Adiknya mas Atan.”


Tyra memutar kepala dan menatap Atan dengan senyuman terbaik yang ia punya. Binar dimatanya tidak bisa berbohong jika dia sedang amat sangat bahagia saat ini.


“Yuk masuk.” ajak Lastri, berjalan masuk kedalam ruang tamu yang diikuti Linda. Sedangkan Tyra, masih berdiri diluar dan menatap Atan dengan manik berkaca-kaca. Dirinya merasa diterima dan disambut dengan baik oleh keluarga Atan. Itu yang membuat Tyra ingin sekali menangis saat ini karena teringat dengan papa dan mamanya yang tidak pernah menyambutnya sehangat ini.


Lalu, dengan suara parau dan nyaris tersedak, Tyra berkata,


“Terima kasih sudah membawa ku pada keluargamu yang bisa menerima kehadiranku.” katanya, lalu tetesan airmata jatuh membasahi kedua pipinya, yang membuat Atan refleks mengulurkan tangan untuk mengusap butiran bening tersebut.


“Jadilah bagian dari keluarga ku, Tyrana. Aku harap kamu mau bersedia menjadi kekasihku, dan menikah denganku.”


Kata-kata yang sudah di tunggu lama oleh Tyra akhirnya ia dengar malam ini. Tyra menangis dalam tawa sembari menundukkan kepala. Semua ini terasa seperti mimpi baginya. Atan memintanya untuk menjadi teman hidup yang pasti tidak akan pernah Tyra tolak, meskipun ia harus rela melepaskan karir yang selama ini membesarkan namanya.


“Ya. Aku bersedia.”[]


...—To be continue—...


###


🥺


Hayuk sama-sama nostalgia saat dilamar sang pujaan hati ☺️