We

We
Tiga puluh tiga




...We...


...|Tiga puluh tiga|...


...Selamat membaca....


...[•]...


Kantor sedikit lengang hari ini. Tidak seperti dua minggu yang lalu ketika seluruh staff HR disibukkan dengan pengangkatan tenaga kerja baru untuk Earth Beauty. Baru dua hari mendatang mereka kembali sibuk untuk menginterview para pekerja yang sudah mereka pilih dan panggil untuk datang dan melewati seleksi tahap berikutnya.


“Tan, kamu ada hubungan sama model Tyrana ya? Kok foto yang kapan hari beredar di media sosial itu, sekilas mirip kamu.”


Tania, staff yang lumayan care sama Atan mulai bertanya. Mereka sedang menunggu jam makan siang yang tinggal sepuluh menit lagi akan datang.


Harus jawab apa Atan sekarang? Dia butuh pertimbangan dan menanyakan kepada Tyra, apakah boleh dia memberitahukan ini pada orang lain?


“Aku juga denger sih, banyak yang ngomong disini, kalau kamu itu memang pacarnya Tyra. Mereka menebak dari jam tangan yang kamu pake.”


Atan menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.


“Iya.” akunya tak mau membuat semua makin mendramatisir. Sudahlah, toh dia memang kekasih Tyra dan semua orang sedang sibuk membicarakan hubungan mereka.


“Hah? Jadi beneran kamu—”


“Iya Tania. Sudah, mau tanya apalagi?”


“Eh Suer. Gue masih syok Tan. Jangan disuruh tanya lain-lain dulu.”


Atan yang memang dasarnya murah senyum, tersenyum mendengar Tania berkata seperti itu.


“Gimana cara kenalnya?”


Lagi, Atan menyuguhkan senyuman manisnya lalu menjawab. “Kamu belum lupa masalah kontrak dobel yang aku buat itu kan?”


Tania mengangguk.


“Nah, dari situ kami kenal.”


***


Tyra memakai seatbelt nya, duduk di kursi penumpang yang jumlahnya cuma ada satu, letaknya tepat disisi kemudi. Atan menatap bingung dengan telapak tangan dingin dan berkeringat. Tadi, Tyra meminta membawa mobilnya saja, gantian katanya. Dan sekarang, Atan malah grogi melihat logo Ferrari di stir kemudi.


“Aku nggak biasa bawa mobil begini, sayang.” kata Atan, menoleh ke arah Tyra yang sekarang masih di sibukkan dengan tas dan penampilannya.


“Coba. Kalau nggak dicoba ya nggak bakal bisa.” celetuknya sambil mengoleskan liptint di bibirnya.


“Bawa mobil aku aja ya?” bujuk Atan berharap Tyra mau mengubah keinginannya.


“Pelan-pelan dulu injak gasnya. Nanti juga biasa kok mas ku sayang. Nggak usah grogi, relaks.”


Mereka berencana menemui orang tua Tyra malam ini. Tyra sudah memberitahu papa dan mamanya, meskipun tidak mendapat balasan dalam waktu cepat untuk pesan yang dia kirim, tapi pada akhirnya pesan itu terbalas karena Tyra mengatakan akan memperkenalkan kekasih yang serius dengan nya. Tidak dirumah, melainkan di salah satu restoran ternama yang sudah mendapat bintang lima.


“Oke. Aku coba.”


Atan mengubah gigi persneling dari Netral ke posisi 1, kemudian menginjak pedal gas pelan. Ah, rasanya sama saja, batinnya.


“Tuh, bisa.” celetuk Tyra dengan sedikit godaan ceria. Masalah yang beberapa hari lalu, sudah dia lupakan. Sudah dia anggap tidak pernah terjadi. Jikapun nanti bertemu lagi dengan sosok Putri, Tyra tidak akan diam saja.


“Eumm. Oke, rasanya sama saja kok.”


Hingga akhirnya mereka sampai di resto yang sudah di booking oleh Tyra beberapa jam yang lalu. Dia turun bersama Atan dengan pakaian formal yang tidak terlalu berlebihan. Atan sempat memperhatikan bagaimana cantiknya seorang Tyrana jika dalam mode seperti ini. Atan jadi ingin segera memiliki perempuan itu.


“Tau papaku, kan?” tanya Tyra tiba-tiba, sedangkan Atan menggeleng. “Lho, kamu nggak tau?”


“Maaf, aku kudet.” jawab Atan dibumbui sedikit kelakaran. Dia memang pernah mendengar nama Firdaus Winarman, tapi sama sekali tidak berminat mencaritahu lebih jauh tentang profil hidup calon bapak mertuanya itu. “Papa kamu kan juga bukan artis, jadi aku nggak tau.”


Tyra menghela nafas setelah mendengar jawaban Atan yang begitu mencengangkan itu. Atan ini memang boleh dikatakan berada di tengah-tengah antara polos, dan ... eits, tidak boleh. Nanti digigit T-rex.


Lantas mereka segera berjalan masuk dan menuju meja sesuai yang sudah di pesan Tyra. Atan dan Tyra duduk menunggu saat jam janji masih kurang lima belas menit. Tapi Tyra tau betul kebiasaan mama dan papanya. Mereka pasti akan datang lebih awal.


“Mereka pasti akan datang sebentar lagi.” kata Tyra, membenarkan posisi duduk di samping Atan.


Keringat dingin mulai menyambangi Atan, pasalnya ini pertama kalinya dia meminta anak gadis orang, dan pastinya akan menjadi yang terakhir jika restu memang turun.


Sampai pada sorotnya yang tertuju pada dua orang berwibawa yang sedang berjalan menuju meja tempatnya duduk, Atan memperbaiki posisi duduk dan penampilannya. Tepat saat sepasang manusia beda generasi itu berhenti tepat didepan mejanya, Atan berdiri. Satu telapak tangannya menyentuh dada dan punggungnya sedikit membungkuk memberi hormat. Ia lantas menyapa papa Tyra itu dengan senyuman ramah.


“Selamat malam, Om.” tuturnya sambil menyodorkan tangan, salaman.


“Selamat malam.” jawab Firdaus sambil membalas jabatan tangan Atan.


“Selamat malam, tante.”


Suasana begitu canggung. Mereka hanya diam tanpa pembicara apapun karena memang seharusnya seperti itu. Tyra juga tidak berniat untuk membuka pembicaraan karena takut. Ia yakin papa atau mamanya tidak suka jika dia mulai bicara.


“Eumm, Tante sama om baru pulang dinas?” tanya Atan membuka pembicaraan, mencoba mencairkan suasana.


“Ya.” jawab Firdaus, menerapkan sistem SPJ—Singkat, Padat, dan Jelas.


Atan mengangguk kaku. Berbicara dengan orang tipikal seperti ini memang sulit. Kita harus pandai-pandai mencari pembahasan. Oke, mari coba pembahasan inti.


“Saya, punya tujuan penting mengajak Om, dan Tante bertemu.”


Seorang pramusaji datang membawa buku menu. Pembicaraan terjeda karena mereka harus memesan makanan. Tyra memilih makanan yang simple, sama persis dengan pesanan Atan. Sedangkan papa dan mamanya memilih menu sesuai selera mereka yang memang suka makanan lokal.


Setelah pramusaji itu pergi, Atan hampir kembali melanjutkan kalimatnya yang sempat terjeda. Tapi Firdaus meresponnya dengan pertanyaan.


“Saya juga sudah melihat pesan yang dikirim Tyra. Jadi, kamu mau melamar putri saya?” tanya Firdaus to the point. Jika di bandingkan, Atan dan Firdaus ini memang memiliki sifat yang hampir sama. Mereka sama-sama tidak suka berbasa-basi dalam situasi tertentu. Mereka juga suka berpendapat jujur dari pada menutup-nutupi kenyataan.


“I-iya, Om.” jawab Atan gugup, pasalnya Firdaus kini menatap lurus dan tajam padanya.


Riyana tersenyum disudut bibir. Dia ragu jika pemuda yang terlihat baik dan polos seperti Atan, akan sanggup mengimbangi putrinya yang glamour dan sulit di atur itu. “Kamu yakin? Jangan menyerah tengah jalan dan menjadikan putriku janda kalau memang tidak sanggup.”


“Mam,” potong Tyra tidak terima. Do'a ibu bisa menjadi nyata jika sedang marah. Dan Tyra tidak mau itu terjadi padanya, khususnya pada hubungannya dengan Atan.


“Mama benarkan? Kamu hidupnya mewah. Tapi lihatlah, pria yang menyukai kamu itu pria sederhana, tidak seperti kamu yang suka kemewahan.”


Tyra merasakan bagaimana kebencian sang mama padanya. Ucapan itu begitu menusuk, tapi tidak mengingkari kenyataan jika memang seperti itulah hidupnya.


Berbeda dengan dulu, sekarang Tyra lebih menghargai uang. Dia tidak se-glamour dulu.


“Saya yakin Tyra bisa mengubah kebiasaan itu.”


Lagi-lagi Riyana tersenyum disudut bibir. “Terlalu percaya diri.”


“Kenapa kamu ingin menikahi putri saya?” kali ini Firdaus yang bicara.


“Karena saya mencintainya.”


“Hanya itu?”


Wah, ini bukan sekedar bapak-bapak biasa. Ini wujud nyata bapak protektif yang ingin melindungi putrinya. Pantas saja, jika Tyra yang memiliki jiwa bebas, memberontak dan memilih meninggalkan rumah.


“Saya, ingin membimbing Tyra dengan bekal iman yang saya miliki, dan membuatnya bahagia.” jawab Atan mantap, berharap Firdaus puas mendengarnya. Sedangkan Tyra, perempuan itu menatap kagum pada sosok Atan yang begitu berani bicara dengan papanya yang notabene memiliki sifat tegas dan pendirian kuat. “Saya akan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja keras.”


“Pekerjaan?”


“Saya staff HR di salah satu perusahaan produk kecantikan ternama milik keluarga Suwandi.”


Siapa yang tidak kenal keluarga itu? Atan akan menjadikannya sebagai amunisi. Biarkan saja calon mertuanya itu mencari tau sendiri besarnya gaji yang dia terima setiap bulan.


“Ibu? Ayah? Saudara?”


Atan sedikit berat menjawab pertanyaan ini. Pasalnya, bagi mereka yang hidup berkecukupan, mungkin posisi Atan dalam keluarga pasti akan menjadi pertimbangan bagi mereka.


“Saya tulang punggung keluarga. Ayah saya sudah meninggal, ibu saya sudah berusia, dan adik saya perempuan sedang ujian skripsi.”


Riyana mengerutkan kening, sementara Firdaus mengangguk. Pria seperti inilah yang dia cari. Dengan begitu Tyra akan bisa mandiri dan mengerti makna hidup yang sebenarnya, selain bersenang-senang dan hidup bebas.


“Kamu tidak menyesal jika suatu saat nanti putri saya menuntut sesuatu kepada kamu. Iri pada keluarga kami misalnya?”


Atan menoleh kepada Tyra. Dia tersenyum hangat menatap kekasihnya itu, lalu mengusap satu sisi kepalanya penuh kasih sayang.


“Saya tau Tyra perempuan baik. Dia tidak akan melakukan itu kepada keluarga saya.” []


...—To be continue—...


###


Maaf updatenya telat...🙏🙏🙏


Sekalian promo novel baru. Silahkan mampir ya kakack...☺️






Terima kasih ❣️