
...We...
...|Tiga puluh sembilan|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Suara decit ban beradu dengan aspal yang terdengar begitu keras. Lalu suara benda terpental diatas permukaan material mobil yang membuat beberapa pasang mata tertegun dan menutup mulut mereka dengan jantung berdegup ketakutan.
“Astaga!” pekik Putri dari tempatnya berdiri dengan mulut ditutup oleh telapak tangannya sendiri. Kemudian berlari menghampiri Atan.
Aku mencintaimu,
Aku akan menikahimu, secepatnya
Menikahlah denganku,
Tolong, jangan tinggalkan aku dalam keadaan memalukan seperti ini,
Semua kata-kata itu berputar didalam kepala Atan hingga nyaris ratusan kali sebelum matanya menggelap, dan semua tidak lagi terasa apa-apa. Kosong, gelap, tidak ada suara, sunyi.
Orang yang melihat itu segera menghubungi ambulan dan meringkus mantan suami Tyra yang menyebabkan Atan celaka.
Putri berlari mendekat bersama pengemudi yang keluar dari mobilnya.
“Zio! Zio!” panggil Putri dengan mata yang sudah basah oleh air mata. Ia menepuk-nepuk pipi Atan yang sudah memejam dengan tubuh lemah dan perlahan dingin.
“Ayo kita bawa ke rumah sakit terdekat, mbak.” kata si pengemudi yang juga panik. Dia mungkin tidak bersalah, tapi semua orang melihatnya sebagai orang yang sudah membuat pria yang tidak dia kenal itu celaka.
Di bantu oleh beberapa orang yang ada disana, Atan tidak sadarkan diri dengan luka yang cukup serius itupun di bawa ke rumah sakit yang terdekat. Putri terus menangis sepanjang perjalanan hingga harus masuk ruang penanganan khusus di IGD. Perasaannya yang ikut mengantar Atan ke rumah sakit terlihat kalut. Ia begitu ketakutan karena melihat Atan yang sama sekali tidak membuka mata. Sedangkan Dio disana sudah diamankan oleh orang-orang yang ada disana, kemudian diringkus oleh petugas kepolisian yang dihubungi oleh pihak cafe.
Atan mendapatkan perawatan intensif dari para dokter dan perawat di rumah sakit. Beberapa alat medis terpasang di tubuh Atan. Disinilah, penyesalan Putri mulai muncul. Dia meraup wajahnya sendiri yang sudah sangat berantakan karena menangis melihat keadaan Atan didepan matanya sendiri.
Tak berselang lama, seorang perawat keluar dan menyapa Putri.
“Maaf, apa anda keluarga korban?”
Putri dan si pengemudi mobil berdiri. Sedangkan di kejauhan, dua orang berseragam polisi berjalan mendekat.
“Saya temannya.” jawab Putri dengan suara parau dan bergetar.
“Apa anda bersedia menghubungi keluarganya? Kami butuh persetujuan dari keluarganya untuk segera melakukan tindakan.”
Putri semakin takut. Jantungnya seperti dipaksa berhenti lantaran sebuah penyesalan mendalam dengan apa yang telah terjadi kepada orang baik yang selama ini tidak pernah membuatnya merasa terluka.
“Tolong segera lakukan tindakan, saya ... saya yang akan bertanggung jawab untuk semua biayanya.”
Hingga akhirnya Putri membubuhkan tanda tangannya pada sebuah lembaran persetujuan tindakan, lantas perawat itu kembali masuk ke dalam ruang penanganan. Dan lampu IGD menyala merah. Tim medis sedang melakukan tindakan yang disebutkan oleh perawat tadi, kepada Atan.
***
Karena merasa ada yang salah dengan dirinya, Tyra memutuskan untuk datang ke apotek diam-diam setelah ngotot meminta pulang dan berkata jika dirinya sudah baik-baik saja.
Sudah lewat dua minggu tamu bulanannya tidak datang, terhitung setelah malam itu terjadi. Jantung Tyra merasa berdebar tidak karuan. Ditatapnya dua benda buah pipih yang masih belum terpakai itu. Gila, mengapa dia bisa berfikir jika dirinya hamil? Ini pasti hanya terjadi karena dirinya merasa kelelahan seperti sebelum-sebelumnya, bukan?
Akan tetapi,
Tyra meraih satu dari dua alat tes kehamilan dari dalam kantong plastik berlebel apotek yang buka 24 jam itu. Lalu meraih alat penampung ur-ine.
Telapak tangannya bergetar, begitu juga kedua kakinya yang sudah terasa lemas seperti jelly bahkan sebelum tau hasilnya. Kemudian, dia memantapkan hati dan segera melakukan apa yang dia ketahui dari laman internet yang ia baca beberapa menit yang lalu.
Tyra menampung ur-ine nya, kemudian membuka bungkus alat tes kehamilan itu, lalu mencelupkannya dan menunggu dengan kepala yang terasa pening.
Tyra tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Namun dalam sudut hatinya, ada sepercik kebahagiaan karena dia sedang mengandung buah cintanya bersama orang yang dia cintai. Ya, Tyra hamil.
Di saat bersamaan dengan rasa terkejut dan haru yang Tyra rasakan, ia mendengar suara ponsel bergetar. Kaki jenjang nan indah itu melangkah keluar dari kamar mandi untuk menghampiri nakas dimana ponselnya berada. Jantungnya berdebar ketika melihat nama Atan muncul pada display smartphone miliknya. Tyra rasa harus memberitahukan kabar kehamilannya kepada pria yang memang ayah dari janin yang sedang ia kandung itu. Tentu, Atan harus tau.
“Halo,” sapa Tyra dengan suara parau.
Bukannya suara Atan, Tyra justru mendengar suara seorang wanita diseberang yang seperti tidak asing ditelinga.
“Tyra?”
“Ya. Dimana Atan?!” tanyanya dengan nada suara yang sudah berubah datar. Rasa cemburu itu kembali muncul, bersama rasa marahnya yang menyakitkan.
“Dia ada dirumah sakit.”
Satu kali lagi serangan telak menyergah hati kecil Tyra. Tubuhnya berubah lemas hingga dia tidak sanggup lagi berdiri. Ia jatuh terduduk diatas lantai masih menunggu suara diseberang yang masih berbicara.
“Dia sedang mendapat tindakan medis.” kata suara diseberang yang tentu saja Tyra tau siapa orangnya. Lalu apa yang terjadi pada Atan-nya? Apa yang dilakukan wanita itu sampai Atan berada dirumah sakit?
“Aku akan mengirim lokasi untukmu.”
Panggilan itu di akhiri sepihak, dan telapak tangannya jatuh luruh diatas lantai.
Kenapa jadi begini?
Tyra yang tadinya menangis, kini diam mematung. Tidak ada lagi tangis, yang ada hanya sisa air mata diwajahnya yang sekarang sedang menatap lurus entah pada apa. Dia tidak bisa fokus melihat karena isi kepalanya yang campur aduk.
Ting!
Sebuah pesan masuk di ponselnya. Tyra memejam sejenak, kemudian mengangkat sekali lagi persegi pintar itu dan mendapati map yang terkirim pada laman pesan berbalasnya.
Hatinya seperti dicabik dan di koyak paksa. Mengapa semua terjadi bersamaan dan menyakitkan begini?
Dengan sisa tenaganya, dia men-dial nomor Retno. Hanya butuh dua kali nada hubung suara pria itu terdengar.
“Ada apa lagi? Gue baru aja nyampe lho ini.”
“Bisa kesini?” tanya Tyra singkat, sudah tidak memiliki daya.
“Astaga Rex, gue baru aja—”
“Atan lagi dirumah sakit. Keadaannya nggak baik-baik saja. Tolong bawa aku kesana.” pinta Tyra yang terdengar pilu.
“Astaga. Tunggu aku sepuluh menit. Diam ditempat kamu, oke! Jangan kemana-mana dan melakukan apapun. Diam ditempat kamu mengerti?!”
“Eum.”
Retno tau peringai Tyra. Dia akan melakukan hal-hal diluar akal sehat jika sedang kalut. Dan Retno tidak ingin sesuatu terjadi pada Tyra. Sebab itu dia mengintruksikan Tyra agar tetap ditempatnya berada dan tidak melakukan apapun.
Tyra tidak melakukan apapun seperti yang diperintahkan oleh Retno. Tenaganya yang biasa ia pergunakan untuk melampiaskan kekesalan hilang entah kemana. Rasanya begitu melelahkan. Dia meringkuk menyembunyikan diri dengan pandangan yang tertumbuk pada perutnya yang rata. Didalam sana ada sebuah kehidupan baru yang tentu saja ingin dibahagiakan. Tapi kenapa semua seolah tidak mudah? Mengapa ketulusan didepan mata begitu sulit di jangkau oleh dirinya? Baru saja dia akan merasakan bahagia, tapi ujian kembali datang. Dan kali ini, rasanya lebih berat.
“Kita harus bagaimana, sayang?” bisiknya putus asa, berharap beban kekhawatirannya bisa berkurang.
Retno sampai dirumah Tyra sesuai waktu yang dia janjikan. Pria itu menerjang pintu depan, dan berlari cepat mencari keberadaan Tyra di dalam kamarnya. Nafas lega terembus dari hidung ketika dia melihat Tyra hanya duduk diam meringkuk tanpa menghancurkan benda-benda disekitarnya.
“Rex, Lo baik-saja kan?” tanya Retno yang langsung membawa Tyra kedalam pelukan. Wajah perempuan ini sudah pucat dan lesu.
“Tolong anter aku ke tempat Atan. Aku ingin melihat keadaannya.”
Tanpa banyak bicara, Retno mengangguk dan membantu Tyra berdiri. Lantas membawa Tyra menuju tempat yang diinginkan perempuan itu setelah membantu Tyra mengenakan sweater. Mereka menuju rumah sakit untuk melihat Atan. []
...—To be continue—...