We

We
Dua puluh



...Yuk mari, ramaikan lapak TyTan dengan memberi like dan komentar pada tiap paragraf ya ... Jangan lupa juga untuk subscribe, vote dan beri hadiah jika berkenan....


...Terima kasih ☺️...



...We...


...|Dua puluh|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Tyra terkikik senang saat mendapat balasan dari Atan. Katanya, pria itu baru saja mengantar temannya dari bengkel mengambil mobil. Dan sekarang sedang memeriksa pekerjaan dirumah. Mau tau isi chat nya?


Sekarang lagi kerjain tugas dari kantor, dirumah. Maklumlah pegawai gaji bulanan kejar deadline :)


Ditambah emoji senyum, bagaimana Tyra tidak jingkrak kegirangan? Perhatian saja kamarnya yang sekarang sudah seperti kapal pecah. Penyebabnya hanya karena sebuah pesan berakhiran emoji senyum. Ck ck ck, tak patut!


Kamu lagi ngapain? Kok nggak tidur?


Tyra merebahkan diri telentang diatas ranjang. Dengan jantung berdegup kencang karena baru saja berhenti berlompatan, dia mengetik balasan.


Belum ngantuk. Jadwal lagi nggak begitu padat


Tidak menunggu lama, dua centang abu-abu itu sudah berubah biru. Atan sedang online, untuk dirinya kah?


Wajah Tyra merona sampai pesan Atan datang lagi,


Lagi mikirin sesuatu?


O Em Ji, kenapa degup jantung Tyra makin menggila? Ingin sekali Tyra membalas ‘Lagi mikirin kamu’, tapi kok malu. Kesannya seperti gadis bi-naal mendambakan belaian kasih sayang. Ah, oke, besok Tyra janji pada dirinya sendiri untuk semangat kerja.


Eum. Ada pertemuan di Amrik bareng semua staff management Victoria's secret. Lagi males ke luar negeri. :(


Setelah pesan terkirim dan centang berubah biru, Tyra dapat melihat Atan sedang mengetik balasan untuknya. Sumpah demi tentakel gurita, Tyra ingin sekali melihat wajah Atan sekarang.


Dan semua itu tidak menunggu lama karena Tyra benar-benar menekan tombol video call untuk menghubungi Atan.


Layar berubah hingga tam, gelap, tidak ada wajah Atan.


“Halo?” sapa Tyra ragu. Apa Atan sedang tidak ingin diganggu sampai tidak menunjukkan wajahnya?


“Eumm, Enak dong jalan luar negri lagi.” sambut Atan to the point, menyambung pesan berbalas yang beberapa detik lalu mereka buat.


Tyra memikirkan jawaban yang sekiranya pas dan tidak mengandung unsur-unsur kebi-naalan.


“Capek.” jawab Tyra setengah dongkol karena tidak melihat wajah Atan.


“Ya namanya juga kerja, nduk.”


“Nduk? Siapa Nduk?”


Atan tertawa mendengar suara protes Tyra yang mempertanyakan siapa itu Nduk.


“Nduk itu, panggilan buat perempuan kalau di jawa.”


“Ooh ... begitu ya?” jawab Tyra dengan suara rendah dan bibir membentuk huruf O, lalu terdengar lagi suara tawa Atan, yang justru membuat Tyra kesal. “Oh excuse me sir. Where is your face? I can't see anything of you.”


“Memangnya kenapa? Kangen?” goda Atan yang membuat Tyra mengangguk tanpa pikir panjang.


Atan yang sedari tadi dapat melihat wajah Tyra, mengulas senyum diam-diam. Gadis yang ada di layar ponselnya itu terlihat begitu cantik meskipun tanpa riasan. Pantas saja banyak sekali orang yang terpesona olehnya. Bahkan brand dunia pun berani menggunakan wajah Tyra sebagai maskot produk mereka.


“Jangan bercanda nona Tyrana. Saya sudah kebal di godain yang begitu.”


“Saya ini sedang jujur pak Atan. Saya memang kangen sama bapak, lho.”


Ada debaran jantung diluar nalar yang sedang menerjang di pihak Atan. Tyra ini bercanda atau serius? Bagaimana mungkin seorang wanita sekelas Tyra merindukannya?


“Apa perlu saya memunculkan wajah? Apa nanti kamu nggak nyesel lihat muka saya?”


Tyra kontan terbahak sampai wajahnya terbenam di kasur. Atan ini polos atau bagaimana sih? Kok kesannya Tyra sedang mendekati berondong yang baru puber saja?


Atan meraih ponselnya. Untuk beberapa detik Tyra dapat melihat bagaimana kamar seorang pria yang sedang ia pancing perasaannya ini. Tatanan ruangan begitu rajin, mencerminkan sosok pria yang rapi dan menyukai kebersihan. Lalu, setelah itu wajah Atan muncul pada layar ponsel Tyra. Pria itu sedang merapikan rambutnya yang terlihat berantakan dan masih sedikit basah.


Wow, Tyra sampai menelan ludah susah payah karena selanjutnya, yang dia lihat adalah lengan Atan yang tidak tertutup pakaian. Pria itu menggunakan kaos hitam tanpa lengan, wajah yang terlihat segar, dan rambut setengah basah yang sedikit berantakan. Tyra ingin duduk dan menemani Atan disana.


“Sorry, saya baru selesai mandi. Kamar juga masih belum saya bersihkan, masih berantakan.” kata Atan membuyarkan lamunan Tyra yang terlihat menganga dengan bibir pink nya yang sedikit terbuka.


“Ti-tidak apa-apa. Saya juga barusan selesai bersih-bersih diri.”


Atan sesekali mengalihkan pandangannya dari Tyra pada laptop yang ada di sampingnya. Dia juga harus menyelesaikan laporan untuk besok, dan hal itu terlihat begitu seksih dimata Tyra. Belum pernah dia melihat pria sederhana yang begitu menggoda sisi bi-naal nya selain Atan. Dari apa pria itu diciptakan? Tyra sampai heran sendiri kenapa ada pria modelan seperti Atan begini.


“Kamu sibuk banget, ya?”


“Ngerjain laporan.” sahut Atan, masih menatap layar laptop dengan raut wajah serius.


“Kalau gitu, kamu lanjutin kerjanya aja dulu. Kapan-kapan aku telepon lagi.”


Atan tersentak. Dia langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah Tyra yang katanya tadi sedang merindukannya. Kangen padanya.


“Ya udah deh. Ngobrol sebentar dulu. Nanti aja aku lanjutin nyusun laporannya.”


Atan seperti terhipnotis. Dia juga tidak ingin menyia-nyiakan waktu seperti ini, sebenarnya. Karena Tyra bukan seperti dirinya yang kapanpun bisa di hubungi. Jika Tyra bisa menghubunginya, itu artinya perempuan ini sedang senggang. Belum lagi nanti kalau pergi keluar negeri, Atan jamin Tyra tidak akan pernah menghubunginya sampai kembali ke tanah air. Mungkin bisa sekali atau dua kali, tapi itu terasa tidak melegakan sama sekali. Seperti yang dia rasakan saat Tyra berada di Jepang beberapa waktu lalu.


“Eh, aku jadi ganggu dong. Kamu kerja aja dulu, nanti kemaleman nyelesaiin laporannya.”


“Enggak deh. Nanti saja.”


“Serius nggak apa-apa.” sahut Tyra karena merasa nggak enak. Tapi, setelah itu suara Atan membuatnya tertegun sampai menahan nafas.


“Saya juga lagi kangen sama kamu.”


***


“Kepala divisi marketing bilang kalau mau pake Tyra untuk iklan produk baru kita.”


“Beneran? Terus gimana? Tyra nya mau?”


“Denger-denger sih udah deal. Nggak tau lagi deh. Tunggu aja kabar selanjutnya.”


Atan yang mendengarnya seperti di lempar ke masa lalu. Dia kembali mengingat bagaimana dua bulan lalu dia membatalkan perjanjian kontrak dengan Tyra. Akan tetapi dia lega mendengar jika Tyra masih bersedia bergabung disini padahal Atan pernah membuat kesalahan yang mungkin bisa saja menjadi hal tidak mengenakkan bagi si model.


“Oh ya? Wah, gak sabar mau minta foto sama dia.” rengek seorang pegawai pria yang diketahui Atan bernama Kurniawan, yang kerap di panggil satu divisi dengan sebutan Wawan. “Sumpah lho Nik, foto dia pake lingerie baru keluaran Victoria's itu, cuakep poll nggak ada obat, nggak bisa di bandingin sama model lain.”


Jari Atan yang semula sibuk berkutat diatas keyboard, terhenti begitu saja. Dia kini memasang telinga untuk mendengarkan percakapan teman satu divisinya yang sedang bergosip tentang Tyra di kubikel sebelah.


“Tyrana kan emang model top. Bayarannya juga mahal keles.”


“Bodynya booo ... k, bikin hor-ny—”


Sial!! Telinga Atan tidak bisa menerima itu. Dia refleks berdiri kasar sambil menggebrak meja kerja hingga cangkir teh panasnya hampir terguling. Semua mata penghuni ruangan itu kini tertuju padanya.


“Wawan, nggak pantes lho ngomongin perempuan seperti itu?” ketus Atan tidak terima. Setelah melakukan video call semalam dengan sosok yang sedang dibicarakan, Atan jadi merasa tidak nyaman saat orang lain membicarakan Tyra. Apalagi saat seorang laki-laki menyebutkan bagian tubuh perempuan itu hingga berhasil merangsang sistem tubuh seorang pria. “Tolong hargai dia meskipun dia tidak kenal kamu.”


Wawan terlihat celingukan. Dia merasa malu karena Atan menegurnya terang-terangan didepan banyak orang.


“Oh, sorry.”


Mungkin permintaan maaf itu tidak cukup dimata Atan karena ucapan Wawan sudah termasuk pele-cehan non-verbal yang seharusnya mendapatkan hukuman lebih dari sekedar teguran.


Atan memilih meninggalkan ruangan menuju dapur kantor untuk mengambil air mineral dingin. Otaknya seperti terbakar setelah mendengar apa yang dikatakan Wawan untuk Tyra tadi. Dan sesampainya di dapur, Atan membuka lemari pendingin dengan gerakan cukup kasar, lantas mengambil satu botol air mineral dingin dan menenggaknya dengan cepat.


Satu pikiran melesat begitu saja saat ini. Dia harus segera memutuskan sesuatu dalam hatinya.


Ya, harus. Secepatnya. []


...—To be continue—...


###


Si Hilarious itu, ya si cantik T-rex 😁