
...We...
...|Dua puluh delapan|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Atan mengirim pesan kepada Linda dengan alasan bermalam di tempat kerja karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Ia merasa bersalah berkali-kali lipat karena sudah melakukan banyak dosa malam ini. Mulai dari menyentuh dan mengambil apa yang seharusnya tidak ia renggut dari seorang wanita yang belum sah untuknya, lalu membohongi ibu dan adiknya untuk menutupi dosa yang lain.
Atan yang sudah memakai pakaiannya kembali, memapah Tyra sampai dikamar wanitanya itu setelah membersihkan diri. Dia meletakkan Tyra dengan sangat lembut diatas ranjang, kemudian menaikan selimut sebatas dada. Ia lantas mengecup kening sebagai salam perpisahan untuk malam ini.
“Mimpi indah ya.” bisik Atan yang duduk di tepian ranjang, sambil mengusap satu sisi wajah Tyra. Perempuan itu mengangguk dengan senyuman.
Atan berdiri dan mengganti lampu utama dengan lampu tidur, lalu keluar dari kamar meninggalkan Tyra dan memilih tidur di sofa ruang tengah yang beberapa saat lalu menjadi tempat mereka bersetubuh, karena tidak ingin kembali terpancing untuk menyentuh Tyra.
Langkahnya terhenti saat melihat apa yang tersisa disana. Sofa berwarna cream itu kotor dengan noda darah yang cukup banyak. Atan menoleh ke arah kamar Tyra, kemudian menatap noda darah itu lamat-lamat. Tyra masih virgin, dan dirinya adalah orang pertama yang membuat Tyra terkoyak.
Atan mengepalkan telapak tangannya dan memejam. Degup jantungnya berubah cepat, dan nafasnya sedikit berat ketika menyadari hal itu. Atan tidak akan mempermainkan hidup seorang wanita. Dia bersumpah akan menikahi Tyra apapun yang akan terjadi. Besok dia akan membicarakan hal ini dengan Tyra, membicarakan masalah noda di sofa dan cara mengatasinya.
***
Atan sibuk membuat sarapan saat Tyra keluar dari kamar dengan wajah khas orang bangun tidur yang terlihat begitu cantik. Ia mencari sumber aroma sedap yang memenuhi hunian. Dia heran kenapa ada aroma sedap begini dirumahnya, padahal Retno juga sedang tidak ada disini.
“Oh my god.”
Tyra baru saja mengingat sesuatu setelah otaknya nge-lag untuk beberapa saat karena ruh nya belum sepenuhnya terkumpul. Sekarang dia berjalan setengah berlari menuju dapur, mengabaikan rasa sakit yang terasa seperti mengganjal di pangkal pahanya. Dia baru ingat, jika ada Atan disini sejak semalam.
Sesampainya di dapur, dia bisa melihat pria itu sedang sibuk dengan spatula dan penggorengan. Sepertinya sedang membuat nasi goreng.
“Kamu, ngapain?” tanya Tyra penasaran karena tidak menyangka Atan bisa melakukan pekerjaan dapur yang dia sendiri tidak bisa.
“Sudah bangun?” tanya Atan sekilas melirik, lalu kembali fokus pada masakannya. “Lagi bikin nasi goreng. Pasti kamu lapar kan? Ayo sarapan setelah kamu mandi.”
Tyra tersenyum simpul dan mendekati Atan. Benar tebakannya, sekarang dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat nasi goreng buatan Atan terlihat begitu menggiurkan. Nasi goreng kecap dengan potongan sosis, telur, dan ada wortel serta sawi hijau yang sedang di aduk itu, membuat Tyra ingin meneteskan liur.
Atan menoleh dan memperhatikan Tyra sekilas. “Maaf nggak minta izin dulu soalnya kamu tidurnya pules banget. Aku lihat ada beras, dan aku cari-cari pelengkap dan nemuin beberapa di lemari pendingin. Ya udah, bikin nasi goreng aja.”
Nah, begini kan lebih enak. Panggilnya aku-kamu, jadi lebih dekat.
Langkah kaki Tyra terpangkas mendekat ke arah Atan. Kemudian lengannya terulur memeluk dari samping. Ia bahkan membayangkan hidup bersama Atan akan seperti ini, nanti. “Nggak apa-apa. Malah aku yang harusnya berterima kasih sudah dibikinin sarapan.”
Tyra mendongak dan senyuman atanlah yang menyambut penglihatannya saat ini.
“Ya sudah. Mandi sana gih, nanti aku bikinin minuman hangat juga.” titah Atan penuh perhatian. Tyra mengangguk patuh dan melepaskan pelukannya, bersiap untuk mandi. “Oh iya, mandinya jangan lama-lama. Nanti nasinya dingin.”
Seolah tau kebiasaan wanita, Atan menegur Tyra yang memang selalu lama setiap mandi. Garis bibirnya yang indah membentuk senyuman. “Iya mas sayang.”
Tyra berlalu.
Dan saat kembali dengan tubuh yang sudah segar beraroma vanilla, meja makan minimalis yang ada disisi dapur sudah terhidang semangkuk nasi goreng buatan Atan, dia Pring, dua gelas minuman hangat berbeda rasa, dan yang membuat kepala Tyra celingukan, dia tidak melihat Atan disana. Hanya ada ponselnya yang tergeletak bebas diatas meja makan.
Tyra menarik satu kursi dan duduk disana. Ia bahkan meringis disela senyuman kecil di bibirnya karena kembali teringat semalam. Ah, dia perlu memanggil Atan kah?
“Mas?” teriak Tyra membumbung memantul pada setiap sudut rumah. “Sayang, kamu dimana?” lagi, teriaknya. Dan tak lama kemudian, ponsel Atan bergetar diatas meja, menarik atensi Tyra.
“Putri? Siapa?” bisik Tyra pada dirinya sendiri ketika melihat foto profil yang muncul di layar ponsel Atan. Seorang perempuan cantik yang berpose bersama seorang gadis cilik yang tidak kalah cantik.
Dengan gerakan ragu, Tyra menarik ponsel Atan untuk mendekat kepadanya. Kemudian dia kembali berteriak memanggil Atan, takut kalau ada telepon penting dari ... ah, mungkin rekan kerja yang butuh laporan atau apa. Tyra hanya bisa berfikir positif saja.
“Sayang, ada telepon.” teriak Tyra yang sekali lagi memenuhi rumahnya yang kosong. “Dia kemana, sih?”
Tyra mengangkat ponsel Atan, lalu menatap lekat si pemanggil yang belum lelah dan tidak kunjung mengakhiri panggilannya. Dia memberanikan diri untuk menggeser gambar telepon yang sedang bergerak-gerak, kemudian mengarahkannya ke telinga.
“Halo,”
Lalu,
“Halo,” sapa Tyra, sekali lagi.
“Dimana Zio?”
Zio? Atau ... Atan kah? Apa dia di kantor di panggil Zio?
“Maksud mbak nya mas Atan?”
Tanpa Tyra tau, diseberang sana ada yang sedang mengumpat dan terbakar emosi.
“Ya. Berikan teleponnya pada dia.”
“Mas Atan sedang tidak ada disini. Mungkin sedang ke kamar mandi.”
Niat Tyra agar dirinya dianggap adik dari Atan oleh orang yang diterka Tyra sebagai teman Atan ini.
“Nanti saja telepon lagi. Orangnya sedang nggak ada.” ketus Tyra karena kesal dengan nada sarkas wanita diseberang yang sedang bicara dengannya.
Panggilan wanita bernama Putri itu terputus setelah mendapat suara dingin dan datar dari Tyra. Siapa juga yang tidak kesal. Nggak kenal, bukannya nanya enak-enakan malah nyeletuk bikin sebel. Ya jangan salahkan Tyra kalau mode reog nya muncul.
Tyra menatap lagi ponsel Atan yang sudah gelap. Dia tidak bermaksud mencari lebih banyak tentang wanita itu karena dia percaya pada Atan. Lagi pula, tidak mungkin Atan—
Ting!
Sebuah pesan masuk dan Tyra dapat membacanya sekilas.
Brina nyariin kamu
Hanya itu yang bisa di tangkap oleh pupil mata Tyra.
Brina? Nyari Atan? Siapa Brina?
Tiba-tiba, asumsi buruk menyambangi isi kepala Tyra. Sebuah ketakutan akan status Atan menyusul, kemudian ketakutan lainnya ikut menyerang keteguhan hati Tyra yang semula percaya penuh pada seorang Atan.
Apa Atan membohonginya?
Kenapa Tyra tidak mencari tau sendiri akan status Atan? Tapi, keluarga Atan pun tidak bercerita apapun tentang Atan saat dirinya pernah datang saat itu. Apa mereka semua menyembunyikan sesuatu darinya?
Asumsi terburuk yang timbul dalam benak Tyra adalah,
Apakah dirinya sedang dibodohi?
Tak lama kemudian Atan muncul dengan wajahnya yang sudah segar. Ternyata Atan juga baru saja selesai mandi. Dia melempar senyum pada Tyra yang sedang menatapnya lurus.
“Ada apa panggil-panggil sayang?” tanya Atan, duduk didepan Tyra dengan pakaian yang masih sama sejak kemarin sore mereka bertemu. “Aku harus pulang setelah sarapan selesai.” lanjut Atan yang langsung mendapat sorot datar dari Tyra.
“Oh.” Jawabnya singkat. Tyra tidak lagi berminat memberitahu Atan tentang telepon yang baru saja ia jawab diam-diam tanpa sepengetahuan Atan.
“Kamu masih cuti?” tanya Atan, mulai membalik piring milik Tyra dan mengisinya dengan nasi goreng rumahan buatannya sendiri.
“Eum, sampai hari rabu.” jawab Tyra sembari menyorot sendu wajah Atan yang terlihat tulus saat melakukan apapun untuk dirinya.
Atan duduk, lalu mengambil nasi untuk dirinya sendiri, kemudian kembali melihat ke arah Tyra. Melihat ekspresi yang berubah dari wajah Tyra, Atan bertanya. “Ada apa?”
Lalu, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lebih lama, Tyra akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Atan. “Siapa putri?” Tyra sengaja menjeda, menunggu jawaban dan relasi Atan yang tak langsung memberinya jawaban. Lantas pertanyaan lain ikut terucap begitu saja dari bibir Tyra.
“Dan, siapa Brina?” []
...—To be continue—...
###
Ayo Tan, mbak pacar lagi cembukor lho 😁