
...We...
...|Empat puluh empat|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Singkat cerita, cidera bahu yang diderita Atan sedikit demi sedikit membaik. Dia bahkan sudah kembali bekerja seperti biasa setelah mendapat cuti panjang selama sebulan. Dan beberapa hari kedepan rencana pernikahannya dengan Tyra dilaksanakan.
Berita tentang pernikahan secara tiba-tiba mencuat dan ramai dibicarakan di media sosial. Mereka bahkan tak segan-segan membuat asumsi sendiri tentang alasan pernikahan itu diselenggarakan begitu cepat.
Ada yang menebak jika Tyra sedang hamil anak sang kekasih, ada juga yang berfikir positif bahwa memang Tyra hanya ingin menikah muda, seperti yang pernah di katakan perempuan itu pada salah satu live nya di akun sosial medianya dulu.
Beberapa kontrak dengan brand besar sengaja Tyra batalkan, dan beberapa ia tolak karena Atan ingin Tyra fokus pada kehamilannya. Atan bahkan sudah mewanti-wanti agar Tyra menjadi ibu rumah tangga saja setelah menikah. Ya, meskipun Tyra juga masih punya bisnis sendiri yang besar berpenghasilannya nggak main-main.
Atan duduk di kursi meja kerjanya, mulai melakukan pekerjaan akhir bulan yang melelahkan. Input gaji, update data karyawan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kepala HR sudah mau pensiun bulan depan, dan benar, Atan yang akan menjadi kepala HR yang baru setelah ini. Jenjang karir Atan memang selalu bagus karena kinerjanya yang sungguh-sungguh dan selalu mendapat feedback baik dari atasan. Atan adalah satu dari beberapa pegawai Earth Beauty yang sangat kompeten.
“Ada panggilan di ruang kerjanya pak Nolan, Tan.” kata Bu Ruya sambil membawa beberapa map ditangannya, bersiap menuju tempat tersebut bersama Atan, si calon kepala HR yang baru.
“Oh, baik, bu.” jawab Atan spontan. Ia segera bangkit, merapikan penampilan, meraih ponsel dan ballpoint, lalu memasukkannya ke dalam saku kemeja abu-abu yang ia kenakan dan keluar dari ruangan bersama Ruya.
Langkahnya mengikuti langkah Ruya yang ternyata sangat cepat. Wanita ini memang sudah berusia, tapi selalu cekatan dan tepat mengambil sebuah keputusan. Atan sudah belajar banyak semua itu dari Ruya.
Sesampainya didepan sebuah ruangan yang sangat berkelas yang terbuat dari kaca tebal buram bertulis Earth Beauty President's room, Ruya mengetuk bilah kaca setebal tujuh senti itu sebanyak tiga kali. Lalu, mendorongnya kuat-kuat hingga terbuka lebar dan diikuti langkah Atan dibelakangnya.
“Selamat sore, pak Nolan.”
Nolan yang setengah sibuk menilik laporan yang ada di atas mejanya, kini menatap dua presensi yang ada didekat pintu ruangan.
“Oh, Bu Ruya. Silahkan masuk.”
Suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai terdengar jelas karena ternyata, ruangan ini didesign khusus dengan penataan kedap suara.
“Silahkan duduk dulu,” Nolan mempersilahkan dua pegawai terbaiknya tersebut. Kemudian berlanjut dengan pembicaraan serius tentang pekerjaan di bagian HR, dan berakhir dengan pemindahan jabatan dari Ruya kepada Atan.
“Bu Ruya, saya atas nama Earth Beauty mengucapkan banyak terima kasih untuk kerja kerasnya Bu Ruya selama ini.” kata Nolan sambil menyalami wanita yang jauh lebih tua darinya itu. Sejak diterima bekerja, yang Nolan lihat memang bukanlah usia, tapi kinerja dan Ruya adalah orang yang mempunyai kriteria Nolan. Dan sekarang, Atanlah orang yang memiliki kriteria tersebut saat masa kerja Ruya sudah berakhir.
“Terima kasih, pak Nolan.”
“Sebagai bentuk terima kasih kami, kami akan memberikan kompensasi berupa uang tunjangan untuk pengabdian bu Ruya selama ini.”
Atan ikut tersenyum sambil menatap wanita disampingnya.
“Baiklah, terima kasih sudah meluangkan waktu kerja bu Ruya dan pak Atan. Silahkan kembali bekerja.”
Nolan berdiri, disusul Atan dan Ruya. Mereka kompak meninggalkan ruang kerja Atan dan kembali ke ruang HR. Disana sudah sibuk bersiap untuk pulang, namun Ruya segera menginterupsi.
“Kita briefing sebentar.”
Semua yang sudah bersiap meninggalkan tempat, lantas berdiri di salah satu space yang biasa mereka gunakan untuk briefing. Disana, Ruya mulai berbicara banyak tentang apa yang tadi di sampaikan oleh Nolan, kemudian di akhir sesi briefing, Ruya berpamitan dan memperkenalkan Atan sebagai kepala HR yang baru.
“Tidak Bu, justru kita yang minta maaf jika selama ini kami ada salah pada Bu Ruya.”
Ruya tersenyum. “Kita saling memaafkan saja, ya. Semoga karir kalian disini semakin sukses.”
“Amin ... ” sahut mereka bersamaan.
“Setelah ini, kalian akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik, lebih modern, dan lebih berkompeten lebih dari saya, dan tentu saja, tampan juga energik.”
Ya, siapa yang tidak tau Atan. Pria ini memang selalu terkenal memiliki otak yang briliant di kantor. Akan tetapi namanya akhir-akhir ini menjadi pembicaraan karena kasus Tyra, dan kabarnya yang akan menikahi model papan atas itu, seolah menjadi pembenaran bagi pihak yang tidak menyukainya.
“Saya tidak sebaik itu, Bu Ruya. Saya juga meminta kerja sama para senior di tim HR ini jika ada kendala.”
Semua mengiyakan dan briefing pun berakhir.
***
Atan janji datang ke rumah Tyra hari ini. Calon istrinya itu mengalami mual dan muntah yang parah sampai lemas. Dan Atan berniat akan membawa Tyra ke salah satu dokter kandungan yang di kenal Tyra sebagai teman baik papanya.
Dirumah Tyra, sempat ada sedikit kekacauan karena Tyra yang tidak bisa menahan mual dan akhirnya memuntahkan isi perutnya sebelum sampai di westafel kamar mandi. Alhasil, dengan sabar Atan membersihkan itu dan meminta Tyra beristirahat sebelum mereka berangkat.
“Kondisi janinnya baik, cuma mungkin agak rewel ya sama mamanya.” kata dokter wanita yang masih memutar alat pemeriksa kandungan diatas perut Tyra. “Saya beri vitamin sama pereda mual ya. Makan jangan sampai telat. Selain itu, banyak konsumsi buah dan sayur. Kalau ada riwayat maag, jangan makan buah yang rasanya asem, nanti kambuh.”
Tyra mengangguk patuh. Atan yang sedari tadi mendampingi tak melepaskan sedikitpun telapak tangan Tyra, membuat dokter SpOG. itu menahan senyuman. Firdaus meminta pertemuan ini dirahasiakan, dan tentu saja dokter Karen menyanggupi itu.
“Untuk jenis kela-min, baru bisa di lihat saat usia menginjak enam belas minggu ya.” kata si dokter lantas berdiri dan mengusap ujung transducer dengan tisu. “Kalau nanti mualnya masih berlebihan, bisa diperiksakan lagi, ya.”
Atan dan Tyra mengiyakan, lantas membantu Tyra bangun dari rebahan sambil membenarkan baju yang tersingkap. Karen duduk, Atan dan Tyra menyusul.
“Saya dengar dari dokter Firdaus, kalian akan menikah minggu ini.”
“Iya, dokter.” jawab Atan singkat.
“Selamat ya.” kata dokter Karen sambil tersenyum lembut.
Tyra dan Atan saling melirik, kemudian balas tersenyum.
“Terima kasih dokter.”
Lepas menebus obat di apotek, Atan kembali ke mobil. Didalam ada Tyra yang terlihat kepayahan dan bersandar di jok mobil. Atan duduk dibalik kemudi, lantas memasang seatbelt.
“Mau makan dulu?” tanya Atan sembari menyalakan mesin mobil.
“Aku males, kalau lihat nasi pingin muntah.”
Atan mengusap pipi Tyra yang terlihat tirus. “Makan dikit, oke. Biar kamu kuat, adeknya dapat asupan gizi.”
Tyra semakin malas. Perutnya menjadi mual. Dan dengan siaga Atan melompat turun menemani Tyra yang sudah berjongkok memuntahkan sisa isi perutnya.
“Makan ya? Nanti aku temeni sampe kamu selesai, dan tidur.” []
...—To be continue—...