We

We
Tiga puluh enam




...We...


...|Tiga puluh enam|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Setelah mandi, Atan yang tau Putri sudah pulang pun bergegas kembali melangkah keluar rumah. Dia masih ada janji menjemput Tyra. Kekasihnya itu minta traktir makan nasi bebek langganan, kemudian membeli ice cream gelato berbagai rasa. Begitu yang diminta, dan Atan juga tidak mau menolak ajakan langkah itu karena Tyra memang orang yang sibuk.


“Kemana, Tan?” tanya Lastri yang sudah hampir menutup pintu rumah karena jam sudah menunjuk angka tujuh malam. Sebentar lagi jalanan kompleks pasti sudah sepi.


“Mau jemput Tyra sebentar, bu.” jawab Atan apa adanya sesuai kenyataan.


“Dimana?”


“Di tempat kerjanya. Ibu butuh sesuatu? Nanti pulangnya Atan belikan.” jawabnya sambil merogoh saku celananya, memastikan jika kunci cadangan sudah masuk. Tidak lucu jika dia pulang malam dan harus tidur diteras karena lupa bawa kunci.


“Enggak. Tolong telepon Linda sebentar, kenapa belum pulang sampe malam.”


Tanpa banyak bicara Atan langsung menuruti. Tidak biasanya Linda pulang malam, dan ternyata sudah ada tiga panggilan tidak terjawab, dan dia pesan yang masuk sekitar setengah jam yang lalu. Itu artinya saat Atan mandi tadi.


Mas, tolong jangan panik dan jangan bilang ibu.


Linda lagi di rumah sakit, keserempet mobil. Mas bisa kesini? Ke RS dekat kampus.


Astaga, jantung Atan rasanya mau copot. Kenapa dia tidak mengecek ponselnya dari tadi? Adiknya sedang celaka dan mungkin sedang menunggunya datang.


“Bu, Atan pamit dulu, ya.” pamitnya buru-buru.


“Lho, adikmu bagaimana?”


Atan memakai sepatunya dengan cepat, lalu meraih telapak tangan ibunya untuk ia salami.


“Nanti Atan telepon sambil jalan.”


Atan masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah begitu saja. Ini pertama kalinya dia menyetir dengan kecepatan 90km/jam dan sempat diteriaki seorang pengendara motor dengan umpatan karena hampir tersenggol. Atan ingin segera melihat keadaan Linda.


Dan sesampainya di rumah sakit, Atan segera menemui Linda di ruang IGD setelah tau dari resepsionis di meja depan yang ruangannya bersebelahan dengan ruang gawat darurat.


“Mas,” panggil Linda, lalu menangis di pelukan kakak satu-satunya yang dia miliki. Seorang pemuda seumuran Linda yang berdiri disamping ranjang hanya bisa melihat interaksi kakak beradik yang tentu saja membuatnya haru, dan iri. Pasalnya, dia tidak bisa merasakan hal itu.


“Kamu kenapa bisa sampai kayak gini sih, dek?”


Linda tidak bisa menjawab, tapi pemuda yang berdiri tak jauh dari Atan mulai berbicara.


“Itu, mas, tadi tiba-tiba ada mobil ngebut. Untungnya mbaknya masih bisa saya tarik mundur meskipun sedikit terlambat.”


Linda mengusap air matanya, lalu kembali mengamati laki-laki yang menolongnya. Mata mereka bertemu, dan laki-laki yang tadi mengaku bernama Surya itu tersenyum manis.


“Terima kasih sudah menolong adik saya,” kata Atan sambil menengok ke samping dimana tempat pemuda itu berada.


“Sama-sama, mas.”


Kini, mata Atan melihat kaki Linda yang dibebat kain coklat.


“Cuma terkilir, mas. Dokternya juga udah ngasih obat pereda nyeri tadi.” kata Linda, meringis menahan sakit dan perih pada beberapa permukaan kulit tangannya yang terkelupas akibat jatuh dan bergesekan dengan aspal.


Atan menganggukkan kepalanya.


“Kamu inget ciri-ciri mobil atau plat nomornya?”


Linda menoleh ke arah Surya yang juga sedang melihatnya.


“Jazz merah, mas. Kalau nomor platnya, saya kurang jelas lihatnya.” tutur Surya memberi tau.


“Putri.” sahut Linda cepat, Atan pun tak kalah cepat menoleh.


Setaunya, mobil milik Putri memang berwarna merah, dan produk dari salah satu produsen ternama. Atan yang sudah kepalang geram, mengeratkan rahang, diikuti telapak tangannya mengepal sempurna.


“Aku melihat dengan jelas kalau Putri yang membawa mobil itu.”


Jadi, beberapa menit setelah sampai rumah tadi, Linda pamit ke kampus karena dosen pembimbingnya tiba-tiba menghubungi untuk melakukan bimbingan pengganti hari besok yang sudah dijadwalkan. Dan mungkin, sepulangnya dari rumahnya setelah kepergian Linda tadi, Putri dengan sengaja mengekori Linda sampai ke kampus dan berencana melukai adiknya ini.


Akan tetapi, amarah itu urung lantaran Atan baru mengingat tentang Tyra. Astaga, dia sampai lupa jika akan menjemput Tyra hari ini. Dengan segera, Atan mencari keberadaan ponselnya.


“Mas keluar sebentar, ya?” katanya berlalu keluar. Kemudian menghubungi Tyra.


Panggilan pertama tidak di gubris. Atan khawatir sekaligus kelabakan. Ini sudah lewat satu jam dari janji yang mereka buat.


Sedangkan Tyra yang sudah kesal karena menunggu tanpa kabar, memilih mengabaikan telepon Atan dan pergi membeli ice cream gelato yang sudah membuatnya berliur sejak beberapa hari lalu. Tyra sendiri tidak tau mengapa akhir-akhir ini dia selalu menginginkan sesuatu yang aneh-aneh. Entah itu makanan, pakaian, bahkan posisi tidur pun sekarang menjadi telentang padahal, dia tidak pernah menyukai posisi tersebut.


Mobil mahalnya itu berhenti tepat di salah satu tempat penjual gelato paling ramai dan tidak berhenti di kunjungi pembeli.


Dia terpaksa pergi sendiri karena Retno sudah terlanjur pulang setelah pemotretan berakhir, dan Atan tidak kunjung datang menjemputnya. Tyra sempat pulang dengan taxi dan kembali pergi membawa mobilnya untuk memenuhi keinginannya memakan ice cream gelato.


Setelah memarkir mobil, Tyra melihat ponselnya kembali bergerak di atas dashboard. Atan menelepon, dan pada akhirnya Tyra menjawab panggilan tersebut.


“Eum,” sapa Tyra, malas.


“Kamu dimana?”


“Ngapain tanya-tanya?”


“Sayang maaf, aku ada keperluan penting yang nggak bisa di tunda.”


“Ya, terserah.” jawab Tyra malas sembari mengembuskan nafas.


Panggilan masih berlangsung, namun Tyra tidak mendengar suara Atan untuk beberapa saat. Terdengar suara riuh, dan suara kendaraan. Tyra mengerutkan kening dan menerka jika Atan sedang berada diluar sekarang.


“Linda keserempet mobil tapi mobilnya kabur, dan sekarang aku lagi dirumah sakit buat jemput dan bayar administrasinya.”


Seketika itu juga Tyra merasa bersalah. Mengapa dia tidak bertanya dulu tentang kepentingan Atan, alih-alih dongkol tanpa alasan yang jelas?


“Linda? Dirumah sakit mana?”


“Deket kampusnya. Untung ada yang nolongin dan lukanya juga nggak parah.”


Tyra merasa semakin nggak enak. “ Aku kesana, ya?”


“Nggak perlu. Linda udah boleh pulang kok. Ini juga aku mau ngurus administrasinya.”


“Ya udah. Kamu urus saja adik kamu dulu kalau begitu. Aku nggak apa-apa kok.” kata Tyra dengan perasaan lebih baik dari sebelumnya karena tau alasan Atan tidak datang menjemput dan menepati janjinya.


“Eum, maaf ya. Kita ketemu besok saja. Besok aku jemput dirumah kamu.”


Besok adalah hari Sabtu, dan Atan serta Tyra punya janji datang memenuhi undangan makan malam dirumah orang tua Tyra.


“Iya.”


“Kamu sekarang dimana? Kok kayak sepi banget?” tanya Atan penasaran.


“Lagi di dalem mobil, baru sampai di depan tempat jualan gelato. Pingin banget soalnya.”


Atan melipat bibirnya, dia amat sangat menyesal karena tidak bisa memenuhi janjinya mengantar Tyra untuk membeli sesuatu yang diinginkan kekasihnya itu. Namun bagaimana lagi, disini, saudarinya sedang membutuhkan dia. Tidak ada jalan lain selain mendahulukan Linda, adiknya.


“Kalau begitu, hati-hati nyetirnya, ya. Aku sayang kamu.”


“Eum, sayang kamu juga.”


Panggilan berakhir dan Tyra memutuskan untuk keluar dari mobil dan bergegas membeli gelato sebelum kemalaman. Ia meraih masker dan juga topi, serta mengenakan jumper hitam untuk menyamarkan diri.


Langkahnya melaju cepat, hingga kini dia berada tepat didepan pintu masuk dan berhadapan seseorang.


Ya, seseorang yang beberapa hari lalu juga dia lihat. Putri.


Wanita itu berjalan dengan menggandeng Brina yang terlihat senang sekali dengan gelato di tangannya. Lain Brina, lain pula Putri. Perempuan itu menatap datar, lalu tersenyum miring di sudut bibirnya. Dunia tak selebar daun kelor, mungkin itu ungkapan yang tepat ia katakan pada pertemuan keduanya dengan Tyra. Putri merasa senang karena semesta seolah melancarkan tujuannya, mengabulkan do'a yang dia rencanakan beberapa jam yang lalu. Yakni bertemu Tyra.


“Hai, ketemu lagi.” sapanya dengan nada sengak. Wajahnya mungkin bisa berbohong, tapi sorot matanya, tidak. Tyra cukup berpengalaman dalam menilai ekspresi dan tatapan mata seseorang, karena dia ahli dibidang itu.


“Oh hai.” sapa Tyra balik, dan bermaksud langsung pergi tanpa mencari gara-gara. Tapi Putri tidak melepas Tyra begitu saja. Dia kembali bersuara.


“Atan mencintaimu hanya karena dia merasa bersalah sudah menidurimu.”


Tyra yang mendengarnya membeku. Jantungnya berdebar kencang, dan tubuhnya mendadak gemetar. Benarkah? []


...—To be continue—...