We

We
Sepuluh




...We...


...|Sepuluh|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Tyra mengabaikan ponselnya yang terus berbunyi tanpa jeda. Dia hanya menatap lurus langit-langit kamar karena masih terus terngiang ucapan Atan tentang harga diri seorang wanita. Pria itu seakan memberi pencerahan padanya tentang sebuah makna betapa berharganya diri sendiri yang perlu dijaga.


Dengan mata yang sudah tidak memiliki daya di jam dua pagi, Tyra meraih ponselnya. Dia hanya ingin membaca beberapa pesan yang membuat berisik, lalu tidur. Begitu rencananya.


Tapi, semua itu hanya menjadi wacana saat Tyra menemukan pesan yang sedang membicarakan dirinya di dalam salah satu grup yang dia ikuti.


Ya, nggak seru lah si Tyra. Ngapa lu absen?


Tyra tersenyum membaca pesan dari Hera, teman paling dekat dengannya di geng.


Sibuk kalee,


Nggak mungkin. Dia mau bilang datang kok, ajak gebetan baru katanya


Lha buktinya nggak datang. Ayo dong Ra, kasih konfirmasi @tyraRex


Tyra mengetik balasan.


Sorry bestie, gue ketiduran. Capek cause full jadwal kerjaan hari ini.


Ketiknya berbohong agar teman-temannya tidak mengolok dan menjadi-jadi karena menganggapnya membual.


Dia dateng kok, kalian semua dibohongi.


Tyra lupa, jika ada satu anggota geng yang tidak pernah bisa membuatnya tenang. Dia pernah dekat dengan Tyra hingga bisa masuk ke sirkle pertemanan, namun berakhir buruk karena orang yang sudah ia percaya itu, melukai hatinya.


Gue lihat dia sama cowok tinggi, tapi gue nggak liat mukanya. Bawa mobil biasa, Fortuner kalau nggak salah.


Tatapan Tyra mendadak panas. Ah, bukan matanya saja yang panas, otaknya kini ikut mendidih karena marah. Brianna tidak pernah bisa membuatnya duduk cantik dan mengembuskan nafas tenang. Sejak hubungan mereka renggang, Brianna selalu usil tentang hidup Tyra.


Oh really?


Oh benarkah?


Sure?


Tentu saja grup berisi lima orang bersama dirinya itu, kembali ramai karena berita yang dibawa Brianna.


Ra, ayo muncul. Beritahu kami siapa cowok yang sama elo tadi?@tyraRex


Tyra mendecak keras. Ia menyimpan ponselnya dibawah bantal dengan mode senyap, lalu bersiap tidur sebelum pagi muncul dan dia harus kembali beraktifitas. Sudah lama dia ingin keluar dari grup ini meskipun dia tau, akan menerima dampak terburuknya, yakni tidak lagi memiliki teman, dan mungkin ... mereka akan balik membenci dirinya. Tapi, Brianna selalu saja ikut campur masalah pribadinya, bahkan selalu memancing teman-teman satu grup mereka untuk berkomentar tentang Tyra.


Benar-benar jenis keusilan yang tidak berfaedah.


***


“Kami sudah berpisah, Bu. Sudah hampir satu minggu.”


“Lho, kenapa?”


Atan menunduk menatap ubin rumah. Bibirnya tersenyum masam karena sadar jika perpisahan dengan Winda masih terasa berat untuknya setelah dua tahun bersama.


“Udah nggak cocok, bu.”


Lastri meraih kepala Atan dan mengusapnya penuh kasih. Mungkin memang belum jodoh, tapi Lastri ingin Atan memikirkan lagi keputusannya. Jangan hanya karena merasa tidak cocok, Atan harus menyakiti hati seorang wanita.


Mungkin hal itu terdengar aneh ditelinga anak jaman sekarang. Tapi, jika berada di jaman Lastri dulu, wejangan-wejangan seperti ini pasti didengar meskipun keberatan.


“Kalau ndak cocok, cari apa yang bikin nggak cocoknya. Terus diperbaiki sama-sama, jangan langsung pilih pisah begitu saja.” tutur Lastri yang membuat Atan sedikit goyah. Ia pikir wejangan ibunya ini ada benarnya. Mungkin kemarin, Atan hanya sedang putus asa karena banyak masalah, dan hubungannya dengan Winda jadi korban frustasinya.


“Ibu sama bapak dulu juga nggak langsung nikah gitu aja, nak. Ada banyak yang kami berdua lalui. Suka, duka, hingga berbagai macam bentuk masalah kami hadapi. Hingga akhirnya kami berhasil melewati itu semua.”


Atan kembali tertunduk. Pikirannya semakin ragu dan kembali memikirkan Winda. Dua tahun memang bukan waktu yang bisa dibilang lama, tapi semuanya seolah berkesan untuk Atan. Sifat posesif Winda lah yang dulu sangat ia sukai dari perempuan itu. Jadi, sudah jelas, keputusannya memilih menyudahi hubungan tempo hari itu salah, pikirnya sulit.


“Kamu sendiri yang jadi saksi bagaimana ibu dan bapak selalu bersama-sama menjalani semuanya sampai bapakmu kembali pada sang pencipta.”


Atan menatap sendu pada ibunya, kemudian tersenyum. “Apa ibu sayang sama Winda?”


Lastri tersenyum. “Kalau kamu sayang sama dia, ibu pasti juga akan sayang sama dia. Karena ibu tidak akan membenci pilihan putra ibu sendiri.” kata Lastri membuat Atan semakin bingung. “Kalau menurut kamu sendiri, bagaimana?”


Atan kembali memutar ingatannya saat bersama Winda selama dua tahun kebelakang. Sampai dia menemukan ucapan Winda kapan hari yang membuatnya tersulut emosi dan memilih jalan pisah.


“Atan, tidak bisa bersama Winda, bu.”


Ya. Lebih baik seperti itu, daripada nanti, semua terjadi lagi saat mereka sudah terikat hubungan serius dan berakhir lebih buruk dengan mengorbankan sesuatu yang seharusnya tidak harus mereka korbankan, yakni keluarga.


Lastri mengangguk, mencoba memahami keputusan yang diambil oleh Atan. Lastri tau jika Atan pasti memiliki alasan untuk setiap keputusan yang diambilnya. Dan dia tidak bisa memungkiri, jika putranya adalah sosok pria yang bijaksana dan bertanggung jawab atas semua yang dia ambil sebagai sebuah keputusan.


“Ya sudah. Ibu akan selalu berdo'a untuk kamu, untuk adikmu, semoga kalian dipertemukan dengan orang baik yang bisa menerima keadaan kalian apa adanya. Ibu tidak bisa memberikan apapun selain do'a.”


Atan tersenyum dan membawa tubuh ibunya kedalam pelukan. “Amin, terima kasih sudah mendo'akan yang terbaik untuk kami, bu.”


Setelah pelukan pada sang ibu terlepas, Atan kembali berbicara serius. Kali ini perihal tawaran boss besar tempatnya bekerja untuk memberikan jabatan yang dirasa Atan akan lebih mampu memperbaiki perekonomian keluarga.


“Bu,” panggil Atan. “Bos di kantor Atan, nawarin Atan naik jabatan.” katanya lembut menyita perhatian sang ibu. “Bagaimana menurut ibu? Apa Atan harus terima tawaran itu?”


Lastri meraih telapak tangan Atan dan menggenggamnya erat.


“Ibu akan membantu dengan do'a. Lakukan apa yang menurut hatimu baik.”


Atan tersenyum. Kekuatan do'a dari sang ibu, adalah kunci suksesnya selama ini. Dia pun tidak ragu lagi untuk menerima tawaran itu, dan akan menerimanya.


***


Selain ibunya, Atan rasa harus memberitahu seseorang dan berterima kasih padanya. Karena promosi terjadi lantaran masalah terdeteksi, dan si bos taunya dia berhasil menyelesaikan dengan baik.


Namun pada kenyataannya, tanpa bantuan si dia, Atan juga tidak memungkinkan mendapatkan tawaran menggiurkan itu.


“Sorry telat.” kata Tyra yang datang dengan terburu-buru, nafas terengah dan keringat yang membasahi keningnya.


“Nggak apa-apa. Saya juga baru sampai.”


Mereka bertemu di restoran lesehan bebek yang beberapa waktu lalu mereka datangi berdua. Atan yakin Tyra senang berada disini, karena saat mereka bertemu saat itu, Tyra makan dengan sangat lahap seperti orang kelaparan.


“Saya juga sudah pesan bebek ukep yang waktu itu.”


Mata Tyra berbinar. Ia lantas mengangguk cepat dengan senyuman mengembang sempurna di bibirnya yang kali ini berwarna peach, kemudian duduk bersila dengan posisi nyaman.


“Wah, terima kasih ya, pak Atan.”


Atan mengangguk sebagai jawaban.


“Ini, surat perjanjiannya.” kata Atan, mendorong sebuah map ke depan Tyra.


Kenyataan pahit yang harus ditelan Tyra bulat-bulat adalah, pertemuan mereka masih tetap hanya sebatas bisnis. Tidak lebih dari itu.


“Ah, ya.” Tyra tersenyum kikuk dan meraih dua lembar kertas berisi perjanjian perdamaian yang sudah ditempel materi dan dibubuhi tanda tangan oleh pemilik perusahaan atas nama Nolan Aresta Suwandi sebagai pihak pertama, lalu leader marketing atas nama Zelatan Adonizio sebagai pihak kedua, dan pihak ke tiga, Tyrana Agnalia.


Setelah membaca isi surat tersebut dengan seksama yang tentu saja begitu detail dan jelas, Tyra merogoh tas yang ia bawa untuk mencari ballpoint. Namun gerakannya terhenti saat matanya menangkap sebuah pena terulur untuknya. Mata Tyra tak luput memperhatikan seksama bagaimana telapak tangan besar milik Atan ada didepan matanya. Kemudian, manik matanya terangkat menatap fitur wajah yang ia kagumi. Begitu tampan, manis, dan berwibawa dalam satu waktu bersamaan.


“Ini, sudah saya siapkan.”


Sumpah demi klarinet Squidward, Tyra ingin sekali melompat kegirangan karena Atan begitu perhatian padanya.


“Ah, terima kasih.” katanya sambil meraih pena bermerk Parker yang tentu saja menjadi andalan banyak orang kantoran jika melakukan pertemuan penting.


Tanpa berpikir panjang, Tyra segera membubuhkan tanda tangan diatas materi, lalu menyerahkan kembali berkas beserta pena kepada Atan.


Akhirnya, mereka benar-benar berdamai. Dan Tyra pikir, ini juga akan menjadi pertemuan terakhir mereka karena tidak lagi terlibat urusan bisnis.


“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena sudah berbelas kasih kepada saya, Nona Tyra.”


“Eh, jangan ngomong begitu. Aku jadi merasa bersalah sudah berusaha menuntut kamu yang ternyata tidak sekaya yang aku pikirkan.”


Atan tidak sakit hati, dia malah tertawa karena perkataan jujur Tyra yang terdengar lucu di telinganya.


“Maaf kalau saya tidak sesuai dengan ekspektasi anda, nona Tyra—”


“Panggil aku Tyra saja. Nggak enak ih kalau ada nona nya. Kayak majikan saja.”


Tak bisa lagi membendung tawa, Atan terpaksa terang-terangan melebarkan bibir dengan suara tawa yang membuat Tyra candu.


“Baiklah, tyra—”


“Aku panggil kamu Atan aja, boleh?”


Baru kali ini, ada seseorang yang meminta izin ketika ingin memanggil namanya. “Tentu, itu memang nama saya. Silahkan panggil siapa saja asal tidak keluar dari konteks yang sudah ada.”


Mereka tertawa bersama ketika dua orang pramusaji datang membawa pesanan dan menghidangkan dimeja kecil yang memisahkan Tyra dan Atan.


“Ah, saya juga ingin berterima kasih sama kamu.”


“Untuk?” tanya Tyra sambil melipat baju lengan panjangnya.


“Bos saya mengira saya berhasil menyelesaikan masalah ini dengan rapih. Padahal,“ Atan menjeda sejenak, tatapan keduanya bertemu. “jika tidak karena kebaikanmu, saya pasti tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini dan justru terlibat masalah baru.”


“Masalah baru?”


Atan terkikik geli mengingat hal itu. “Iya. Karena saya berniat meminjam uang di bank untuk membayar penalti.”


Bukannya kesal, Tyra justru terenyuh. Dia merasa kasihan, dan iba. Mungkin Atan memang benar-benar berasal dari keluarga yang tidak memiliki perekonomian yang cukup hingga harus memutuskan untuk meminjam uang di bank untuk membayar ancamannya.


“Maaf, aku tidak bermaksud—”


“Tidak. Jangan minta maaf.”


Keduanya kini hanya tersenyum. Suasana berubah sedikit canggung di pihak Tyra.


“Jangan meminta maaf, karena berkat kamu, saya mendapat promosi dari bos untuk naik jabatan.”


Ada sepercik rasa bahagia di hati Tyra saat mendengar itu. Dia kembali berbinar dan dengan suara ceria dia bertanya, “Benarkah? Ah, syukurlah kalau begitu.”


Atan terkikik geli. Pasalnya, Tyra terlihat lucu saat ini. Ekspresinya tulus dan polos, seperti anak kecil yang hendak menerima hadiah.


“Kamu nggak marah? Saya terkesan manfaatin keadaan lho?” kata Atan dengan wajah bingung.


“Lho, kenapa marah? Bagus kan, kamu dapat promosi berkat masalah ini. Dengan begitu, tanpa sengaja aku sudah bantu kamu mendapat kesempatan memperbaiki penghasilan.”


Sialan, tapi perkataan itu benar. Atan lagi-lagi tertawa, kali ini sambil menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal.


“Kamu benar.” kata Atan sambil menjentikkan jari. “Jadi, apa aku harus terima tawaran si bos?”


“Jelas dong.” sahut Tyra cepat penuh semangat. “Kesempatan tidak akan datang dua kali, Tan.”


Atan terkejut saat Tyra menyebut namanya sebanyak dua kali. Jantungnya mendadak memompa darah lebih cepat.


“Ah, begitu ya?”


“Ya, lah. Udah, terima aja.” celetuk Tyra, lalu menyuapkan nasi kedalam mulut.


Atan tersenyum manis. Ia merasa sedikit cocok dengan Tyra setelah bertemu dua kali dengan orang yang sempat membuatnya pusing. Tyra ternyata friendly, dan tidak seburuk yang ia duga.


“Oke, aku akan terima kalau begitu.”


“Ya. Harus.”


Hening sejenak, lalu Atan kembali bersuara. Menawarkan sesuatu yang membuat Tyrana ingin berjoget Zumba didepan umum.


“Mau berteman denganku?” []


...—To be continue—...


###


Maaf telat update 🙏