We

We
Dua puluh tujuh



...Perhatian!...


...²¹+...


...Jika dirasa kalian berusia dibawah ²¹ tahun, atau kurang suka dan tidak nyaman dengan scene berbau 5eks, silahkan skip....


...Protect your self....



...We...


...|Dua puluh tujuh|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Atan sangat tau jika apa yang sedang dia lakukan kali ini, salah. Dia pasti akan membuat ibunya kecewa, dan pastinya dia akan menyesali semua ini jika sampai dirinya benar-benar menyentuh Tyra, diluar nikah. Selain itu, dia pasti akan melukai perasaan kedua orang tua Tyra. Kemudian bagaimana dia akan bertanggung jawab nanti?


Semua pikiran menguar diudara ketika bibir Tyra menyentuh kulit lehernya. Atan memejam dan merasakan bagaimana Tyra mengecup dan mencium batang lehernya berkali-kali hingga hasrat itu semakin membuncah, lalu satu sisi dirinya menegur, memperingatkan agar menjaga kewarasan.


Tapi gagal.


Atan meraih tengkuk leher Tyra, mengusapnya lembut dan membiarkan kekasihnya itu terus memberi stimulasi yang membuatnya terasa begitu nyaman. Hingga Atan merasakan sengatan kecil dilehernya ketika Tyra menyesapnya lembut. Atan kehilangan dirinya yang semula mempertimbangkan apa akibat dari yang mereka lakukan hari ini.


Atan membalas ciuman itu pada tempat yang sama, yakni tengkuk leher seputih susu milik Tyra, menyesapnya kecil hingga Tyra mendesis.


Tyra menjauhkan diri hingga tatapan mereka bertemu.


“Lakukan padaku, hanya padaku.” pinta Tyra yang saat itu juga membuat naluri lelaki Atan muncul ke permukaan. Dia menidurkan Tyra diatas sofa, di bawah kungkungannya dia mulai mencumbu. Menyentuh beberapa titik pada lekuk tubuh Tyra hingga gadis itu melenguh.


Atan memperhatikan Tyra kemudian berkata. “Beritahu saya, bagaimana caranya berhenti.” kata Atan memohon karena dirinya semakin terpancing dan tidak ingin menyudahi apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


Tyra mengusap dada Atan, menatap intens mata sang kekasih hati, lalu tersenyum. “Mari kita hadapi bersama, maka semuanya akan kembali seperti semula.”


“Maafkan saya.” bisik Atan, kemudian kembali menyentuh Tyra, memulai semuanya untuk menjadikan suasana berubah panas.


Sampai dimana titik keduanya sudah saling kehilangan kendali, Atan memposisikan diri. Jangan pernah berfikir Atan tau apa yang sedang dia lakukan karena pernah melakukannya. Tidak, ini yang pertama kali untuknya. Tapi dia tidak bodoh, dia pria dewasa yang tau tentang persetubuhan melalui pelajaran biologi yang ia pelajari di bangku sekolah dulu, dan meskipun sekarang saat dia melakukannya hanya mengandalkan insting. Dia melakukan sesuai perintah tubuhnya yang meminta.


Si jantan yang tadi sempat membuat Tyra memucat karena terkejut dengan bentuk dan ukurannya, kini sedang bersiap melakukan aksi. Alas penopang tubuh yang sempit membuat gerakan yang mereka buat cukup terbatas. Dan Tyra, meraih kedua lengan Atan yang menyangga tubuh pria itu agar tidak menindihnya, dia remas sebagai reaksi dan bentuk pengalihan.


Meskipun dia cukup tau dengan apa dan bagaimana proses berhubungan badan, Tyra tidak pernah melakukannya sekalipun dengan seorang pria. Dengan kekasih sebelumnya, hanya sebatas berciuman dan paling mentok bermain dada. Tyra termasuk klan pemilik bentuk dada yang indah. Atan yang melihatnya tadi juga semakin berhasrat dan tidak ingin pergi begitu saja dari sana.


Tyra melenguh dengan nafas tertahan kala Atan menekan kuat pusat tubuhnya pada miliknya. Ini pengalaman pertama Tyra dan juga Atan. Keduanya berupaya memberi kenyamanan dan kesan yang tidak buruk untuk di kenang, walaupun tentu saja seharusnya tidak patut di kenang.


Melihat Tyra yang seperti kesakitan, sontak Atan bangkit dan menjauhkan diri. Dia tidak ingin melukai Tyra. Akan tetapi, tangan Tyra menahan Atan yang sudah bersiap melepas kungkungan dari atas tubuhnya.


“Please, jangan tinggalkan aku dalam keadaan memalukan seperti ini,” pinta Tyra dengan wajah sayu, memelas, dan menahan malu. Dia bahkan sudah membuang jauh-jauh harga dirinya sejak memberi izin kepada Atan untuk menyentuh dan mempergunakan dirinya sebagai alat pelampiasan bagi Atan yang sedang dalam pengaruh obat perangsang. “Aku ... tidak apa-apa. Lakukan saja.”


Atan kehabisan kata-kata. Tyra membuatnya bingung diantara dua pilihan yang sama-sama salah. Telapak tangannya mengusap satu sisi wajah Tyra yang terlihat merona, lalu mengunci manik matanya dengan manik mata Tyra yang sekarang sedang berkaca-kaca.


Sudahlah. Lakukan saja dengan cepat. Jangan pikirkan dosa. Toh bukan kamu sendiri yang tanggung.


Bisikan se-tan yang terkutuk.


“Aku akan bertanggung jawab padamu setelah ini. Kita menikah.”


Bisikan se-tan itu mulai meracuni kembali otak Atan. Alhasil dia kembali memposisikan diri diatas Tyra yang terlihat begitu ... menggairahkan.


Tyra merapatkan rematannya pada permukaan kulit lengan Atan sebagai penyalur rasa sakit yang tercipta. Keduanya berkeringat deras karena sudah lebih dari tiga puluh menit berusaha.


Atan menjatuhkan diri lebih dekat, mengusap wajah Tyra yang basah oleh keringat, lalu mencium bibirnya mesra untuk menyalurkan rasa luar biasa yang dia rasakan ketika berhasil menembus dinding pertahanan Tyra yang masih rapat. Telapak tangannya mengusap wajah Tyra dan tidak bergerak sedikitpun agar penyatuan mereka lebih sempurna tanpa harus menyakiti Tyra lebih lama.


“Tolong bilang padaku jika kamu sudah merasa biasa dengan kehadiranku disana.” bisik Atan dengan dua daun telinga yang memerah karena malu dan lega secara bersamaan. Sedangkan Tyra, hanya bisa mengangguk dan menerima perlakuan lembut Atan yang masih memanjakannya dengan usapan lembut di wajah, dan kecupan-kecupan kecil di beberapa bagian leher.


Setelah beberapa saat,


“Co-coba bergerak. Kamu berat, Atan sayang.”


Ya bagaimana ya? Kegiatan seperti ini memang masih asing untuk Tyra dan Atan, jadi dia tidak bisa untuk tidak berkata jujur saat mulai merasa bobot Atan yang menindihnya terasa berat dan memperlambat kerja paru-parunya untuk menghirup udara. Ia merasa kesulitan bernafas karena tertimpa Atan diatas tubuhnya.


Atan sendiri tertawa kecil mendengar protes Tyra tentang berat badan yang menekan tubuh kurus itu. Lantas ia bangkit perlahan, yang tentu saja diikuti suara desisan Tyra karena merasa ngilu, sebab milik Atan tanpa sengaja ikut terdorong semakin melesak dalam.


“Aku mulai, ya?” kata Atan meminta izin yang diangguki oleh Tyra.


Gila. Mereka sudah gila.


Dan ruangan itupun disulap penuh dengan suara lenguhan, desa-han, rin-tihan, rengekan manja Tyra saat merasa senang dengan permainan yang disuguhkan Atan, bahkan suara tawa karena tanpa sengaja bertatapan dan merasa malu.


“Fu-ck!!” tanpa sengaja kata itu keluar dari bibir Tyra saat merasakan dorongan Atan yang terlampau ... kuat? Ya, katakan saja seperti itu. Atan memang kuat dalam segala hal, termasuk yang satu ini.


“I Want to cum.”


“Yea, cum to me baeby.” jawab Tyra dengan suara putus-putus karena Atan mulai mempercepat diri, menerjangnya dengan gerakan seduktif yang menuntut kepuasan.


Dua orang gila yang sedang dimabuk asmara lantaran rencana jahat seseorang itu, berakhir dengan getaran yang membuat Atan menebar benihnya didalam diri Tyra. Nafas keduanya terengah, keringat pada tubuh mereka yang tidak terbalut apapun terkena bias cahaya penerang ruang tengah.


Benar kata Tyra, penyiksaan yang ia rasakan itu akan berakhir hanya dengan bersetubuh. Sekarang, semua yang dirasakan Atan sebelumnya, sudah sirna. Kini tubuhnya lelah kehabisan tenaga. Semua tenaga dan kewarasannya sudah menguar di udara bersama nafasnya yang perlahan tenang.


Atan menarik diri, masih ditempat sempit yang menjadi saksi keduanya melewati malam ini, ia merebahkan diri disisi Tyra , membawa Tyra dalam pelukannya, mengecup puncak kepala wanita itu berkali-kali sembari mengucap maaf.


“Nggak, jangan minta maaf lagi, mas.”


Panggilan yang diberikan Tyra untuk Atan berubah begitu saja setelah pergulatan mereka berakhir.


“Saya merasa bersalah karena melakukan ini sama kamu.”


“Tolong, jangan bicara apapun lagi.” pinta Tyra karena merasa masih sangat malu. Dia membenamkan wajahnya pada dada Atan yang masih basah dengan aroma coklat yang menguar karena suhu tubuhnya yang masih sedikit panas. “Ini akan menjadi rahasia kita.”


Atan merapatkan pelukan. Dia berjanji tidak akan meninggalkan Tyra dalam situasi apapun.


“Aku akan bertanggung jawab. Kita harus segera menikah.” bisik Atan begitu yakin. Dia akan benar-benar mempertanggung jawabkan apa yang dia lakukan terhadap Tyra.


Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan. Jadi, apakah tujuan mulia mereka untuk membina rumah tangga akan terwujud mudah begitu saja? []


...—To be continue—...


###


Hayo, Hay tayo Hay tayo


Sumpah, aku ngetik apaan sih ini? Maaf kalo kurang berkenan ya


Kalau nana-ninu nya kurang hot, tambain kompor biar kebakar sekalian wkwkwkwk 🤭