We

We
Empat puluh enam




...We...


...|Empat puluh Enam|...


...Selamat membaca...


...[•]...


“Oke. Gue percaya Atan memang pria baik. Tapi wanita itu?”


“Wanita?” tanya Tyra menyelidik. Dia bahkan sudah antisipasi jika wanita yang dimaksud Retno adalah, putri. “Wanita yang mana?” lanjutnya menginterogasi. Tyra tidak bisa berbohong jika di wajahnya kini mungkin tergambar ekspresi panik.


“Wanita itu,” kata Retno dengan nada yang sering diketahui Tyra saat Retno malu-malu. Wajah Pria itu kini sudah merona seperti kepiting rebus.


“Wanita yang mana sih?!” sentak Tyra kesal karena Retno berbelit.


“Wanita yang datang sama pacar breng-sek kamu itu.”


Wah, Atan dikata brengsek?! Tyra tidak bisa terima. Tapi, tunggu! Apa yang dikatakan Retno tadi? Wanita yang datang bersama kekasihnya?


Tyra mengernyit. Ia mulai memproses ucapan Retno yang tidak dia mengerti. Dan,


“Maksud kamu, Linda?”


“Oh, jadi namanya Linda?”


Astaga. Kenapa Tyra ketakutan begini padahal Retno ingin tau tentang Linda.


Astaga naga?! Linda?


Tyra mendelik menatap managernya itu. Lalu mulai menerka isi kepala Retno yang juga sedang memperhatikan sepasang matanya yang menelisik. Jangan-jangan ...


“Kamu, penasaran sama Linda?”


Tidak ada jawaban. Tapi ini cukup menyenangkan hati Tyra. Pasalnya, Retno tertarik dengan calon adik iparnya. Benar begitu kan?


“Y-ya cuma pingin tau aja, sih. Pingin kenal, soalnya penasaran.”


“Kalau masalah itu, aku nggak bisa bantu. Aku belum deket sama Linda. Kamu tanya aja sendiri ke kakaknya.”


“Atan nggak mungkin deh izinin gue Deket sama adiknya. Lo tau sendiri gue bentukannya gimana.”


Tyra menoleh. Bukankah ucapan Retno barusan seperti sedang menilai Atan?


“Ya berjuang, Pah. Kalau kamu memang pingin Linda, ya perjuangin. Tapi dengan cara fair, ya.”


Retno mengernyit. Tyra terlihat sedang mengatakan satu hal dari tatapan matanya. Dan hal tersebut berada diluar konteks pembicaraan mereka.


“Maksud Lo?”


Sadar kelepasan, Tyra berusaha mengalihkan perhatian Retno dengan memilih pembicaraan lain. Tapi tetap, Retno ingin tau mengapa Tyra bicara seperti itu.


“Nggak fair gimana? Lo ngomong apa sih Rex? Atau jangan-jangan ...”


Retno baru sadar jika beberapa bulan sebelum kejadian Tyra mengandung, perempuan ini pernah membicarakan tentang hubungannya dengan Atan yang sedang tidak baik-baik saja karena mantan kekasih Atan kembali menginginkan pria tersebut.


Dari sinilah kecurigaan Retno muncul. Apa mungkin ...


“Lo dijebak?”


Tyra membolakan kedua matanya. Dia lupa jika Retno adalah pengamat yang cukup jeli. Dan sekarang, Tyra merasa dirinya terlanjur kelepasan bicara hingga Retno bisa menebak apa yang menjadi rahasianya bersama Atan.


Kedua telapak tangan Tyra meremas pelan ujung dress ketat yang sedang ia gunakan untuk pemotretan hari ini. Ia selalu menghindari tatapan mata Retno yang terus mengejar penjelasan darinya.


Tidak. Itu asumsi yang salah. Tyra tidak ingin Atan mendapat fitnah seperti itu, dan dia akhirnya membuka mulut.


“Aku mau cerita. Tapi kamu harus simpen rahasia ini biar masalah nggak makin rumit. Apalagi sampai keceplosan seperti tempo hari ke papa.”


Tanpa menjawab, Retno sudah menunjukkan gestur jika dia akan menuruti kemauan Tyra. Dia akan diam dan tetap tutup mulut jika memang apa yang dikatakan Tyra itu tidak menyakitkan.


“Yang dijebak itu, Atan. Bukan aku.” kata Tyra mulai bercerita. “Mantan kekasih Atan, menjebak Atan dengan sebuah minuman yang dia beri obat.”


Retno mengerutkan kening hingga alisnya menyatu. “What?!” pekiknya tidak percaya, di dalam ruang make up yang hanya ada mereka berdua. “Maksud Lo, si mantan yang katanya udah pisah ama suaminya itu jebak Atan supaya dia bisa balikan sama Atan lagi dengan obat perang-sang? Gitu?”


Tyra mengangguk.


“Dan saat itu posisi Atan jemput aku. Aku nggak tau kalau dia dalam pengaruh obat, dan akhirnya semuanya terjadi.”


Kali ini, Retno tidak ingin mengambil kesimpulan jika Atan memaksa Tyra melakukan hubungan badan karena dia sendiri tabiat Atan yang memang terlalu baik untuk melakukan itu. Jadi, siapa yang salah disini?


Retno menajamkan pandangan matanya pada Tyra.


“Jadi, Lo yang—”


“Iya. Aku yang maksa Atan, dan minta dia merahasiakan ini.” Retno menggelengkan kepala mendengar penjelasan Tyra.


“Ini nggak bisa di biarin, Rex. Perempuan yang udah bikin Atan ngelakuin ini ke kamu, harus dapat ganjaran yang setimpal. Ini nama baik Lo dan keluarga, dan juga nama baik Atan yang jadi taruhannya.” Cerocos Retno. “Diluar sana, para pencari berita sedang mencari-cari kebenaran mengapa Lo nikah cepet-cepet. Dan kalau sampai kehamilan Lo terbongkar, habis lah.”


Tyra tidak lagi punya kekuatan untuk tetap menegakkan kepala. Dia menunduk dalam, menahan airmata. Mengapa perjalanan cinta yang ia harapkan indah, begitu sulit ia rasakan? Jika saja dia bukan siapa-siapa, pasti tidak akan seperti ini. Tidak ada risiko berat yang akan menjadikan nama besar keluarga menjadi taruhannya.


“Gue harus ambil tindakan. Gue harus temui wanita jahat itu dan membuat dia merasakan ganjaran yang setimpal.” sungut Retno yang merasa tidak suka setelah mendengar kronologi kehamilan Tyra yang tidak mengenakkan.


Tapi, Tyra dengan cepat meraih pergelangan tangan Retno, menggenggamnya erat agar laki-laki itu tau apa yang dia takutkan sekarang.


“Tolong, jangan lakukan apapun. Atau aku, akan kehilangan Atan karena sudah mengingkari kesepakatan yang kami buat bersama.” mohon Tyra pada sang manager dengan beberapa tetes air mata yang jatuh. “Tolong rahasiakan ini. Anggap kamu tidak tau apa-apa tentang masalah ini, Nok. Please.” jika sudah menyebut namanya begini, artinya Tyra benar-benar serius.


Retno menahan bibirnya yang hendak melengkung. Ia menahan kesedihan dalam hatinya tentang perjalanan hidup gadis dihadapannya ini. Seorang gadis cantik, yang berjuang seorang diri tanpa dukungan dan berhasil mencapai impiannya, kini diambang kehancuran jika mereka salah langkah dan salah mengambil keputusan.


Tangis Tyra terhenti ketika suara pintu ruangan terdengar diketuk sebanyak dua kali, kemudian seorang staff muncul dan memberitahu Tyra jika studio siap digunakan. Tyra segera mengubah ekspresi wajahnya dan meng-iyakan staff itu agar segera berlalu. Kemudian, sekali lagi dia melihat ke arah Retno dengan tatapan memohon. Lalu berkata,


“Tolong rahasiakan apa yang baru saja aku ceritakan. Aku dan Atan sudah sepakat untuk tidak mengikut sertakan wanita itu dalam masalah kami.”


Retno mengerti, dia tidak akan melakukan itu dan berakhir membuat Tyra semakin terpuruk karena Atan lari dari tanggung jawab karena merasa dikhianati.


“Lo nggak usah khawatir.”


“Thanks.”


***


Lusa, akad nikah Atan dan Tyra digelar. Tidak ada persiapan apa-apa selain mental, karena akad digelar secara tertutup. Media juga tidak ada yang tau. Pernikahan benar-benar dilakukan tanpa sepengetahuan orang luar kecuali keluarga inti.


Atan menatap langit-langit kamar, lalu mengangkat satu lengannya dan memperhatikan lekat jari manisnya yang dilingkari sebuah cincin. Ia juga membayangkan masa depannya bersama Tyra dan anak-anak mereka nanti.


Sesuai kesepakatan berdua dan keinginan Tyra, setelah menikah nanti Tyra akan menjual rumah dan mobil mewahnya, menyimpan semua uang hasil penjualan tersebut ke dalam tabungan pribadi Tyra, yang rencananya akan mereka gunakan untuk masa depan anak-anak mereka nanti.


Untuk masalah tempat tinggal, Atan sudah menyiapkan sebuah rumah sederhana untuk mereka tinggali bersama. Lalu untuk karir Tyra, Atan tidak pernah membatasi apa yang diinginkan Tyra dengan catatan tidak melalaikan tugas sebagai seorang istri dan calon ibu. Tapi Tyra mengambil keputusan untuk berhenti dari dunia modeling setelah semua pekerjaan dan kontraknya rampung.


Disamping itu, bisnis butik milik Tyra juga masih tetap akan berjalan seperti seharusnya dengan Retno sebagai pengurus.


Tiba-tiba ponsel Atan bergetar. Nama Tyra muncul disana. Ia pun tersenyum.


“Halo,” sapa Atan, masih dengan senyuman yang mengembang sempurna di bibirnya.


“Perutku sakit, dan ada bercak merah yang aku lihat di lantai kamar mandi setelah aku buang air tadi.” []


...—To be continue—...