
...We...
...|Tiga puluh dua|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Tyra menarik Atan untuk keluar, pergi dari tempat yang dirasanya sudah nggak lagi menyenangkan. Moodnya benar-benar sudah hancur. Lalu ketika memasuki area parkir, Tyra melepas pergelangan tangan Atan dan berjalan cepat didepan pria itu tanpa mau menoleh sedikitpun kebelakang.
Hingga kini Tyra berdiri di salah satu sisi pintu mobil Atan, menunggu pria itu mematikan alarm dan membuka kunci mobilnya. Tapi itu tidak terjadi, yang ada Atan datang dan berdiri tepat didepannya.
“Kamu kenapa sih? Aku sudah minta maaf lho tadi?”
Tyra menatap tajam pada Atan. Perutnya mendadak mual, Tyra ingin muntah namun sekuat tenaga ia tahan.
“Buka pintunya. Aku pingin cepet sampe rumah. Aku capek.” keluh Tyra dengan wajah muaknya.
“Sayang,” rayu Atan, mencoba meluluhkan dan mencari celah hati Tyra.
“Buka pintunya atau aku telepon Retno buat jemput aku.” kata Tyra penuh penekanan. Atan tidak berbuat apa-apa dan menuruti keinginan Tyra. Dia menekan tombol pada remote control kecil yang ia genggam. Lampu berkedip dua kali dan kunci terbuka otomatis. Tyra menarik handle pintu secara kasar, lalu masuk dan menutupnya dengan keras. Atan menghela nafas. Dia harus sabar menghadapi Tyra. Ia pun memutar tumit dan berjalan menuju kursi kemudi. Namun tanpa sengaja, matanya bertemu dengan mata Putri yang sempat mengejarnya dan berhenti di pintu masuk rumah makan.
Setelah berhasil masuk kedalam mobil, Atan segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah makan sebelum terjadi hal lain yang tidak dia inginkan. Atan tau, putri itu orangnya nekat dan mungkin bisa dikatakan tidak tau malu. Mungkin dia bisa memaafkan banyak kesalahan yang pernah dilakukan putri padanya, tapi tidak untuk yang beberapa hari lalu dilakukan wanita itu. Karena apa yang dilakukan Putri itu kelewat batas hingga dia membuat Tyra harus kehilangan mahkotanya.
Saat ingin kembali membuka mulut untuk bersuara, Tyra mendahului Atan berbicara.
“Coba aku tebak, dia wanita yang kasih kamu minuman itu?”
Atan diam.
“Oh I see, jadi bener.” celetuk Tyra tidak suka sambil menganggukkan kepala, karena Atan terkesan menutupi identitas perempuan yang baru saja mengacaukan sisa mood bagus yang sempat ia pertahankan. “Siapa namanya?” lanjut Tyra tidak ingin menyudahi masalah yang menurutnya cukup serius ini.
Tyra menoleh, menatap lurus dengan alis menukik tajam pada Atan yang terlihat masih memilih diam. Tyra yang keras kepala mulai muncul ke permukaan. “Jawab aku! Jangan cuma diam!” sentaknya dengan nada meruncing. Emosinya sudah tak terkendali.
“Putri.”
“A~h, jadi dia orangnya? Jadi wanita itu yang ingin menjebakmu dengan minuman sialan itu?” tanya Tyra menuntut masih dengan nada remeh yang terkesan menjatuhkan.
“Sayang, tolong jangan bahas apapun lagi tentang dia. Aku udah nggak ada—”
“Kenapa kamu terdengar seolah sedang melindungi dia sekarang?” tanya Tyra lagi, dengan suara rendah yang justru terdengar menyebalkan di telinga.
“Aku nggak sedang melindungi dia. Aku cuma nggak mau sampe bertengkar sama kamu, cuma gara-gara dia.” sahut Atan cepat, dan hal itu berhasil membuat Tyra membuang wajahnya ke sisi kiri, memilih melihat pemandangan yang bergerak kebelakang dengan seringai di sudut bibir.
Apa keputusannya menjadikan Atan seorang kekasih dan menyerahkan mahkotanya itu salah? Atan terdengar tidak mau menyudutkan wanita bernama Putri yang Tyra pun tau, siapa wanita itu. Dia mantan kekasih dari kekasihnya. Dan wanita itu terlihat masih menginginkan Atan.
“Aku mohon, jangan seperti ini. Tolong percaya kalau aku sekarang cintanya sama kamu. Bukan orang lain, apalagi dia.”
Mendengar itu, entah mengapa tiba-tiba Tyra menitihkan air mata. Hatinya terasa sakit seperti diremat kuat. Dia cemburu. Dia takut Atan meninggalkannya.
Sesampainya didepan rumah Tyra, Atan ikut turun ketika Tyra juga turun dari mobilnya. Sengaja, Atan menahan Tyra untuk berhenti sejenak. Dari sini Atan tau jika Tyra tidak dalam keadaan baik. Kekasihnya itu sedang berada pada fase dimana seorang wanita sedang menaruh rasa marahnya pada wanita lain, dengan arti yang lebih spesifik yakni cemburu.
“Tidur yang nyenyak. Hari sabtu aku kesini.”
Tyra tidak menimpali ucapan Atan. Dia memilih diam sebagai jawaban, hanya itu yang lebih cocok di tunjukkan sebagai bentuk rasa ketidaksukaan pada sikap Atan yang terkesan membatasi pembahasan tentang temannya bernama Putri itu.
“Tolong, jangan seperti ini.” pinta Atan dengan suara lembut juga penuh perhatian. “Aku minta maaf karena masalah tadi.”
Tyra menaikkan tatapan yang langsung bertemu dengan manik mata Atan. “Nggak masalah, tapi jangan berhubungan lagi sama wanita itu. Aku nggak suka.”
Tyra berjalan melewati Atan begitu saja. Sedangkan Atan, kembali menahan Tyra dengan meraih lengan perempuan itu dan memeluknya posesif.
Tyra yang sejak tadi merasa pilu, kini menangis dalam pelukan Atan. Dia sangat takut jika Atan akan berpaling dan meninggalkan dirinya dengan cara yang menyedihkan.
“Jangan ketemu sama dia, aku takut, aku nggak suka.” tutur Tyra disela airmata yang terus mengalir.
“Ya. Aku nggak akan ketemu sama dia kalau kamu nggak ngizinin.”
Pada akhirnya Tyra membalas pelukan Atan dan membenamkan wajahnya di dada sang kekasih. Sedangkan Atan memeluknya semakin erat, mencium puncak kepalanya.
“Aku cinta kamu. Tolong bertahanlah sedikit saja agar aku bisa mengatasi masalah ini.”
“Tidak! Jangan temui dia. Dia pasti sudah menyusun rencana baru untuk menjebakmu lagi.”
Tidak bisa disangkal, mungkin apa yang dipikirkan Tyra ada benarnya mengingat Putri itu tipikal perempuan nekat yang keinginannya harus terpenuhi. Telapak tangan Atan kembali menyusuri surai halus Tyra.
“Ayo kita temui dia berdua. Katakan apa yang ingin kamu katakan untuk dia.”
Kali ini Tyra tidak menolak. Dia diam beberapa saat sebelum kepalanya mengangguk.
“Aku akan memberitahu padanya, jika kamu milikku.”
Tak dapat membendung rasa bahagianya, Atan tersenyum lebar. Dia menjauhkan diri dari presensi Tyra, kemudian mengecup bibir wanita itu singkat.
“Ya. Katakan jika aku milikmu. Katakan juga, jika kamu adalah segalanya untukku, Tyrana Agnalia.”
***
“Bu, Atan mau melamar Tyra.”
Lastri menatap putranya yang sekarang meletakkan kepala di pangkuannya.
“Kamu jangan ¹grasa-grusu, Le. Kamu sudah mempertimbangkannya matang-matang?”
Atan tidak punya pilihan. Apapun yang terjadi, dialah pria yang sudah mengambil hal paling berharga milik Tyra. Dia harus bertanggung jawab untuk itu.
“Kali ini, Atan sudah menetapkan pilihan. Tyra juga sudah setuju untuk mempertemukan Atan dengan orang tuanya.”
Lastri mengusap kening putranya penuh kasih sayang. Menatap wajah yang begitu mirip dengan almarhum sang suami yang sangat dia cintai.
“Ibu denger dari Linda, Tyra itu model. Anak dari pasangan dokter terkenal di kota ini. Apa kamu sanggup menanggung biaya hidup perempuan seperti Tyra?”
Sanggup tidak sanggup, Atan akan berupaya dengan bekerja keras. Masalah rezeki sudah ada yang atur.
“Ibu tidak perlu khawatir masalah itu, Bu. Pasti nanti ada saja rezeki untuk kami setelah memutuskan menikah.”
Lastri tersenyum hingga kerutan di wajahnya terlihat semakin jelas. Usianya memang sudah tidak lagi bisa menahan putranya untuk tidak segera berkeluarga. Dia ingin melihat Atan, dan juga Linda segera menemukan pasangan hidup, lalu menimang cucu selagi masih diberi kesempatan.
“Kalau memang tujuanmu ini tulus dan mulia, ibu mana yang bisa mencegah, nak?”
Atan mendongak menatap wajah ibunya dengan mata berkaca-kaca. “Menikahlah. Restu ibu bersamamu. Hiduplah bahagia dengan wanita pilihanmu. Semoga pilihanmu mendapat ridho dari-Nya.”[]
...—To be continue—...
###
¹Grasa-grusu: buru-buru
Restu sudah dikantongi dari ibu si Atan. Tinggal kedua orang tua Tyra, yang semoga tidak dipersulit. Semoga Putri ikhlas melepas mantan kekasih terindahnya ini untuk jadi milik orang lain. 😜
Hayo mau ada hajatan. Siapkan amplop yang tebal ya teman-teman 😁