We

We
Dua puluh satu




...We...


...|Dua puluh satu|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Tatapan Atan lurus menyorot tembok dapur kantor, rahangnya menegas, hati dan otaknya seperti terbakar. Ingin marah, namun tidak masuk akal karena Tyra bukanlah miliknya.


Lalu dengan sekali gerakan, lengan Atan terangkat. Ia melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya, kemudian merogoh ponsel dari saku celana bahannya.


Ini memang jam sibuk, dan dia yakin Tyra juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tapi sudahlah, yang penting kirim pesan. Urusan dibaca atau tidak itu belakangan.


Kapan berangkat Amrik? Mau ketemuan dulu?


Atan mengirimnya. Lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam saku dan berjalan kembali menuju ruang kerjanya sambil membawa sebotol air mineral dingin.


Setelah memasuki ruangan, melihat wajah Wawan membuat Atan ingin mengumpati pria seumuran dengannya dan sudah memiliki kekasih itu dengan seisi kebun binatang. Atan sering melihat pria itu dijemput oleh kekasihnya di depan kantor. Dan yang dia dengar tadi, justru sedang membicarakan wanita lain, terlebih itu adalah Tyra.


Bukannya Atan membolehkan Wawan bicara dengan nada melecehkan itu untuk wanita selain Tyra, tidak. Dia tidak suka mendengar seorang laki-laki berkata seperti itu apalagi mengomentari tubuh seorang perempuan karena itu sudah merupakan bentuk pele-cehan. Atan pasti akan langsung menegur atau memperingati dengan keras agar dia tidak melakukan hal itu lagi. Apalagi tadi, Wawan menjadikan Tyra sebagai objek fantasi sampai membuat pria tersebut hor-ny. Nggak etis. Nggak punya malu.


Dia duduk di kursi, mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan meletakkan ponsel di atas meja, kemudian berniat kembali bekerja. Namun semua urung dilakukan karena ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Manik matanya menangkap nama Tyra yang muncul di sana dengan tulisan Hilarious.


Masih tiga hari lagi. Kapan? Dimana?


Atan buru-buru membalas, mumpung Tyra sedang online.


Kalau besok sore, bisa? Nanti aku jemput kamu.


Tyra membalas dengan cepat.


Bisa. Tapi agak maleman ya. Aku ada pemotretan sampai jam enam malam.


Atan tersenyum lega. Dan satu lagi sesuatu yang harus ia minta pada Tyra. Ia pun mengetik pesan tersebut meskipun ragu.


Boleh tau ukuran jari manis tangan kamu?


Lalu Atan menghapusnya. Itu tidak patut karena terkesan cringe.


Boleh minta foto telapak tangan kamu?


Lagi-lagi Atan menghapusnya. Terlalu tidak masuk akal. Tyra pasti berfikiran aneh tentang permintaannya itu.


Dan otaknya pun berfikir keras untuk menunjukkan keseriusan hatinya. Hingga akhirnya,


Oke, aku jemput kamu, sharelok ya


Tyra membalas dengan emoticon merona dalam senyuman. Jantung Atan kembali berdebar menggila. Dia tidak lagi bisa mengelak. Dia sedang jatuh cinta.


☺️Iya, pak Atan


Lalu, point dari keinginannya bertemu adalah,


Nanti, kita pergi ke sebuah tempat terlebih dahulu. Kamu mau?


Tyra membalas,


Boleh. Asal jangan aneh-aneh atau aku bakal lapor polisi


Atan tertawa sendiri hingga menarik perhatian Ruya yang tempat duduknya persis berhadapan dengan Atan.


“Kenapa, Tan?”


Atan berdehem. Ia menegakkan punggung, meletakkan ponselnya, dan mulai menatap layar komputernya. “Tidak, bu.”


Tapi setelah Ruya kembali fokus pada pekerjaannya, Atan mencuri waktu untuk kembali mengirim pesan untuk Tyra.


Kamu aman bersamaku.


Dan setelah itu, Atan melanjutkan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dengan hati yang lebih tenang.


***


“Ibu sudah makan?” tanya Atan saat mengambil duduk disisi ibunya yang sedang melihat berita di televisi.


“Kamu makan saja dulu. Nanti ibu makan setelah kamu.” jawab Lastri sambil mengusap lengan Atan yang memijat kaki ibunya.


Detik berikutnya, Atan menatap lembut fitur wajah Lastri yang sudah keriput. Semua kenangan masa kecil yang dia ingat terputar jelas dalam ingatannya. Bagaimana wanita tangguh ini menyayanginya, bagaimana wanita tangguh ini mendidiknya, dan bagaimana wanita tangguh ini menjaganya sepenuh jiwa dan raga. Mana bisa Atan melupakan semua itu dan lepas begitu saja tanpa membalas semua kebaikan malaikat tak bersayap ini?


“Bu,”


“Hmm?”


Atan mengerjap. Ia ragu untuk mengatakan apa yang hendak ia katakan. Tapi Lastri sudah pernah bicara dan berjanji padanya, jika memang Atan sudah menemukan wanita yang benar-benar sesuai, Lastri akan melepas Atan dengan ikhlas dan menerima perempuan pilihan sang putra.


“Atan, pingin kenalin seseorang ke ibu.”


Seketika itu juga, Lastri menatap Atan penuh kejut dan tersenyum hangat pada bibirnya yang kering.


“Bawa dia kesini, bertemu ibu.” jawabnya senang sambil menyorot wajah Atan dengan penuh kasih sayang. Lastri tau, cepat atau lambat ini pasti akan terjadi lagi. “Ibu pingin tau siapa yang kali ini beruntung di pilih putra ibu yang tampan ini.”


Lastri tau semuanya dari Linda. Linda—putri bungsunya—selalu menceritakan kisah percintaan Atan yang tidak pernah sama sekali di ceritakan oleh si putra sulungnya. Pertama tentang Putri yang ia anggap baik, yang dipilih dan diajak Atan datang kerumah mereka sebagai wanita pertama, ternyata hanya mempermainkan putranya hingga patah hati dan nyaris kehilangan kewarasan. Yang kedua Winda, gadis yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu kepada Atan. Kata Linda, Winda tipikal gadis yang egois, dan Atan memutuskan dia karena Winda menuntut banyak hal yang tidak bisa dipenuhi oleh Atan. Dan sekarang, siapa? Lastri penasaran. Apa gadis itu mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu, atau sebaliknya?


“Atan belum bicara kalau mau ajak dia ketemu ibu. Kami hanya berteman sekarang. Atan bawa ketemu ibu dulu. Kalau ibu setuju, Atan bisa bicarakan serius dengan dia.”


Lastri tertawa tanpa suara. “Kalian teman, dan kamu akan bawa dia ketemu ibu. Apa itu tidak terlalu berlebihan?”


Tidak salah. Tapi Atan hanya ingin tau pendapat ibunya terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan.


“Kapan kamu ajak kesini?”


“Dia punya waktu senggang besok.”


“Iya. Dia perempuan karir, Bu. Jadwalnya sudah tersusun sistematis oleh manager yang memegang dia.”


“Memangnya, apa pekerjaannya?”


Atan kembali dirundung rasa ragu yang amat sangat besar. Dia takut kalau ibunya akan berkata tidak.


“Dia ... model yang pernah hampir bekerja sama dengan perusahaan tempat Atan kerja.”


Dari tempatnya duduk, Atan bisa melihat Lastri mengerutkan kening tanda keberatan. Ibunya itu bahkan tidak bertanya atau memberi jawaban setelah Atan memberitahu profesi Tyra.


“Kamu ... apa kamu bisa mengimbangi pola hidupnya nanti, jika kalian benar-benar berjodoh? Tan, ibu nggak keberatan siapapun perempuan yang akan kamu pilih, jika pendidikan dan kehidupan kita sejajar. Kalau perempuan itu seorang model, apa bisa dia menerima kamu yang cuma seorang pegawai perusahaan?”


Atan tertunduk lesu. Apa ini sebuah penolakan halus dari ibunya? Atan jadi berfikir lagi untuk membawa Tyra kesini, besok.


“Jadi, ibu tidak suka?”


Lastri mencondongkan badan untuk meraih punggung putranya yang selama ini menjadi tulang kehidupannya yang amat sangat kuat setelah suaminya—Ahmad—meninggal dunia.


“Bukannya ibu tidak suka. Ibu cuma mau kamu mempertimbangkan lagi pilihanmu. Apa strata sosial kita sesuai dengan dia? Kalau tidak, kamu sendiri yang akan kesulitan memenuhi gaya hidupnya, nak.”


Atan membenarkan pendapat ibunya. Mungkin Atan terlalu pendek pikir sampai menentukan pilihan terlalu cepat hanya karena dia terpancing omongan kotor teman di kantornya. Dia sendiri bahkan pernah melihat sendiri bagaimana Tyra membandingkan tunggangannya, dengan tunggangan mewah milik perempuan itu.


“Tapi, Tuhan tidak tidur, nak. Jika kalian memang berjodoh, itu artinya Tuhan sudah menulis jalan hidup, rezeki, dan apapun yang akan kalian lalui bersama setelah menikah nanti.”


Seperti bunga kering yang kembali tersiram air, Atan jadi memiliki harapan kedua setelah mendengar ibunya berkata demikian.


“Kalau memang dia perempuan yang baik, dia pasti akan menerima kamu apa adanya, dan dia juga pasti akan mengerti keadaan ekonomi keluarga kita yang memang jauh dari kata mewah ini.”


***


Karena merasa kurang sehat pagi ini, Tyra memutuskan untuk meminta izin melewatkan jadwal yang sebenarnya tidak terlalu padat. Hanya ada satu sesi pemotretan sebuah produk yang bisa ia tunda besok, karena besok juga lengang.


Dia memberitahu Retno jika dia akan pergi ke klinik karena kepalanya mendadak pusing dan berputar. Tyra juga menolak bantuan yang ditawarkan Retno karena merasa dirinya masih bisa pergi sendiri menuju klinik. Untuk menyamarkan diri, Tyra memilih berpenampilan apa adanya dan membawa salah satu mobilnya yang tidak terlalu mentereng agar tidak menarik perhatian banyak orang. Nissan Juke menjadi pilihannya, karena hanya mobil itu yang dia punya selain Ferrari dan Bentley.


Setelah turun dari mobil, masuk kedalam klinik dan melewati proses administrasi untuk melakukan pemeriksaan dengan salah satu dokter spesialis yang sudah ia kenal, Tyra berencana segera sampai ditempat dokter itu praktek, dan duduk menunggu disana karena kepalanya yang terasa begitu pening. Rasanya semua ikut berputar saat dia memutar arah pandang. Seperti ... ¹Vertigo?


Namun sorot matanya kini malah terpaku pada seorang wanita tua yang berjalan menggunakan tongkat penopang tubuh. Wanita tua itu berbadan kecil dan kurus. Rambutnya tertutup kerudung khas orang yang sudah berumur, dan pakaiannya juga sederhana, berbeda sekali dengan kebanyakan pengunjung yang mengenakan pakaian yang terkesan berlebihan untuk mendeskripsikan seseorang yang sedang sakit dan sedang berobat.


Langkah Tyra terayun begitu saja mendekati wanita tua itu. Lantas, dia meraih satu lengan wanita itu dengan gerakan lembut, kemudian menyapanya dengan sebuah senyuman hangat ketika manik mata indahnya bertemu dengan manik mata tua yang kulit wajahnya sudah keriput.


Dalam hati Tyra mendecak, kenapa anaknya melepas wanita se-tua ini sendirian di klinik sebesar Klinik Harapan ini? Benar-benar anak tidak tau di untung.


“Ibu, mau ke poli apa? Biar saya bantu.” kata Tyra lembut penuh kesopanan yang kemudian mendapat sebuah balasan senyum tak kalah hangat. Tyra jadi rindu dengan ibunya.


“Ibu hanya mau cek up kok, nak. Mau periksa kesehatan.”


Tyra tau dimana tempatnya. “Mari, saya bantu kesana.” sahutnya cepat, membuat si wanita lagi-lagi menatap dan tersenyum tulus padanya.


“Terima kasih, nak. Semoga kebaikanmu di balas Yang Kuasa dengan hal baik yang setimpal dengan kebaikan hatimu.”


Tyra tersenyum senang mendengar do'a tulus dari bibir berkerut wanita di sampingnya ini. “Amin, terima kasih atas do'a nya ya, Bu.”


Tyra benar-benar mengantar sampai didepan ruang khusus cek up yang semua rata-rata sudah berusia seperti wanita yang dia bantu sekarang.


Setelah mendapatkan tempat duduk, Tyra berdiri tak jauh dari wanita itu, berencana ikut menunggu.


“Terima kasih sudah di bantu dan ditemani sampai disini ya, nak.”


Tyra mengangguk antusias, dengan senyuman lebar yang tertutup masker hingga hanya memperlihatkan kedua matanya yang menyipit saat tersenyum.


Melihat Tyra tak kunjung beranjak, akhirnya pertanyaan ini pun terlontar.


“Lho, kamu ndak periksa?”


“Nanti, Bu. Dokternya masih satu jam lagi baru ada.” bohongnya, karena ingin menemani wanita tua yang sendirian ini. Tyra takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


“Oh, kalau begitu, duduk sini sama ibu.” titah wanita tua sambil menepuk kursi kosong disampingnya. Tyra menganut dan duduk disana.


Mereka pun berbincang banyak, termasuk kehidupan dan pekerjaan Tyra yang tentu saja tidak dia ceritakan secara mendetail.


“Ibu salut sama kamu. Semoga orang tua kamu bisa menerima kamu lagi, ya?”


Tyra tersenyum masam dibalik masker yang dia kenakan. Dia menunduk sembari menahan pening dan memainkan kuku-kuku jarinya.


“Ya, saya harap demikian. Terima kasih ibu sudah mendo'akan yang baik-baik buat saya hari ini.”


Keduanya saling melempar senyuman, hingga nama wanita itu dipanggil yang kemudian membuat Tyra ikut berdiri dan kembali membantu wanita itu berjalan. Suster yang mendekat pun ikut membantu dan tersenyum hangat pada si wanita.


“Tumben ibu tidak sendirian?” tanya si perawat sambil melirik sosok gadis cantik yang membantu membawa wanita itu ke ruang periksa.


“Oh, nak Tyra ini juga mau berobat, tapi menyempatkan diri membantu saya dulu.”


Si perawat yang langsung menyadari siapa gadis di balik masker itu kembali mengangkat pandangan. Sedangkan Tyra, memberi isyarat agar perawat itu tetap bersikap profesional dengan tidak membungkuk hormat atau melakukan hal lainnya yang bisa membuat wanita tua diantara mereka, terheran-heran.


Klinik ini, adalah klinik milik papa Tyra. Dan Tyra datang untuk berobat pada ayahnya yang ternyata memang tidak ada jam praktek hari ini, namun digantikan oleh dokter lain yang terpaksa di terima saja oleh Tyra agar dia segera mendapat penanganan dan obat untuk pusing di kepalanya.


“Dia gadis yang sangat baik lho, sus. Sudah bertahun-tahun saya periksa disini, baru dia yang mau membantu saya seperti ini.” kata si wanita, membuat senyuman terbentang di bibir Tyra.


Suster itu pun tersenyum mendengar ucapan pasien yang sudah ia kenal bertahun-tahun ini. “Ah, dia memang baik, Bu Lastri. Dan sepertinya, dia cocok jadi menantu ibu.”[]


...—To be continue—...


###


Cocok ya suster? 😜


••••


¹Vertigo : Vertigo merupakan rasa pusing yang menimbulkan sensasi palsu bahwa seseorang atau lingkungan di sekitarnya berputar atau bergerak. Kondisi ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu:


Vertigo perifer. Vertigo ini terjadi ketika ada masalah dengan telinga bagian dalam.


Vertigo sentral. Terjadi ketika ada masalah dengan otak. Penyebabnya bisa termasuk infeksi, tumor otak, cedera otak traumatis atau stroke. (Sumber: Halodoc)