
...We...
...|Tiga puluh satu|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Atan dan Tyra memutuskan untuk bertemu di rumah makan lesehan yang menjadi tempat favorit mereka sejak pertama kali kenal. Sekarang, mereka berdua datang kesini bukan lagi sebagai partner kerja, kolega, apalagi orang asing. Mereka kini memiliki status yang cukup menarik banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Mereka sepasang kekasih.
Retno sempat mendumal saat Tyra menyuruhnya pulang tadi. Tapi karena Tyra bilang Retno boleh membawa pulang si merah, Retno jadi bersemangat. Ditambah lagi Retno di bungkam dengan sepuluh lembar uang ratusan ribu secara kontan oleh, Tyra, lelaki itu diam dan menuruti apa kata sang tuan. Gila betul kekuatan uang ini. Apapun bisa dilakukan kalau ada uang.
Dan sekarang, Atan dan Tyra sudah duduk berhadapan, mengobrol, bercanda, dan kadang saking usil sembari menunggu bebek kesukaan mereka datang.
“Tadi meeting apa aja sama tim Marketing.” tanya Atan mulai serius. Dia meraih gelas besar berisi es teh, lalu menyedotnya.
“Ya banyak. Kontrak, konsep iklan, dan lain-lain.” jawab Tyra, meraih keripik usus dalam kemasan yang tadi sempat di sahut Atan dari meja pajangan di depan resepsionis ketika berjalan menuju bilik.
“Mungkin dulu kalau aku nggak kamu ancam, kita nggak bakalan kenal kayak gini.”
Tyra mengerucutkan bibir. Dari sekian banyak kenangan yang mereka lewati, mengapa Atan justru mengingat yang itu? Bisa tidak sih bahas yang panas-panas kayak dua hari lalu itu? Eh, tidak. Nanti malah pingin lagi.
“Ya mungkin. Tapi kamu asli nyebelin lho saat itu. Aku sampai ngelempar botol hairspray ke kaca meja rias sampai pecah dan harus bayar ganti rugi. Sangking keselnya aku sama keputusan kamu yang tiba-tiba batalin kontrak.” kesal Tyra dengan nafas mendengus keras.
“Ya maaf. Bukan sepenuhnya salahku kok. Di perjanjian kan sudah ditulis batas—”
“Iya aku tau.”
Atan tertawa kecil melihat Tyra yang sudah mulai kesal. Hobi baru Atan adalah membuat kekasihnya jengkel, karena Tyra terlihat menggemaskan kalau sedang manyun.
“Apa kamu tau, aku kira kamu itu bapak-bapak perut buncit dan berkumis, saat denger nama kamu dulu.”
Seketika senyuman Atan menghilang dari bibirnya. Dia menatap lurus pada Tyra yang sekarang balik tertawa. “Kenapa?” tanya Tyra tanpa merasa berdosa. Bukan hanya Atan, Tura juga sekarang punya hoby menjahili Atan. Mereka cocok kalau di gabungkan menjadi grup lawak garing yang bikin penonton malah jadi pusing. Sumpah, lawakan mereka nggak ada yang lucu sama sekali. Jokes nggak berkelas.
“Tapi akhirnya kamu kesemsem sama aku kan? Jujur?!”
Tyra kelabakan. Ucapan Atan tidak salah karena Tyra memang yang terkesan agresif dan berharap banyak mendapat perhatian. Wajah cantiknya mulai merona.
“Y-ya enggak lah.”
“Jujur saja deh.”
Tyra yang sudah tertangkap basah, akhirnya mengalah.
“Oke. Oke, suka-suka kamu saja deh.”
“Tapi iya kan?”
Tyra mengambil kuda-kuda setengah berdiri dan menepuk dada Atan yang malah tergelak tawa. Interaksi seperti ini yang sangat disukai Atan saat bersama Tyra.
“Bisa diem nggak?” galak Tyra setengah mengancam dengan mata melotot lebar yang justru membuat Atan ingin mencubit pipi merona perempuan cantik itu.
“Iya deh, maaf.”
Atan tertawa, tapi tidak dengan Tyra. Dia masih harus menjaga image meskipun didepan kekasihnya sendiri.
Hidangan satu persatu datang, hingga semua pesanan ada diatas meja. Tyra bertepuk tangan kecil tanda bahagia bak budak yang baru merdeka. Ya tentu saja bahagia. Jika didepan semua orang dia harus mati-matian menjaga pola makan. Berbeda jika berada didepan Atan, dia tidak pernah di batasi atau di larang memakan ini dan itu. Dia bebas.
“Makan yang banyak, biar badannya berisi.”
Sumpah demi apapun, apa Atan sedang mencoba mengkritik badannya yang kurus, sekarang? Secara, Atan sudah melihatnya luar dalam. Tyra semakin manyun saja mendengar itu.
“Kok manyun?”
“Kamu nggak suka yang kurus?” ketus Tyra nggak mau ambil pusing. Status kesalnya makin di ubun-ubun.
“Bukan begitu—”
“Terus gimana? Jangan puter-puter ngomongnya.”
Melihat wajah Tyra yang sudah berubah kesal dan tidak bersahabat, Atan berubah bingung. Apa yang salah dengan ucapannya?
“Aku cuma pingin kamu jalani hidup normal. Nggak batasi makanan, atau apapun yang bisa kamu konsumsi—”
“Ini tuntutan profesi.”
Atan diam. Dia kalah bicara jika sudah membahas tentang status profesi seperti ini. Memang model sekelas Tyra harus menjaga semua yang masuk kedalam tubuhnya, termasuk makanan. Dia harus menjaga keseimbangan antara lemak yang masuk kedalam tubuh dengan berolahraga keras jika berat badan melonjak naik.
“Baiklah. Aku minta maaf.” kata Atan sambil menunduk merasa bersalah karena membahas sesuatu yang begitu sensitif bagi Tyra.
“Aku sudah minta maaf. Kamu nggak perlu ngelakuin itu—”
“Aku lapar!” tukas Tyra tajam, lalu melahap cepat makanannya. Membungkam bibir Atan untuk diam hingga sesi makan malam berakhir. Mungkin, ini adalah pertengkaran pertama mereka.
Tyra lebih banyak diam dan memilih menyibukkan diri dengan ponsel ditangannya. Sedangkan Atan, hanya membuat dirinya sibuk dengan menatap lurus wajah Tyra yang terkena paparan cahaya dari ponselnya.
“Kapan aku bisa bertemu dengan orang tuamu?”
Pertanyaan Atan sontak membuat Tyra menghentikan kesibukannya yang jelas-jelas hanya dibuat-buat. Perlahan, dia mengangkat wajah dan mendapati wajah serius Atan didepan matanya.
“Ada perlu apa mau ketemu mereka?”
Atan hampir saja tidak percaya saat Tyra menanyakan itu. Tapi dia sendiri sudah mendengar cerita dari Tyra jika kedua orang tuanya tidak lagi mau menerima dia sejak memutuskan menjadi model.
“Mau minta kamu sama mereka. Mau minta izin sama mama papa kamu kalau aku mau serius ke kamu.”
“Nggak gampang kalau mau ketemu mereka. Papa mama sibuk.”
Atan menghela nafas. Mungkin benar yang dikatakan Tyra jika hubungan sang kekasih dengan kedua orang tuanya itu tidak begitu baik.
“Ya kita coba dulu. Aku yang bicara.”
Tyra meletakkan ponselnya diatas meja. Dia menatap lekat pada sosok Atan kemudian bertanya,
“Kalau misalnya mereka tidak sesuai dengan yang kamu harapkan, apa kamu akan tetap mempertahankan aku?”
Pertanyaan macam apa itu? Atan sampai mengerutkan keningnya karena merasa tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan Tyra, seolah dirinya bukan pria sejati dan suka mempermainkan wanita.
“Aku serius ke kamu. Jadi kenapa aku harus ninggalin kamu?” sahut Atan tegas dan berhasil membuat satu sudut hati Tyra merasa lega. “Apa kamu pikir aku sedang bermain-main?”
Manik mata mereka masih beradu.
“Bagiku, pernikahan itu hal yang akan aku bawa sampai mati, Tyra. Pernikahan hanya akan terjadi sekali dalam hidupku. Perlu kamu tau itu.”
Bagai terkena skakmat, tidak ada jawaban yang terucap dari bibir Tyra.
“Kamu ragu sama aku? Kamu nggak percaya kalau aku serius ke kamu?”
Tyra semakin takut. Pasalnya Atan sudah memasang wajah datar yang sama sekali belum pernah dia lihat.
“Aku nggak pernah main-main sama hidup. Dan aku—”
“Zio?!”
Tyra dan Atan kompak menoleh ke sumber suara. Lalu, Tyra memutar pandangan untuk Atan yang kali ini terlihat cukup terkejut. Tyra mulai menerka dalam hati.
“Aku udah hubungi kami dari beberapa hari lalu, tapi kenapa nggak kamu respon?”
Tyra semakin bingung. Apa terkaan didalam kepala nya benar?
“Untuk apa?” suara berat Atan memecah lamunan Tyra hingga refleks melihat dimana wanita yang mengenal Atan itu berada.
“Aku mau minta maaf soal—”
Tanpa banyak bicara, Atan berdiri. Dengan cepat telapak tangannya meraih pergelangan tangan Tyra dan membawa Tyra menjauh dari bilik yang sebelumnya mereka tempati.
Susana hati Tyra semakin kacau. Terkaan dalam benaknya terjawab jelas jika wanita yang berdiri tak jauh dari mereka saat ini, adalah wanita yang mencampurkan obat sialan itu kedalam minuman Atan. Dia adalah teman Atan—
“Tunggu! Aku bisa jelasin—”
Atan menarik lengannya dari cekalan wanita yang sama sekali belum Tyra ketahui namanya itu.
“Aku nggak butuh. Dan tolong, hargai dia.” kata Atan sambil menoleh ke arah Tyra.
“Aku—”
Tyra berdiri didepan tubuh tegap Atan. Dia menatap sinis wanita yang sepertinya belum mau menyerah dan menyudahi keinginannya untuk berbicara dengan Atan. Lalu, dengan nada tegas dan tidak ingin dibantah, Tyra berkata, “Aku tidak tau kamu, dan kita tidak saling kenal. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat.” Tyra sengaja menjeda kalimatnya saat menatap wajah Perempuan yang kini menyorot tidak suka padanya. “Jangan ganggu dia. Dia kekasihku.” []
...—To be continue—...
###
Satu novel fantasi author ada yang mau tamat. Jadi, author post cerita baru. Judulnya Nightfall. Coba deh mampir ke sana, mana tau suka. ☺️ Klik profil author, lalu pilih romansa modern, cerita Nightfall ada disana
Subscribe, like, komen, jika suka ya ... Dan jangan lupa untuk memberi hadiah dan vote jika berkenan
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️