We

We
Empat puluh lima




...We...


...|Empat puluh lima|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Atan mengusap puncak kepala Tyra yang bersandar di dadanya. Mereka sedang rebahan santai di sofa besar menyerupai ranjang yang ada didepan televisi, diruang tengah rumah Tyra. Setelah tadi menyuapi Tyra makan dengan drama yang cukup panjang, Atan kini berusaha membuat perempuan itu nyaman saat berada disampingnya.


Aroma coklat yang menguar dari tubuh Atan memang selalu menjadi favorit bagi Tyra, yang membuatnya nyaman.


“Pasti berat banget ya? Tiap waktu muntah, nggak sempet ngerasain kenyang udah muntah lagi?”


Tyra hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Atan. Tapi mau bagaimana lagi, memang bawaan bayi beda-beda. Ada yang biasa saja, santai, dan makannya malah lahap banget. Tapi dalam kasus Tyra, dia mengalami kehamilan yang cukup berat. Menguras tenaga, kesabaran, bahkan Tyra terkadang diam-diam menangis.


“Maaf, ya.”


Tyra mengeratkan pelukannya pada pinggang Atan. “Maaf untuk apa?”


“Sudah buat kamu begini. Sudah buat kamu berantakan seperti ini.” kata Atan sendu. Dia memang tidak pernah menyangka jika malam itu, akan membuat Tyra harus mengalami nasib yang tidak terduga untuk karirnya.


“Enggak. Aku malah seneng sekarang bisa bebas dari dunia itu, dan menemukan dunia baru.”


Dunia modeling memang cukup melelahkan.


“Kamu bosan jadi model?” Atan bertanya lagi, dia penasaran.


“Bosan sih enggak. Cuma kadang capek. Take berkali-kali, ganti kostum berkali-kali, touch-up. Ribet.” katanya manyun.


“Ya sudah. Setelah nikah, dirumah aja. Nunggu suami pulang.” kelakar Atan yang dihadiahi cubitan kecil di pinggangnya.


“Masih ada dua iklan yang harus aku kerjakan sampai bulan depan. Lalu aku juga harus mengurus Venus karena mau launching model baru. Retno nggak bakal bisa ngurus sendirian. Ada event juga soalnya. Udah terlanjur ikut.”


Atan tau, semua itu dilakukan Tyra untuk membuat nama Venus agar semakin dikenal banyak kalangan. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika Tyra akan semakin kelelahan mengurus pekerjaan yang super sibuk begitu.


“Jangan lupa makan. Jaga fisik kamu, dan asupan gizi untuk anak kita juga perlu. Nanti aku bantu kalau memang memungkinkan.”


Pelukan Tyra semakin rapat, dan hal itu berhasil membuat jiwa laki-laki Atan sedikit dipaksa bangkit. Ups, ini bukan saat yang tepat untuk itu, Tan.


“Kamu cepetan tidur. Inget yang dibilang dokter Karen sebelum pulang kan? Jaga kesehatan, banyak istirahat, dan diminum obatnya.”


“Iya, habis ini. Belum ngantuk banget soalnya. Mata sulit merem.” Tyra menyela sambil mendongakkan kepala hingga pandangan keduanya bertemu. Atan yang sudah kepalang gemas, menjepit hidung Tyra dengan ibu jari dan telunjuknya.


“Mamanya adek ini, pinter alasan, ya?”


Tyra tersenyum dan Atan memberikan kecupan singkat di keningnya.


Nafas besar berembus dari hidung dan mulut Atan. Ia membalas pelukan Tyra dan rela menahan rasa sakit yang tersisa di bahunya. “Sayang,” panggil Tyra pelan. Perutnya selalu terasa aman jika sudah berdekatan dengan Atan begini. Macam sinyal dari si kecil didalam perut untuk selalu dekat dengan ayahnya.


“Eung?”


“Apa kamu nggak nyesel kenal sama aku?”


Atan mencoba meraba maksud pertanyaan Tyra. Ia tidak ingin jawaban yang dia berikan justru akan menjadi sebuah boomerang yang akan balik menyerangnya.


“Kenapa harus nyesel?”


“Aku ngerasa nggak pantas buat laki-laki baik kayak kamu.” terang Tyra. Jujur dia takut kalau nanti Atan akan meninggalkannya, meskipun dia tau itu tidak mungkin.


“Sayang, aku nggak sebaik yang kamu kira. Kita sama. Dan aku, nggak akan nyesel kenal dan milih kamu jadi tujuan hidup aku.”


Sumpah setia bahkan sudah Atan ucapkan ketika malam itu terjadi. Dia tidak akan pernah meninggalkan Tyra dalam keadaan apapun.


Tyra menggeliat menyamankan posisi agar aroma Atan semakin terhirup di hidungnya. Kehadiran Atan disisinya sangat berpengaruh besar. “Aku nyaman kalau sama kamu begini. Perut juga jadi nggak mual.”


Tanpa terasa waktu semakin bergulir, dan jam menunjuk angka sepuluh malam. Tyra sudah tertidur dalam pelukan Atan, dan niatnya pulang harus diurungkan pria itu lantaran tidak tega meninggalkan Tyra yang terlihat lelah dan lelap.


Ingin sekali Atan memindahkan Tyra ke kamar, menidurkannya di ranjang yang lebih nyaman. Tapi kembali lagi, Atan tidak ingin mengganggu Tyra yang sedang terlelap pulas sekali. Alhasil, dia akhirnya ikut tertidur di tempat yang sama hingga keesokan harinya, satu lengannya yang dipergunakan Tyra untuk menumpu kepala, terasa sakit, kebas, bahkan mati rasa. Atan tidak keberatan dengan rasa sakit tersebut. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan perjuangan Tyra yang sedang berjuang melewati kehamilan yang cukup sulit untuk mengandung anaknya.


***


“Sebenernya, Lo ngelakuin sama Atan itu posisi sadar atau oleng sih? Aduh, gue jadi makin pusing deh Rex. Masalah Lo akhir-akhir ini bikin gue pingin nyerah deh.”


“Sorry.” kata Tyra menyesal karena merepotkan Retno lagi atas masalah yang sedang menimpanya. Tyra sempat membuka sosial media diam-diam meskipun Retno sudah melarang dan memberinya peringatan keras agar tidak membaca satu kalimat pun dari nitizen. Tapi, dia melanggarnya. Tyra bahkan membaca beberapa kalimat kebencian yang ditujukan untuknya, Atan, bahkan calon anaknya. Dan hal itu benar-benar membuatnya down. Dia merasa tidak lagi memiliki kemauan untuk muncul didepan publik. Mentalnya sempat jatuh dan terpuruk. Tapi Retno berhasil membawa Tyra sedikit membaik.


“Gue nggak mau Lo minta maaf karena semuanya udah terlanjur terjadi. Sekarang Lo jujur sama gue.” Retno menjeda suara cercaan yang ia tujukan kepada Tyra, menatap lurus perempuan yang terlihat lemah itu, lalu kembali menghela nafas besar karena merasa bersalah sudah bicara keras penuh penekanan. “Sorry kalau gue terlalu keras nge-push Lo buat jujur ke gue. Gue cuma pingin tau, kalau Lo sama Atan memang sama-sama saling sayang. Gue takut—”


“Dia nggak bakal lari kok. Aku bisa mastiin ke kamu kalau Atan itu pria bertanggung jawab.” jawabnya lemah. Suaranya terdengar seperti sebuah bisikan, dan airmata lolos dari ekor matanya.


Retno yang melihat itupun menjadi serba salah. Mungkin dia juga berlebihan sudah mencerca Tyra dengan pertanyaan yang membuat perempuan itu kembali dilempar ke masa lalu yang mungkin, masih di ajak Tyra untuk berdamai.


“Rex, jangan nangis. Gue nggak ada maksud mojikin Lo, atau apapun itu. Gue cuma pingin tau secara pribadi. Gue—”


“Ah, kenapa aku jadi cengeng begini sih?!” tukasnya sambil mengesat airmata dan menatap cermin untuk melihat riasannya. Hari baru saja berganti, tapi dia sudah memulainya dengan sebuah tangisan. Padahal semalam dia merasa nyaman dan tenang bersama Atan. Tapi pagi ini, moodnya berubah sendu dan seperti berubah sangsi. Tak dapat dipungkiri dia memang tertekan setelah tau isi komentar dari orang-orang yang mengatainya, tapi dia berusaha untuk tetap pada pendiriannya. Ya, dia harus memiliki pendirian dan percaya pada Atan sepenuhnya. Tidak ada yang perlu diragukan lagi. “Yang terpenting kamu percaya saja sama aku, Atan itu pria baik.”


“Oke. Gue percaya Atan memang pria baik. Tapi wanita itu?”


Tyra mengerutkan kening. Wanita itu, siapa yang Retno maksud? []


...—To be continue—...


###


Endingnya udah fix,