
...We...
...|Empat puluh tujuh|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Atan membawa tubuh Tyra yang lemah, dengan kening penuh keringat dan wajah pucat menahan sakit di perutnya ke mobil. Setelah menerima panggilan dari Tyra tadi, Atan segera bergegas menuju rumah sang kekasih. Ia bahkan mengemudi dengan kecepatan tinggi tanpa mengingat keselamatannya sendiri. Pikirannya kacau, bayangan buruk tentang keadaan Tyra memenuhi benak, alhasil dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan saat ini.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, kini mereka sampai di rumah sakit tempat dokter Karen praktek dan beruntungnya, dokter paruh baya itu sedang ada jadwal malam disana.
Tyra segera dibawa ke ruang tindakan. Atan yang setia menemani Tyra, tidak melepas sedikitpun do'a dan genggaman tangannya pada telapak tangan Tyra yang terasa dingin. Atan tidak pernah merasa setakut ini.
Suara rin-tihan dan sesekali keluhan sakit terdengar dari bibir Tyra yang pucat. Namun setelah itu, Atan diminta untuk keluar sebentar dari ruangan dan menunggu diluar.
Setelah sekitar tiga puluh menit berlalu, Atan sudah diperbolehkan kembali masuk ke tempat dimana Tyra sudah mendapat pengobatan dan perawatan disana.
Dokter Karen menyambut Atan dengan sebuah senyuman hangat, dan sapaan lembut menanyakan kabar. Atan yang panik sejak awal pun terlihat sedikit tenang karena ekspresi wajah sang dokter.
“Kabar saya baik, dok.” jawabnya singkat. Ia menyempatkan diri melirik Tyra yang ternyata sudah terlihat tenang dengan infus di tangannya. Wajahnya juga tidak sepucat tadi.
“Mungkin Tyra akan dirawat sampai besok pagi, ya.”
Atan kembali memperhatikan Karen, kemudian mengangguk paham.
“Dia kelelahan. Untungnya setelah dilakukan pemeriksaan, janinnya baik-baik saja. Cuma Tyra yang lemas dan butuh istirahat yang banyak biar bisa cepat pulih. Tyra sementara harus tetap dalam pengawasan saya disini.”
Atan mengembuskan nafasnya, ia merasa lega sekali sekarang. Janin dan Tyra-nya baik-baik saja, dan dia tau rasa sakit yang Tyra rasakan karena tubuhnya kelelahan.
“Pola makannya nggak teratur. Dan Tyra juga sempat cerita jika dia hanya makan pas sarapan saja.”
Atan kembali menoleh pada Tyra. Lalu ikut berjalan di belakang dokter Karen menghampiri Tyra.
“Untuk Tyra, tolong jaga pola makannya ya. Sekarang asupan makanan dalam tubuh kamu itu dibagi untuk dua orang, lho. Untuk kamu pribadi, dan untuk si kecil didalam sana.” kata Karen sambil menunjuk perut Tyra yang rata dan belum terlihat mengembung sama sekali.
Tyra hanya diam. Untuk mengangguk saja kepalanya masih terlalu berat digerakkan.
“Kalau nggak mau dan nggak bisa makan nasi sama sekali, coba di akali lagi deh. Coba makanan lain, roti contohnya. Biar nggak lemes ya. Susu juga jangan sampai telat.”
Kali ini Tyra mengangguk dan memaksa tersenyum.
“Dulu sebelum masuk usia satu bulan doyan makan kan? Nah, sekarang di coba lagi makan kayak begitu.”
Setelah mengajak bicara banyak sebagai solusi masalah kehamilan, dan juga penjelasan tentang vitamin kehamilan, dokter Karen meninggalkan Tyra dan Atan berdua. Tatapan Atan terkunci pada wajah Tyra yang pucat, hingga manik matanya tiba-tiba berair. Tanpa membuang waktu, Atan memeluk Tyra. Mungkin ini salah satu ujian pernikahan untuk mereka.
“Tolong jangan paksa jika kamu memang sudah nggak bisa. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu.” bisik Atan. “Kalau memang kamu masih ingin menyelesaikan pekerjaan, setidaknya ingat jika sekarang kamu tidak lagi sendiri. Didalam diri kamu ada anak kita. Jadi, makan biar ada tenaga. Biar kamu kuat, oke?”
Tyra mengangguk. Ini memang salahnya tidak bisa menjaga kesehatannya sendiri dan sekarang berimbas pada kandungannya.
“Aku cinta kamu.”
***
Hari ini Tyra sudah diperbolehkan pulang. Atan mengambil cuti untuk menemani Tyra kembali dari rumah sakit. Dia merawat Tyra seharian, menyuapi, memenuhi semua yang Tyra ingin dan butuhkan.
“Aku pingin makan nasi bebek biasanya.” kata Tyra, menginterupsi Atan yang sedang sibuk dengan ponselnya untuk mengecek pekerjaan. Hari masih sore.
“Eum? Mau makan bebek? Ayo.” sahut Atan cepat sambil menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku dan berjalan mendekat pada Tyra. Dia duduk disamping Tyra dan mengusap kepala wanita yang sangat ia cintai itu. Cintanya sudah terpupuk subur kepada Tyra. Dia akan mencintai wanita itu tanpa akhir, Without Ending.
Atan terkesiap, tapi pada akhirnya tersenyum. Entah memaksa makan atau memang menginginkannya, yang terpenting Tyra mau memasukkan sesuatu kedalam perutnya untuk asupan tenaga dan gizi.
“Sini, biar aku bantu iket rambutnya.” pinta Atan yang membuat Tyra mendekat dengan cepat dan memasang wajah senang. “Setelah makan, mau jalan-jalan?” lanjutnya sambil menyatukan rambut Tyra dan mengikatnya rapi.
“Pulang aja. Aku pingin istirahat.”
“Baiklah tuan putriku yang cantik.”
Mereka pun berjalan keluar rumah menuju mobil Atan yang memang sejak siang tadi terparkir di depan pagar rumah Tyra. Mereka menuju rumah makan yang selalu menjadi tempat favorit mereka untuk melengkapi akhir pekan setelah berkencan. Sesampainya, Atan memesan dua porsi nasi bebek ukep goreng kesukaannya dan juga Tyra, dua minuman hangat, dan satu gelas porsi jumbo jus buah jambu seperti keinginan Tyra.
Tidak tau kenapa, didekat Atan begini nafsu makan dan tenaga Tyra seperti kembali seperti sedia kala. Perlu dicatat dan digaris bawahi, hanya jika ada didekat Atan, ya.
Kepala Tyra tiba-tiba menggeleng mengingat kelakuannya sendiri. Ah, mungkin ini memang keinginan bayinya, ngidam bapaknya sendiri. Lucu kan? Memang ada ya yang seperti ini? Orang ngidam, tapi ngidamnya malah si penanam saham? Kok kesannya, bucin banget gitu.
Usia kehamilan Tyra sudah menginjak usia dua bulan sekarang. Atan heran, tapi bersyukur dalam hati saat melihat Tyra makan dengan lahap. Dia bahkan memperhatikan Tyra dengan seksama bagaimana kekasih dan calon ibu dari anaknya itu memakan semua hidangan yang ada di atas meja dengan cekatan, macam orang seminggu nggak makan.
“Pelan-pelan makannya, sayang.” tegur Atan tidak ingin melihat Tyra tersedak atau nanti berujung memuntahkan lagi makanannya karena terlalu kenyang. “Aku takut kamu malah muntah—”
“Enggak kok. Mumpung lagi pingin makan banyak.”
Dalam batin Atan, yasudah lah, dari pada nggak keisi tuh perut.
“Iya, tau. Tapi makannya pelan, sayang.”
Tyra hanya mengangguk tapi tidak mengurangi ke-lahapannya memakan nasi bebek miliknya.
“Kenapa malah kamu yang nggak makan?” kata Tyra setelah menelan makanannya. Dia mendapati Atan hanya diam memperhatikan dirinya yang sedang mengambil ini dan itu, meminum jus dan teh hangat, tapi tidak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Iya, bentar lagi. Soalnya suka lihat kamu makan lahap begitu.” jawab Atan sambil tertawa kecil, yang berhasil membuat wajah Tyra sedikit merona dan bibir mengerucut karena malu.
“Udah ih, makan dulu.” cebik Tyra kesal karena jadi bahan perhatian Atan yang selalu dan masih saja berhasil membuatnya merona.
Lalu, dengan nada lemah lembut dan penuh kasih sayang, Atan meraih telapak tangan Tyra, mengusapnya lembut tanpa memutus tatapan matanya sedikitpun dari wajah Tyra yang semakin hari, semakin terlihat begitu cantik dimatanya.
“Sehat-sehat ya, sayang. Aku nggak bisa lihat kamu sakit, apalagi lihat kamu kayak kemarin. Aku seperti kehilangan diriku sendiri saat melihat kamu kesakitan begitu.”
Tyra membalas romantisasi ucapan Atan itu dengan sebuah senyuman manis.
“Iya, sayang. Maaf sudah buat kamu khawatir sama aku dan anak kita.”
Atan menurunkan pandangan ke arah perut Tyra, kemudian bermonolog yang ia tujukan untuk si kecil yang ada didalam perut mamanya.
“Ayah minta bantu mama melewati ini ya, sayang. Ayah sayang kalian berdua, dan ayah berjanji, setelah ayah resmi dan boleh bersama sama mama, ayah akan menjaga kalian dengan segenap jiwa dan raga ayah. Ayah akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk kamu, dan suami yang baik untuk mama kami.”
Mendengar Atan mengatakan itu, Tyra meneteskan air mata pasalnya, Atan itu tipikal pria yang sulit sekali berucap romantis. Tapi, sekalinya bicara seperti ini justru membuat Tyra tidak bisa menahan tangisnya.
”Ayah sayang kamu dan mama kamu. Selamanya, tanpa ada kata akhir.” []
...—To be continue—...
###
Ada pantun pendek buat yang setia memantau TyTan,
Mang Aming jualan tomat,
Without Ending akan tamat, ☺️