
...We...
...Extra Ordinary Part...
...Selamat membaca...
...[•]...
Kalau dibilang senang, Tyra tidak bisa sepenuhnya menyebut itu, karena kini dia hanya berdiam diri dirumah sebagai ibu rumah tangga seperti yang suaminya harapkan.
Perutnya sudah membesar. Usianya sudah delapan bulan lebih dua minggu, dan tinggal dua minggu dari sekarang perkiraan kelahiran akan berlangsung.
Hari ini Tyra bangun kesiangan. Atan juga demikian. Mereka menghabiskan malam akhir pekan dengan olahraga panas malam hari. Kata dokter Karen, sebaiknya Atan sering ‘berkunjung’ diusia kehamilan Tyra yang sudah ada di akhir trimester ketiga ini, agar dedek bayi bisa segera keluar tanpa hambatan. Atan tidak keberatan, dia akan melakukannya dengan senang hati karena dia juga yang diuntungkan. Seperti malam tadi, Atan bahkan ‘berkunjung’ dua kali untuk bertemu sia adek didalam perut mama. Alhasil, pagi ini nggak bisa bangun.
“Aduh sayang, aku harus bangun. Udah jam lima.” keluh Tyra, mencoba bangkit dan menjauhkan lengan Atan yang memeluknya.
“Eummm, lima menit lagi.” Atan menggeliat dan merapatkan pelukannya.
“Kamu belum sho—”
“Ah iya.”
Kalau soal ibadah, Atan akan langsung bangkit dari tempatnya. Ia melompat turun dari ranjang, lalu bergegas mandi dan melaksanakan ibadah subuh. Tyra melakukan hal yang sama secara bergantian. Setelah itu dia menuju dapur, mencari-cari sesuatu di dalam lemari pendingin yang bisa digunakan untuk membuat sarapan pagi ini.
“Cuma ada telur, yang.” kata Tyra sambil menegakkan punggung dan menoleh ke arah Atan.
“Sarapan pecel aja yuk. Sambil jalan-jalan.” ajak Atan, yang tidak ditampik Tyra sedikit pun. Semalam sungguh melelahkan, ditambah lagi perutnya yang besar, Tyra benar-benar malas beraktifitas hari ini.
“Ya udah.” sambar Tyra singkat, lalu berjalan ke kamar untuk mengambil sweater.
Atan juga ke kamar untuk mengambil ponselnya, lalu menggandeng Tyra dan berjalan keluar bersama-sama.
Dari kompleks rumah yang ditempati Tyra dan Atan, butuh sekitar lima belas menit jika berjalan kaki. Pasangan ini menjadi perhatian karena keserasian mereka, dan tentu saja yang banyak melirik adalah si kaum Adam pada si hawa cantik jelita di samping Atan.
Melihat Tyra menjadi pusat perhatian mata banyak laki-laki, naluri pejantan Atan pun muncul. Dengan posesif dia meraih pinggang Tyra, merangkulnya hingga sampai di warung pecel langganan Atan dulu yang sejak menikah juga menjadi tempat favorit Tyra untuk sarapan jika sedang malas memasak.
Ya, rumah yang mereka tempati berada di seberang jalan, berlawanan dengan kompleks perumahan tempat tinggal Atan bersama ibu dan adiknya dulu. Ia sengaja memilih yang dekat agar dia bisa memantau ibu dan adiknya. Tyra tidak keberatan sama sekali karena dia juga menyayangi ibu dan adik Atan.
“Retno sama Linda kayaknya deket.” kata Tyra berhasil menginterupsi Atan dengan rasa penasaran.
“Oh ya?”
“Linda nggak cerita?” tanya Tyra, sedangkan Atan menggeleng. “Sebenarnya udah lama, tapi aku nggak berani cerita. Takut lancang. Tapi, ya akhirnya keceplosan juga.” Tyra terkikik hingga bahunya berguncang.
“Sejak kapan?” Atan mulai penasaran.
“Sejak kita nikah, sih, kayaknya.” jawab Tyra tidak mau memberi kepastian. Takut salah bicara juga.
Atan mempersilahkan Tyra duduk menunggunya di salah satu meja. Pria itu yang akan memesan. Setelah memesan, Atan duduk berhadapan dengan Tyra, berbaur dengan pembeli lain yang beberapa kali ada yang menyapa karena bertetangga.
“Jadi mereka pacaran?” lanjut Atan ingin tau, karena ini menyangkut sang adik.
“Kurang tau juga, sih. Coba tanya Linda aja langsung.”
Atan mengangguk. Dia akan bertanya pada Linda, nanti.
Pesanan mereka datang, Atan dan Tyra segera melahap nasi pecel yang cocok di lidah mereka. Sejak kandungannya memasuki usia lima bulan, Tyra sudah tidak lagi merasa kesulitan saat makan dan beraktifitas. Naf-su makannya sudah kembali, dan tubuhnya tidak lagi lemas. Atan bahkan sekarang kesulitan kalau mau gendong Tyra dan nyoba-nyoba gaya baru. Ups! Ini bukan keceplosan.
Setelah makan pagi selesai, Tyra ingin segera pulang. Atan langsung menuruti dan mereka kembali berjalan melewati jalanan komplek.
Akan tetapi ditengah-tengah jalan, Tyra tiba-tiba merasakan perutnya seperti kram, sakit sekali hingga dia tidak sanggup berjalan dan melipir di trotoar.
“Kamu kenapa?” tanya Atan khawatir melihat Tyra yang menggigit bibir menahan sakit. “Perut kamu sakit?” lanjutnya semakin takut karena keringat mulai keluar dan membasahi kening Tyra.
Tyra mengangguk, namun sesaat kemudian kram itu menghilang dan meraka melanjutkan perjalanan pulang. Sampai di rumah, sakit itu datang lagi, lalu hilang lagi. Datang lagi, hilang lagi. Hingga Tyra sadar jika dirinya sekarang sedang mengalami kontraksi dan meminta Atan membawanya ke tempat bersalin terdekat saja.
Atan membopong Tyra menuju mobil dengan langkah pelan menyesuaikan langkah Tyra, kemudian berlari kembali kedalam rumah untuk mengambil dua tas besar berisi keperluan bayi dan perlengkapan melahirkan Tyra yang sudah seminggu yang lalu dia siapkan sebagai antisipasi jika tiba-tiba terjadi kontraksi seperti ini.
Atan menelusuri jalan dengan otaknya, mencari rumah bersalin terdekat karena Tyra merasakan sakit itu semakin sering.
“Sabar sebentar ya sayang.” kata Atan sambil mengusap puncak kepala Tyra dengan perasaan cemas tiada tara.
Hingga akhirnya Atan melihat sebuah rumah praktik bidan yang dulu pernah direkomendasikan dokter Karen pada mereka jika dalam situasi darurat. Atan segera mencari lahan parkir untuk mobilnya dan membantu Tyra turun dari mobil.
Atan terkejut bukan main saat sesuatu menyerupai air tiba-tiba jatuh di bawah kaki Tyra yang sedang berdiri, kemudian Tyra merintih dan seperti mengejan.
“Sayang,”
Atan kehabisan kata-kata. Tubuhnya lemas seperti jelly, tapi dia dengan sigap menangkap kedua kaki Tyra dan menggendongnya melewati bagian depan bangunan sederhana itu sambil memanggil-manggil nama si bidan dengan suara lantang untuk meminta tolong.
Seseorang muncul dan dengan cekatan membantu Atan membaringkan Tyra yang sudah mengejan lagi. Tangan bidan itu sedikit gemetar karena terkejut dengan kondisi Tyra yang baru datang itu sudah siap melahirkan.
Bidan itu hanya melepas pakaian bagian bawah yang dikenakan Tyra, membiarkan baju bagian atasnya karena waktu sudah terjepit. Tyra sudah kembali mengejan.
“Jangan bersuara ketika mengejan ya, bunda.” instruksi pertama yang diberikan si bidan kepada Tyra karena wanita itu beberapa kali sudah berusaha menekan bayi nya untuk keluar. “Jangan memejamkan mata, dan jangan mengangkat pan-tat. Atur dan coba ditenangkan nafasnya.” kembali sang bidan memberi instruksi. “Kalau tidak mulas, jangan mengejan ya, bunda. Pergunakan tenaga bunda saat mulas itu kembali datang.”
Tyra berhenti mengejan, sedangkan Atan rasanya sudah ingin pingsan. Ini pertama kalinya dia membantu dan melihat orang melahirkan, tapi Tyra membuatnya ketakutan karena prosesnya tiba-tiba dan cukup cepat.
Genggaman Tyra pada tangannya mulai merapat lagi.
“Mulas lagi, yang.” katanya setengah merin-tih. Ia menatap Atan dengan wajah menahan sakit, dan Atan tidak lagi bisa membendung air matanya.
“Kuat ya sayang, sebentar lagi kita bisa melihat adek. Kamu yang sabar, yang kuat.” kata Atan menyalurkan dukungan yang menenangkan supaya Tyra tidak panik.
“Mulas lagi, bunda? Tarik nafas yang dalam,”
Tyra menurut. Ia meraup oksigen sangat banyak.
“Lalu tekan seperti bunda hendak buang air besar.”
Tyra melakukannya, ia mengejan seperti instruksi dari sang bidan dan percobaan kali ini berhasil. Kepala si kecil sudah muncul.
“Aduh, bundanya pandai. Sekarang sisanya di buat batuk-batuk aja dulu bunda.” tutur bidan bernama Anita itu dengan suara lembut.
Sekali lagi Tyra melakukannya. Ia batuk-batuk kecil, dan bidan itu berhasil membantu Tyra menghadirkan sosok kecil yang sangat cantik ke dunia ini.
Tangisan kencang dari bayi cantik itu memenuhi ruangan. Disusul tangisan Atan dan Tyra yang sekarang saling memeluk. Mereka sangat bersyukur karena Tyra dan juga putri pertama mereka lahir dengan selamat.
***
Dua keluarga berkumpul, tak terkecuali Retno yang notabenenya masih terikat pekerjaan dengan Tyra. Pria itu datang setelah Linda dan Lastri masuk ke dalam ruangan dimana Tyra sedang berbaring.
“Selamat ya nak.” kata Lastri dengan mata berembun sambil memeluk Tyra penuh kasih sayang.
“Terima kasih, Bu.”
Semua bersuka cita menyambut si cantik kecil yang memiliki wajah cantik sama persis seperti sang mama, namun memiliki bentuk bibir dan hidung seperti ayahnya itu.
“Siapa namanya?” tanya Firdaus yang sekarang sedang mengusap-usap pipi gembok si cantik didalam box bayi.
“Rahajeng Ayu.” []
...—Fin—...
###
Terima kasih untuk dukungan pembaca sekalian untuk Tyra dan Atan ya ...
Bagi yang ingin tau kisah Linda—Retno, silahkan mampir ke cerita dengan judul MOMENT.(Maaf gambar tidak bisa diupload, sudah di coba berkali-kali tetap tidak bisa.) Klik profil author, cerita Linda dan Retno ada di kolom Romansa Modern.
Semoga suka, ☺️
See you ...
Big love,
❤️❤️❤️❤️
VizcaVida