We

We
Tiga puluh delapan




...We...


...|Tiga puluh delapan|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Atan menyimpan rencana bertemu dengan Putri untuk besok. Dia bahkan turut memendam emosi lantaran Putri benar-benar sangatlah keterlaluan mengambil tindakan yang membuat orang lain dalam bahaya. Linda, dan sekarang Tyra.


Meskipun Tyra sudah menjelaskan padanya jika Putri tidak melakukan apapun padanya dan hanya berbicara tidak enak, tetap saja Atan tidak rela jika orang-orang yang dia sayangi, disakiti.


Setelah Riyana datang tadi, Atan terlibat obrolan sebentar lalu berpamitan. Tapi saat baru saja keluar dari ruangan dan hendak pergi, Firdaus yang mungkin hendak datang ke ruangan Tyra, berpapasan dengannya dan mengajak Atan bicara.


“Mau ngobrol sebentar dengan saya?” tanya Firdaus yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Atan. Lalu mereka berjalan melewati lobby VVIP dan menuju sebuah kedai minuman kenamaan yang letaknya tidak jauh dari sana.


Setelah memesan dua minuman berbeda selera, Atan dan Firdaus mulai melakukan pembicaraan.


“Bagaimana kabar kamu, Tan?”


Atan tersenyum, menyatukan sepuluh jarinya hingga mengepal diatas meja untuk menyalurkan rasa gugupnya. “Baik, om.”


Firdaus tersenyum. Pertanyaan basa-basi itu terdengar berbobot saat Atan yang menjawab. Entahlah, Atan memiliki daya tarik tersendiri dimatanya. Bagi Firdaus, Atan adalah pria paling baik dari sekian pria yang pernah dekat dengan Tyra. Memang, Firdaus tidak pernah berhadapan langsung dengan pria-pria yang dekat dengan putrinya itu melainkan dari media. Tapi, dia juga laki-laki, jadi dia tau peringai mereka yang se-spesies itu. Dan Atan ini, merupakan yang paling unggul.


Selain prilaku baik yang dimiliki, wajah pria yang kata Tyra berusia tiga puluh satu tahun, tahun ini, ini, memang tergolong tampan tanpa celah. Bibit unggul.


“Kalau om sendiri, bagaimana?”


“Seperti yang kamu lihat.” jawab Firdaus sembari mengedikkan bahu. “Sepertinya rencana makan malam besok ditunda saja, bagaimana?”


“Tidak apa-apa, om. Tunggu Tyra baikan dulu.”


Membahas Tyra, Firdaus ingin memastikan dugaannya. Matanya menatap sungguh-sungguh ke arah Atan. Kemudian kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menopang dagu. “Boleh saya tanya sesuatu?”


Atan mengangguk. “Silahkan.”


Nafas Firdaus tertahan sejenak, takut salah bicara. “Sejauh apa hubungan kalian?”


Atan mengerjap, ia paham maksud ucapan papanya Tyra. Tapi, apa faham yang ia terka itu sama dengan tujuan calon mertuanya itu bertanya?


“Kami sudah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat, Om. Hanya tinggal menunggu persetujuan om Firdaus dan Tante Riyana.” terang Atan panjang memberikan jawaban. Ia berharap jawaban itu memuaskan untuk Firdaus.


“Kenapa tiba-tiba sekali?”


Atan semakin sulit menelan ludah. Apa ini sebuah interview? Atau sebuah interogasi untuk menjadi mantu? Atau, ada tujuan lain?


“Ka-kami tidak ingin berlama-lama pacaran. Saya sudah kepala tiga, Om. Dan di usia itu, saya tidak ingin bermain-main dengan perasaan. Saya serius dengan Tyra, putri om.”


Firdaus lega. Setidaknya Atan adalah pria bertanggung jawab dan mencintai putrinya, jika Tyra memang benar hamil.


“Saya tidak ragu sama kamu, tapi saya berpesan tolong jaga putri saya.”


Atan mengangguk. Tentu saja dia akan menjaga Tyra. Dia adalah wanita yang sangat dia sayangi dan cintai. “Tentu saja, om. Saya tidak akan mengabaikan permintaan om pada saya tentang Tyra.”


Pesanan mereka datang. Lalu, pembicaraan mereka berlangsung ringan. Mereka bicara banyak tentang pekerjaan dan beberapa pengalaman hidup.


***


Tidak ada pertemuan yang membuat jantung berdebar. Yang ada, Atan ingin sekali meluapkan amarahnya kepada Putri yang duduk didepannya.


Ya, mereka bertemu dan Atan pergi atas persetujuan Tyra.


Seharusnya, sabtu ini menjadi satu hari yang berkesan karena Atan diundang di kediaman keluarga Tyra. Tapi terpaksa ditunda karena Tyra yang sedang kurang sehat.


“Kamu dari rumah?” tanya Putri, lalu meraih cup minuman yang dia pesan beberapa saat lalu dan menyesapnya pelan.


“Sekarang aku tanya sama kamu, kenapa kamu tega mencelakai Linda sampai sejauh itu?”


“Ah, jadi dia bilang sama kamu ya?”


Atan hanya diam dan menatap lurus ke arah Putri.


“Kamu pasti tau jawabannya, Zio.”


“Jadi kamu memang sengaja? Kamu ingin mengancam ku dengan mencelakai Linda, begitu?”


Putri mengangkat satu alisnya. “Lebih tepatnya, memperingatkan kamu saja sih kalau aku bisa senekat itu kalau kamu nggak mau balik sama aku.”


Atan kehabisan kata-kata. Kesabarannya yang tumpah ruah itu mendadak surut. Dia begitu kecewa begitu mendengar jawaban angkuh Putri alih-alih sebuah penyesalan dan permintaan maaf. Ia menghela nafas, membuang wajah, lalu melipat bibirnya kedalam. “Demi Tuhan, aku tidak rela kalau sampai kamu sekali lagi menyakiti seseorang yang berhubungan denganku.”


Seolah mati rasa, Putri hanya tersenyum sinis.


“Termasuk kekasihmu itu, kan? Oh ayolah, Zi. Kamu itu nggak sepadan sama dia. Dia itu anak orang berada, sedangkan kamu?” kata Putri sambil mengedikkan bahu acuh.


Rahang Atan semakin mengeras. Pupil matanya menajam menatap Putri yang bukan seperti Putri yang dia kenal.


“Apa itu menjadi masalah buat kamu?” sinis Atan tak mau diam saja setelah Putri dengan sengaja merendahkan harga dirinya. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman sarkasme yang begitu kentara. “Aku rasa, kamu tidak berhak mengatakan hal itu.”


“Hahaha ... ” tawa Putri mengudara. “Sepertinya harga dirimu tersakiti ya?”


Atan menggelengkan kepala tidak habis pikir. “Astaga, Put. Kenapa kamu jadi seperti ini?” de-sah Atan yang sudah putus asa melihat Putri yang sangat berbeda.


“Jawabannya ada di kamu!” pekik putri keras hingga beberapa orang sontak menoleh ke arah meja mereka. “Kalau kamu—”


“Kita itu masa lalu, Put. Kamu nggak bisa paksa aku kembali lagi ke masa lalu yang ternyata dulu kamu sendiri yang hancurin.” sahut Atan cepat mengatakan kenyataan. “Kalau kamu dulu nggak aneh-aneh, mungkin aku juga nggak bakalan bikin jarak sama kamu kayak gini, put. Tolong, jangan seperti ini.”


“Jadi aku harus gimana?”


“Tolong terima kenyataan. Aku punya masa depan, begitupun kamu.” tukas Atan mencoba membalik hati Putri agar luluh. “Kamu punya Brina, dan kamu bisa fokus besarin dia—”


“Disini kamu rupanya.”


Atan dan Putri menoleh bersama ke sumber suara. Lalu mereka kembali saling tatap, dan Atan dapat melihat sorot takut di mata Putri.


“Berikan Brina padaku. Atau ku buat hancur hidupmu, wanita sia-lan!” kata pria yang ditebak Atan sebagai mantan suami Putri, sembari menarik kasar lengan wanita itu hingga ikut berdiri.


Sontak Atan pun mencoba melerai pria yang bahkan Atan sendiri tidak ingat. “Tolong jangan kasar sama perempuan.”


Mendengar itu, pria bertubuh kekar itu menoleh pada Atan. “Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan kami.”


“Aku tidak akan ikut campur urusan kalian, jika kamu tidak memperlakukan dia sekasar itu.”


Putri meringis ketika sang mantan suami mengeratkan jemarinya dan bersiap menarik pergi putri. Namun Atan tidak bisa membiarkan itu. Pria itu pernah melakukan kekerasan pada Putri, tidak menutup kemungkinan jika pria itu akan kembali melakukan itu pada Putri.


“Kamu mau bawa dia kemana?”


Dio menepis tangan Atan yang sedang menyentuh bahunya. Putri menatap penuh permohonan agar Atan menolongnya. Putri benar-benar ketakutan sekarang. Dia tidak ingin kehilangan Brina.


“Bukan urusan kamu, ya. Aku sudah memperingatkan! Kalau kamu masih nekat mau bela wanita ini, aku tidak akan segan melayangkan tinju ke wajah kamu.”


Mereka sudah menjadi tontonan. Beberapa orang mencoba mengambil gambar, dan beberapa orang lain hanya bisa membicarakan mereka bertiga.


Tak peduli, Atan mengejar Putri dan laki-laki yang menarik kasar lengan wanita itu.


“Bro, jangan kasar sama—”


Kalimat Atan terhenti lantaran sebuah bogem melayang menyentuh rahangnya. Mendadak jiwa Alpha nya menguasai diri. Atan memberi balasan yang sama untuk mantan suami Putri. Adu otot pun tak terhindarkan dan beberapa orang yang lewat berusaha melerai mereka. Namun tidak semudah itu karena Dio kalap.


Hingga akhirnya tubuh Atan terdorong mundur dan memasuki area jalan utama yang dipenuhi oleh kendaraan yang sedang berlalu lalang.


Nahasnya, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan lumayan tinggi menerjang Atan. Tubuhnya terpental naik ke atas kap depan mobil dengan keras, lalu jatuh tergeletak dengan sisa kesadaran yang tersisa.


Saat itu, yang terlintas di benaknya adalah bayangan tentang Ibu, adik, dan juga ... Tyra. []


...—To be continue—...