
...We...
...|Tiga puluh tujuh|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Rubah dijuluki hewan paling licik karena dikenal mampu mendapatkan apa yang diinginkan dengan sedikit usaha. Mereka lebih memilih diam menunggu kemudian menuai hasil tanpa harus bersusah payah memisahkan diri mereka.
Harusnya, Putri bertindak saja seperti rubah. Kalau perlu rubah ekor sembilan sekalian yang terkenal sakti mandraguna saat memikat lawan jenis. Tapi, mungkin si rubah sekarang dalam masalah karena berani mengusik si musuh. Dan diperparah dengan kenyataan jika sang pujaan hati lebih memilih musuhnya ketimbang dirinya.
Putri sakit hati dan menunjukkan kekecewaannya terang-terangan. Dia sengaja mengancam keselamatan adik kesayangan Atan dengan mencoba membuat celaka Linda. Dia tidak peduli karena tidak adanya saksi dan bukti kuat untuk menuduhnya, begitu pikirnya. Tapi entahlah.
Dan kali ini, seolah semesta mengizinkannya untuk bahagia, Putri bertemu dengan Tyra di sebuah kedai ice cream yang lumayan terkenal dan banyak pengunjung. Mereka berpapasan didepan pintu masuk, namun putri dengan sengaja menahan Tyra yang sudah hampir pergi setelah saling sapa, dengan kalimat yang membuat gadis cantik itu membeku ditempatnya berdiri.
Waktu seperti berjalan lambat dan berhenti bergerak untuk Tyra mendengar kalimat Putri yang belum tentu kebenarannya itu. Tyra berbalik, melihat manik mata Putri yang terlihat dipenuhi kebencian, dan senyuman yang begitu mengerikan.
“Tolong jangan pernah membuat hubungan saya dan kekasih saya berantakan.” kata Tyra, dengan suara lembut sarat memohon.
Berbeda dengan Tyra, Putri justru tertawa dan berhasil menarik perhatian beberapa orang yang sedang mengantre. Ini sungguh memalukan bagi Tyra. Dia ingin pergi dari sini, namun terjebak oleh harga diri sebagai pertaruhan.
“Berantakan? Nona Tyra, seharusnya kamu itu nyari cowok yang sesuai sama ekspektasi kamu dong, jangan cowok pas-pasan kayak dia. Kamu sadar nggak sih, kalau dia ngelakuin apapun buat kamu ya karena terpaksa aja. Padahal dia juga sadar nggak akan mampu mengimbangi selera hidup kamu.”
Tyra tertohok. Memangnya seperti apa selera hidupnya? Padahal dia merasa wajar-wajar saja kok. Simple, pria seperti Atan itu memang tipikal cowok yang dia sukai. Baik, sabar, soal finansial tidak terlalu penting, bisa dibangun dan dicari bersama-sama. Perut Tyra mendadak kembali mual setelah beberapa jam yang lalu juga mual dan bahkan muntah.
Tyra berjalan mendekat, kemudian tersenyum menatap Brina dan menyentuh sejenak pipi gembil gadis cantik dalam gendongan Putri itu.
“Kalau kamu memang ingin bicara seperti itu, tolong jangan didepan anak kecil, seperti dia.” kata Tyra yang masih tersenyum ke arah Brina tanpa sudi melihat wajah Putri yang terlihat memuakkan. “Kasihan, kalau sampai gadis polos dan suci seperti dia, harus ternodai oleh kata-kata ibunya sendiri yang tidak pantas dia dengar.”
Geram, Putri menurunkan Brina dan mulai memangkas jaraknya dengan Tyra. Lalu menyunggingkan senyuman sinis. “Tau apa kamu soal mendidik anak, hm?”
Sumpah demi apapun, Tyra ingin sekali menjambak rambut wanita ini jika kepalanya tidak pusing, dan perutnya tidak mual. Mendadak matanya ikut berkunang. Tyra menatap sekitar mencari pegangan agar tidak terjatuh. Ia bergerak hendak berjalan menjauh, tapi Putri menahan Tyra yang sudah kepayahan menopang bobot dirinya sendiri. Pandangannya semakin gelap, telinganya berdengung namun masih bisa mendengar suara Putri disisa kesadaran yang menyebutnya,
“Dasar jallangg!”
***
Tyra membuka matanya, mengerjap perlahan untuk menyesuaikan bias cahaya yang masuk ke pupil matanya. Orang pertama yang dia lihat adalah papa nya. Eh? Apa ini mimpi?
“Papa?”
“Denyut jantungmu lemah, istirahat.” titah Firdaus tak ingin dibantah.
Tyra mulai memutar ingatannya mengapa bisa sampai di ruangan beraroma disinfektan dan bertemu papanya. Di lengan kirinya juga terpasang infus. Fix, dia pingsan.
“Siapa yang antar Tyra kesini, pa?”
Firdaus hanya menatap lemah sang putri. Tatapan sayu penuh belas kasih yang belum pernah dilihat sekalipun oleh Tyra.
“Kamu kelelahan, istirahat saja dulu. Nanti juga kamu tau siapa yang anterin kamu kesini.” jawab Firdaus dengan nada lembut. “Mama kamu sebentar lagi datang. Sebelum di omeli, kamu istirahat dulu sambil mempersiapkan mental.”
Tyra menyemburkan tawa, lalu terbahak. Baru kali ini dia mendengar papanya berani membicarakan mama dibelakang.
“Mama pasti marah kalau denger papa ngomong gitu.”
Firdaus tersenyum tipis. Dia merasa terhibur dengan kata-kata Tyra yang tanpa sadar sangat ia rindukan. Dulu, saat Tyra masih kecil, putri semata wayangnya itu selalu menempel padanya, bercanda dengannya, sampai menangis pun Firdaus menjadi orang pertama yang melihatnya sebelum Riyana tau. Dan sekarang, kenangan itu seperti menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk diingat setelah melihat Tyra sudah dewasa begini.
“Mama mu nggak bakal berani marah ke papa,”
“Yakin? Mau taruhan?”
Firdaus berjalan mendekat dan mengecek laju kristaloid yang mengucur dari selang infus yang tertaut di telapak tangan putrinya.
“Taruhan apa?” goda Firdaus, mulai menanggapi candaan Tyra.
“Papa belum punya mantu dan cucu. Bagaimana kalau taruhan itu saja.” sahut Firdaus cepat sebelum Tyra berhasil merampungkan kalimatnya.
Tyra mengerjap cepat. Mantu? Cucu? Ah, ini sangat menyenangkan. Wajahnya berubah semerah tomat. Dia malu.
“Taruhan, kalau papa sebentar lagi punya cucu.” lanjut Firdaus dengan nada cukup serius dan tidak main-main.
“Papa ngomong apa sih?!” cebil Tyra karena malu. Dia bahkan hampir menepuk lengan papanya perkataan itu seperti memang benar-benar akan terjadi.
“Sudah. Istirahat saja dulu.”
“Atan tau Tyra dirawat disini?”
Firdaus mengangguk, sedangkan Tyra mendelik tidak percaya. “Papa yang kasih tau Atan?”
Lagi-lagi Firdaus mengangguk. “Dia juga pasti sebentar lagi kesini.”
Wajah Tyra semakin gusar. “Adiknya sedang kena musibah, Pa. Ada orang yang hampir menabrak adik Atan, dan sekarang dia sedang menemani adiknya dirumah sakit.”
“Papa ... nggak tau, maaf.”
Tyra hanya bisa melihat tanpa memberikan jawaban. Dalam batinnya menebak, pasti papanya sekarang merasa bersalah. Wajah pria itu berubah datar, Tyra hafal semua ekspresi sang papa.”
“Ya sudah, nggak apa-apa. Biar Tyra yang menghubungi—”
Pintu ruangan terbuka, dan Atan muncul dari balik bilah pintu putih ruang rawat Tyra. Pria itu terlihat begitu panik dan langsung berjalan cepat ke sisi Tyra, menatap wanitanya itu dengan manik berkaca-kaca dan penuh penyesalan.
Aduh, sudah selama apa dia pingsan? Berapa jam dia tidak sadarkan diri? Batin Tyra bertanya-tanya.
“Maaf. Saya tidak tau kalau adik kamu sedang ada musibah.”
Atan menatap Firdaus yang hampir terlupakan sangking khawatirnya dia pada Tyra. Lantas Atan menjawab dengan sedikit senyuman.
“Saya sudah mengantar adik saya kembali ke rumah dengan selamat saat Om menghubungi saya tadi. Jadi, tidak apa-apa.” kata Atan, lalu kembali mengarahkan tatapan matanya pada Tyra yang tersenyum dengan wajah dan bibir pucat.
“Saya keluar dulu, masih ada kerjaan. Sebentar lagi mamanya Tyra juga pasti datang. Kamu bisa kembali pulang, dan maaf sekali lagi sudah merepotkan kamu, nak Atan.”
Tyra menoleh. Bahkan papanya juga menyebut Atan dengan panggilan Nak. Itu artinya, Atan berhasil meluluhkan hati sekeras batu milik sang papa.
“Iya, om.”
Firdaus pergi setelah mengusap puncak kepala Tyra. Sedangkan Atan, rasa bersalah itu semakin memenuhi hatinya. Andai saja Putri tidak membuat kekacauan, dia pasti menemani Tyra, dan hal seperti ini pasti tidak akan terjadi.
“Maaf.” kata Atan, lalu mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Tyra yang sedikit lembab oleh keringat.
“Kenapa minta maaf?” tukas Tyra merasa tidak enak karena disini, dialah yang membuat Atan kerepotan sampai-sampai rela meninggalkan ibu dan adiknya yang pasti disana sedang kesakitan.
“Maaf nggak bisa nganterin kamu,”
Tyra meraih telapak tangan Atan dan menggenggamnya. Tatapan mereka bertemu dan terkunci. “Aku yang salah. Kalau aku nggak maksain diri pergi, semua ini nggak akan terjadi. Aku juga pasti nggak akan ketemu wanita itu—”
Astaga, Tyra keceplosan. Dia berencana merahasiakan pertemuan tidak sengaja ya dengan Putri. Tapi ...
“Wanita itu? Siapa?” tanya Atan menyelidik. Hanya satu nama yang muncul dalam kepalanya, Putri. “Kamu ketemu putri?”
Meskipun ragu dan seperti ingin menutup-nutupi, akhirnya Tyra memilih mengangguk. Dan informasi yang dia dengar dari Tyra tersebut, membuat Atan semakin geram. Putri benar-benar keterlaluan.
“Aku harus bicara dengan dia.” kata Atan dengan nada rendah yang terdengar begitu mengerikan.
“U-untuk apa?”
Atan menatap lurus, lalu berkata. “Aku mau memberitahu sesuatu padanya.” Atan sengaja menjeda, “Sesuatu yang akan membuat dia sadar, kalau kamu adalah segalanya bagiku.” []
...—To be continue—...