We

We
Enam belas




...đź’žđź’žđź’ž...


...We...


...|Enam belas|...


...Selamat membaca...


...[•]...


“Aku pingin buka usaha kecil-kecilan didepan rumah, mas. Tapi nggak punya modal.” Linda tertawa nyengir seperti kuda sambil menatap kakak laki-lakinya. Sedangkan Atan, menoleh dan menoyor kepala Linda sebagai jawaban curhat sang adik. Adiknya ini, memang selalu punya cara tersendiri ketika menginginkan sesuatu.


“Memangnya mau usaha apa?” tanya Atan menginginkan jawaban yang lebih spesifik dari Linda.


“Ya, jualan apa gitu kek, biar ada penghasilan.”


Kalau dibicarakan lebih lanjut, ide Linda mungkin ada manfaatnya untuk masa depan. Mana mungkin selamanya mereka hidup bekerja ditempat orang, mereka harus berani mencoba membuka usaha sendiri untuk masa depan. Banyak kok yang berhasil karena sabar dan ulet dalam berbisnis meskipun tidak ada pengalaman, hanya menjadi seorang pemula, Reza contohnya.


“Ya jualan itu, jualan apa. Nggak mungkin kan kamu usaha, terus mangkrak nggak jalan karena nggak ada peminat? Apalagi di daerah perumahan gini. Semua harus sudah kamu perhitungkan sejak awal, termasuk kerugian dan bagaimana cara kamu mengatasi jika usaha kamu sepi. Kan sayang uang modalnya kalau tutup nggak dilanjutin.”


Realistis saja. Usaha yang nggak jalan karena sepi, memang kebanyakan nggak balik modal karena orang yang semula menggebu-gebu membuka usaha, menyerah ditengah jalan alih-alih susah-susah bersabar.


“Ya, usaha makanan gitu lah mas. Nanti aku juga mau jual di kampus. Online juga. Teman-teman banyak yang bilang kalau aku punya bakat jualan yang lumayan. Mas juga ahli di bidang pemasaran, nanti bantu-bantu kasih trik jitu bikin video atau apalah biar menarik pembeli.”


Atan mengembuskan nafasnya cukup besar. Dipikir semua itu nggak ada prosesnya? Maklumlah, calon pengusaha dadakan tapi masih pemula, si Linda ini.


“Jual makanan itu, kamu harus mencari target pasar yang membutuhkan apa yang sedang kamu jual. Karena makanan tidak bisa didaur ulang sembarangan, tidak bisa dijual lagi besok.”


Tidak rugi Linda punya kakak seorang mantan kepala pemasaran perusahaan besar. Dia jadi punya ilmu sedikit tentang penjualan produk.


“Kamu mau jualan apa dulu. Mau jualan makanan itu, makanan yang kayak gimana? Frozen kah? Atau makanan kayak warung gitu? Kalau udah jelas mau jual apa dan target pasarnya ada, nanti mas modalin deh.”


Linda terlihat berbinar.


“Ya. Mas jadi owner-nya, Linda yang bagian produksi dan pemasaran.”


Atan geleng-geleng kepala. Belum-belum sudah sejauh owner. Nanti gagal, nangis.


“Kalau saran mas, sih, jualan yang bisa tahan lama aja dulu, yang bisa dijual lagi besok, karena kamu masih pemula. Takutnya kalau jualan makanan, pas sepi kamu nya putus asa dan mundur gitu aja.” katanya mencoba mencari solusi untuk Linda. “Reza aja, dulu pernah bangkrut dan hampir gulung tikar. Tapi usaha memang nggak pernah mengkhianati hasil, sih. Berkat semangat dari orang-orang terdekat, Reza bangkit penuh semangat dan akhirnya ya berhasil kayak sekarang. Cafenya laris, nggak pernah sepi pembeli.”


“Kalau jualan yang bisa tahan lama itu apa?”


Atan mengedikkan bahu, lalu menatap tablet jeniusnya untuk kembali memeriksa pekerjaan. “Entahlah.”


Linda mencebik kesal lalu menepuk paha terbuka Atan karena memakai celana pendek. “Mas yang nyaranin ya harus kasih solusi juga dong.”


“Lha, kan yang mau buka usaha kamu? Kenapa mas yang ikut mikir juga?”


Sebal bukan main, Linda kembali menepuk paha Atan hingga pria itu melengkung, lalu menggosok menahan panas di kulitnya.


“Bilang aja nggak mau kasih modal.” ketus Linda, merajuk.


Atan tersenyum, lalu menatap lembut pada adiknya, si permata kedua yang harus ia jaga sepenuh jiwa raganya, setelah sang ibu.


“Adek ku sayang. Mas kan sudah bilang, mas mau kasih kamu modal. Seratus juta juga mas jabanin, asal kamu beneran niat buka usaha, bukan cuma mau coba-coba doang.”


Pembicaraan serius keduanya terjeda karena ponsel Atan bergetar kuat diatas meja. Linda memanjangkan leher guna melihat siapa yang sedang menghubungi kakak laki-lakinya yang sedang jomlo itu. Takutnya si mantan yang lagi kesemsem setelah pisahan sama laki nya.


“Siapa T-rex?”


Atan terlonjak kaget mendengar Linda membaca nama tersebut, pasalnya dia sempat tidak peduli pada ponselnya yang sedang bergetar meraung-raung mencari perhatiannya.


Setelah berhasil menjauh, Atan segera menjawab panggilan tersebut.


“Ada apa, Ra?”


***


Seperti biasa, Atan datang dengan wajahnya yang selalu berhasil menawan banyak hati wanita dengan pesona yang dianugerahkan Tuhan padanya.


Rambut rapi ber-pomade yang disisir kesamping, alis tebal yang membuat tatapan mata hazelnya menajam, hidungnya yang proporsional dengan bentuk wajah dengan rahang tegas, bibirnya yang seksih berwarna merah dengan garis bibir yang begitu jelas, lehernya yang jenjang, bahu lebar dan dadanya yang kekar dibalut oleh kemeja cream, dan kaki jenjangnya yang terbungkus celana bahan berwarna gelap senada dengan sepatu pantofel yang dipakainya. Jangan lupa aroma coklat yang memang menjadi ciri khas seorang Zelatan, mampu membuat jiwa perawan orang ketar-ketir.


“Selamat pagi, bu Ruya.”


Ruya, adalah kepala divisi HR yang hendak memasuki masa pensiun. Dengar-dengar dari kabar burung yang beredar, Atan yang digadang akan menggantikan posisi wanita lima puluh delapan tahun itu.


“Pagi, Tan.” jawab Ruya ramah. Wanita ini memang bawaannya membuat siapa saja nyaman karena sikapnya yang tenang, mengayomi dengan sabar semua anak buahnya di divisi HR, termasuk Atan. Dia sangat kagum pada sosok wanita yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri ini. “Pagi bener. Dari lima belas orang yang ada di divisi ini, cuma kamu lho yang konsisten, rajin datang pagi setiap hari. Pantas saja si boss kesemsem sama kinerja kamu.”


“Ibu bisa saja.” sahut Atan sambil meletakkan tas kerjanya di atas kursi, lalu menyalakan komputer.


“Betah di divisi ini?”


Atan mengedikkan bahu. “Sudah saya ambil ini semua jadi keputusan saya, Bu. Jadi mau tidak mau ya harus saya jalani, itu awalnya yang saya pikirkan karena bekerja di devisi ini sangat bertolak belakang dengan divisi yang saya pegang sebelumnya.” jawabnya sedikit memberi penjelasan jujur tentang pekerjaan dan posisinya disini. “Tapi, setelah saya kenal bu Ruya, saya jadi betah. Bu Ruya orangnya baik. Tidak pernah menjudge kesalahan orang lain dari satu sisi tanpa mau mendengar pendapat orang lain. Saya kagum sama Bu Ruya.”


Ruya tertawa dengan kekehan lembut. “Saya dengar, kamu juga seperti itu di divisi lama kamu.”


Atan hanya diam menatap pada kubikel si atasan, lalu tersenyum.


“Tapi tidak sebaik dan sesabar bu Ruya. Saya kadang terbawa emosi.” jawab Atan dengan selingan tawa yang membuat Ruya ikut tertawa.


“Ya saya tau itu karena kita juga harus punya ketegasan dalam memenuhi tuntutan kerja. Tapi kamu itu hebat, Tan. Pasti ibu kamu orang yang sangat baik dan penyayang serta sabar, karena membesarkan kamu menjadi laki-laki yang baik dan bertanggung jawab seperti sekarang ini.”


Atan tersenyum, bayangan wajah tersenyum ibunya tergambar jelas dalam ingatannya. “Ya, ibu saya memang orang yang sangat hebat. Beliau selalu mengajarkan kebaikan dan arti menghargai orang lain, kepada saya dan adik saya.”


“Saya do'akan, semoga kamu nanti ketemu jodoh yang sama baiknya sama seperti kamu, ya Tan.”


Atan tersipu. “Amin, terima kasih untuk do'a baiknya, bu.”


Jodoh.


Bagaimana Atan mendeskripsikannya ya?


Apa dia orang yang akan menerima dia apa adanya? Apa dia orang yang akan bersedia menemaninya sampai tua nanti? Atau ... orang yang hanya bersedia tinggal bersamanya setelah menikah nanti?


Ah, sudahlah. Yang terpenting, Atan harus segera mencarinya. Dia tidak ingin menunda terlalu lama untuk itu. Dia ingin melihat bagaimana ibunya bahagia melihat dirinya berumah tangga. Dan semoga saja, do'a Bu Ruya tadi menjadi nyata.


Atan mulai memikirkan kembali apa saja yang terjadi akhir-akhir ini. Dan wajah Tyra lah yang muncul pertama kali.


Bukan karena Tyra orang terkenal yang memang bisa kapan saja muncul dalam ingatan. Tapi, entah mengapa satu sisi dirinya seperti sedang di paksa menerima kehadiran Tyra, tapi dia tidak juga bisa berbohong untuk menolak kehadiran gadis berusia dua puluh tiga tahun tersebut.


Atan berdehem kecil, mencoba mengembalikan kewarasannya sendiri untuk tidak berfikir terlalu jauh, apalagi berharap sosok seperti Tyra memperhatikan dirinya. Itu sangat mustahil. Dirinya bukanlah tipe Tyra yang suka kehidupan bebas.


Tapi kenapa pula, Atan suka sekali ketika bayangan Tyra yang muncul dalam imajinasinya?


Apa ini artinya, dia sedang mengagumi gadis itu? Atau mungkin ... dia memiliki perasaan lebih untuk sosok Tyra? Perasaan yang rasanya belum pernah ia terima lagi setelah mendapat sakit hati dari masa lalu.


Atan mencoba menyangkal apa yang sedang terbesit di kepalanya saat ini. Dia mencoba berkata jika dia tidak sedang ... jatuh cinta. []


...—To be continue—...


###


E-ekhmmm ... 🙄