
...We...
...|Empat puluh dua|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Suasana berubah mengharu biru saat ibu Atan yang memang sudah berusia itu datang menjenguk. Wanita tua itu tidak pernah menduga jika putra sebaik Atan bisa sampai terluka seperti ini. Lastri menangis, begitupun Atan. Dia paling tidak bisa melihat orang yang dia sayangi bersedih, terutama sang ibu.
“Kenapa sampai kayak gini toh, le. Kemarin Linda, sekarang kamu.” kata Lastri sambil menciumi pipi Atan, membuat semua mata yang melihatnya ikut mengucurkan air mata, termasuk Retno yang jaraknya lumayan jauh dari mereka yang ada di dekat ranjang. “Siapa yang tega ngelakuin ini sama anak-anak ibu?” keluh Lastri masih di sela tangisnya yang semakin sendu.
Atan yang juga ga berusaha tenang dan tidak menangispun, akhirnya runtuh. Dia menangis tanpa suara ketika melihat suara parau ibunya yang begitu sedih. Dia ingin memeluk tubuh ringkih itu namun tidak bisa berbuat apa-apa karena bahunya yang terasa sangat sakit.
“Atan yang teledor, bu.”
“Kenapa bisa kalian berdua?”
Atan mengangkat satu tangannya yang lain dan menahan rasa sakitnya setengah mati.
“Ibu jangan sedih. Atan jadi ikut sedih.” katanya sambil memeluk erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ibu.
Dari sini Tyra bahkan Retno pun tau, kalau Atan memang laki-laki yang amat sangat baik, penuh kasih sayang dan sabar. Tyra mengusap air mata saat membayangkan bagaimana Atan akan menyayangi anak-anaknya kelak.
“Maafin ibu dan bapak ya, nak. Karena ibu yang sudah seperti ini, kamu harus berjuang jadi tulang punggung dan punya beban—”
Atan melepas pelukannya dan langsung menatap wajah ibunya. “Ibu bukan beban, adek juga bukan beban. Kalian berdua adalah harta berharga yang Atan miliki.”
Tyra membuang muka. Bukan karena iri, tapi karena begitu tersentuh oleh kalimat Atan yang begitu menyentuh hati. Dia saja tidak pernah berkata seperti itu pada papa dan mamanya. Atau, Tyra perlu melakukan itu? Berhenti membangkang dan menjadi anak baik untuk kedua orang tuanya? Tyra mengusap airmata yang begitu deras melewati pipinya. Melihat itu, Retno mendekat dan mengusap punggung perempuan yang saat ini sedang hamil muda itu.
“Demi Tuhan, Atan tidak pernah terbebani oleh ibu dan linda.” lanjutnya dengan suara yang hampir terputus oleh salivanya yang tiba-tiba terteguk secara tidak ia sangka. “Dan sekarang, Tyra juga menjadi bagian dari ibu dan Linda.” kata Atan yang seketika itu juga menarik perhatian Tyra. “Kalian bertiga adalah permata hati seorang Atan.”
Tyra semakin tergugu melihat senyuman Atan untuknya. Lastri yang melihat itu, mendekat dan memeluk penuh kasih sayang.
“Terima kasih sudah menerima putra ibu apa adanya, nak Tyra.”
***
Seminggu kemudian, Atan sudah mendapat izin pulang dari dokter dengan catatan, harus tetap rutin datang ke rumah sakit untuk mengecek perkembangan kesehatan dan juga bahunya yang cidera.
Orang tua Tyra bahkan ikut menjemput dan mengantar Atan pulang. Mereka berada dalam satu mobil dan berbicara banyak hal.
Firdaus yang melihat ibu Atan adalah pasien di kliniknya, menaruh hormat dan menghargai wanita itu, selain memang karena usia yang terpaut jauh. Riyana tak kalah perhatian, karena selama ini dia memang tau pribadi Lastri memang baik. Dia tau itu karena Lastri adalah salah satu pasien yang selalu rutin hadir untuk memeriksakan kesehatan dalam program lansia yang dia buat dirumah sakit. Selain sebagai seorang pasien, Lastri juga sering memberikan nasehat dan wejangan untuk Riyana dalam berumah tangga. Itu sebabnya dia selalu bisa menerima apapun keadaan dan bagaimanapun sibuknya sang suami. Riyana mendapat banyak sekali pelajaran tentang apa itu arti setia dan mencintai dari seorang Lastri.
“Saya tidak pernah menyangka kalau Bu Lastri ini, ibunya Atan.” kata Riyana, menoleh ke sisi kanan untuk mendapati Lastri yang duduk di jok tengah bersama Linda dan Atan. Sedangkan Tyra bersama Retno di mobil lain, milik Tyra.
“Saya juga kaget saat tau kalau nak Tyra ini anak dokter Yana.” kata Lastri dengan senyuman tulus. “Makanya nak Tyra cantik sekali. Lhawong ibu ayahnya ganteng dan cantik begini.”
Firdaus ikut menimpali. “Ibu bisa saja.”
Atan dan Linda hanya bisa menyimak pembicaraan orang tua di depan mereka.
“Sebenarnya hari Sabtu Minggu lalu saya ngundang Atan makan malam dirumah lho, Bu. Tapi berhubung situasinya tidak memungkinkan, jadi kita tunda.”
“Kami bukan siapa-siapa kok, Bu. Cuma Tuhan sedang mempercayakan sebuah tanggung jawab kepada saya dan keluarga.”
Lastri tersenyum. Ternyata dua dokter yang dia kenal baik itu adalah orang yang rendah hati. Mereka orang baik.
“Sebaliknya, kami yang bersyukur karena nak Atan bersedia Nerima putri kami yang jauh dari kata baik itu.”
Lastri menggelengkan kepalanya. Tyra gadis baik, hanya saja karena pekerjaannya dia mendapat cap buruk dari beberapa orang yang tidak menyukai profesinya sebagai seorang model. Termasuk kedua orang tuanya ini.
“Tyra anaknya baik kok, Bu. Sopan, dan terbuka sama saya.” kata Lastri membela karena dia tau Tyra memang anak yang baik.
“Dia agak bandel.” bisik Riyana sedikit berkelakar, membuat Lastri bahkan Linda dan Atan tertawa kecil menanggapinya. “Dulu, saya suruh sekolah yang bener, kuliah, agar jadi orang yang disukai ilmu. Tapi dia malah memilih jadi model dan ya ... Bu lastri tau sendiri bagaimana citra seorang model di mata khalayak umum.”
Lalu Firdaus menambahkan. “Sebenarnya Tyra itu anak yang cerdas. Dia selalu mendapat peringkat satu dari SD hingga yang terakhir kami pegang itu, SMP. Sedangkan untuk SMA, dia sudah keluar dari rumah, pindah ke tempat lain sambil kerja jadi model itu. Sedangkan kami nggak setuju.” kata Firdaus mengenang. Dia sendiri sebenarnya sedih saat mengingat bagaimana dia membiarkan putri semata wayangnya hidup sendirian diluar bersama kerasnya dunia. “Saya merasa menyesal dan gagal menjadi seorang ayah untuknya.”
Mobil berhenti karena lampu merah. Firdaus menengok ke belakang, memastikan jika Tyra dan Retno masih ada di belakang mobilnya. Tapi nihil, mobil Tyra tidak ada.
“Lha kemana si Tyra sama Retno?”
Ucapan Firdaus membuat semua orang yang berada didalam mobil, menengok kebelakang. Mobil merah menyala Tyra memang tidak ada di belakang mobil Pajero milik Firdaus.
“Lho, barusan saya lihat tadi ada kok, Om.” sahut Atan yang ikut panik karena tidak melihat mobil sang kekasih.
“Tapi dia tau jalan ke rumah kamu kan, Tan?”
“Eumm, saya tidak yakin dia ingat sih, Om. Karena Tyra pernah saya ajak kerumah cuma sekali, dan itu pas malam hari.”
“Waduh, bisa nyasar itu mereka nanti.” gumam Firdaus lalu kembali menjalankan mobil karena lampu sudah berubah hijau.
“Kita cari lokasi yang bisa buat parkir saja Om. Kita tunggu, biar saya telepon dia.”
Firdaus setuju dan segera mencari lokasi yang terpasang rambu bebas parkir, dan berhenti untuk menunggu mobil Tyra dan Retno yang tertinggal. Sedangkan Atan, mulai sibuk menggulir layar ponselnya mencari kontak Tyra, lalu menghubunginya.
Setelah tersambung, bukan suara Tyra yang muncul, melainkan suara Retno yang mencacinya dengan nada suara kesal.
“Sumpah, gue timpuk Lo pake sendal jepitnya Ronaldo ya Tan. Tuh Tyra muntah dua kali dan gue harus berhenti lagi sekarang.”
Suara Retno yang memang cukup keras itu mampu terdengar seantero kabin mobil. Suasana menjadi canggung. Atan yang terlanjur menjadikan ponselnya dalam mode loud speaker pun hanya bisa pasrah jika sesuatu yang sedang disembunyikan, terbongkar. Dan benar saja, sebelum Atan mengganti mode loud speaker menjadi mode normal dan memberi kode agar berbicara tentang, Retno kembali mengatakan sesuatu. Retno masih belum mau mengakhiri kekesalannya dan kembali bersuara lantang yang berhasil membuat semua tatapan tertuju padanya.
“Nggak elo, nggak Tyra, nggak anak kalian, suka bener ya bikin gue ribet?!”
Setelah itu, suasana benar-benar berubah senyap. Lastri dengan wajah kagetnya, begitupun Linda dan Riyana yang seperti tersambar petir di siang bolong, hanya bisa menatap Atan dengan pandangan lurus dan bibir menganga. Sedangkan Firdaus yang sudah menduga sejak awal, hanya tersenyum simpul diujung bibir.
Mau diapakan lagi? Sudah terlanjur terjadi. Malah jadi dosa yang makin gede kalau disuruh macem-macem.
“Jadi, om mau jadi kakek?” []
...—To be continue—...
###
Nah lho. Pasti ketahuan lho ya, sengaja atau tidak pasti ketahuan 🤭🙏