We

We
Dua puluh sembilan




...We...


...|Dua puluh sembilan|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Atan duduk, lalu mengambil nasi untuk dirinya sendiri, kemudian kembali melihat ke arah Tyra. Melihat ekspresi yang berubah dari wajah Tyra, Atan bertanya. “Ada apa?”


Lalu, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lebih lama, Tyra akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Atan. “Siapa putri?” Tyra sengaja menjeda, menunggu jawaban dan reaksi Atan yang tak langsung memberinya jawaban. Lantas pertanyaan lain ikut terucap begitu saja dari bibir Tyra.


“Dan, siapa Brina?”


Sorot mata Atan meredup. Dia memperhatikan bagaimana cara Tyra menatapnya, ada keraguan yang Atan temukan disana.


Atan, tidak langsung memberikan jawaban dengan sebuah ultimatum pada Tyra. Dia mengunyah nasi goreng yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulut, sembari memikirkan jawaban dan kalimat yang pas untuk bicara dengan Tyra akan hal ini.


Putri dan Brina salah satu ketakutan yang dipikirkan Atan jauh-jauh hari. Dia takut ada kesalahpahaman yang akan terjadi jika dia tidak membicarakannya dengan Tyra, dan terbukti sekarang. Kekasihnya tau tentang mereka berdua yang Atan tebak, Tyra tau akan hal itu dari ponselnya.


Mungkin, hari ini adalah waktunya dia bicara tentang satu masa lalu yang pernah dia lewati.


“Putri, adalah mantan kekasihku. Sedangkan Brina, adalah putrinya.”


Tyra mengerutkan kening.


“Lalu, kenapa dia menghubungimu dan mengirim pesan jika Brina,” Tyra hampir tersedak saat mengatakan nama mereka berdua. Ada sengatan menyakitkan yang tiba-tiba timbul dan menyerang ulu hatinya. “... jika Brina, mencarimu?”


Pandangan mata Atan yang semula menatap lurus dan penuh kepercayaan diri pada Tyra, kini terlihat redup. Ada banyak sekali kerikil didepan jalan yang hendak dia lalui.


“Kalian ada hubungan? Atau ... masih menjalin hubungan? Bukankah seharusnya Putri mempunyai suami?” lanjut Tyra, dengan nada dan sorot terluka. Jika diberi pilihan, Tyra ingin menangis sekarang. Tapi, sudah kepalang tanggung. Jika harus mempertahankan, Tyra akan dengan senang hati bersaing dengan wanita beranak satu yang bernama Putri itu.


“Tidak. Kami nggak ada hubungan apa-apa, dan Putri, sudah berpisah dengan suaminya.”


Tyra mengatupkan bibir sejenak. Apa maksud semua ini? Apa Putri memang berniat mendekati Atan dengan sengaja?


“Kami bertemu beberapa waktu lalu, dan dia meminta nomor ponselku.” lanjut Atan mencoba memberi penjelasan. Sedangkan Tyra masih diam dan bersabar menunggu apa informasi selanjutnya yang akan Atan sampaikan padanya. “Tidak ada hubungan apapun antara kami—”


“Lalu kenapa dia masih menghubungi kamu? Apa kamu tidak memberitahu kalau kamu sudah memiliki kekasih?” tukas Tyra cepat, merasa tidak terima atas jawaban Atan yang gamblang dan tidak menutupi apapun atau terlihat ingin menyimpan sesuatu antara mereka.


“Lebih tepatnya, aku belum sempat memberitahu dia, sayang. Aku nggak mikirin dia, jadi aku nggak ada maksud memberi penjelasan apapun sama dia, karena dia memang bukan apa-apa untukku.” jawab Atan lugas. “Kalau soal Brina, aku tidak ingin menyakiti hati anak kecil, sayang. Dia dekat denganku saat mamanya pertama kali kenalin kami saat itu. Brina juga tidak tau tentang masalalu kami. Jadi, tidak patut jika kamu merasa cemburu pada anak kecil seperti dia.”


Jawaban itu cukup melegakan untuk hati Tyra yang terasa seperti diombang-ambing oleh perasaannya sendiri yang sekarang justru membuatnya bimbang. Sebagai laki-laki berprinsip, Atan tentu wajib memberi ketegasan. Tyra juga melihat kesungguhan pada sorot mata Atan, tidak juga ada kebohongan yang tergambar dari tatapan mata tegasnya.


Tyra meraih gelas berisi susu hangat yang dibuatkan Atan, lalu menenggaknya hingga berkurang seperempat.


“Aku akan mengatakan padanya jika sekarang aku sudah memiliki kamu, secepatnya.”


Rona di wajah Tyra akhirnya timbul. Dia merasa senang karena memiliki kekasih yang tegas dan punya pendirian.


“Tolong pegang ucapanku ini.” kata Atan, yang menarik penuh atensi Tyra. “Aku tidak akan berpaling dari kamu. Tolong ingat itu.”


Ya, Tyra tau. Tapi bagaimana jika sebaliknya yang terjadi adalah Putri yang akan berusaha merebut Atan darinya?


“Kalau suatu hari nanti kamu tergoda sama dia lagi—”


“Nggak akan.” jawab Atan tegas. Terkadang, perasaan yang dulu hanya untuk putri itu memang muncul ketika Atan bersama atau bertemu Putri. Tapi untuk seterusnya, Atan akan berjanji jika hubungan mereka hanya akan sebatas teman, jika Putri menginginkan yang lebih dari itu, Atan akan mengingatkan dengan tegas, jika mereka hanya mantan. Tidak akan kembali menjadi pasangan. Ada Tyra yang memenuhi hatinya, sekarang.


Atan akan memilah dan memisahkan antara masa lalu, dan masa depan.


“Tolong percaya padaku,” kata Atan, menautkan manik matanya pada manik mata Tyra, menatapnya penuh cinta. “Aku mencintaimu.”


Merasa sudah tenang, Tyra meraih sendok dan menyuapkan sesendok besar nasi goreng kedalam mulutnya. Kemudian, dengan mulut yang penuh dengan makanan, dia memberitahu Atan.


“Huh, hia tahi telehon hamu. Ahu hahih hau mahah hi mahihin.”


Atan menggeleng dengan senyuman mengembang lebar. Kekasihnya ini, kebiasaan kalau ngomong dengan mulut penuh makanan seperti itu. Tapi, entah mengapa Atan semakin gemas.


“Makanannya di telen dulu sayangku, nanti kamu kesedak ngomong sambil makan begitu.” tegurnya. Dia tidak ingin Tyra protes padanya kalau misalnya tersedak nanti, gara-gara dirinya. “Jadi, tadi dia telepon dan kamu jawab?” tanya Atan lembut.


Jika tidak menggunakan make-up begini, Tyra terlihat masih sangat muda sesuai usianya. Berbeda jika sedang memakai makeup yang dituntut profesi agar dia terlihat dewasa didepan kamera. Tapi sama saja, wanita didepannya ini tetap sangat cantik apapun bentukannya. Tyra mengangguk polos dengan mata berbinar yang amat sangat menggemaskan dimata Atan.


Jadi terjawabkan dugaannya? Tanpa perlu ada perang dunia, pula—ya meskipun sempat ada sedikit salah paham, sih. Atan ini memang benar-benar tipe idaman kaum hawa.


Atan tersenyum dan bangkit dari duduknya untuk meraih puncak kepala Tyra. Ia mengusap lalu mengacak pelan rambut pirang sang kekasih.


“Nggak apa-apa, aku senang kamu mau ngerti aku meskipun ya ... kamu tetep ada salah jawab telepon tanpa persetujuan dariku.”


Tyra mengangguk. Dia sadar dia salah. Ponsel itu sebuah privasi, jika dia menempatkan diri di posisi Atan, dia pasti sudah marah besar sejak tadi. Tapi Atan, dia sangat bisa mengatur emosi dan membuat semuanya menjadi lebih menenangkan.


“Maaf.”


Atan mengusap pipi Tyra lalu kembali duduk. “Yuk habisin sarapannya.”


Tyra menyendok lagi nasi goreng buatan sang kekasih. Ternyata rasanya sangat enak. Tadi terasa hambar mungkin gara-gara dia kesal dan emosi karena Putri, mantan kekasih Atan yang sekarang sudah dia ketahui kebenarannya. Mereka tidak ada hubungan apa-apa, Tyra merasa lega.


***


Atan sampai dirumah pukul sepuluh pagi. Dia membawa satu karung besar beras, dan beberapa benda yang tergolong dalam kelompok sembako. Akhir bulan memang waktunya Atan untuk memenuhi isi dapur. Dia sendiri yang akan berbelanja tanpa menyusahkan orang lain.


Linda yang membuka pintu setelah Atan mengetuk. Tatapan sang adik terlihat menelisik. Sepertinya kebohongannya akan terbongkar hari ini juga.


“Kenapa nggak bantuin mas mu bawa barang berat gini sih, Lin?” protes Atan karena Linda tidak menyambut barang belanjaannya, melainkan berdiri melihat dengan mata memeta penampilan sang kakak.


“Mas dari mana? Nggak mungkin nginep kantor pulangnya harum begini.


Bodoh. Katakan dan olok-olok saja Atan dengan kata itu. Pantas saja Linda menelisik dirinya, karena tidak dapat di elak, aroma Vanilla sabun mandi Tyra memang sangat melekat di badan.


“Jujur, mas dari mana?” tekan Linda agar Atan mengaku. Adiknya ini memang lebih cocok di jadikan agen FBI karena kemahirannya mengendus sesuatu yang sulit di nalarkan oleh orang awam.


“Dari kantor, Lin.”


Nggak mungkin dong Atan jujur kalau menginap dirumah Tyra dan melakukan ...


Sial. Mengapa kenangan itu yang justru muncul sekarang.


“Kantornya sudah pindah gedung kayaknya.”


Atan tidak peduli dan melewati Linda yang masih betah menginterogasinya dengan pertanyaan memojokkan dan mungkin akan membuatnya keceplosan. Sebelum itu terjadi, Atan harus bisa menghindari agen FBI jadi-jadian satu ini.


Atan berjalan cepat menuju dapur, kemudian menurunkan karung beras seberat 25kg itu dari bahunya. Lalu dia meletakkan barang-barang lain di atas meja makan yang tidak jauh dari lemari penyimpanan.


Saat dia berbalik, Atan begitu terkejut sampai terlonjak karena Linda sudah berdiri di belakangnya, tanpa suara.


“Astaga Linda. Kamu ngapain sih?!” kata Atan hampir mengumpat.


Linda tidak bicara apapun sampai telapak tangannya sedikit menarik turun krah kemeja Atan, dan mendapati satu tanda kecil berwarna kemerahan.


“Apa ini karena digigit nyamuk?” tanya Linda, membuat Atan membolakan mata. Dia baru ingat semalam, Tyra bermain di lehernya dan ...


“Memangnya ada apa?” tanya Atan sok bodoh, membenarkan posisi krah kemejanya hingga menutupi bekas sesapan Tyra semalam.


Memang benar kata pepatah. ‘Sepandai-pandainya kamu menyembunyikan bangkai, baunya akan tercium juga’. Buktinya, Linda melihat kissmark itu meskipun dia berusaha menyembunyikannya. Sepertinya kebohongan Atan akan terungkap hari ini.


“Mas jangan aneh-aneh deh.”


“Enggak Lin, beneran. Aneh-aneh yang gimana sih? Mas juga nggak tau ini kenapa?”


Linda bukan perempuan berusia lima tahun yang akan percaya begitu saja saat di kelabui. Dia tau betul bekas merah gelap itu, bekas apa. Linda melipat kedua tangannya didepan dada.


“Mas menginap di rumah Tyra ya?”


Atan menelan salivanya susah payah. Dia tidak bisa memberikan jawaban dan menahan kata-kata di tenggorokan. Dia sampai heran, apa Linda ini memiliki kekuatan si flying dutchman yang bisa menembus benda-benda padat tanpa diketahui orang lain?


“Nah, kan bener.”


“Lin—”


Dengan nada menggoda Linda berkata, “Ya deh, percaya. Itu bekas di gigit ikan ******. Bukan di gigit vampir dunia nyata.” []


...—To be continue—...


###


Linda memang istimewa 🤭